
...Happy Reading...
......................
Benar saja, sampai di rumah waktu salat magrib sudah hampir tiba. Imran terlebih dulu memberikan separuh hasil memancingnya kepada Esih, untuk diolah.
Sedangkan Alvin langsung membersihkan diri agar tidak terlambat berjamaah di masjid bersama dengan kakeknya.
.
.
Jam sembilan malam, ALvin sudah bersiap untuk tidur, dia merasakan pinggangnnya pegal, mungkin karena cukup lama mengambil keong tadi sore.
Alvin mengambil minyak kayu putih di atas meja, lalu mengoleskannya agar merasakan hangat di sekitar pinggang yang terasa sakit.
Dia kemudian merebahkan diri di atas ranjang. Rasa lelah juga penat, setelah seharian sibuk berkutat dengan aktivitasnya yang cukup padat.
Alvin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, pandangannya lurus menatap langit-langit kamarnya yang terlihat kusam.
Ingatannya melayang pada sang ibu yang entah sedang apa di tempatnya sekarang.
"Mah, Alvin kangen ... Mama, baik-baikya di sana, Alvjn janji kalau sudah ada uang, Alvin akan menjenguk, Mamah," lirih Alvin, seakan sang ibu memang ada di dekatnya.
Lelah dengan semua bayangan bersama keluarganya, perlahan mata Alvin tertutup, saat tidak lagi bisa menahan kantuk.
.
.
Hari minggu yang cerah, jam delapan pagi, Alvin terlihat sudah pulang dari sawah, dengan membawa keong di tangannya.
Semenjak banyak tetangga yang tahu kalau Alvin memungut keong, dia sering ditawari untuk memungut keong di sawah mereka.
Mereka malah merasa terbantu dengan adanya Alvin, karena keong di sawah bisa berkurang. Alvin pun senang karena ternyata orang yang mempunyai sawah, tidak merasa risih dengan kegiatannya.
Ya, hitung-hitung membantu Alvin, sekaligus membersihkan hama di sawah mereka. Mungkin itulah pikiran orang-orang itu.
Kegiatan di sawah, setelah menebar pupuk kedua kemarin, memang sedikit brkurang. Hingga Alvin bisa dengan leluasa mencari keong, tanpa terbebani oleh pekerjaan kakeknya di sawah.
"Udah pulang aja kamu, Vin?" tanya Imran yang baru saja datang ke rumahnya.
"Iya, kalau kesiangan nanti keongnya keburu masuk ke lupur," jawab Alvin sambil menaruh kantong plastik di depan rumahnya.
__ADS_1
"Hari ini kamu mau ke mana lagi?" tanya Imran, memilih duduk di teras rumah, menunggu Alvin yang sedang membasuh celananya yang kotor.
"Paling ke rumah Bi Inah, buat ngasih keong-keong itu. Emang kenapa, Ran?" Alvin ikut duduk di samping Imran.
"Enggak apa-apa sih. Tadinya aku mau ngajakin kamu ke area pesanteren, katanya di sana sedang ada pertemuan orang tua," ujar Imran.
"Terus, kita ngapain ke sana? Kan kita gak mondok di sana?" Alvin tampak mengerutkan keningnya.
"Biasanya suka banyak yang jualan. Bisalah, kita jajan sekalin cuci mata, mumpung para santiwati pada dibolehin ke luar. Siapa tahu aja ada yang nyantol?" Imran berbicara sambil tersenyum sumringah.
"Gak ah, aku gak tertarik. Mending kamu sendiri aja yang ke sana," tolak Alvin langsung.
Remaja laki-laki itu kemudian masuk ke dalam rumah, untuk mengganti celananya dengan yang lebih bersih.
"Beneran gak mau ikut, nih?" tanya Imran lagi memastikan.
Alvin menggeleng tegas, menunjukkan kalau dirinya tidak tertarik untuk menghadiri acara seperti itu.
Imran menghembuskan napas kasar, melihat jawaban dari saudara sekligus temannya itu. Dia pun akhirnya ikut berdiri, saat Alvin sudah siap dengan keong-keongnya di dalam plastik yang lebih besar.
"Nek, aku pergi ke rumah Bi Inah dulu ya," ujar Alvin, berpamitan pada neneknya.
"Iya," jawab Esih, yang sedang menjemur pakaian di samping rumah.
Alvin dan Imran terlebih dulu menghampiri Esih dan mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Esih, sambil menatap punggung kedua cucu laki-lakinya.
"Vin, belut dari aku, udah dimasak belum sama nenek?" tanya Imran di sela langkah mereka.
"Udah," jawab Alvin singkat, dengan wajah yang berubah masam.
"Eh?! Kamu kenapa, muka jadi ditekuk begitu?" tanya Imran merasa aneh dengan ekspresi wajah Alvin yang tidak biasa.
"Gak apa-apa." Alvin hanya menjawab singkat, sambil berusaha menghilangkan ingatannya tentang belut.
"Gimana, enak gak?" tanya Imran dengan wajah sumringahnya.
"Gak tau."
"Loh, kok gak tau? Emang kamu gak makan?" Imran menatap Alvin dengan kening berkerut dalam.
ALvin hanya mengangkat kedua bahunya, tanpa berniat menjawab.
__ADS_1
"Kamu gak suka? Wah sayang sekali ... padahal belut itu enak banget loh. Gizinya jugga banyak dan bagus untuk para remaja seperti kita," erocos Imran dengan sedikit ceroboh.
"Sudahlah, Ran. Jangan bicarakan lagi masalah belut itu. Aku bahkan tidak belut untuk menyentuhnya, bagaimana aku bisa makan?
Imran langsung menatap wajah Alvin dengan penuh tanda tanya. "Apa, kamu bahkan tidak berani memegangnya? Astaga!?"
Alvin menatap tajam, wajah tidak bersalah Imran. "Mana mungkin aku tega makan hewan yang persis sekali seperti seekor ular? Membayangkannya saja aku sudah yaudah sanggup."
Alvin mengingat kembali bawaannya hari kemarin, saat dirinya baru saja apalagi sekolah, merek melihat.
Flash back on.
Alvin baru saja pulang sekolah, setelah mengganti baju dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, Alvin ke luar dari kamar.
Suasana rumah masih sepi, sepertinya nenek dan kakeknya sedang ke luar, hingga kini hanya dirinya sendiri di sana.
Alvin langsung menuju ke dapur, di mana meja makan berada. Dia pun mengambil piring terlebih dahulu, baru membuka penutup saji di atas meja.
"Astagfirullah!" Alvin refleks langsung memundurkan tubuhnya, begitu melihat lauk apa yang ada id atas meja.
Setelah lama terdiam, Alvin kemudian maju beberapa langkah sambil memicingkan matanya, untuk melihat dengan jelas, apa yang tersaji di atas piring.
Tangannya perlahan menyentuh makanan itu, dengan ekspresi muka menahan mual.
"Ini, bukannya belut yang kemarin ya?" ujarnya sambil menoel, hidangan yang berupa goreng belut itu di atas piring.
Tiba-tiba terlintas ingatan kemarin, sewaktu dia melihat Imran mendapatkan belut di sawah.
Rasa mual karena membayangkan tubuh belut yang mirip dengan ular, sedang menggeliat di ujung pancingan, dengan kulit berlendirnya.
"Heuk!" Alvin langsung menutup mulutnya dan berlari menuju ke kamar mandi.
Alvin menegakkan tubuhnya kembali, begitu rasa mualnya sudah mereda. Dia bergidik ngeri begitu pikirannya kembali terlintas hewan berlendir itu.
Perlahan dia kembali ke dapur, dia langsung menutup lagi belut goreng dan nasi putih yang sudah tersedia di atas meja.
Napsu makannya langsung menurun seketika, terhalang oleh rasa bergejolak di dalam perutnya. Alvin memilih untuk kembali ke ruang tengah dan duduk lesehan di atas lantai.
"Gara-gara si Imran, dua hari ini hidupku berurusan dengan hewan itu terus," gerutu Alvin, sambil mengelus perutnya yang masih terasa sedikit tidak nyaman.
Flash back off.
Tentu saja cerita dari Alvin membuat tawa Imran langsing meledak seketika.
__ADS_1
......................
Jangan lupa Komen👍 terima kasih🙏🥰