ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Dikurung


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Alvin baru saja sampai di rumahnya setelah mengalami kejadian mengejutkan hari ini, saat dering ponsel di saku mengalihkan perhatiannya.


Alvin melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, ternyata itu adalah nomor milik Indira.


"Assalamualaikum, Nona," sapa Alvin.


"Waalaikumsalam. Vin, kita bisa bertemu gak?" tanya Indira dengan suara lirih, sepertinya kini Indira sedang tidak baik-baik saja.


"Bisa, kita bertemu di mana?" tanya Alvin dengan perasaan khawatir, dia takut kalau Indira juga menerima imbas dari penyerangan tadi.


"Di kafe xx, sekarang," ujar Indira yang langsung disetujui oleh Alvin.


Alvin langsung pergi berbalik dan langsung ke luar dari area kontrakan, berjalan menuju tempat mobilnya terparkir, lalu langsung melajukannya.


Beberapa saat kemduian Alvin pun sudah sampai di kafe xx, dia bergegas masuk ke dalam kafe tersebut. Ternyata di sana sudah ada Indira yang tengah menunggunya.


Alvin lebih dulu menyapa sebelum duduk di depan wanita yang kini bersetatus sebagai kakak sepupunya itu.


"Ada apa, Nona?" tanya Alvin setelah dia memesan satu cangkir kopi sebagai teman mengobrol dengan Indira.


"Apa kamu bisa menolongku, Vin? Aku gak mungkin minta tolong ke Eyang karena di sana juga ada anak buah Papi aku," ujar Indira setelah lama terdiam, dia memberanikan diri untuk menatap Alvin.


Alvin cukup terkejut saat melihat wajah Indira yang lebam bahkan ada bekas darah di sudut bibirnya yang sedikit bengkak.


"Ada apa, Nona? Kenapa, Anda, bisa begini?" tanya Alvin dengan wajah khawatirnya.


"Aku dipukuli Papiku, Vin. Mereka tahu aku membantu kamu bertemu Eyang. Selama beberapa hari ini aku dikurung di kamar, bahkan Roy, dia mencoba–" Indira tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena terhalang oleh isak tangis yang tidak bisa lagi dia tahan.


Alvin melebarkan matanya, dia tidak menyangka kalau Pak Mardo bahkan sanggup berbuat kejam pada anaknya sendiri.


Flash back.


"Dasar anak tidak berguna! Ngapain kamu membawa Alvin ke rumah Eyang kamu, hah?!" sentak Pak Mardo saat baru saja datang dari perjalanan kerja ke luar negeri.


Indira yang baru saja datang dari kantor terkejut dengan perkataan Pak Mardo yang tiba-tiba.

__ADS_1


"M–maksud, Papi, apa? Dira gak ngerti," jawab Indira, masih berusaha bersikap cuek pada kemarahan ayahnya.


Pasalnya dia sudah biasa menerima kemarahan dari Pak Mardo, entah itu karena ibu tirinya atau Roy yang selalu mengadu domba mereka dengan berbagai cara, dan bodohnya Pak Mardo selalu mempercayai mereka dibandingkan dengan dirinya sendiri.


"Kalau orang tua bertanya kamu harus jawab, bukan malah bertanya lagi, Dira." Roy ikut menimpali sambil bersidekap dada di belakang Pak Mardo.


Tatapan mengejek dan senyum menyebalkan pun terlihat dari wajahnya, seolah tengah merasa senang karena Indira dimarahi oleh Pak Mardo.


"Indira!" sentak Pak Mardo saat melihat Indira hanya diam.


"A–aku hanya ingin membantu Eyang, Pih," jawab Indira lirih, sambil menundukkan kepalanya.


"Membantu untuk apa? Agar kakakmu tidak bisa mewarisi harta mereka, hah?!" tanya Pak Mardo dengan wajah memerah.


"Harusnya kamu membantu kami agar kakak kamu bisa menjadi penerus dari perusahaan keluarga, bukan anak sialan itu!" sambung Pak Mardo lagi.


"Eyang hanya mau menemui Alvin, Pih. Lagi pula aku tidak pernah menganggap dia sebagai kakakku," ujar Indira dengan nada lirih di kalimat terakhirnya.


"Apa maksud kamu, hah? Dia itu kakak kamu, jadi jangan membantah!" sentak Pak Mardo.


"Aku adalah seorang anak tunggal, tidak mempunyai kakak dan adik. Aku gak sudi memanggil seorang anak pembunuh Ibuku sebagai seorang kakak!" Indira melawan, dia dengan berani menatap Pak Mardo dan Roy, juga berkata lantang.


Plak!


Untuk beberapa saat telinga Indira terasa berdengung karena kerasnya tamparan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri, hanya untuk membela Roy dan istri barunya.


Indira memegang pipi yang tampak memerah dan darah di ujung bibir yang pecah, dia menatap wajah Pak Mardo dengan mata berkaca-kaca.


Selalu begini akhirnya jika dia berbicara dengan ayahnya, hanya pertengkaran yang selalu diakhiri dengan kekerasan. Makanya selama ini Indira memlih diam dan menjauh dari keluarganya sendiri.


"Papa puas? Atau mau tampar aku lagi? Tampar, Pah, tampar!" sentak Indira sambil menunjukan sebelah pipinya yang masih mulus.


"Dasar anak kurang ajar! Kamu sama saja seperti ibumu! Kurung dia di kamar dan jangan beri makan sebelum dia mau meminta maaf!" geram Pak Mardo menatap wajah Indira dengan mata yang tampak memerah, sebelum kemudian pergi begitu saja meninggalkan Indira.


Roy tersenyum puas melihat Indira dihukum, dia pun dengan senang hati menyeret Indira ke kamar dan mengurungnya di kamar.


"Lepas, brengsek!" Indira berusaha melepaskan diri.


"Diam, atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih padamu, hah?" ancam Roy dengan seringai keji di wajahnya.

__ADS_1


Indira sedikit takut pada laki-laki itu saat keduanya kini masuk ke dalam kamar. Dia mengkerutkan tubuhnya dengan tatapan yang begitu memelas, memohon belas kasihan dari kakak tirinya itu.


"Diamlah, atau aku tidak akan segan-segan untuk melakukan apa yang tidak bisa kamu bayangkan," ancam Roy lagi tepat di depan cuping telinga Indira, sebelum akhirnya mendorong Indira ke atas ranjang.


"Mau apa, kamu?!" tanya Indira langsung beranjak duduk dan menjauh dari Roy.


Tatapan penuh minat Roy yang terus menelusuri tubuhnya membuat bulu kuduk Indira merinding disertai tubuh yang bergetar hebat, menahan takut.


"Sepertinya tubuhmu bagus juga untuk aku jadikan sebagai pelepas lelahku malam ini," ujar Roy sambil bergerak mendekati Indira.


"Jangan macam-macam! Ingat, Roy, kita itu saudara satu ayah," ujar Indira dengan suara yang terdengar bergetar.


Dia terus mundur dan turun dari ranjang, kemudian berlari menuju pintu untuk segera ke luar. Akan tetapi, Roy langsung mencegatnya hingga Indira terpaksa menghentikan langkahnya.


Sepertinya perkataan Indira tidak berhasil untuk membuat Roy berhenti melakukan niatnya. Laki-laki itu terus mendekati Indira dengan tatapan yang semakin menyeramkan.


"Tidak ... jangan, Roy. Aku mohon–" Indira kini terpojok di sudut ruangan dia berusaha meraih apa pun dan melemparkan ke arah Roy, untuk mencegahnya terus mendekat.


"Tolong! Papi, tolong!" Dengan suara sedikit parau, Indira berusaha berteriak agar orang di luar kamarnya bisa mendengar.


"Tidak ada yang akan menolongmu kali ini, Dira, jadi lebih baik kamu menyerah saja dan jadilah wanitaku malam ini," ujar Roy dengan seringai yang semakin menyeramkan.


"Kamu gila, Roy ... kamu gila!" teriak Indira, kini air mata sudah menganak sungai di pipinya.


Indira hendak berlari ke sisi kamar lainnya dan menghindar lagi dari Roy. Akan tetapi, tangan Roy lebih dulu menahan tubuhnya.


"Diamlah, aku hanya ingin mencicipi tubuhmu, adikku sayang." Roy memeluk Indira erat, hidungnya pun mulai mengendus rambut Indira dan terus turun hingga ke tulang selangka.


Indira terus berusaha berontak, walau dia tahu tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan diri. Hingga di saat Indira sudah hampir menyerah suara Pak Mardo tiba-tiba terdengar dari luar.


"Roy, cepat ke luar, ada sesuatu yang harus kita bicarakan!"


Roy langsung menghentikan aktivitasnya sambil mendengus kesal, dia mendorong Indira ke ranjang dengan cukup keras, kemudian berjalan ke luar, dengan tatapan penuh ancaman.


Semenjak hari itu, setiap kali ada orang yang mau masuk ke kamarnya, Indira akan lari ke kamar mandi dan mengunci diri di sana, karena takut itu adalah Roy.


Hingga akhirnya dia berhasil kabur, dengan bantuan pembantu rumah mereka, ketika Pak Mardo dan Roy sedang tidak ada di rumah.


Flash back off.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nona." Alvin merasa bersalah dengan apa yang menimpa Indira karenanya.


......................


__ADS_2