
...Happy Reading...
......................
Hari jum'at, Alvin hanya sekolah setengah hari, hingga dia bisa pulang lebih awal. Kedua remaja itu mampir dulu di masjid dekat sekolah, untuk melaksanakan salat jum'at berjamaah.
"Katanya kamu mau bekerja nyari keong buat Bi Inah, Vin?" tanya Imran saat mereka sedang duduk di pelataran masjid itu, sambil memakai sepatunya.
"Iya, sepertinya nanti sore aku udah mau coba cari di sawah punya nenek dan kakek dulu," jawab Alvin.
"Aku ikut, boleh gak?" tanya Imran, membuat Alvin menatapnya.
"Ngapain?" Kerutan halus di kening Alvin pun terlihat.
"Mau mancing belut, hehe." Imran menggaruk kepala Bagian belakangnya.
"Memang belut bisa dipancing, ya? Bukannya mereka hidup di lumpur, gimana cara mancingnya?" tanya Alvin.
Imran sontak tertawa mendengar pertanyaan Alvin yang terlihat lucu untuknya. Bagi dirinya yang hidup dari kecil di daerah seperti ini, memancing belut adalah hal yang sangat seru untuk dilakukan.
"Dasar anak kota, mancing belut aja gak tau!" ujar Imran lagi di sela tawanya.
"Ck." Alvin berdecak kesal sambil berdiri, setelah menyelesaikan memakai sepatunya.
"Eh, malah marah." Imran buru-buru menyusul Alvin yang sudah mulai melangkahkan kakinya.
"Mancing belut itu sudah jadi permainan anak laki-laki di sini sejak kecil, Vin. Kalau masalah caranya, nanti sore aku liatin sama kamu." Imran merangkul pundak Alvin sambil mensejajarkan langkahnya.
"Lepas!" Alvin melepaskan tangan Imran di pundaknya, dia memang tidak suka ada kontak fisik dengan orang lain.
"Ya elah, Vin. Masa gitu aja marah sih?" keluh Imran.
"Siapa juga yang marah?" Alvin malah bertanya lagi pada Imran.
"Lah, kalau gak marah terus kenapa kamu kayak gitu?" tanya Imran.
"Aku gak suka dirangkul gitu. Geli," jawab Alvin sambil bergidik.
"Oh, jadi kami gak suka disentuh ya?" Imran tersenyum licik sambil menoel tangan Alvin.
"Ran, bisa diem gak sih tuh tangan?" Alvin memberi jarak dari Imran yang terus mengusuilinya.
"Hahaha, kamu aneh banget sih, Vin. Masa gak mau disentuh sama orang lain. Kenapa sih? Jijik, ya?" tanya Imran, sambil terus menoel bagian tubuh Alvin.
"Ya, aku gak suka aja, aneh rasanya. Aku masih normal, ngapain juga harus berdekatan kayak gitu sama laki-laki kayak kamu?" Alvin mengusap bekas sentuhan dari Imran.
"Astagfirullah! Aku juga normal, Vin. Aku masih suka sama cewek cantik!" Imran tanpa sadar meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
"Siapa juga yang bilang kamu gak normal?" Alvin malah balik bertanya, seakan dirinya tidak mengatakan apa-apa sebelumnya.
"Ck, dasar!" Imran menatap kesal Alvin.
Keduanya saling melihat lalu kemudian terkekeh bersama, merasa konyol dengan sikap mereka sendiri.
Bersamaan dengan itu, angkutan umum yang biasa mereka tumpangi pun melintas, mereka naik bersama-sama, masih dengan dengan menahan senyumnya.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah sampai ke tempat pemberhentian. Alvin dan Imran turun bersamaan. Mereka berjalan menuju rumah, dengan langkah yang terlihat bersemangat.
"Jadi, boleh gak nih, aku ikut kamu ke sawah nanti sore?" tanya Imran, setelah mereka akan berpisah untuk menuju rumah masing-masing.
"Ya, boleh. Tapi, kamu janji ngajarin aku mancing belut ya?" ujar Alvin memberi syarat.
"Boleh, nanti sore aku ajarin kamu cara mancing belut," angguk Imran penuh semangat.
"Oke! Kita ketemu nanti sore ya," Imran mengangkat tangan kanannya sambil berjalan pada arah yang berbeda, sebagai tanda perpisahan pada Alvin.
Alvin pun membalas Imran dengan anggukkan kepala, lalu berlalu pergi ke rumahnya yang sudah terlihat.
.
.
Sampai di rumah Alvin langsung mengerjakan tugas sekolah, sambil menunggu waktu sore tiba. Doa juga membantu pekerjaan rumah, mulai dari mencuci bajunya, menyapu dan mengepel.
Hingga setelah salat ashar, Alvin pun bersiap untuk pergi ke sawah. Dengan membawa sebuah ember dan kantong plastik untuk tempat keong, Alvin pun bertekad untuk bekerja.
Di tangannya terdapat ember kecil sebagai alat untuk mengumpulkan keong.
Bersamaan dengan itu, Imran pun datang dengan alat memancing belut di tangannya.
"Yuk!" aja Imran penuh semangat.
Mereka berdua akhirnya berangkat ke sawah bersama dengan niat yang berbeda.
Mengambil keong ataupun memancing belut memang disarankan sore hari, disaat udara sudah mulai terasa sejuk. walaupun sebenarnya pagi hari juga bisa-bisa saja.
Pada saat siang hari, keong akan masuk ke dalam lumpur untuk mencari suasana yang lebih teduh. Sedangkan belut juga juga akan berada semakin dalam dari permukaan, mengingat dia juga tidak suka hawa panas.
Beberapa saat kemudian, Alvin dan Imran sudah sampai di sawah yang mereka tuju. Keduanya pun kini berpencar untuk berusaha mencari tergetnya masing-masing.
Alvin dengan mencari keongnya dan Imran dengan pancingan belutnya. Keduanya sama-sama asyik dengan aktivitasnya maisng-masing, hingga tanpa sadar waktu terus berputar, dan matahari mulai tenggelam.
Alvin beranjak dari tempatnya, dia melihat pelastik tempat peyimpanan keong yang sudah lumayan penuh.
"Kayaknya udah mau magrib," gumam Alvin, melihat suasana yang mulai beranjak senja.
__ADS_1
Dia mencari keberadaan Imran yang ternyata sudah berjarak cukup jauh, dari tempatnya berdiri sekarang.
"Ran, pulang yuk ... udah mau magrib nih," ajak Alvin, dia berada di dekat saudaranya itu.
Imran yang tengah sibuk dengan benang pancingannya, mendongak untuk melihat Alvin di sampingnya.
"Bentar, Vin, aku bentar lagi dapat nih," ujar Imran.
"Dapat banyak, Ran?" Alvin melihat ke dalam tempat Imran menaruh hasil pancingannya.
Namun, belum sempat melihat jelas, Alvin sudah menutupnya kembali.
"Ssst, jangan berisik dulu." Bukannya menjawab Imran malah menyuruh Alvin untuk diam.
Alvin pun mengangguk, dia kini tertarik dengan cara Alvin memancing belut, yang harus terus di mainkan benang pancingannya.
Hingga beberapa saat kemudian Imran menarik benang pancingan di tangannya, dengan hasil belut berukuran sedang menggantung di ujungnya.
"Astagfirullah!" Alvin terkejut dengan rupa belut yang ternyata cukup menggelikan.
Alvin refleks memundurkan tubuhnya, hingga hampir terjengkang, bila dia tidak cepat menahan menggunakan tangannya.
Sedangkan imran yang tau reaksi Alvin malah tertawa terbahak, merasa tingkah Alvin lucu.
"Kenapa kamu, Vin? Sampe mau nyungsep begitu," tanya Imran, di sela tawanya.
"Idih, kok belut bentuknya gitu sih? Kayak ular." Alvin bergidik ngeri, melihat penampakan seekor belut yang masih menggeliat di ujung pancingan imran.
Tanpa sadar Alvin mundur beberapa langkah, menjauh dari tempat Imran berjongkok.
"Bentuk belut emang kayak gini, Vin. Masa kamu gak tau sih?" ejek Imran, masih saja terkekeh, sambil mulai melepaskan belut dari pancingannya.
"Aku gak pernah melihat belut, Ran. Udah cepetan masukin, udah mau magrib nih," ujar Alvin, masih saja takut melihat hewan itu i tangan Imran.
"Udah tuh! Takut amat, sama belut doang," ujar Imran sambil membenahi alat pancingnya lalu beranjak berdiri.
"Yuk, pulang! Nanti kamu terlambat jama'ah di masjid, bisa-bisa aku yang kena omel ibuku," ujar Imran.
Alvin dan Imran pun berjalan pulang bersama.
"Kok, kamu yang diomelin?" Kerutan di kening Alvin terlihat.
"Iya, gara-gara dia sangka aku lupa waktu mancing belutnya," gerutu Imran.
Ya, memang dia sering sekali dimarahi oleh ibunya karena kalau sudah memancing belut pasti lupa waktu.
......................
__ADS_1
Siapa nih, yang pernah mancing belut, atau bahkan suka dengan hewan yang hidup di lumpur itu?
...Komen dan like ya🙏🥰...