ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Calon pacar


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Om Al!" Alvin langsung menoleh pada seorang anak yang sedang berlari menuju padanya.


"Gadis kecil?" gumam Alvin, dia kemudian berjongkok untuk menangkap Naura yang berlari ke arahnya. Membawanya pada gendongannya dengan tawa riang anak dari bosnya itu.


Di belakang Naura, ternyata ada wanita berjilbab yang mengikutinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Nindi, istri dari Ezra.


"Assalamualaikum," sapa Nindi begitu wanita itu sampai di hadapan suami dan asistennya.


Tidak menunggu lama, tanpa malu Ezra langsung merangkul pundak istrinya dan membawanya ke sampingnya.


"Maaf, Mas, kami terlambat, ya?" ujar Nindi sambil melihat Alvin dan Indira bergantian.


"Loh, kamu juga ada di sini, Vin? Bukannya tadi, Mas Ezra bilang kamu izin makan di luar?" tanya Nindi menatap bingung orang-orang yang ada di sana.


Pasalnya tadi Ezra tiba-tiba telepon dan memintanya untuk menemani makan siang, karena Alvin sedang izin makan siang di luar. akan tetapi, sekarang dia malah melihat Alvin dan suaminya sedang bersama.


"Mereka baru ke luar dari dalam, sayang. Ayo kita masuk, gak usah perdulikan mereka," jawab Ezra menatap malas pada Alvin.


Eh! Siapa juga yang menegur duluan? Kalau dia tidak menegur juga aku gak tau kalau Pak Ezra ada di sini, batin Alvin.


"Sini, sayang. Kamu Papa saja yang gendong. Om Al, mau kembali ke kantor." Ezra mengambil Naura dari gendongan Alvin.


Walau terlihat enggan, Naura tetap menurut pada kedua orang tuanya dan beralih pada gendongan Ezra.


"Ohya, hari ini aku enggak kembali ke kantor, jadi semua pekerjaan aku di kantor, kamu yang handle!" sambung Ezra lagi.


Apa aku gak salah dengar? Pak Ezra menyuruhku menangani semua pekerjaannya? Alvin melebarkan matanya, mendengar apa yang dikatakan oleh Ezra. Dia bisa lembur, kalau semua pekerjaan Ezra dilimpahkan padanya.


"Alvin!" Ezra kembali bersuara dengan nada dingin dan penuh intimidasi, saat dia tidak juga mendengar jawaban dari asistennya.


"Baik, Pak," angguk Alvin pasrah.


"Bagus! Segera kembali ke kantor, jangan pacaran mulu!" titah Ezra sebelum menggandeng  istrinya untuk masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


"T–tapi, Pak–" Alvin hanya bisa menghembuskan napas kasar, sambil melihat keluarga bosnya masuk ke dalam restoran.


Perasaan aku tadi sudah izin untuk makan di luar. Tapi, kenapa masih mendapat hukuman? Lagian dia sendiri makan di luar sama istri dan anaknya, masa aku gak boleh makan sama orang lain? Dasar bucin! gerutu Alvin di dalam hati.


"Itu bos kamu yang baru, Vin?" tanya Indira yang sejak tadi hanya bisa bengong, tidak berani untuk ikut dalam perbincangan Ezra dan Alvin.


"Iya," angguk Alvin.


"Kamu kerja di perusahaan Darmendra, sekarang?" tanya Indira, masih belum tahu Alvin bekerja di mana.


"Iya," jawab Alvin lagi.


"Ya sudah, kalau gitu kita berpisah di sini saja. Terima kasih atas waktunya ... saya permisi, Nona," ujar Alvin sambil mengangguk samar.


"Ck!" Indira hanya berdecak saat mendengar Alvin masih saja memanggilnya Nona.


Alvin tersenyum tipis, mereka berjalan bersama menuju mobil milik Indira yang terparkir tidak jauh dari tempat keduanya berdiri, dia kemudian membuka pintu mobil milik Indira. Indira melirik Alvin sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Sampai jumpa lagi. Assalamualaikum," ujar Alvin, sebelum menutup pintu mobil Indira.


Setelah melihat Indira pergi dari restoran itu, Alvin baru masuk ke mobilnya kemudian kembali mengemudikan mobilnya menuju ke kantor, untuk mengerjakan pekerjaan bosnya yang tidak pernah ada habisnya.


.


Sementara itu Ezra dan Nindi sudah menempati kursi di restoran itu. Nindi yang sempat mendengar perkataan yang dikatakan oleh suaminya pada Alvin, terlihat penasaran.


"Memang wanita itu pacarnya Alvin, Mas?" tanya Nindi, setelah mereka memesan makanan.


"Bukan, wanita itu saudaranya Alvin, sayang," jawab Ezra.


"Loh ... kok, Mas, tadi bilang kalau itu pacar Alvin?" bingung Nindi.


"Aku cuman mau menggoda dia saja, sayang. Sekaligus untuk membuat alasan agar bisa menghukumnya," ujar Ezra terkekeh geli dengan kelakuannya sendiri.


Ayu menggeleng samar, jika dulu yang jadi sasaran kejahilam Ezra adalah Keenan, kini setelah adik iparnya itu pindah, Alvin malah menjadi sasaran.


"Om Al itu gak boleh pacaran." Tiba-tiba Naura menimpali obrolan para orang tua itu.

__ADS_1


Ezra dan Nindi menoleh, menatap anak pertama mereka dengan kening berkerut.


"Dilarang pacaran sama siapa, sayang?" tanya Ezra bingung.


"Sama Rara. Om Al itu calon pacar Rara, Papa," jawab Naura dengan percaya dirinya.


"Ih, anak kecil ini! Dari mana sudah tau pacar-pacaran, hem?" Ezra menggelitiki pinggang anak pertamanya itu hingga Naura tertawa kegelian.


"Dari ... Mama, Papa, Uncle Keenan dan Aunty Riska," jawab Naura di sela tawanya.


Ezra dan Nindi saling tatap saat mendengar jawaban dari gadis kecil itu, dengan kening berkerut seolah tau arti dari jawaban anak pertama mereka.


.


Akhir pekan ini, Indira mengajak Alvin untuk bertemu dengan Nyonya Hartari dan Tuan Gemang Karyoso langsung di kediaman besar mereka yang berada di luar kota. Alvin yang tahu kalau beberapa hari ini selalu diikuti oleh anak buah Pak Mardo pun akhirnya memilih untuk menyusun rencana.


Alvin pergi dari rumah menuju masjid terdekat, untung melakukan shalat subuh berjamaah bersama Pak Umar, mereka berjalan beriringan seperti biasa. Akan tetapi, kini Alvin tampak membawa tas yang selalu dikatakan kalau itu milik Pak Umar.


Setelah melakukan shalat subuh berjamaah, Alvin langsung berpisah bersama Pak umar, dia memilih melewati jalan lain untuk sampai di jalan raya tempatnya bertemu janji dengan Indira.


Ya, hari ini Alvin akan mengendarai mobil Indira, demi menghindari para penguntit yang selalu mengikutinya.


Belum lama sampai di pinggir jalan, Indira sudah menghentikan mobilnya di depan Alvin, dia langsung pindah ke kursi penumpang, agar Alvin bisa duduk di kursi kemudi.


Indira tampak menatap Alvin yang terlihat berbeda dengan biasanya, kini Alvin hanya memakai baju koko lengan pendek berwarna putih tulang dan sarung berwarna biru dongker sebagai bawahannya.


"Kamu yakin mau berpakaian seperti ini sampai ke rumah Eyang?" tanya Indira.


Alvin melihat penampilannya, dia memang belum sempat ganti baju setelah shalat berjamaah tadi.


"Aku bawa baju ganti, nanti kita mampir di toilet untuk ganti baju dulu," jawab Alvin.


"Oh, ya udah, itu lebih baik. Aku serasa jalan sama ustad kalau begini," angguk Indira sambil mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya bukan itu yang Indira maksud. Dia malah suka melihat Alvin yang tampak lebih tampan dan berkarisma saat menggunakan baju khas muslim itu.


Dia hanya takut, nanti bisa jatuh cinta jika terus melihat Alvin berpakaian seperti itu di sepanjang jalan. Karena memang perjalanan mereka tidaklah singkat, butuh sekiranya waktu kurang lebih lima sampai tujuh jam untuk sampai ke rumah besar keluarga Karyoso.

__ADS_1


Alvin hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala samar, menanggapi ocehan dari saudara barunya itu.


......................


__ADS_2