
...Happy Reading...
......................
Perkataan Ezra memang tidak bisa dianggap sepele, laki-laki itu benar-benar tidak pernah bermain dengan kata-kata, begitu juga mengenai kalimat yang dia ucapkan saat Alvin meminta izin untuk pulang kantor lebih awal.
Setelah hari itu, Alvin benar-benar dibuat sangat sibuk, sampai dirinya bahkan sudah lupa kapan dia bisa tidur nyaman tanpa ada alarm yang membangunkannya.
Ezra membuatnya mengalami pelatihan berat di sela-sela pekerjaannya. Hingga Alvin merasa itu bahkan lebih berat dari latihan militer sekali pun.
Seperti pagi ini, jam empat pagi Alvin harus memaksa dirinya untuk bangun oleh suara alarm yang cukup nyaring, karena di depan rumah kontrakannya sudah ada satu orang pelatih yang menunggunya.
Dengan cepat dia bergegas untuk bangun kemudian berjalan menuju kamar mandi, dia akan melaksanakan shalat subuh berjamaah lebih dulu di masjid, sebelum melakukan latihan selama satu jam bersama dengan pelatihnya.
Alvin wajib untuk untuk lari pagi dan melakukan latihan sebelum berangkat ke kantor. Tidak tanggung-tangggun, Ezra bahkan sampai memberikannya pelatih hanya untuk memantau tugas yang sudah dia berikan pada asisten pribadinya itu.
"Kamu butuh latihan lebih untuk jadi asistenku, apa lagi untuk melawan seseorang yang licik seperti Pak Mardo!" ujar Ezra saat Alvin bertanya tentang tugas yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya sebagai asisten.
Mendengar itu jujur saja hati Alvin tersentuh walau juga terkejut, karena baru menyadari kalau selama ini bos barunya itu memberi perhatian lebih padanya, selain sebagai asisten pribadinya.
Hingga beberapa waktu kemudian dia berlatih, keterampilannya dalam bela diri dan strategi yang telah diajarkan oleh Ezra pun harus langsung diterapkan saat tiba-tiba adik ipar Ezra tidak ada kabar, dan ternyata mengalami penculikan oleh musuh suaminya.
Malam itu, dia bahkan baru saja sampai ke kontrakan, saat tiba-tiba Ezra kembali menghubunginya dan menyuruhnya untuk kembali datang ke rumahnya untuk mencari tahu keberadaan istri dari Keenan.
Seluruh keluarga Darmendra benar-benar khawatir, hingga membuat dirinya harus ikut sibuk untuk menunjang pekerjaan Ezra dan Keenan yang tidak pernah mau hanya duduk diam sambil menunggu polisi bertindak.
Alvin juga harus beradaptasi dengan cara kerja keluarga Darmendra yang selalu memilih turun tangan langsung menyelesaikan masalah, dan hanya akan membiarkan polisi membiarkan menyelesaikan sisanya saja.
__ADS_1
Peranannya sebagai asisten Ezra benar-benar membuatnya merasa menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa pun, di sana dia bukan hanya seorang asisten yang melayani bosnya dalam masalah pekerjaan kantor saja, melainkan membantu dalam setiap masalah yang terjadi di dalam keluarga Darmendra juga.
Untung saja Ezra sepertinya juga mengerti keterbatasannya hingga laki-laki itu, tidak menempatkannya dalam situasi sulit. Itu salah satu keberuntungan Alvin bekerja dengan Ezra, dari berbagai keberuntungan lainnya yang dia dapatkan.
Saat kejadian itu Alvin bahkan harus rela tidak tidur sama sekali selama tiga hari dua malam, begitu pun dengan dua bosnya itu, semuanya sibuk dengan tugas masing-masing.
Entah mungkin karena terlalu kelelahan dengan jadwal yang sangat padat dan menguras tenaga, dua hari setelah itu tubuh Alvin drop hingga harus beristirahat lebih dulu.
Seperti saat ini, di sini lah dia sekarang, terbaring di tempat tidur seorang sendiri, karena Mang Lukman sudah pergi kerja tadi pagi.
Sejak tadi malam tubuhnya tiba-tiba mengalami kenaikan suhu yang tidak normal, setelah diperiksa ke klinik, ternyata dia terlalu lelah dan membutuhkan waktu istirahat. Hingga sekarang Mang Lukman dan Pak Umar bergantian mengawasinya agar jangan sampai Alvin melakukan pekerjaan rumah selama beristirahat.
Sikap Alvin yang tidak mau diam membuat Mang Lukman dan Pak Umar dibuat khawatir, karena Alvin selalu saja mencuri waktu untuk mengerjakan pekerjaan kantor di sela istirahatnya.
Namun, tanpa mereka tahu, sebenarnya mungkin bukan hanya terlalu lelah fisik, dia juga sedang mengalami lelah fikiran dan hati. Fikiran Alvin sedang kalut beberapa hari ini, karena sesuatu hal yang terus mengganggunya, dia tidak bisa hanya diam saja, sebab itu akan membuatnya gelisah.
Flash back.
"Pak Alvin, ada yang ingin bertemu dengan Anda," ujar resepsionis dari sambungan telepon kantor.
Alvin yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya mengernyit bingung, karena tidak biasanya ada orang yang ingin bertemu dengannya. Apa lagi belum banyak orang yang tahu alamat kantornya saat ini, karena memang dia bekerja belum lama.
"Siapa?" tanya Alvin, sambil kembali membaca berkas yang masih berada di tangannya.
"Katanya itu adalah Nenek Anda, Pak," jawab resepsionis di ujung telepon, membuat Alvin langsung menghentikan aktivitasnya.
"Nenek saya?" tanyanya lagi memastikan.
__ADS_1
Kenapa Nenek ke jakarta gak bilang dulu sama aku, ya? Apa ada yang penting, sampe dia mencari aku ke sini? batin Alvin bertanya.
"Benar, Pak," jawab resepsionis itu lagi.
"Baiklah, akan saya temui mereka di bawah." Alvin beranjak dari tempat duduknya, kemudian bersiap untuk ke luar dari ruangan kerjanya.
Sebelum itu Alvin lebih dulu menemui Ezra di ruanganya dan izin untuk ke bawah sebentar, hingga setelah mendapatkan izin dari bosnya, Alvin langsung bergegas menuju ke lantai satu.
Sampai di lantai satu dia mengedarkan pandangannya ke ruang tunggu, keningnya mengernyit melihat tidak ada neneknya di sana. Alvin pun memilih untuk bertanya pada resepsionis lebih dulu.
"Mba, mana orang yang ingin bertemu dengaku?" tanya Alvin ragu, sambil terus mengedarkan pandangannya.
"Itu, Pak. Mereka sedang menunggu di ruang tunggu," jawab resepsionis itu sambil melihat pada tiga orang yang tampak sedang duduk di kursi.
Siapa mereka? Kenapa mereka mengaku sebagai keluargaku? batin Alvin bingung.
"Baiklah, terima kasih, Mba," ujar Alvin sebelum akhirnya melangkah ragu menemui orang yang menunggunya di ruang tunggu.
"Assalamualaikum, apa benar Anda ingin bertemu dengan saya?" ujar Alvin setelah masuk ke ruang tunggu. Alvin melihat ada tiga orang yang sedang duduk di ruang tunggu, dia mengernyit merasa tidak ada yang dia kenal satu pun.
Untung saja ruang tunggu itu di desain full kaca, hingga semua yang mereka lakukan di dalam bisa terlihat dari luar, walau tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan. Semua itu mampu membuat Alvin merasa tenang, walau dia benar-benar tidak mengenal ketiga orang itu sama sekali.
Mendengar suara Alvin, ketiga orang yang tampak sedang berbicara itu langsung menghentikan pembicaraan dan mengalihkan perhatian padanya. Seorang wanita yang mungkin memiliki selisih umur tidak jauh dari neneknya itu tampak menatapnya lekat. Sesaat mata keduanya sempat terpaut, sebelum Alvin menundukkan pandangannya.
"Hardi?" lirih wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca. Alvin memang tidak bisa mendengar suara itu. Akan tetapi, gerak bibir bergetar itu dapat dia baca dengan jelas.
Dia mengenal Bapak? batin Alvin menebak.
__ADS_1
......................