
...Happy Reading...
......................
"Yuk, sekarang giliran kita kerja," ujar Alvin setelah pekerja yang sebelumnya sudah ke luar dan kini digantikan dengannya.
Kali ini dia harus naik ke atas untuk mengecat kerangka besi di bagian atas. Alvin bersiap menggunkan sabuk tali pengaman, setelah dia siap, kini dia harus bergelantungan dengan satu tangan fokus menyemprotkan cat ke setiap besi yang ada di sana.
Aroma bahan kimia khas pun mulai menguar tajam, menyatu dengan dinginnya angin sore hari itu, hingga bisa menembus banyaknya lapisan masker di wajah Alvin. Dia masih bisa mencium bau tidak enak itu, walau hanya terasa samar.
Begitulah Alvin bekerja selama ini, pekerjaan yang berat dengan resiko keseatan dan keselamatan yang tinggi. Semua itu dia kerjakan dengan penuh semangat, melupakan masa-masa bermain dan berkumpul bersama taman-teman seumurannya.
Alvin merelakan masa mudanya dengan harapan menjemput masa depan yang lebih baik lagi. Bahkan tidak perduli dengan orang-orang yang menganggapnya aneh, karena sering tertidur di mana saja.
Lingkar hitam di bawah mata pun seakan tidak pernah mau menghilang dari wajahnya. Semua itu Alvin dapatkan semenjak bekerja, hingga sekarang masih terlihat pekat.
Waktu tidur yang sangat kurang, membuat dia tidak bisa menghindari itu semua. Alvin yang cuek dan tidak memikirkan gengsi, tidak mengambil pusing, saat wajahnya tidak lagi segar seperti pertama kali masuk kuliah.
Sekarang dia terlihat lebih kusut dan pucat, efek dari kurang tidur dan tidak mempunyai waktu untuk merawat diri.
Jam dua belas malam Alvin baru selesai bekerja, dia hanay diberikan dua kali istirahat di saat magrib dan jam sembilan malam, itu pun hanya tiga puluh menit. Kadang waktu istirahat tidak terasa, karena Alvin menggunakannya untuk shalat magrib, sedangkan isya, dia memilih untuk mengerjakannya setelah sampai di kontrakan.
"Huh, akhirnya selesai juga untuk malam ini," ujar Dodi sambil membuka peralatan tempur mereka.
Alvin tersenyum tanpa menanggapi, dia melepaskan helm dan memilih untuk duduk terlebih dahulu.
Kali ini hampir seluruh bagian pekerjaanya berada di bagian atas, hingga dia haru selalu mengandalkan tali pengaman, untuk bergelantungan bagaikan seorang sepiderman.
Melelahkan sekali rasanya, harus mengendalikan tubuh yang terombang ambing terkena angin, sambil menyetabilkan tangan agar cat yang disemprotkan tidak melenceng dari target.
Alvin memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencoba meregangkan otot yang terasa sangat kaku. Untung saja besok hari minggu, dia bisa menghabiskan waktunya untuk istirahat dan tidur seharian.
Hah, membayangkannya saja sudah membuat Alvin terasa ingin cepat pulang. Padahal tidak ada yang menunggunya di rumah. Paling ada Lukman yang menghabiskan malam dengan main kartu dengan sekumpulan bapak-bapak lainnya.
__ADS_1
Dia juga tidak memiliki wanita yang bisa dirindukan atau tempat bermaja. Alvin juga sepertinya tidak terlalu memikirkan itu.
Bagi Alvin, saat ini kasur baru yang beberapa hari lalu ia beli lebih menggiurkan, dibandingkan dengan pelukan hangat seorang gadis, atau belaian manja para perempuan.
"Aku pulang duluan, Pak. Assalamualaikum," pamit Alvin, sambil mengambil tas ransel yang bisa dia pakai ke kampus.
"Iya, Vin. Hati-hati di jalan," jawab mereka semua.
"Vin, besok aku mau jual besi ke pengepul, katanya kemarin mau ikut?" Dodi berteriak membuat langkah Alvin terhenti.
"Boleh, Pak. Besok kabarin aja mau berangkat jam berapa," jawab Alvin penuh semnagat.
ALvin selalu senang jika ingin berkunjung ke tempat baru, dia suka mendapatkan pengalaman. Bisa melihat berbagai usaha, membuatnya seakan melihat sisi lain dari kota Jakarta.
Seperti yang diketahui banyak orang, kota Jakarta terkenal dengan gedung betingkat dan kemewahan, orang kampung seakan menjadikan Jakarta patokan untuk membuat orang sukses.
Padahal di balik hingar bingar kota Jakarta yang begitu terkenal dengan segala kemeahannya, ada banyak orang-orang kecil yang bekerja banting tulang, hanya untuk bertahan hidup.
Kini Alvin tahu makna dari ucapan itu, karena dirinya bisa merasakan sendiri, bagaimana sulitnya dia bertahan hidup di kota Jakarta.
Jam setengah dua pagi, Alvin baru saja selesai mandi, dia merebahkan dirinya di atas kasur.
Alvin memejamkan matanya, sambil menghirup napas dalam lalu membuangnya perlahan. Rasanya sangat nyaman bisa merebahkan tubuh seperti ini, setelah seharian berkutat dengan pelajaran dan pekerjaan.
Tidak butuh waktu lama, Alvin sudah terlelap menjemput mimpi yang entah kapan akan menjadi kenyataan.
.
.
Hari libur bukanlah hari yang lengang juga bagi Alvin, mencuci baju dan membersihkan rumah menjadi agendanya hari ini. Ditambah dengan mengerjakan tugas dari dosen.
Namun, bisa tidur lagi setelah shalat subuh saja rasanya sungguh kenikmatan sejati untuknya. Jam menunjukan pukul sembilan, saat Alvin menggeliatkan tubuhnya yang terasa lebih segar.
__ADS_1
"Bangun, Vin. Sarapan dulu, nanti disambung lagi tidurnya," ujar Lukman, sambil berjalan ke arah teras. Di tangannya terlihat gelas yang berisi kopi yang masih mengepulkan asap.
"Eungh ... iya, Mang," jawab Alvin, merasa masih enggan membuka matanya.
Alvin memicingkan matanya menghindari sinar matahari yang masuk ke dalam saat Lukman membuka pintu. Melihat jam bulat yang menempel di dinding.
"Udah siang ternyata," gumamnya sambil beranjak duduk.
Sejak Alvin bekerja malam, Lukma terlihat lebih memperhatikannya, setiap minggu Lukman membiarkan Alvin untuk istirahat.
Sampai jam berapa pun Alvin ingin tidur tidak akan ada yang menganggunya. Lukman hanya membangunkan ALvin untuk makan dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Namun, Alvin pun sadar kalau dia hidup menumpang, dia tidak pernah lupa dengan kewajibannya membantu Lukman membersihkan rumah, dan menjaga kebersihannya.
Dia juga tidak mau terus bermalas-malasan di hari minggu, mentang-mentang libur kerja dan kuliah.
Mengucek mata, berusaha menghilangkan rasa berat untuk terbuka. Alvin kemudian bernajak, dia kemudian melipat sarung dan membersihkan tempat tidurnya.
Kasur lipat yang dia beli beberapa hari yang lalu, dia bawa ke belakang untuk di tumpuk dengan kasur milik Lukman, agar kalau ada tamu, ruang depan tidak terlihat kumuh.
Setelah semuanya beres, Alvin berjalan menuju ke belakang, mencuci muka lalu kembali duduk di dapur. Dia lebih dulu menenggak segelas air putih, sebelum memulai aktivitasnya.
Padahal di atas meja sudah tersedia sebungkus nasi uduk, yang sudah pasti jatah dari Lukaman untuknya. Akan tetapi, rasanya tidak enak kalau bangun tidur langsung makan, perutnya juga belum terasa lapar.
Kembali ke kamar mandi, dia melihat ember berisi baju miliknya yang sengaja di rendam dari tadi subuh, agar kotorannya cepat rontok.
Alvin jongkok di ujung kamar mandi berukuran satu setengah meter persegi itu, lalu mulai mengucek pakaiannya di atas papa penggilesan, sesekali dia menggunakan sikat cuci di tempat-tempat tertentu.
Setengah jam berkutat dengan pakaiannya, kini dia sudah terlihat segar dengan rambut yang masih basah.
......................
...Tidak ada yang sia-sia dari sebuah perjalanan mengarungi kehidupan. Semuanya akan ada makna walau terkadang terlambat untuk kita mengerti....
__ADS_1