
...Happy Reading ...
......................
Beberapa saat menunggu, akhirnya terdengar suara langkah kaki beberapa orang laki-laki, hingga mengalihkan perhatian Alvin.
"Selamat sore, Bos!" seru para laki-laki itu yang sejak tadi berjaga di sekitar Alvin.
Alvin bisa mengenali salah satu orang yang baru saja datang, itu adalah ayah dari Indira.
Heuh, ternyata sekarang mereka sudah turun tangan sendiri. Mungkin itu karena mereka tidak bisa lagi menekan Nona Indira, batin Alvin.
"Ternyata tidak sulit untuk membawa kamu ke sini," ujar Pak Mardo. Dia tampak duduk beberapa meter di depan Alvin, bersama dengan satu laki-laki muda lainnya.
"Ada apa, Anda, membawa saya ke sini?" tanya Alvin, dia masih berusaha sopan dan santai menghadapi para laki-laki yang kini tengah menjadikannya perhatian.
"Apa kamu tidak ingat, tempat apa ini?" tanya Pak Mardo, malah mengalihkan pembicaraan, matanya tampak mengedar melihat seluruh isi gedung itu dengan tatapan remeh.
"Ck! Sayang sekali kamu sudah lupa, ya? Wajar saja sih, kan waktu itu kamu masih kecil," sambung Pak Mardo lagi.
"Apa yang, Anda, maksud? Memang ini tempat apa?" tanya Alvin lagi, dia memilih berpura-pura tidak tahu.
"Heh, ternyata kamu sudah tidak mengingatnya? Atau mungkin, kecelakaan itu membuat kamu melupakan semuanya?" desah Pak Mardo, seolah sedang menyesali semua itu.
Alvin tampak melebagkan matanya dengan tangan mengepal kuat, saat Pak Mardo kembali membahas tentang kecelakaan.
Mereka mengetahui tentang kecelakaan itu, dan mereka juga tau tentang pabrik ini? Sebenarnya siapa mereka? batin Alvin.
"Sebenarnya siapa, Anda?" tanya Alvin, menatap tajam Pak Mardo dan laki-laki muda di sampingnya.
"Hahaha, dasar anak bodoh! Susah payah orang tuamu menjauhi kami. Tapi, kamu malah menyerahkan diri," gelak Pak Mardo.
Menjauh? Memang siapa mereka? Alvin kembali berkata di dalam hati.
"Kamu tau? Ini adalah pabrik kebanggaan laki-laki miskin itu!" tekan Pak Mardo dengan wajah memerah, menahan amarah.
"Laki-laki?" gumam Alvin, yang masih bisa terdengar oleh Pak Mardo.
"Ya, laki-laki yang sudah berani menghasut adikku dan membawanya kabur, hanya untuk membuatnya sengsara dan hidup seperti gembel di jalanan!" sentak Pak Mardo, dengan tatapan tajam pada Alvin.
__ADS_1
"Bapak?" gumam Alvin, melebarkan matanya menatap Pak Mardo dengan wajah terkejutnya.
"Ya, laki-laki miskin tidak tau diri itu, yang telah membuat keluargaku hancur! Dia membawa adiku dan membuatnya melawan keluarganya sendiri!" teriak Pak Mardo penuh amarah.
"Jadi, Anda, yang membuat perusahaan Bapak bangkrut, dan kecelakaan itu?" Alvin menatap tidak percaya pada Pak Mardo.
"Ya, kecelakaan itu juga adalah rencanaku! Aku mau kalian semua mati, dan Ganis kembali memohon pada keluarganya," ujar Pak Mardo, membenarkan perkataan Alvin.
Alvin menatap terkejut Pak Mardo, kepalanya menggelang samar saat firasatnya selama ini ternyata benar adanya. Kecelakaan itu adalah kecelakaan yang direncanakan.
Mata Alvin memerah, dengan tangan yang mengepal semakin erat, sampai urat-urat di tangan tampak terlihat menonjol.
"Sialan! Dasar Brengsek! Berani-beraninya, Anda, membunuh Bapak dan adik saya!" maki Alvin, tubuhnya berantakan ingin melepaskan tali yang ada di tangannya. Akan tetapi, para laki-laki itu langsung menahannya.
"Dia memang pantas mati! Harusnya kamu juga ikut mati dalam kecelakaan itu, agar hidupku tenang, hahaha!" Pak Mardo semakin memanaskan hati Alvin.
"Sialan, dasar pengecut! Bertanya main belakang! Jangan harap setelah ini aku akan membiarkan kalian hidup tenang! Brengsek!" maki Alvin, urat lehernya terlihat jelas menandakan amarahnya sudah sangat tidak terkendali.
"Heh! Berani-beraninya Loe bilang Papi gue begitu, brengsek!" Sekarang giliran laki-laki muda itu yang menimpali ucapan Alvin, dia bahkan langsung berjalan menghampiri Alvin dan memberikan pukulan di wajah.
Alvin yang sedang dipegang oleh beberapa orang, tidak bisa melawan walau dia terus berusaha berontak untuk melepaskan diri.
"Cih!" Alvin membuang ludah yang sudah terasa asin, bercampur dengan darah.
"Anj*ng loe! Dasar kurang ajar! Gue matiin loe sekarang!" teriak laki-laki muda itu bersiap untuk menyerang Alvin lagi.
Namun, Pak Mardo menghentikan laki-laki muda itu dengan gerakan tangannya.
"Tenang lah, dia itu hanya bisa berbicara omong kosong, sebentar lagi dia juga akan mati, menyusul Bapak dan adiknya," ujar Pak Mardo, duduk santai di atas kursi.
"Jadi kalian ingin membunuhku?" tanya Alvin, dengan seringai di bibirnya.
"Kenapa? Loe, takut hah?!" tanya laki-laki muda itu.
"Roy, kendalikan dirimu!" ujar Pak Mardo.
Sepertinya Pak Mardo terlihat lebih tenang dan profesional sebagai seorang penjahat, dibandingkan dengan anaknya yang bernama Roy itu. Laki-laki muda itu lebih mirip dengan preman jalanan yang menggunakan emosi dan kata-kata kasar.
Ah, itu terlalu kentara dan akan berbahaya jika bertemu dengan pihak berwajib.
__ADS_1
"Aku tidak takut mati! Silahkan saja kalau kalian mau membunuhku! Aku akan berterima kasih," tegas Alvin.
"Heh? Sepertinya kamu memang tidak ingin hidup? Akh, itu membuatku tidak bersemangat lagi .... Sepertinya hidup lebih menyakitkan daripada mati?" ujar Pak Mardo.
"Bagaimana jika aku biarkan saja kamu hidup? Tapi, tentu saja dengan sebuah alasan," ujar Pak Mardo.
"Heh? Untuk apa lagi kamu membiarkan aku hidup?" tanya Alvin, seolah sudah putus asa.
"Tidak akan seru jika aku membunuhmu begitu saja. Iya kan, Roy?" ujar Pak Mardo dengan senyum lebarnya.
"Bagaimana jika aku hanya mengambil kaki atau tanganmu, mungkin itu akan lebih membuatmu terlihat menyedihkan?" ujar Pak Mardo begitu kejam.
Alvin terlihat menatap malas wajah Pak Mardo dan Roy.
"Ck! Dasar sikopat!" hardik Alvin yang langsung mendapatkan tawa Pak Mardo.
Laki-laki paruh baya itu kemudian bangkit menghampiri Alvin dengan langkah angkuhnya. Dia kemudian sedikit membungkuk untuk melihat Alvin lebih dekat.
"Wajah ini? Aku sangat muak melihatnya? Menatapnya saja sudah membuat aku ingin membunuhmu saat itu juga," ujarnya, sambil mencengkram dagu Alvin.
Matanya menatap tajam dengan napas yang terdengar kasar. "Di mana Ganis?" tanya Pak Mardo sambil menyentak kalung Alvin yang tersembunyi di balik baju.
"Hey! Itu miliku!" teriak Alvin setelah menyadari apa yang diambil Pak Mardo darinya.
"Ini?" tanya Pak Mardo, sambil memperlihatkan kalung dengan liontin batu berwarna biru di tangannya.
"Ini bukan milikmu? Ini adalah milik Ganis," ujar Pak Mardo.
"Dia ibuku, brengsek!" sentak Alvin, kembali memberontak mencoba melepaskan diri.
"Dia adiku! Sekarang sebutkan di mana dia!" ujar Pak Mardo, yang sudah melangkah beberapa meter di depan Alvin.
"Tidak akan! Ibuku tidak mempunyai kakak brengsek sepertimu!" jawab Alvin, entah tenaga dari mana dia bisa melepaskan diri dari cekalan beberapa orang.
"Kembalikan kalung itu, atau aku akan membuatmu menyesal!" teriak Alvin, sambil mulai melawan satu per satu laki-laki yang mencoba menangkapnya kembali.
Dengan tangan masih terikat, Alvin mencoba melawan mengandalkan kekuatan kaki dan kepalanya.
Pak Mardo dan Roy tampak terkejut melihat Alvin yang mengamuk, saat itu Alvin bahkan seperti seorang yang sedang kesetanan, dia sama sekali tidak merasakan sakit, walau beberapa kali sempat terjatuh karena pukulan dari lawannya.
__ADS_1
Darah dan keringat kini bercampur, ditambah dengan debu, membuat wajah dan tubuh Alvin sudah terlihat tidak berbentuk. Alvin mengerahkan semua tenaganya untuk merebut kalung milik ibunya yang telah disebut oleh Pak Mardo.
.................