
...Happy Reading...
.................
"Kamu sekarang jarang pulang ke kampung, Vin?" tanya Imran saat mereka berjalan menuju ke musala.
"Kamu tau, kan, setelah Kakek meninggal, kampung bukan lagi tempat yang tepat untuk aku pulang. Apa lagi Nenek juga sekarang tinggal di rumah kamu," jawab Alvin.
Ya, setelah Kakek Darman dan Alvin kembali ke kota Nenek tinggal bersama keluarga Imran, mereka tidak mengizinkan jika Nenek tinggal sendiri. Rumah hanya dibersihkan setiap hari, tanpa ditinggali.
"Kan masih ada keluargaku, Vin. Lagi pula biarkan saja mereka bilang apa, yang penting kamu tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan." Imran mencoba memberi pengertian pada Alvin.
"Iya, aku tau ... keluarga kamu tulus sama aku. Nanti kalau aku ada waktu, In Sya Allah aku pulang ke kampung," angguk Alvin, walau di dalam hati masih sedikit mengganjal.
Entah dari mana, beberapa bulan setelah Kakek Darman meninggal, di kampung tiba-tiba menyebar sebuah rumor yang kurang baik tentang Alvin, mereka mengira bahwa selama ini Alvin bergantung hidup kepada Kakek Darman, hingga akhirnya Kakek Darman sakit dan meninggal karena membiayai kuliah Alvin di Jakarta.
Mereka semua berkata kalau Alvin adalah penyebab dari meninggalnya Kakek Darman, mereka juga bilang kalau Alvin tidak akan bisa meneruskan kuliahnya karena orang yang membiayainya sudah meninggal.
Alvin yang tidak terima langsung membantah semua itu dan mencoba menjelaskan kepada keluarganya sendiri. Akan tetapi, rumor sudah terlanjur membesar, hingga penjelasannya hanyalah dianggap omong kosong.
"Aku tidak pernah sekalipun mengambil uang dari Kakek, setelah aku lulus SMA. Di Jakarta aku kuliah dengan beasiswa dan bekerja untuk membiayai hidupku di sana," debat Alvin saat dia pulang kampung untuk menghadiri seratus hari Kakek Darman.
"Halah, alasan. Sudah jelas kalau Kakek Darman meninggal karena kecapean mencari uang untuk membiayai gaya hidup kamu di Jakarta," sewot salah satu Bibi Alvin sendiri.
Alvin menggeleng samar, tidak pernah mengira kalau keluarganya lebih memilih percaya pada rumor tidak berdasar dari orang lain, dibandingkan dengan perkataannya sendiri, sebagai anggota keluarga.
"Kamu di Jakarta hanya bisa menghambur-hamburkan uang! Lagian ngapain sih pake kuliah segala, udah tau mahal. Mending uangnya dipake buat modal usaha dari pada buat kuliah. Emang ijazah bisa buat makan apa?" tambah salah satu bibinya yang lain, yang langsung mendapat anggukkan dari hampir seluruh orang di sana.
Mereka sama sekali tidak tahu, kalau selama ini Alvin berkuliah juga atas dorongan dari Kakek Darman. Kakek Darman lah yang terus meyakinkan dirinya agar melanjutkan pendidikannya sampai kuliah, seperti keinginan Bapak selama hidup.
"Aku tau, Vin. Kamu itu hanya bisa memanfaatkan kasih sayang Kakek Darman. Kamu sudah banyak mendapatkan uang darinya, jadi untuk kali ini jangan pernah berharap mendapatkan warisan lagi dari Kakek Darman!" Salah satu Paman Alvin berteriak membentak Alvin.
__ADS_1
Alvin yang saat itu sedang mencoba menjelaskan tentang rumor yang beredar, sambil mencoba tetap bersabar menghadapi semua tuduhan yang dilayangkan keluarganya sendiri, akhirnya mengerti masalah yang sebenarnya.
Ternyata ini semua hanyalah tentang sebuah warisan. Alvin tersenyum samar sambil menggeleng miris, tangannya mengepal kuat menahan emosi yang hampir saja meledak saat itu juga. Ini bahkan baru seratus hari Kakek Darman meninggal, Nenek Esih pun sebagai istrinya masih hidup, dan mereka sudah ribut urusan warisan? Benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Heuh, jadi semua ini hanya tentang warisan Kakek Darman? Paman dan Bibi takut aku menerima warisan dari Kakek, iya?!" Alvin berkata sinis, baru kali ini dia bertindak lancang pada orang yang lebih tua darinya saat ini.
Kalau Kakek Darman masih hidup, Alvin yakin dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh Kakeknya itu. Akan tetapi, kini dia tidak bisa diam lagi, fakta itu membuatnya meradang, tidak bisa menerima perlakuan semena-mena dari anak-anak Kakek Darman yang benar-benar tidak tahu diri. Dari awal Alvin sudah tahu kalau mereka tidak pernah suka dengan kehadirannya, apalagi Kakek Darman dan Nenek Esih, sangat terlihat menyayanginya dibandingkan dengan cucunya yang lain.
Namun, Alvin tidak pernah menyangka kalau ternyata mereka juga memiliki hati yang buruk dan serakah, hingga tega berbicara seperti itu padanya hanya karena sebuah harta peninggalan Kakeknya.
"Bukan hanya soal warisan? Kamu itu hanya anak kemarin sore, jadi gak usah ikut campur dengan urusan kami!" Paman Alvin kembali menyerang.
"Iya, kami melibatkan kamu di sini, bukan untuk melawan. Tapi hanya untuk mendengarkan, jadi tutup mulutmu dan diam di sana. Mengerti! Dasar anak orang gila!" hardik kasar salah satu pamannya.
Alvin semakin meradang dia menatap mata pamannya itu dengan penuh kebencian, wajahnya merah padam terbakar amarah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
"Ibuku tidak Gila! Tapi–" sentak Alvin.
Alvin yang mengerti semua itu langsung terdiam, dia berusaha mengatur napasnya yang memburu, dan kembali bersikap tenang. Sedangkan pada paman dan bibinya yang lain malah mulai sibuk membicarakan pembagian harta warisan.
"Tapi, bagaimana dengan Nenek? Dia masih ada, masih hidup sampai sekarang, dan kalian malah sibuk memikirkan warisan?!" Alvin terpaksa harus angkat bicara lagi, demi membela Nenenk Esih. Dia sudah cukup kesal melihat semuanya hanya memikirkan diri sendiri, sedangkan Nenek yang masih hidup tidak mereka lihat sama sekali.
"Nenek bisa tinggal bersama salah satu diantara kami. Kami akan menjamin kehidupan Nenek baik-baik saja dan tercukupi, walaupun harta milik Kakek sudah dibagikan," jawab salah satu pamannya dengan nada sinis.
"Lagi pula, ngapain kamu pake ngurusin Nenek, hah? Apa kamu takut tidak akan bisa meminta uang lagi pada Nenek, hah? Atau takut tidak ada yang mau memberikan warisan ini padamu?" sambung bibinya dengan nada mengejek.
Alvin kembali dibuat geram dengan perkataan tidak berdasar dari mereka.
"Aku berani bersumpah, tidak pernah berharap satu sen pun warisan dari Kakek dan Nenek. Aku cukup tau diri sebagai seorang cucu, apa lagi saat ini Nenek masih hidup, bukankah dia juga masih membutuhkan penghasilan untuk mencukupi sandang pangannya?" bantah Alvin lagi, mengedarkan pandangannya matanya menatap satu per satu wajah yang kini sedang mengadakan rapat dadakan di ruang tengah rumah Kakek Darman sendiri.
"Jadi kamu berharap Nenek Esih masih harus bekerja di usianya yang sudah tua itu, hah?!" Mereka malah membalikan ucapan Alvin, untuk menyerang Alvin sendiri.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku! Aku–" Belum sempat Alvin menyelesaikan perkataannya salah satu Pamannya langsung memotong begitu saja.
"Gak usah banyak omong kamu, Vin. Kamu berharap agar Nenek Esih masih mau bekerja untuk membiayai gaya hidupmu, kan?! Dasar benalu!" hardik salah satu Pamannya sendiri.
"Mang!" Alvin menyentak, dia tidak terima dianggap sebagai benalu oleh keluarganya sendiri.
"Alvin, sudah!" Ayahnya Imran yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya memberi insterupsi pada Alvin.
Alvin langsung melirik pada Ayahnya Imran, napasnya terlihat memburu menahan amarah yang sedang menguasai tubuhnya, dadanya terasa panas seolah sedang terbakar. Baru kali ini Alvin merasa marah besar seperti ini.
Jika diperhatikan sejak tadi ada wajah terkejut dari semua orang yang ada di sana, saat Alvin terus membantah dan terlihat berani melawan. Semua itu kerana selama ini Alvin selalu diam.
"Vin, lebih baik kamu bawa Nenek ke rumah Mamang," perintah Ayah Imran, melihat Nenek Esih sejak tadi hanya terdiam dengan mata menatap kosong.
"Astagfirullah." Alvin yang baru tersadar dari emosi, langsung mengusap wajahnya, saat melihat wajah pucat Nenek Esih.
Dia segera bangun lalu mengajak Nenek Esih untuk ke luar dari rumah.
"Maaf, Nek. Alvin tadi tidak bisa mengendalikan emosi," ujar Alvin sambil menuntun Nenek Esih menuju rumah Imran.
Sepeninggal Alvin dan Nenek Esih, mereka ternyata masih membicarakan masalah warisan, hingga Alvin mengetahui keputusannya warisan tetap dibagikan, kecuali rumah Nenek Esih, dan kebun di sekitarnya.
Sejak saat itu, Alvin sudah malas untuk pulang ke kampung, bila tidak ada keperluan yang mendesak. Rasanya melihat wajah dari para orang-orang yang dulu pernah dengan terang-terangan menghinanya saja, sudah sangat menyakitkan, dia tidak mau kembali lepas kendali saat mendengar mereka kembali berbicara sembarangan tentang dirinya.
Alvin tidak mau kalau sampai nanti membuat Nenek Esih kembali bersedih karena mengingat perselisihannya dengan para paman dan bibinya yang lain.
Kini baginya, pulang kampung hanya untuk Nenek Esih dan keluarga Imran, tidak untuk yang lain. Cukup sudah dia mengetahui sifat dari mereka, dan Alvin lebih baik memilih untuk menghindarinya, daripada harus terus memendam rasa benci saat bertemu dengan mereka.
Tanpa terasa Alvin dan Imran sudah sampai di depan musala, mereka langsung masuk untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah.
Malam hari Alvin, Imran, dan Mang Lukman tidur bersama di ruang depan, sedangkan kamar Mang Lukman ditempati oleh Nenek Esih.
__ADS_1
......................