ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Menunggu


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Pagi hari di rumah mewah kediaman keluarga Wiratmadja, seorang gadis tampak sibuk membantu pelayan memasak di dapur. Sedangkan sepasang paruh baya tampak berjalan menuruni tangga.


"Sayang, apa Jani masih suka membantu masak di dapur?" tanya laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Raka Aditama Wiratmadja.


Seorang pengusaha sukses yang juga mengolah berbagai obat dan racun langka. Namanya sudah dikenal di kalangan pebisnis maupun di dunia hitam sekali pun.


"Iya, Mas. Sepertinya kali ini dia benar-benar menyukai laki-laki incarannya," jawab Keyra – istri dari Raka.


"Benarkah? Aku jadi penasaran, seperti apa anak laki-laki yang disukai oleh gadis kecil kita," ujar Raka.


Laki-laki paruh baya itu duduk di meja makan, sedangkan Keyra menyusul Jani ke dapur untuk membuatkan kopi.


"Masak apa lagi kamu sekarang, Jani?" tanya Keyra begitu sampai di dapur.


Jani mengalihkan pandangannya pada sang ibu, dia kemudian tersenyum sumringah sambil mengangkat kotak bekal di depannya.


"Aku buat sushi. Mama, mau cobain?" tanya Jani.


Keyra melihat sushi buatan anak perempuannya itu, dia kemudian tersenyum. Ternyata tidak sia-sia satu minggu ini Jani mengikuti kelas memasak. Makanan buatan anaknya itu tampak sudah rapih dan menggiurkan.


"Hemm, kayaknya enak banget tuh. Mama jadi laper deh," jawab Keyra, tangannya dengan cekatan menyiapkan kopi untuk sang suami.


"Pasti dong, Mah. Anak siapa dulu?!" Jani berucap riang.


"Anak mamah dong," sambung Keyra.


Semua menu sarapan sudah siap di atas meja, Jani dan kedua orang taunya pun sudah duduk di tempatnya masing-masing. Kini mereka semua tinggal menunggu kedatangan Anji dan Arkan.


"Kemana anak-anak itu, kenapa belum datang juga?" tanya Raka, melihat waktu yang semakin siang.


"Sebentar, Mas, biar aku panggilkan." Keyra hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Kami di sini, Pah, Mah!" tiba-tiba saja suara teriakan dari Anji terdengar nyaring.


Jani dan kedua orang tuanya menoleh ke arah tangga, di mana Anji dan Arkan tampak berjalan turun.


Setelah semuanya berkumpul, kini mereka sarapan bersama sambil berbincang ringan, mulai dari masalah di kantor, kampus, sampai keluhan Keyra yang sudah tidak bisa mendapatkan waktu dari ketiga anaknya.


"Maaf, Mah. Aku kan sibuk di kantor. Ini semua juga gara-gara, Papah, yang sudah tidak mau mengurus kantor lagi," jawab Arkan, sang anak sulung yang kini menggantikan Raka di kantornya.

__ADS_1


"Aku juga sibuk kuliah, Mah." Anji tidak mau kalah.


Keyra menatap kesal kedua anak laki-lakinya. Kini dia mengalihkan pandangannya pada Jani, begitu juga yang lainnya.


"Ekhm!" Jani berdehem, untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Iya-iya, akhir pekan ini aku akan menemani, Mama," ujar Jani, dengan ekspresi wajah tertekan.


"Nah gitu dong, jangan sibuk ngejar-ngejar anak laki-laki sombong itu terus." Anji berbicara tanpa merasa bersalah, karena membongkar rahasia Jani, yang sebenarnya sudah diketahui oleh seluruh keluarganya itu.


Jani menatap tajam wajah saudara kembarnya, dia benar-benar kesal dan mau sekarang.


"Kamu, ngejar-ngejar laki-laki? Siapa?" tanya Arkan, dingin.


Jani tampak gugup mendapati pertanyaan dari kakak sulungnya itu. Pasalnya menurut mereka Arkan lebih menakutkan dibandingkan dengan ayah mereka sendiri.


"I–itu ... e–enggak kok, Kak. Itu hanya perkataan asal dari Anji saja. Iya kan, Anji?" ujar Jani, berkelit dengan berbagai alasan.


Anji tidak menjawab dia malah berpura-pura tidak mendengar perkataan saudara kembarnya.


Jani berdecak kesal, melihat Anji yang tidak perduli padanya. Dia meringis melihat mata tajam Arkan.


"Sudah-sudah, jangan ribut. Ini meja makan, lebih baik kalian makan sarapan kalian," ujar Keyra, melerai ketiga anaknya.


Jani, Anji, dan Arkan, langsung terdiam. Mereka mengambil sarapan dan makan dengan perbincangan ringan tentang hal yang lainnya, tanpa mau menyinggung masalah Jani lagi.


"Kakak, mai bicara sama kamu setelah pulang kuliah," ujar Arkan, ketika mereka berjalan ke luar rumah.


"Iya, Kak," jawab Jani.


"Kakak, tunggu kamu di kantor."


Jani mengangguk, dia memang tidak bisa menolak perintah kakak sulungnya.


.


.


"Pagi, Alvin!" sapa Jani dengan senyum sumringah dan semangat empat lima.


Alvin yang baru saja turun dari bisa hanya bisa mendesah, melihat tingkah Jani yang seakan tidak pernah lelah untuk mendekatinya.


"Pagi," jawab Alvin sambil berjalan meninggalkan Jani di halte.

__ADS_1


"Ish, masih saja dingin, kayak kulkas," decak Jani sambil berjalan cepat mengejar Alvin.


"Nanti siang, kita makan bareng di tempat biasa, mau gak? Aku bawain bekal buat kamu nih," ujar Jani, sambil memperlihatkan kotak bekal miliknya pada Alvin.


Alvin menoleh sekilas.


"Terima kasih. Tapi aku bisa membeli makanan untuk sendiri," jawab Alvin, tanpa riak emosi di dalamnya.


Astaga, liat wajahnya yang datar kayak pintu kulkas dua belas pintu! Uh, untung aku suka, batin Jani.


"Pokoknya gak ada penolakan, aku bakalan tunggu kamu, sampai kamu datang," ujar Jani keras kepala.


Alvin memutar bola matanya, sudah enam bulan Jani terus mengikutinya, menempel seakan tidak ingin terlepas, seolah mereka sudah menjalin sebuah hubungan.


Padahal selama ini dirinya sama sekali tidak pernah memberikan harapan. Akan tetapi, Jani bukan perempuan yang akan menyerah dengan mudah hanya karena dia acuhkan.


"Terserah!" ujar Alvin sambil berjalan lebih cepat, meninggalkan Jani lagi.


Jani tersenyum, dia sama sekali tidak pernah menyerah dengan keinginannya, begitu juga untuk meraih cintanya dari Alvin.


Baginya diacuhkan oleh laki-laki dingin itu adalah hal yang biasa, selama Alvin tidak pernah berbuat kasar padanya, dia akan terus maju untuk mendapatkan laki-laki pujaannya itu.


Beberapa jam kemudian, Alvin berjalan cepat menuju perpustakaan, dia harus segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen, sebelum jam kelas berikutnya.


"Kamu mau langsung ke perpus?" tanya salah satu teman Alvin yang keluar bersama dengannya.


"Iya," jawab Alvin.


Alvin tampak sangat sibuk di perpustakaan, dia bahkan melupakan jam makan siangnya. Dirinya terus berkutat di dalam perpus, tanpa ingat perkataan Jani tadi pagi.


Di taman tempat biasa Alvin mengerjakan tugas, Jani duduk sendiri menunggu laki-laki yang selama ini tidak pernah mengingkari janji.


Angin dingin bertiup cukup kencang, disertai awan hitam yang mulai menggantung di atas langit.


Jani menatap jalan yang biasa Alvjn gunakan untuk datang ke sana. Akan tetapi, belum ada juga tanda-tanda kehadiran laki-laki itu.


Apa dia lupa? Tapi, biasanya dia tidka pernah lupa kalau kita berdua sedang memiliki janji.


Jani berusaha menguatkan dirinya sendiri, bertahan dengan pikirannya dan keyakinannya pada Alvin. Tanpa tahu di perpustakaan


Perlahan tetes air yang jatuh dari langit mulai terasa, Jani menengadahkan kedua tangannya,menikmati sejuknya air dari iangit


...................

__ADS_1


Ish, Alvin tega banget sih, masa cewek secantik Anjani dianggurin😒


Oh iya, yang mau tau kisah Raka dan Keyra baca Presdir kutu buku ya. Tapi, kalau ceritanya gak jelas maafkeun yah, itu karya pertama aku yang bisa tamat. Jadi agak maksa dan gak jelas😁🙈


__ADS_2