
...Happy Reading...
...................
Alvin mendekati orang yang berdiri di samping mobil yang berada di tengah.
"Mang Lukman, Pak Umar," sapa Alvin.
Ya, tadi saat mereka baru saja dihadang oleh geng motor kecoa terbang, Alvin sempat mengirim pesan pada Lukman, sekaligus mengirim lokasinya.
Alvin mengedarkan pa dengannya, dia cukup terkejut melihat ada banyak laki-laki berpakaian serba hitam yang keluar dari mobil.
Awalnya dia mengira Lukman akan membawa polisi untuk menolongnya. Akan tetapi, sepertinya ini bukanlah bagian dari kepolisian.
"Man, Lo, jagain Alvin. Ini semua biara jadi urusan gue," ujar Pak Umar, memberi instruksi pada Lukman.
Lukman langsung mengangguk. Dia membawa Alvin menjauh dari tempat itu, sedangkan sebagia dari laki-laki berbaju hitam itu mengamankan para penumpang dan sopir angkot lainnya.
"Mang, tas aku ada di dalma angkot," ujar Alvin. Dia sengaja menaruh tas yang dibawanya di bawah kursi angkot dan ditutup menggunakan ban serep.
Mengingat di sana ada laptop dan beberapa buku materi pelajaran di kampus yang sangat penting.
"Mang, kok bawa Pak Umar, memang dia siapa? Terus mereka semua siapa?" tanya Alvin, setelah mereka berada di belakang mobil.
"Pak Umar itu salah atu anggota mafia, dia berhenti karena mengalami cedera di kakinya. Tapi, dia masih sangat disegani di organisasinya. Karena dia terluka karena menolong orang nomor dua di organisasi itu," jelas Lukman.
"Hah? Jadi Pak Umar, mantan anggota mafia? Tapi, aku lihat sekarang dia sangat taat beribadah." ALvin mengernyit ragu.
"Itu semua terjadi setelah istrinya meninggal karena kangker, istrinyalah yang meminta Pak Umar untuk berubah," jawab Lukman.
Pantas saja, walaupun sudah berumur, Pak Umar masih terlihat gagah. Pak Umar juga memiliki tato di tangannya.
Alvin bergumam di dalam hati, mengingat apa yang dia lihat dari Pak Umar, selama beberapa bulan itu dekat.
Di sisi lain, Pak Umar tampak menghampiri para anggota geng kecoa terbang. Gayanya yang gagah dan berwibawa, juga para anak buah yang mnegikutinya, menambah karisma seorang Pak Umar semakin bertambah.
__ADS_1
"Bang Gondrong," sapa si botak pada Pak Umar dengan gerakan sopan.
Dulu sewaktu Pak Umar masih tergabung dengan kelompok mafia, dia memang memiliki rambut yang panjang, hingga lebih dikenal dengan nama Gondrong.
"Ternyata kalian masih saja tidak pandang bulu untuk mencari korban," ujar Pak Umar.
"Maafkan kami, Bang. Kami tidak akan lagi seperti ini," jawab si botak. Mereka semua kini berlutut di depan Pak Umar dengan tubuh bergetar menahan takut.
"Bukankah dulu, ketua geng kalian sudah berjanji untuk tidak lagi menindas orang kalangan bawah? Lalu sekarang apa yang aku lihat?" Pak Umar kembali bertanya.
"Maafkan kami, Bang. Kami tidak akan lagi melanggar janji," jawab si botak.
"Aku akan memberi kalian satu kesempatan lagi. Mulai saat ini kalian berada di dalam pengawasan kami. Dan ingat, jangan pernah ganggu anak laki-laki itu, karena dia sudah aku anggap menjadi anakku sendiri," ujar Pak Umar panjang lebar.
"Baik, Bang. Terima kasih, Bang!" ujar mereka semua sambil menunduk hormat pada Pak Umar.
"Kemebalikan uang mereka semua!" perintah Pak Umar.
Para anggota geng motor kecoa terbang langsung bangkit dan mengeluarkan uang hasil mengambil secara paksa dari para penumpang dan sopir angkot.
Ternyata mempunyai kekuasan dan kekuatan memang sangat berpengaruh. Melihat Pak Umar menolongnya dan para korban yang lain membuat Alvin berpikir untuk mencari tahu bagaimana cara bisa masuk anggota mafia itu.
Apalagi saat melihat penampilan para laki-laki yang berdiri di belakang Pak Umar, tampak sangat keren dengan baju serba hitam dan tubuh kekar berototnya.
Kalau aku bisa seperti Pak Umar, pasti aku juga bisa menyelamatkan orang-orang kalangan rendah yang tertindas seperti itu.
Alvin bergumam dalam hati, dia tertarik dengan pekerjaan yang digeluti Pak Umar sebelumnya. Tanpa tahu apa sebenarnya arti nama mafia. Dia masih terlalu polos untuk mengerti kehidupan keras dunia hitam.
Beberapa saat kemudian para anggota geng motor itu tampak pergi dari sana, Pak Umar pun mengizinkan sopir angkot dan para penumpang untuk meneruskan perjalanan mereka.
Namun, sebelum itu Alvin mengambil tas miliknya lebih dulu di dalam angkot. Mereka tampak berterima kasih karena sudah ditolong oleh Pak Umar.
"Yuk, kita pulang. Lain kali kamu harus lebih waspada lagi, agar kejadian ini tidak terulang lagi," ujar Pak Umar.
Alvin ikut pulang dengan mobil yang tadi ditumpangi oleh Pak Umar dan Lukman. Sedangkan mobil lainnya memilih jalan lain dan berpisah dengan mereka.
__ADS_1
"Apa tidak apa-apa, Bapak, berbuat seperti tadi?" tanya Alvin.
Walaupun tadi dia melihat bagaiman para anggota geng motor kecoa terbang itu takut pada Pak Umar. Akan tetapi, dia khawatir mereka akan melawan dan balas dendam bersama dengan bosnya.
Mengingat perkataan Lukman tentang Pak Umar yang tidak lagi tergabung dengan geng mafia, membuat takut kalau suatu hari nanti kejadian ini akan membahayakan nyawa Pak Umar suatu hari nanti.
"Tidak akan, mereka tidak akan pernah bisa mengangguku. Selama mereka tidak berniat menghancurkan geng kecoa terbang," jawab Pak Umar santai.
Beberapa saat kemudian Alvin, Lukman, dan Pak Umar sudah sampai di gang kontrakan mereka. Ketiga laki-laki berbeda usia itu pun ke luar dari mobil.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Sampaikan salamku kepada tuan besar," ujar Pak Umar, sebelum membuka pintu mobil.
"Tidak usah sungkan, Bang. Kami semua sangat senang bisa membantu, Abang," jawab laki-laki yang menyetir mobil itu.
Pak Umar tampak tersenyum lalu menepuk pundak laki-laki itu berulang sebelum akhirnya ke luar. Ketiga laki-laki itu menunggu sampai mobil itu pergi sebelum akhirnya berjalan di gang kontrakan mereka.
"Mulai minggu besok, kamu akan aku latihan bela diri, agar bisa menjaga dirimu sendiri. Setidaknya kamu harus bisa keahlian bela diri dasar, untuk menjaga orang-orang yang ada di sekitarmu, dari kejadian seperti ini," ujar Pak Umar.
Mereka berdua berbincang sambil berjalan bersama.
"Tapi, Pak–" Lukman ingin menolak, dia takut Alvin akan masuk ke dalam dunia hitam, jika nanti sudah mempunyai keahlian seperti itu.
Apalagi latar belakang Pak Umar adalah seorang anggota mafia. Awalnya dia juga tidak pernah percaya dengan semua kabar burung yang beredar tentang Pak Umar.
Namun, setelah kejadian malam ini, Lukman menjadi yakin kalau kabar burung itu memang nyata terjadi. Pak Umar memang salah satu orang yang berbahaya di masa mudanya.
"Aku mau, Pak!" Alvin langsung berseru, menyetujui ucapan Pak Umar, hingga tanpa sadar menyela ucapan Lukman.
"Bagus, minggu besok kita mulai latihannya. Kamu sudah memiliki metabolisme tubuh yang cukup kuat, itu adalah modal utama dalam belajar bela diri." Pak Umar menepuk pundak Alvin sambil tersenyum tipis.
Sedangkan Lukman menelan salivanya dengan susah payah, mendengar percakapan antara Pak Lukman dan Alvin. Ketakutan akan gagal menjaga Alvin semakin besar di dalam dirinya.
...................
Nah gimana nih, Alvin akan tetap lurus memegang omongan kakeknya, atau berbelok pada dunia hitam karena Pak Umar?
__ADS_1