
...Happy Reading ...
......................
Alvin terdiam melihat berbagai macam gambar yang masih tersusun rapih di dalam berkas yang dibuka oleh Pak Umar untuknya.
Mulai dari foto sejak Pak Umar masih muda dengan Pak Mardo yang sepertinya memiliki perbedaan yang cukup jauh.
Kemudian berbagai foto kebersamaan Bapak dan Ibu, juga Pak Mardo, yang saat itu terlihat akab. Hingga di bagian akhir foto terlihat gambar sebuah keluarga kecil, yang merupakan keluarga Alvin.
"Malam itu, setelah sekian lama Aku dan Mardo berpisah, tiba-tiba dia menghubungiku dan meminta bantuan. Aku dan istriku merasa sangat senang, karena mangira kalau kebenciannya kepada kami sudah membaik." Pak Umar kembali mengawali ceritanya.
Alvin tampak terlihat mengalihkan pandangannya pada Pak Umar, dengan kerutan dalam di keningnya. Akan tetapi, dia tidak berniat untuk menanggapi perkataan Pak Umar.
"Istriku memaksaku untuk menyetujui pertemuan itu. Esok harinya aku pun bertemu dengan Mardo. Dia menawarkan aku sebuah pekerjaan di perusahaannya dengan imbalan yang cukup besar, karena mengetahui kondisi istriku," sambung Pak Umar lagi.
Alvin masih mendengarkan, tanpa bereaksi dengan cerita Pak Umar.
"Saat itu aku merasa ada yang ganjil dalam pekerjaan itu. Akan tetapi, Mardo bilang kalau sebenarnya pekerjaan
itu hanyalah sebuah alasan agar Mardo bisa membantu pengobatan istriku."
Alvin tampak mengepalkan tangannya erat, hatinya ikut terasa sakit, saat mendengar suara bergetar Pak Mardo.
"Pekerjaan ini hanya alibiku agar aku bisa membantumu, tanpa membuatmu merasa berhutang, jadi tolong terima pekerjaan ini." Itulah perkataan Mardo saat itu yang masih sangat diingat oleh pak Umar.
"Mendengar semua itu, awalnya aku menolak. Akan tetapi, kabar dari dokter kalau keadaan istriku yang kembali drop dan harus segera menjalani oprasi, membuat aku akhirnya menyetujui pekerjaan itu."
"Pagi hari menjelang siang aku menjalankan pekerjaan pertama dari Mardo tanpa ada curiga sedikit pun. Hingga tidak jauh dari sebuah persimpangan orang yang ikut mengawasiku menyuruhku berhenti, dia beralasan mendapat telepon dari atasan dan menyuruh mereka berhenti dulu, sambil menunggu seseorang yang akan menyusul."
Pak Umar berhenti di pinggir jalan raya, tidak ada yang salah bahkan sampai akhirnya orang yang ikut dengannya akhirnya menyuruhnya untuk mengendarai mobil itu lagi tanpa ada maslah.
Namun entah mengapa begitu dia sampai di persimpangan dan ingin mengerem karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah, tiba-tiba rem mobilnya tidak berfungsi. Padahal sebelum pergi, Pak Umar yakin kalau dirinya sudah mengecek kondisi kesehatan kendaraan itu, dan dia yakin semuanya baik-baik saja.
"Maafkan aku atas kejadian kecelakaan itu, Vin. Aku baru tau semua kejadian itu adalah rencana Mardo, setelah aku pulang dari luar negeri dan mengundurkan diri dari mafia," ujar Pak Umar begitu dia selesai menceritakan detail dari setiap kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu.
.
.
Hari berlalu begitu saja, hari ini dia mendapatkan kabar untuk panggilan interview di salah satu perusahaan sebagai seorang asisten. Kali ini adalah sebuah perusahaan otomotif yang bergerak dalam bidang modifikasi kendaraan.
Dengan langkah percaya dirinya dia pergi ke perusahaan yang terbilang sudah sangat terpandang di dalam bidangnya. Sampai di sana ternyata sudah ada dua orang lainnya yang juga dipanggil untuk melakukan interview, sebagai calon asisten pribadi dari owner perusahaan itu.
Cukup lama menunggu akhirnya mereka dipersiapkan untuk naik ke lantai atas, di mana ruangan owner perusahaan itu berada.
__ADS_1
"Ah, kalian sudah datang. Baiklah bagi nama yang saya panggil, silahkan masuk ke dalam. Sebagai informasi, bahwa kalian akan diinterview langsung oleh pemilik perusahaan." Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi tegap dan terlihat ramah, menyambut mereka, begitu sampai di lantai dua kantor itu.
Alvin bahkan bisa tahu kalau orang itu bukanlah orang biasa, walau dia juga belum tahu dia itu siapa.
Satu per satu orang pun terlihat masuk ke dalam dengan jangka waktu yang berbeda-beda. Hingga di urutan paling terakhir nama Alvin pun disebut.
Alvin langsung berdiri, dengan mengucap Bismillah di dalam hati, dia masuk ke dalam ruangan sang pemilik perusahaan.
"Selamat siang, Pak," ujar Alvin begitu dia masuk ke dalam.
"Siang." Jawaban datar tanpa terdengar riak. Namun, penuh tekanan itu terdengar menyapa telinga.
Alvin merasakan sesuatu yang berbeda saat dia bertemu dengan calon bosnya itu. Wajah tampan dan dewasa, ditambah dengan postur tubuh sempurna yang dipadukan dengan gaya busana rapih, membuatnya terlihat menjadi, laki-laki matang dan berwibawa.
Alvin bahkan bisa menebak, jika selama ini laki-laki di depannya pasti sudah menjadi rebutan banyak perempuan. Tentu didukung dengan kekayaan yang melimpah di belakangnya, wanita mana yang tidak mau, bukan?
Tangan yang tampak sibuk dengan berkas dengan mata meneliti apa yang tertera di dalamnya, membuat Alvin berdiri canggung tanpa berani untuk mendekat atau bahkan duduk di depan laki-laki itu.
Cukup lama Alvin terdiam hingga ruangan terasa hening dan dingin. Hingga laki-laki itu tampak mengangkat kepalanya lalu menoleh pada Alvin sekilas.
"Duduk," perintahnya tegas.
Alvin sempat terjingkat kaget saat mendengar titahnya, walau kemudian dia langsung berjalan dan duduk di depan laki-laki itu.
"Saya, Pak," jawab Alvin, berusaha bersuara tenang, walau gugup di dalam hatinya terasa menghalanginya.
Beberapa pertanyaan pun berhasil Alvin jawab sebaik mungkin, walau di bawah tekanan yang hampir membuatnya tidak bisa berfikir. Sekitar lima belas menit kemudian Alvin sudah ke luar dari ruangan itu.
Alvin menghembuskan napas lega, begitu dia berhasil menutup pintu ruangan itu. Berada di dalam ruangan calon bosany, ternyata lebih tegang dibandingkan ketika dia harus menghadapi dosen di dalam sidang skripsi sekalipun.
"Bagaimana?" Laki-laki yang tadi menyambutnya dan para calon asisten tampak bertanya dengan wajah penuh tanya.
"Sudah, Pak. Saya disuruh datang lagi besok untuk melakukan tes kerja selama satu minggu," jawab Alvin.
Laki-laki itu tampak menganggukkan kepala kemudian menatap tubuh Alvin dari bawah sampai ke atas.
"Usahakan besok pakai baju yang lebih bagus lagi. Bos tidak suka orang yang tidak menghargai dirinya sendiri," ujar laki-laki itu.
Alvin tampak melihat penampilannya, kemeja putih panjang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Ah, Alvin baru ingat jika dua rekannya bahkan sudah memakai jas, mungkin itu yang dimaksud oleh laki-laki di depannya.
"Baik, Pak. Terima kasih atas koreksinya," angguk Alvin kemudian dia pun pamit pulang.
Esok harinya Alvin datang ke kantor dengan gaya formal, dia bahkan sampai memakai jas seperti bayangannya kemarin, sewaktu ditegur oleh laki-laki yang menyambutnya.
Baru turun dari ojek yang mengantarkannya dia sudah dihadapkan dengan mobil mewah yang hampir saja menyerempetnya.
__ADS_1
"Astagfirullah!" Alvin hanya bisa menggeleng kepala sambil melihat mobil itu melesat cukup jauh kemudian parkir dengan cara acak di depan area bengkel.
Tidak mau menambah masalah Alvin hanya mengacuhkannya kemudian melanjutkan langkah kakinya ke dalam kantor. Akan tetapi, baru sampai di lobi, dari arah luar sudah terdengar gaduh dengan teriakan seseorang tidak dikenal yang meminta rugi karena merasa modifikasi mobilnya tidak sesuai dengan keinginannya sebelumnya.
"Pokoknya saya mau bertemu dengan pemilik perusahaan ini, atau saya akan memasukkan reting jelek ke dalam perusahaan kalian!" ujar laki-laki bertubuh tinggi besar, persis seorang tukang pukul.
Alvin akhirnya berbalik saat melihat karyawan yang lain sudah mulai kewalahan menangani amukan laki-laki itu.
"Maaf, Tuan, ini ada apa ya?" tanya Alvin akhirnya menghampiri keributan itu.
"Siapa kamu, hah? Apa kamu adalah pemilik perusahaan ini, atau manajer pelaksana di sini, hah?" tanya laki-laki itu dengan gaya yang angkuh dan sombongnya.
"Duduk dulu, Tuan. Mari kita bicarakan baik-baik, siapa tahu saya bisa membantu menyampaikan keluhan, Tuan, pada atasan saya," ujar Alvin masih mencoba membujuk laki-laki itu, kemudian mengambil bangku untuk laki-laki itu duduk.
"Aah, tidak usah! Aku tidak butuh perlakuan sok seperti ini! Yang aku mau sekarang adalah menemui bos kamu, agar aku bisa melaporkan pekerjaan para karyawannya yang gak becus ini!" ujar laki-laki itu sambil menepis tangan Alvin yang hendak membujuknya untuk duduk, dan menunjuk salah satu karyawan yang berada di sana.
Alvin meremas tangannya kesabarannya memang sedang diuji saat ini. Walau begitu, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saat dia bekerja menjadi asisten Indira, menghadapi berbagai klien dan keinginannya yang rumit.
"Memang kalau, Anda, bertemu dengan pemilik perusahaan, Anda, yakin akan mendapatkan ganti rugi?" tanya Alvin dengan wajah yang terlihat masih santai.
"Anda tahu? Jika, Anda, seperti ini terus kami juga bisa mengadukkan Anda, ke kantor polisi, karena, Anda, sudah mengganggu ketenangan kantor kami, dan membuat masalah di sini. Anda, juga telah menuduh kami melakukan kesalahan dan menuntut ganti rugi tanpa menunjukan bukti yang jelas." Alvin berkata dengan nada tegas dan jelas, perubahan sikap yang awalanya lembut menjadi tegas, membuat semua orang tampak terpaku, begitu juga dengan laki-laki bertubuh besar itu.
"Anda lihat di sana?" tunjuk Alvin pada salah satu CCTV yang mengarah kepada tempatnya berdiri.
"Kami memiliki bukti yang cukup untuk melaporkan apa yang, Anda, lakukan di sini," sambungnya lagi.
Laki-laki itu tampak mengikuti arah telunjuk Alvin, dia kemudian melihat CCTV yang terpasang di sana.
"Sekarang, Anda, yakin akan mendapatkan ganti rugi dari pemilik perusahaan?" tanya Alvin lagi.
Laki-laki kekar itu tampak menelan salivanya dengan susah payah, mungkin dia sedang memikirkan apa yang akan dia terima jika sampai pemilik perusahaan melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
"Oke-oke, kita bicarakan semua ini baik-baik saja," ujar laki-laki itu, akhirnya memilih untuk mengikuti kemauan Alvin.
Alvin tersenyum tipis, dia kemudian membawa laki-laki itu ke ruang tunggu untuk berbicara di sana dengan ditemani oleh orang yang bertanggung jawab dalam mengerjakan modifikasi mobil laki-laki itu.
Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka pun ke luar dari ruangan dengan kesepakatan yang sudah ditandatangani bersama.
Tanpa Alvin tahu, dari ruangannya, pemilik perusahaan dan asistennya yang masih bertugas melihat semua yang Alvin lakukan melalui kamera CCTV.
"Bagus juga kerjanya," ujar pemilik perusahaan sambil menyunggingkan ujung bibirnya tipis.
......................
Stuk ide entah kenapa? Maafkan kalau lama upnya🥺
__ADS_1