
...Happy Reading...
...................
"Jani?" ujar Alvin dengan wajah terkejut.
"Iya, ini aku, siapa lagi?" jawab Jani berdiri di depan Alvin.
"Kamu, sama siapa ke sini?" tanya Alvin.
"Sama mereka," jawab Jani menunjuk Vani dan Lili yang ada di belakangnya, mereka pun tampak melambaikan tangan kepada Alvin.
Alvin hanya mengangguk samar sebagai jawaban.
"Vin, ke sana yuk, kayaknya di sana banyak makanan enak." Imaran tiba-tiba sudah ada di samping Alvin.
Alvin menoleh pada Imran yang sudah membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
"Kamu mau beli apa lagi sih, Ran? Itu kan udah banyak," ujar Alvin.
"Ini baru sedikit, aku masih mau cari makanan yang lain lagi," jawab Imran.
"Ayok, aku mau ke sana." Imran menggandeng tangan Alvin dan sedikit menariknya agar Alvin mau mengikutinya. Dia masih belum menyadari keberadaan Jani dan teman-temannya.
Jani melebarkan matanya saat melihat Alvin disentuh oleh orang lain, begitu pun dengan para teman-temannya. Setau mereka, Alvin adalah manusia kulkas yang sangat anti bersentuhan fisik, entah itu pada laki-laki atau perempuan.
"Vin?!" Jani memanggil Alvin dengan wajah penuh tanya.
Alvin menghentikan tingkah Imran, dia juga memberi isyarat kepada sahabatnya itu tentang keberadaan Jani di sana.
Imaran mengikuti arah pandangan Alvin, dia baru sadar kalau di depan Alvin ada tiga orang perempuan cantik.
"Ya ampun, Vin, ternyata kamu sudah janjian sama yang lain. Tau begini aku gak usah ikut tadi," ujar Imran, dia mengira kalau Jani adalah pacar Imran.
"Halo, aku Imran, sahabat sekaligus saudara Alvin di kampung," sambung Imran mengenalkan dirinya sendiri.
"Oh, halo. Aku Jani, dan ini teman-temanku, Vani dan Lili," sambut Jani, sekaligus mengenalkan kedua teman-temannya.
Imran tampak tersenyum senang, melihat ketiga perempuan yang tampak sangat cantik.
"Hebat juga kamu, Vin. Satu tahun lebih di Jakarta, bisa dapat perempuan cantik," ujar Imran dengan sedikit menurunkan volume suaranya, walau Alvin tau pasti kalau suara saudaranya itu pasti masih bisa didengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Jani tampak terkekeh, mendengar ucapan dari Imran tentang dirinya.
"Ini cuman teman, Ran. Gak seperti apa yang kamu pikirkan," sangkal Alvin, wajahnya sudah memerah menahan malu.
__ADS_1
"Memang apa yang aku pikirin?" tanya Imran malah semakin menggoda Alvin.
"Ran!" Alvin menekan kata-katanya sambil menatap tajam Imran, dia tidak mau sahabatnya itu semakin berulah.
Imran hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi dengan cabe yang menyelip di sela-selanya.
Akhinya mereka melanjutkan perburuan makan di kawasan CFD, Imran yang mudah bergaul malah merasa senang bisa bergabung dengan Jani dan teman-temannya.
"Yuk, aku anterin kalian pulang," ajak Jani, kebetulan dia ke sini bersama dengan sopir.
"Ayok!" jawab Imran cepat.
"Tapi, Jan–" Alvin sedikit keberatan.
"Udahlah, gak usah banyak mikir, temen kamu aja setuju," ujar Jani sambil menggandeng tangan Alvin.
Jani akhirnya pulang dengan mengantarkan Alvin lebih dulu.
"Rencananya berapa hari di sini?" tanya Jani pada Imaran.
"Besok sore juga pulang," jawab Imran.
"Aku kira akan lama," ujar Jani.
"Oh, kamu kuliah juga. Di mana?" tanya Jani, mengobrol bersama Imran terasa lebih mudah dibandingkan dengan manusia es seperti Alvin.
"Di kampung, kebetulan aku mendapatkan beasiswa tiga puluh persen di sana," jelas Imran.
"Wah, berarti kamu juga pinter dong, kayak Alvin," tebak Jani.
"Enggak lah, dia mah jauh lebih pinter dari aku," jawab Imran.
"Heem, iya juga sih," angguk Jani.
Beberapa saat kemudian mobil Jani pun menepi di dekat gang menuju ke kontrakan Alvin. Alvin dan Imran langsung ke luar dari mobil.
"Makasih ya, Jan," ujar Alvin begitu dia ke luar dari mobil.
Jani menurunkan pintu mobilnya, lalu mengangguk.
"Pak, makasih ya," Alvin beralih pada sopir Jani, yang langsung diangguki oleh laki-laki paruh baya itu.
Alvin dan Imran menunggu hingga mobil Jani pergi, lalu meneruskan langkahnya menuju ke kontrakan.
"Pinter banget kamu milik cewek, Vin. Udah cantik banyak uangnya lagi," puji Imran sambil berjalan beriringan dengan Alvin.
__ADS_1
"Kita cuman temen, Ran," sangkal Alvin.
"Tapi, aku merasa dia suka sama kamu, Vin." Imran menatap Alvin sekilas.
"Aku harus fokus untuk nyari uang buat berobat ibuku, Ran. Aku belum memikirkan semua itu," jawab Alvin.
"Tapi, kamu juga suka kan sama dia?" tebak Imran.
Alvin tampak terdiam, lalu menghembuskan napas pelan. "Dia terlalu tinggi, Ran. Aku gak berani berharap sama dia," jawab Alvin.
"Jodoh gak ada yang tau, Vin. Mungkin aja nanti kamu bisa berjodoh sama dia," ujar Imran.
"Untuk sekarang aku hanya ingin fokus menyembuhkan ibuku, Ran. Aku gak mau tujuanku goyah hanya karena perempuan," tekad Alvin.
Imran mengangguk-anggukkan kepalanya, dirinya tau kalau selama ini memang itulah tujuan hidup Alvin.
"Ya sudah, kamu sudah memilih. Aku berdoa semoga pilihan kamu tidak akan membuatmu menyesal di kemudian hari," ujar Imran. Sepertinya saat ini laki-laki itu sedang berada di dalam mode dewasa dan serius.
"Heem. In Sya Allah, aku tidak akan pernah menyesal dengan apa yang aku pilih, dulu, sekarang, ataupun nanti," jawab Alvin.
.
.
Satu minggu berlalu, kini Alvin bersiap untuk bekerja di kantor milik kakak pertama Jani. Hari pertama bekerja Alvin masih harus banyak belajar dan menyesuaikan diri dengan teman satu timnya.
Sebagai junior dia cukup diperlakukan baik oleh para seniornya, hanya saja dia selalu menjadi orang yang dimintai tolong oleh teman kerjanya yang lain.
Mulai dari membuat minuman, foto copy berkas dan membeli makan, semuanya dia kerjakan. Katanya selama dia masih masa penyesuaian, dirinya harus banyak belajar, salah satunya dari membantu para teman kerjanya.
Hari ini Alvin benar-benar sibuk, walaupun itu tidak begitu melelahkan untuknya. Terbiasa bekerja di lapangan yang mengandalkan tenaga, kini dia merasa lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya.
Di saat mereka banyak mengeluh karena pekerjaan yang menumpuk, Alvin malah merasa sedikit mengantuk karena pekerjaannya lebih banyak duduk.
Jadwal kuliahnya pun kini hanya dua hari di akhir pekan, jadi Alvin lebih mempunyai banyak waktu dibandingkan sebelumnya. Walaupun sekarang tidak ada lagi hari libur untuknya.
Senin sampai jumat dia sibuk di kantor, sedangkan sabtu dan minggu dia harus kuliah. Rutinitas itu Alvin jalani dengan senang hati, hingga tiga bulan kemudian dirinya mendapatkan kabar kalau sang kakek tengah sakit.
Saat itu juga dia langsung mengajukan cuti untuk pulang kampung, demi melihat kondisi laki-laki yang tengah merawatnya itu. Dia cukup terkejut dengan kabar itu, karena selama ini kakeknya termasuk orang yang tidak mudah sakit.
Keluhan yang biasanya diderita kakeknya hanya pilek atau sakit badan biasa, setelah diistirahatkan beberapa hari kakeknya akan kembali sembuh seperti semula.
Namun, kini orang kampung sudah sampai meneleponnya, berarti kondisi kakeknya sudah sangat serius. Hingga memanggilnya untuk pulang secepat mungkin.
.......................
__ADS_1