ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Rumah Mang Lukman


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Sekitar satu setengah jam Alvin berdiri di sana, hingga akhirnya ada seorang perawat menghampiri Rengganis untuk membawanya kembali ke dalam kamar rawatnya.


"Aku gak mau masuk, aku mau nungguin suami dan anakku datang," tolak Rengganis, saat perawat itu hendak membawanya.


"Tapi, sekarang sudah waktunya, Ibu, sitirahat," ujar perawat itu lembut.


Alvin refleks melangkahkan kakinya ingin mendekati ibunya, rasanya ingin sekali dia memeluk dan menyentuh tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.


Namun, Alvin kembali menghentikan gerakan kakinya, dia sadar kalau semua itu hanya akan membuat ibunya kembali mengingat ayah dan adiknya.


"Sebentar lagi mereka datang, aku harus tetap berada di sini untuk menyambut kedatangan anak dan suamiku." Rengganis masih saja menolak.


Alvin megepalkan tangannya, menahan gejolak rasa yang bercampur di dalam hatinya. Dia memalingkan wajahnya, lalu berjalan pergi, saat hatinya sudah tidak bisa lagi menahan keteguhannya.


Dengan langkah gontai Alvin menyeret kakinya meninggalkan rumah sakit tempat ibunya dirawat.


"Tunggu aku, Mah. Suatu saat nanti aku akan menjemputmu untuk tinggal bersama lagi," lirihnya sambil menatap bangunan tempat Rengganis tinggal selama tiga tahun ini.


Alvin kembali menaiki kendaraan umum, untuk menuju ke satu tempat lagi, sebelum dia pergi ke tempat Mang Lukman.


Beberapa saat kemudian Alvin sudah berada di pemakaman umum, dia lebih dulu membeli air mawar dan bunga tabur di pintu masuk.


Langkah kakinya kembali terayun menyusuri sepanjang jalan pemakaman itu, hingga tanpa sadar dirinya sudah berdiri di depan dua buah makam bertuliskan nama ayah dan adiknya.


Alvin terdiam, dia menatap dua buah nisan di depannya dengan perasaan berkecamuk.


Perlahan Alvin mulai menurunkan tubuhnya, dia berjongkok di samping makam ayahnya. Tangan bergetarnya terulur mengusap kedua batu nisan  di depannya.


"Assalamualaikum, Bapak, Alin," ujarnya lirih.


Seklera matanya kembali memerah, menahan rasa sakit yang kembali terasa di dalam dada.


Alvin tersenyum, dia kemudian memilih untuk mengaji dan berdoa terlebih dahulu, kemudian menabur bunga dan menyiramkan air mawar yang dia beli sebelumnya.


"Bapak, Alin, maaf aku udah lama gak mengunjungi kalian," ujar Alvin.


"Pak, Alin, aku ke sini mau bilang kalau aku berhasil masuk ke perguruan tinggi. Aku berhasil mendapatkan beasiswa ... aku pintar, bukan? Hehe."


Alvin mulai bercerita, diakhiri dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya, walau mata dan raut wajahnya sama sekali tidak bisa menggambarkan kesenangan di sana.


"Aku sekarang tinggal bersama Mang Lukman. Bapak, ingat keponakannya kakek yang tinggal di dekat rumah kakek? Dulu kalian berdua suka main catur bareng kalau sama-sama sedang ada di kampung," sambung Alvin lagi.

__ADS_1


"Alin, tadi kakak jenguk mamah. Alin, tau apa yang mamah pegang? Boneka beruang kesukaan, Alin. Mamah, juga masih menunggu Bapak dan Alin, datang loh. Mamah, kangen banget sama kalian."


Alvin mengusap cepat air mata yang hampir saja lolos dari pelupuk, dia tidak mau menangis di makam kedua orang yang disayanginya itu.


"Bapak dan Alin, tenang aja di sana ya, aku di sini akan terus jagain mamah, aku anak pintar  jadi jangan khawatirkan aku, ya. Hehe ...."


Alvin trisak pelan, ingin rasanya dia mengungkapkan perasaannya saat ini. Akan tetapi, dia juga takut itu semua akan menjadi beban bagi ayah dan adiknya di alam sana.


"Aku baik-baik saja ... aku akan baik-baik saja," lirih Alvin.


Cukup lama Alvin di sana, bahkan matahari mulai bergulir ke arah timur, menandakan sore telah datang.


Jam lima sore Alvin baru saja sampai di alamat Mang Lukman. Sebuah rumah kontrakan terlihat berderet, memanjang membentuk sebuah barisan rapih yang tampak berhadapan.


"Assalamulaikum," sapa Alvin pada sekumpulan ibu-ibu yang sedang mengasuh anaknya di depan rumah itu,


"Wa'alakumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Ada apa ya, Dek?" tanya salah satu di antara mereka.


"Saya mau tanya rumahnya Mang Lukman, di mana ya?" tanya Alvin.


"Mang Lukman yang kerja di pemborong bangunan itu ya?" tanya salah satu ibu-ibu, yang sedang menyuapi anak balitanya makan.


"Itu yang di pojok. Tapi, sepertinya orangnya belum pulang kerja. Memangnya ada apa ya, Dek?" tanya Ibu yang lainnya.


Alvin tersenyum. "Saya kerabatnya dari kampung, Bu," jawabnya.


"Oh, kirain siapa, kalau gitu tunggu di depan saja, biasanya sebentar lagi juga pulang," ujar salah satu ibu itu lagi..


"Baik, Bu. Terima kasih," jawab Alvin sopan.


Dia kemudian berjalan menuju rumah paling pojok yang merupakan rumah Mang Lukman, lalu duduk di kursi yang tersedia di depannya.


Suasana di rumah kontarkan itu cukup ramai, sepertinya banyak dari penghuninya sudah memiliki keluarga dan anak, hingga anak-anak kecil tampak banyak yang bermain di depannya.


Alvin cukup terhibur melihat anak-anak yang terlihat berlarian sambil tertawa riang, tidak jauh dari tempatnya duduk.


Tanpa dia sadari, bibirnya tertarik hingga membentuk garis lengkung saat melihat tingkah lucu para anak-anak itu.


Mereka tampak bahagia, menikmati masa kecil tanpa ada tanggung jawab yang membebaninya, batin Alvin di dalam hati.


Dia merasa cukup terhibur, saat melihat tawa riang anak-anak itu.


"Alvin?"

__ADS_1


Sebuah suara dari sampingnya membuat Alvin yang sejak tadi fokus pada anak-anak, terkejut. Dia langsung mengalihkan pandangannya pada laki-laki paruh baya yang berdiri di sampingnya.


"Assalamualaikum, Mang," ujar Alvin sambil berdiri dan mencium tangan laki-laki paruh baya itu yang ternyata Mang Lukman.


"Wa'alaikumsalam, udah lama, Vin?" tanya Mang Lukman.


"Belum, Mang," geleng Alvin.


"Syukurlah, tadi sempat ada sedikit masalah di proyek, makanya Mamang, pulang agak terlambat." Mang Lukman mengambil kunci dari saku celananya, lalu membuka pintu.


"Iya, Mang, gak apa-apa."


"Ayo masuk. Ya beginilah, tempat tinggal mamang di sini," ujar Mang Lukman, sambil mengedarkan pandangannya pada seluruh rumah kontrakan itu.


"Ini juga sudah bagus kok, Mang. Yang penting bisa dipakai tidur dan berteduh juga sudah cukup," jawab Alvin sambil mengedarkan pandangannya, melihat kontrakan yang akan dia tinggali bersama dengan Mang Lukman.


Sebuah kontrakan petakan, dengan lebar sekitar tiga meter tengah, dan panjang mungkin sembilan sampai sepuluh meter. Ada tiga ruangan yang hanya dibatasi dengan tembok tanpa pintu.


Terdiri dari ruang depan, berisi televisi, dan lemari kecil, lalu bagian belakangnya adalah kamar, dan paling belakang lagu dapur dan kamar mandi.


Terlihat cukup kosong, walaupun ada beberapa perabot sederhana yang mungkin digunakan sehari-haru oleh Lukman.


"Sebenarnya awalnya mamang tinggal di sini sama dua orang teman. Tapi, sekarang mereka sudah pindah, jadi sekarang tinggal sendiri," ujar Mang Lukman, sambil duduk lesehan di atas lantai, setelah menunjukan semua isi rumahnya.


Alvin ikut duduk. di depan Mang Lukman, dia menganggukkan kepalanya samar sebagai jawaban.


"Ya sudah, kamu lihat-lihat saja dulu, mamang mau mandi dulu." Mang Lukman beranjak berdiri.


"Iya, Mang."


"Oh iya, kamu taruh aja baju kamu di sini, ini kosong kok." Mang Lukman menunjuk lemari plastik di salah satu pojok ruangan.


Alvin mengikuti arah telunjuk Mang Lukman, lalu mengangguk setelah tau lemari yang di maksud Mang Lukman.


Alvin beranjak, untuk membereskan baju dan barang-barang yang dia bawa ke dalam lemari.


Namun, saat dia membuka tas ranselnya, dia baru menyadari kalau ada bekal yang dititipkan neneknya tadi pagi.


Ya ampun, aku sampai lupa sama bekal yang dibuat nenek, batin Alvin.


Alvin pun mengeluarkannya lebih dulu, sebelum menata pakaiannya. Dia beranjak berjalan ke dapur.


......................


Hidup dengan orang lain memang tidak mudah. Akan tetapi, setidaknya kita masih ada tempat untuk berteduh dan tidur yang nyaman.

__ADS_1


__ADS_2