ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Habis bensin


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Vin, sekarang kamu suka main lego?" tanya Pak Umar yang melihat Alvin sedang menyusun lego di dekat pintu.


"Enggak juga, Pak. Ini tugas tambahan dari bos kecil," jawab Alvin sambil terkekeh, mengingat wajah imut Naura.


"Bos kecil?" Pak Umar tampak mengerutkan keningnya.


"Iya, Pak. Anaknya bos baruku. Kebetulan aku dibawa berkunjung ke rumahnya, terus dikenalkan dengan keluarganya–" Alvin pun menceritakan pengalaman pertamanya berkunjung pada rumah bosnya.


"Jadi ini permintaan dari gadis kecil itu?" tanya Pak Umar, setelah mendengar cerita Alvin.


"Iya, Pak, dan besok harus aku bawa lagi," jawab Alvin.


Pak Umar tampak menganggukkan kepalanya samar, sambil memperhatikan susunan lego yang sudah sepertiga jadi.


"Mau aku bantu? Ini sudah malam loh, Vin," tawar Pak Umar.


"Gak usah, Pak. Biar aku kerjain sendiri saja, lagian ini juga tinggal sebentar lagi," tolak Alvin.


"Heem, ya sudah, kalau gitu selamat mengerjakan," ujar Pak Umar menggoda Alvin.


Pagi harinya, Alvin langsung membawa lego yang telah disusun ke kantor, untuk diberikan pada Ezra. Niatnya ingin menitipkannya untuk Naura. Akan tetapi, Ezra langsung menolaknya begitu saja.


"Berikan saja sendiri, aku tidak menerima titipan barang apa pun." Itulah jawab yang diberikan oleh Ezra, saat Alvin hendak memberikan lego buatannya untuk Naura.


"Tapi, Pak, apa saya boleh datang lagi ke rumah, Bapak?" tanya Alvin ragu.


"Memang siapa yang melarangmu untuk kembali datang ke rumahku, Vin?" Ezra malah mebalikan pertanyaan.


Alvin meringis mendengar pertanyaan dari bos barunya itu.


"Tidak ada, Pak," jawab Alvin sambil mengusap tengkuknya canggung.


Sore harinya Ezra tiba-tiba menghubungi Alvin lewat sambungan telepon kantor. Membuat Alvin yang sedang fokus pada pekerjaannya langsung mengalihkan perhatiannya.


"Antar aku pulang," perintah Ezra yang langsung disetujui oleh Alvin, laki-laki itu pun beranjak dari tempat duduknya kemudian merapikan meja kerja sebelum datang ke ruangan bosnya.


Bekerja menjadi asisten Ezra ternyata tidaklah mudah, perkataan Keenan beberapa hari yang lalu benar-benar terasa olehnya semenjak hari pertama bekerja bersama laki-laki itu.


Seperti saat ini contohnya, baru kemarin dia belajar mobil dengan Keenan, kini Alvin sudah diperintahkan untuk menyetir mobil milik Ezra dan mengtarkannya pulang ke rumah. Tentu saja semua itu membuat Alvin merasa sangat gugup.


Namun untung saja Alvin bisa melalui itu dengan mulus, walau beberapa kali dia tampak hampir melakukan kesalahan, kalau tidak diperingatkan oleh Ezra.


Hingga beberapa saat kemudian Alvin sudah berhasil memarkirkan mobil milik Ezra di halaman rumahnya dengan selamat.


"Kerja bagus, Vin," ujar Ezra sambil menepuk pundak Alvin, kemudian ke luar dari mobil.

__ADS_1


Alvin menghembuskan napas kasar berulang kali, sambil menangkupkan kepalanya di atas setir mobil. Perjalanan dari kantor ke rumah, bagaikan uji nyali baginya. Itu benar-benar pengalaman yang cukup menegangkan, mengingat dia saja belum yakin sudah menguasai mobil milik bosnya itu.


Beberapa saat di dalam mobil, Alvin mengangkat kepalanya begitu suara ketukkan di pintu terdengar.


"Om Al, Om Al!" Suara panggilan dari seseorang yang sudah Alvin ketahui siapa orangnya pun membuat Alvin tersenyum, kemudian membuka pintu perlahan.


Dia bisa melihat gadis kecil yang tidak lain adalah Naura berdiri di samping mobil yang dikendarainya.


"Assalamualikum, gadis kecil," ujar Alvin sambil tersenyum.


"Waalaikumsalam, Om Al. Mana legonya? Kata Papah, Om Al, bawa lego buat Rara?" tanya Naura langsung menagih janji Alvin kemarin.


"Ada dong, sebentar Om ambil dulu," jawab Alvin sambil kembali masuk ke mobil dan mengambil kotak yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Ini dia," ujar Alvin lagi sambil membawa kotak yang cukup besar di tangannya.


"Waah! Sini, Om, Rara mau lihat!" Naura tampak bersemangat saat melihat kotak yang cukup besar di tangan Alvin.


"Eh, jangan di sini, biar Om Alvin bawa dulu ke dalam, nanti kita buka di sana. Bagaimana?" ujar Alvin sambil mencondongkan tubuhnya pada Naura.


"Eum, ayo masuk, Om. Rara udah gak sabar mau lihat." Naura mengangguk dengan senyum lebarnya.


"Iya, ayo kita temui Papah dan Mamah, dulu," ujar Alvin sambil melirik Ezra dan istrinya yang tampak masih berdiri di teras.


"Ayo!" angguk Naura, kemudian berlari menuju Ezra dan Nindi berada, mendahului Alvin.


Keceriaan Naura membuat Alvin tersenyum, setiap melihat wajah cerah dan tawa gadis kecil itu, membuatnya mengingat Alin, yang sudah lama berpisah dengannya.


"Pak, Bu," sapa Alvin saat sudah di depan sepasang suami istri itu.


Istri Ezra tampak tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala samar sebagai balasan dari sapaan Alvin. Sikap anggun dan lembut yang diperlihatkan Nindi, membuat Alvin selalu kagum pada istri dari bosnya itu.


Namun, melihat tatapan tajam Ezra padanya dan tangan Ezra yang terus melingkar di pinggang istrinya, membuat Alvin sadar posisi untuk menjaga jarak dengan wanita itu.


"Ayo masuk dulu," ujar Nindi mempersilahkan Alvin.


"Terima kasih, Bu," jawab Alvin mengagguk patuh.


Ah, sepertinya benar kata Pak Keenan kemarin. Aku memang harus membiaskan diri untuk melihat kemesraan Pak Ezra dan istrinya, batin Alvin, sambil melangkah masuk ke dalam rumah, mengikuti sepasang suami istri itu yang berjalan lebih dulu.


Sampai di dalam tentu saja Ezra dan Nindi langsung pergi ke lantai atas, sedangkan Alvin diajak ke tempat bermain Naura oleh gadis kecil itu.


Alvin langsung membuka kotak pembungkus susunan lego yang membuatnya hampir tidak tidur sepanjang malam.


"Wah, bagus sekali istananya, Om!" seru Naura sambil melompat kecil saking senangnya.


Alvin tersenyum tipis melihat kebahagiaan gadis kecil yang selalu mengingatkannya pada sang adik.


.

__ADS_1


.


Alvin melemparkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas lantai dengan tangan terbentang lurus ke samping, napasnya terlihat cepat, hingga bagian dada naik turun.


Bajunya tampak berantakan dengan wajah terlihat lelah, bahkan lingkar hitam di bawah mata terlihat jelas, menandakan betapa lelah dan sibuknya Alvin selama ini.


"Kenapa, Vin?" tanya Mang Lukman yang baru datang dari arah dalam.


"Gak apa-apa, Mang. Cuman mau meluruskan punggung saja," jawab Alvin sambil mengatur napasanya.


Mang Lukman tampak kembali ke dalam, beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa gelas berisi air putih di tangannya.


"Kamu ini kenapa sih, kok kayak orang habis dikejar-kejar warga sekampung saja?" tanya Mang Lukman masih merasa penasaran dengan kondisi Alvin yang terlihat menyedihkan, padahal selama ini Alvin tidak pernah terlihat begitu lelah seperti ini selama bekerja di mana pun.


"Gak apa-apa, Mang. Cuma tadi habis dorong motor, gara-gara lupa isi bersin," jawab Alvin sambil bangun dari tidurnya.


"Nih minum dulu! Kok bisa sih kamu lupa isi bensin?" tanya Mang Lukman sambil menyodorkan gelas di tangannya.


"Terima kasih, Mang," ujar Alvin mengambil gelas itu, kemudian meneguk airnya hingga tandas.


"Wah, kayaknya haus banget nih," ledek Mang Lukman sambil tersenyum geli.


"Hehe, iya, Mang. Lumayan juga tadi dorong motor," ujar Alvin.


"Memang kenapa sampe lupa?" tanya Mang Lukman lagi.


"Harusnya kan kemarin aku isi bensin sebelum berangkat kerja, eh taunya malam-malam aku dipanggil lagi dan diberi pekerjaan sampe sekarang. Tadi, pas pekerjaannya sudah selesai, aku terlanjur lupa isi bensin, jadinya malah mogok di tengah jalan," jawab Alvin panjang lebar.


"Ya ampun, Alvin-Alvin. Biasanya tuh kalau orang baru punya motor di sayang-sayang, bukan malah dibuat kelaparan," Mang Lukman geleng kepala melihat kelakuan keponakan jauhnya itu.


"Hehe, biarin lah, Mang. Biar dia bisa tau gimana rasanya susah sama aku," jawab Alvin terkekeh geli, mendengar Mang Lukman menyebut motornya kelaparan gara-gara lupa diisi bahan bakar.


"Halah, bisa aja kamu, Vin!" Mang Lukman tampak meninpali perkataan Alvin.


"Kerja di perusahaan ini benar-benar membuat aku ketar-ketir, Mang. Bosnya tegas dan harus serba cepat, jadi aku juga harus mengimbangi gaya kerjanya. Mana baru beberapa hari kerja aku sudah harus menyelidiki sesuatu, seperti detektif polisi saja," adu Alvin, mengingat pekerjaannya yang harus menyelidiki tentang pembullyan yang terjadi di sekolah Naura.


Ah, sepertinya selama bekerja di berbagai bidang, baru pertama kali ini Alvin mengadu pada orang lain.


"Lalu kamu mau bagaimana?" tanya Mang Lukman, sambil terkekeh.


"Ya gak apa-apa sih, cuman mau cerita saja. Soalnya aku mau cerita ke Mama, tapi gak ada waktu buat nengokin," jawab Alvin santai.


"Heh, dasar kamu!" Mang Lukman tampak tertawa mendengar jawaban Alvin.


Sepertinya kemajuan kesehatan Ganis memang sangat berpengaruh untuk Alvin, semenjak itu Alvin terlihat lebih hidup dan bersemangat dibandingkan sebelumnya. Laki-laki itu juga tampak lebih terbuka dan santai, walau lelah di wajahnya sangat terlihat.


Alvin bahkan sering pulang larut malam, kemudian pergi lagi di pagi hari, karena pekerjaan yang tidak mengenal waktu. Akan tetapi, sepertinya Alvin merasa senang bekerja di perusahaan itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2