ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Nasi Goreng


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Alvin duduk di taman, di depannya laptop dan beberapa buku untuk membantunya mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh dosen.


Sudah tiga puluh menit dia fokus pada laptop di depannya, hingga tidak menghiraukan keadaan sekitarnya.


Sesekali dia tampak meminum air mineral, untuk mengandalkan perut yang terasa keroncongan. Tadi pagi dia kesiangan bangun gara-gara malamnya harus lembur.


Sedangkan Lukman sedang pulang kampung, karena anaknya dirawat di rumah sakit. Untung saja, ada Pak Umar yang menggedor pintu kontrakan karena Alvin tidak ikut shalat berjamaah di masjid.


Kalau tidak, mungkin Alvin juga akan kesiangan masuk kelas. Kini perutnya sudah menagih ingin diisi, karena dia tidak sempat untuk sarapan tadi pagi.


Namun, tugas yang belum selesai membuatnya menghiraukan rasa laparnya. Alvin menutup laptopnya dengan hembusan napas kasar, akhirnya tugas selesai juga.


Memilih merebahkan tubuhnya di hamparan rumput taman, lalu memejamkan mata setelah membereskan buku dan laptop miliknya.


Taman tempatnya mengerjakan tugas memang cukup sepi, dia memilih yang lumayan jauh dari gedung kampus, hingga tidak terlalu banyak orang.


"Nih, makan dulu."


Suara seseorang membuat Alvin langsung membuka matanya, dia melihat seorang perempuan yang sedang duduk di sampingnya.


"Tadi pagi aku coba bikin nasi goreng, cobain deh, enak gak?" ujar Jani lagi.


Jani sengaja memasak sendiri di rumah untuk diberikan kepada Alvin, padahal awalnya dia tidak bisa memasak. Semua itu karena Alvin yang tidak pernah mau menerima pemberian orang lain secara cuma-cuma.


Alvin menutup matanya dengan punggung tangan.


"Kamu mau menjadikan aku kelinci percobaan?" dingin Alvin, mengacuhkan Jani.


"Boleh juga tuh, nanti kalau aku mau bikin percobaan aku akan menemui kamu," jawab Jani, walau di dalam hati dia menahan kesal.


"Tapi sayangnya, nasi goreng ini udah sering aku bikin di rumah buat keluargaku," sambung Jani lagi.


Alvin tersenyum tipis, dia tidak menjawab ucapan Jani, pasalnya kalau sudah sering kenapa jani harus mengucapkan 'Coba bikin nasi goreng' di kalimat pertamanya.


"Ck, malah tidur! Bangun, makan dulu, ini udah lewat waktu makna siang!" Jani mendesah kesal, dia menggoyangkan lengan Alvin.


Alvin membuka tangannya yang berada di atas mukanya, dia menatap kesal Jani yang selalu mengganggunya.


"Ayo coba makan," ujar Jani penuh semangat sambil membuka kotak bekal yang sengaja dia siapkan untuk Alvin.

__ADS_1


Alvin bangun lalu menerima kotak bekal dari Jani, perlahan dia mulai menyuapkan nasi goreng buatan Jani.


Namun, sedetik kemudian Alvin harus berusaha menelan nasi goreng itu dengan susah payah, karena rasanya yang sangat asin.


Nih orang mau bikin aku darah tinggi apa ya? gerutu Alvin sambil berusaha mengunyah nasi goreng di mulutnya.


"Gimana, enak gak?" tanya Jani dengan tatapan mata penuh harap.


Alvin tampak teridam, dia bingung mau menjawab apa. Dia tidak mau kalau sampai melukai hati Jani jika sampai berkata jujur.


Akhirnya di mengangguk, sambil memakan nasi goreng itu dengan cepat. Dia bahkan tidak mau mengunyahnya terlebih dulu, agar rasa asin tidak terlalu menempel di lidah.


Jani tersenyum senang melihat Alvin yang tampak bersemangat makan nasi goreng buatannya. Dia mengira kalau nasi goreng itu memang enak seperti kata Alvin.


Setelah menghabiskan nasi goreng dari Jani, ALvin lansung menenggak habis air mineral miliknya untuk membasuh mulutnya dari rasa asin.


Untung saja, nasi gorengnya gak banyak, batin Alvin.


Mata Alvin melirik ke sebelah kanan, melihat sekilas tiga orang laki-laki yang sedang tertawa senang.


Mereka adalah Anji dan dua orang temannya. Sekarang Alvin mengerti kenapa nasi goreng dari Jani terasa asin. Itu semua pasti karena ulah Anji.


"Kalau kamu suka, besok aku buatin lagi ya!" seru Jani sambil membereskan kotak bekalnya.


"Gak bisa, pokoknya besok aku akan bikin nasi goreng buat kamu lagi," debat Jani.


"Terserah kamu saja. Tapi, lain kami setidaknya kamu coba dulu sebelum kamu memberikan makanan pada orang lain," ujar Alvin, sambil bersiap untuk pergi ke perpustakaan.


Dia harus mengembalikan buku yang dia pinjam untuk mengerjakan tugas lebih dulu, sebelum jam kelas berikautnya.


"Terima kasih untuk makanannya," sambung Alvin sambil berjalan meninggalkan Jani yang kebingungan sendiri.


Alvin berani meninggalkan Jani di tempat sepi, karena dia tahu ada Anji di sana yang memperhatikan mereka dari jauh.


"Apa maksudnya tadi? Aku kan emang udah coba nasi gorengnya tadi pagi. Enak kok," ujar Jani mengerutkan keningnya.


"Apa jangan-jangan nasi gorengnya udah basi!" Jani melebarkan matanya, terkejut dengan pemikirannya sendiri.


Jani langsung mengambil kembali kotak bekal, lalu menyicipi sedikit sisa nasi yang masih ada di dalam. Dia sama sekali tidak merasa jijik, walaupun itu bekas Alvin.


"Akh, asin!" Jani langsung membuang kembali nasi yang ada di dalam mulutnya.


"Kok bisa berubah gini sih? gumam Jani sambil mengingat apa yang terjadi tadi pagi di rumahnya.

__ADS_1


Ya, dia baru ingat kalau dirinya sempat meninggalkan kotak bekal untuk Alvin, setelah mereka sarapan bersama.


"Ini pasti ulah Anji! Awas aja tuh orang kalau ketemu," geram Jani, sambil bergegas pergi dari tempat itu.


Saat dia baru saja berdiri, telinganya mendengar suara tawa yang sangat dia kenal. Jani langsung menoleh, melihat Anji yang tengah tergelak bersama teman-temannya.


"Itu dia orangnya," ujar Jani, berjalan cepat menghampiri saudara kembarnya.


"Anji, kamu apain nasi goreng aku, hah?!" teriak Jani saat dirinya sudah dekat dengan Anji.


Teriakan Jani langsung menghentikan tawa tiga orang laki-laki itu, mereka langsung membukam mulutnya, melihat wajah garang Jani.


"Apa? Aku gak ngapa-ngapain?" jawab Anji sambil mengalihkan pandangannya, menghindar dari tatapan tajam Jani.


Tangannya tampak menggaruk tengkuknya, berusaha menutupi keterkejutan mereka.


"Gak usah bohong! Dasar nyebelin! Bikin malu aja," gerutu Jani sambil meukul berulang punggung Anji.


"A–arrgh, sakit Jani! Aku gak ngapa-ngapain, beneran!" ujar Anji sambil terus berputar menghindar dari pukulan Jani.


"Masih gak mau ngaku, hah? Dasar kakak lucknut!" Jani memukul Anji lebih keras lagi.


"Iya-iya, aku ngaku. Maaf-maaf," jawab Anji.


"Tuh kan! Ih tega banget sih kamu, bikin aku malu di depan Alvin!" Jani tampak berkaca-kaca, merajuk pada kembarannya.


"Iya-iya, maaf. Aku gak bermaksud begitu ... aku hanya gak suka aja kamu terus mendekati laki-laki sombong kayak dia," jawab Anji dengan nada suara lebih lembut.


"Dia gak ombong, Ji. Dia hanya tidak punya waktu untuk bergaul karena sibuk bekerja sambil kuliah," jawab Jani.


Anji mengerutkan kening. "Dari mana kamu tau kalau dia kerja?"


"Aku udah ngikutin dia beberapa hari lalu. Ternyata pulang kuliah dia langsung kerja sampe tengah malam," jawab Jani.


Anji saling melirik dengan temannya, dia tidak tau kalau adiknya bersungguh-sungguh menyukai Alvin, sampai mengikutinya seperti itu.


"Jadi pas kamu ketahuan pulang malam sama Mama, karena ngikutin dia kerja?" tanya Anji.


Beberapa hari yang lalu, Jani ketahuan pulang larut malam, sampai dihukum oleh Mama mereka.


Jani mengangguk. "Aku penasaran sama Alvin. Dia terlalu misterius, sampai aku tanya tentang dia sama teman sekelasnya aja gak ada yang tau."


Anji menghembuskan napas lelah, melihat sikap adiknya itu. Jani memang tidak akan pernah menyerah ketika sudah menginginkan sesuatu. Dia kan terus berjuang sampai mendapatkannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2