
...Happy Reading ...
......................
Setelah pemakaman Roy selesai, Tuan Gemang dan Nyonya Hartari langsung pergi lagi untuk menemui Ganis di rumah sakit, Indira pun tampak ikut dengan mereka. Perempuan itu memilih untuk pergi bersama kakek dan neneknya, dibandingkan tinggal di rumah bersama ayah dan ibu tirinya yang masih dalam masa berkabung.
Sementara itu di rumah sakit, Alvin berdiri saat melihat kedatangan Jani dan Anji di pagi ini. Ada raut wajah terkejut walau dengan cepat Alvin mampu mengubah raut wajahnya menjadi biasa saja.
"Bagaimana kondisi ibumu sekarang, Vin?" tanya Jani setelah beberapa saat mereka berbicang omong kosong.
"Masih sama, aku minta doanya agar Mama bisa sadar sebelum dua puluh empat jam sejak selesai operasai kemarin malam," jawab Alvin.
Jani dan Anji terlihat mengangguk, mereka tampak duduk bersama di luar ruangan itu, Jani juga membuatkan sarapan untuk Alvin sebelum dia datang ke rumah sakit.
Setelah cukup berbicang, Anji tampak pamit untuk pergi ke kantor, sedangkan Jani masih memilih tetap tinggal untuk menemani Alvin.
"Aku gak apa-apa, lebih baik kamu pergi saja ke kantor," ujar Alvin.
Jani menggeleng. "Orang aku mau menenin kamu juga, ih!"
Alvin hanya menghembuskan napas pelan, ternyata Jani masih sama seperti dulu, sulit untuk dicegah jika sudah memutuskan sesuatu.
"Kamu gak suka aku di sini?" tanya Jani yang duduk di samping Alvin.
"Bukan begitu, Jani, aku hanya tidak mau mengganggu pekerjaan kamu," jawab Alvin.
"Aku kan kerja sama Kak Arkan, jadi terserah aku mau kerja atau enggak," jawab Jani santai.
Padahal butuh kerja keras untuknya, demi mendapatkan hari libur dari kakaknya yang terkenal tegas dalam pekerjaannya itu. Dia bahkan berjanji akan membuatkan Arkan sarapan setiap pagi selama satu bulan lamanya, hanya demi menemani Alvin di masa tersulitnya.
"Masih bocah juga ternyata," gumam Alvin sambil menggeleng lemah.
Jani melirik Alvin dengan tatapan tajamnya, dia masih bisa mendengar ucapan Alvin, walau terdengar samar.
Alvin mengalihkan pandangannya, memilih untuk menghindar dari ocehan Jani.
Namun, kemudian Alvin menegakkan tubuhnya dan beranjak berdiri ketika matanya melihat beberapa orang yang kini tengah berjalan ke arahnya.
Jani yang melihat perubahan wajah Alvin langsung mengalihkan matanya pada arah pandangan Alvin.
"Kak Indira," gumam Jani sambil ikut berdiri, dari semua orang yang sedang berjalan ke arahnya, hanya Indira yang dia tahu.
Alvin melangkah mengikis jarak diantara mereka diikuti oleh Jani di belakangnya.
"Assalamualaikum, Eyang," ujar Alvin menyapa sambil mencium punggung tangan Tuan Gemang dan Nyonya Hartari bergantian.
"Waalaikumsalam, apa kabar kamu, Vin?" ujar Nyonya Hartari sambil mengusap rambut di puncak kepala Alvin pelan. Matanya melirik keberadaan seorang perempuan di belakang Alvin.
"Alhamdulillah, saya baik, Eyang," ujar Alvin walau nyatanya luka memar di wajahnya masih terlihat jelas.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Ganis, Vin?" Tuan Gemang bertanya dengan kening yang tampak bekerut dalam.
Alvin tampak sedikit menundukkan kepalanya, terlihat sekali raut wajahnya berubah hanya dengan satu pertanyaan tentang ibunya.
"Mama masih belum sadar, Eyang," jawab Alvin dengan raut wajah yang sudah kembali seperti biasa.
Sepertinya bekerja bersama Ezra, membuatnya cukup banyak belajar dalam mengendalikan emosi, walaupun Alvin masih harus banyak belajar dalam hal itu.
Tuan Gemang dan Nyonya Hartari tampak terlihat murung saat mendengar jawaban dari Alvin, keduanya mungkin sedang menyesali semua waktu yang telah hilang di antara mereka dan Ganis.
"Boleh kami melihatnya?" tanya Nyonya Hartari pada Alvin.
Alvin mengangguk, dia kemudian mengarahkan Nyonya Hartari dan Tuan Gemang masuk ke dalam ruangan perawatan Ganis secara bergantian.
Yang pertama kali masuk adalah Tuan Gemang dan Alvin mendorong kursi rodanya.
Tetes air mata langsung keluar begitu Tuan Gemang memasuki ruangan, dia bisa melihat anak perempuannya yang kini tengah terbaring tak berdaya. Matanya mengedar menyusuri seluruh tubuh Ganis yang tampak kurus dan lemah, ditambah banyaknya alat yang terpasang di tubuhnya.
Alvin mendorong kursi roda Tuan Gemang sampai akhirnya berhenti di samping brankar Ganis.
"Ganis, kamu apa kabar, Nak? Apakah semua ini sakit?" ujar Tuan Gemang dengan suara berat dan terdengar parau.
Alvin tampak membawa kakinya untuk melangkah lebih jauh dari Tuan Gemang, takut kalau dirinya mengganggu interaksi antara Tuan Gemang dan Ganis.
Perlahan Tuan Gemang menggenggam tangan Ganis, lalu mengelusnya dengan penuh kelembutan, walau terlihat sekali jari jemari keriput itu sudah tampak bergetar.
"Maafkan Bapak, Nak," lirih Tuan Gemang lagi, dengan isakkan yang terdengar sayup di telinga Alvin.
"Bapak memang hanyalah orangtua yang egois dan tidak pernah mengerti perasaanmu sebagai anakku. Maafkan aku, untuk semua itu, Nak. Bila saja waktu itu aku merestui kalian berdua, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."
"Kamu adalah anak perempuan satu-satunya Bapak, Nak. Kamu adalah berlian di keluarga kami. Aku hanya berniat melindungi kamu dan memastikan kehidupanmu tidak akan merasa susah setelah menikah, Nak."
Padahal bahagia bukan selalu tentang uang ... dan kekayaan tidak menjamin akhlak seseorang itu baik. Alvin membatin, seolah sedang menjawab perkataan Tuan Gemang.
"Kalau saja dulu aku tidak keras kepala, mungkin kamu tidak akan pernah mengalami semua kesulitan ini, Nak. Maafkan Bapak, Nak ... maafkan Bapak–" Tuan Gemang menangis tergugu di samping tubuh Ganis yang masih tetap tidak memberi respon.
"Sekarang Bapak sudah ada di sini ... bangun ya, Nak, hukum Bapak, sesukamu. Bapak akan menerimanya, asal kamu bisa kembali sehat dan hidup bahagia lagi, Nak."
Ya, walau seberapa kejam dan kerasnya orang tua memperlakukan anak mereka, nyatanya kasih sayang itu tidak pernah menghilang dari hatinya yang paling dalam.
Begitu juga dengan persediaan maaf yang tidak pernah habis dari orangtua kepada anaknya. Seberapa besar pun kesalahan sang anak, maka orangtua akan selalu memaafkannya.
"Harusnya Bapak saja yang ada di sini, Nak ... bukan kamu," ujar Tuan Gemang sambil berurai air mata.
Alvin yang melihat ini sudah cukup menyakitkan untuk Tuan Gemang. Ditambah dengan rasa khawatirnya pada kesehatan Eyangnya itu, kini tampak menghampiri. Dia kemudian memegang kedua pundak Tuan Gemang sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Semua itu sudah berlalu, Eyang. Lebih baik, sekarang Eyang membicarakan yang senang-senang saja, agar Mama bisa segera sadar," ujar Alvin sambil terus mengusap pundak Tuan Gemang dengan gerakan halus.
Tuan Gemang tampak mengangguk pelan, sambil mencoba mengendalikan dirinya yang sudah terlalu larut dalam kesedihan. Melihat anak perempuannya dalam keadaan seperti itu, membuat hatinya sangat sakit, bagaikan tertusuk ribuan paku.
__ADS_1
"Eyang, lebih baik kita ke luar dulu, kasihan Eyang putri sejak tadi nungguin mau ketemu, Mama," ujar Alvin dengan suara sopan dan juga lembut.
Tuan Gemang tampak kembali menatap wajah Ganis, dia terlihat begitu enggan untuk meninggalkan anak perempuannya.
"Ayo, Eyang," ajak Alvin kemudian mulai mendorong kursi roda Tuan Gemang ke luar dari ruang rawat intensif itu.
Setelah Alvin dan Tuan Gemang ke luar, kini gantian Nyonya dan Indira yang masuk ke dalam. Tidak jauh berbeda dengan Tuan Gemang, Nyonya Hartari pun langsung menangis tersedu melihat kondisi Ganis yang tidak berdaya. Berbagai kata penyesalan dan doa agar anaknya cepat sembuh terus mengalir dari bibir bergetar wanita tua itu.
Derai air mata yang membasahi pipi, tampak enggan untuk berhenti. Kenyataan ini nyatanya mampu menjatuhkan keangkuhan hati orang tua yang terjadi beetahun-tahun lamanya.
.
Sementara itu, di luar ruangan tampak datang lagi beberapa orang lainnya yang tidak lain adalah keluarga Darmendra. Ezra, Garry, Nindi, dan Nawang, tampak datang untuk menjenguk ibu dari Alvin, sekaligus memberikan dukungan moril untuk asisten pribadi Ezra itu.
Tidak lupa dengan si kecil yang tidak pernah mau jauh dari Alvin. Siapa lagi kalau bukan Naura. Anak perempuan itu bahkan kini sedang asik bermanfaat di dalam gendongan Alvin, setelah beberapa hari ini tidak bertemu.
Cukup sulit untuk Ezra dan Nindi merayu Naura saat anak sulungnya itu mengetahui kalau mereka hendak bertemu dengan Alvin. Dia menolak untuk tetap di rumah dan bersikeras ikut ke rumah sakit.
Setelah cukup lama berbincang, Tuan Gemang mengajak Alvin, Ezra, dan Garry, untuk berbincang secara terpisah dari yang lainnya.
Ternyata, kemarin Ezra sudah menghubungi Tuan Gemang dan menceritakan permasalahan antara Alvin dan Pak Mardo juga Roy. Bahkan Ezra pun sudah memperkirakan kalau pasti akan terjadi korban, hingga akhirnya kabar meninggalnya Roy terdengar.
Alvin terdiam mendengar cerita dari Tuan Gemang dan Ezra, hingga tidak lama kemudian Pak Umar dan Max pun ikut hadir di sana.
Ternyata Ezra dan bos Max berteman dan mereka sudah saling bertukar informasi sejak lama, dan membagi tugas untuk melatih dan melindunginya dari kekejaman Pak Mardo.
"Jadi apa keputusan kamu sekarang untuk Pak Mardo, Vin?" tanya Ezra pada Alvin.
Semuanya kini telah berakhir, semua anak buah Pak Mardo sudah diamankan oleh Max, dan Roy yang menjadi tujuan utama Pak Mardo berebut perusahaan Tuan Gemang pun kini telah meninggal.
Alvin menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Tatapannya kini beralih pada Tuan Gemang yang kini tampak menunduk.
"Saya menyerahkan keputusan ini pada Eyang. Saya tidak berhak untuk memutuskan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada kaitannya dengan saya," ujar Alvin yang membuat semua orang beralih menatap padanya.
Tuan Gemang yang awalnya menunduk, kini mengangkat kepala, dia menatap wajah Alvin yang begitu mirip dengan menantu yang tidak pernah dia restui pernikahannya. Wajah yang menurutnya begitu menyebalkan dan menyulut emosinya.
Namun, kini dia tahu kalau Alvin memang begitu mirip dengan Hardi, walau dia tampaknya dia juga masih terlihat takut untuk mengambil keputusan.
"Ini semua memang salahku, sejak awal aku yang tidak bisa mendidik anakku Mardo, sampai semua ini terjadi. Aku minta maaf untuk semua yang sudah dia lakukan," ujar Tuan Gemang dengan suara yang terdengar bergetar.
Matanya memancarkan begitu banyak kesedihan yang terpendam. Di sana juga ada sebuah kecewa yang begitu besar sebagai orang tua.
Tidak ada yang berani menyela perkataan laki-laki tua itu, semuanya orang yang ada di sana tampak terdiam, begitu juga dengan Alvin yang tampak menunduk dalam.
Ingatannya berputar pada waktu kebahagiaannya direnggut secara paksa dalam kecelakaan yang terjadi beetahun-tahun lalu, dia dipaksa untuk tetap tegar dan menjalani hidup walau nyatanya separuh jiwanya telah ikut menghilang dalam kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan adik permpuannya, juga merenggut kehidupan ibunya.
Perjuangan untuk sampai di titik ini tidaklah mudah, mengalahkan rasa takut, mengacuhkan rasa lelah dan menyingkirkan luka juga sakit yang terus membekas di dalam hati.
Kini semuanya sudah selesai. Apa pun keputusan yang diambil oleh Tuan Gemang, Alvin tidak perduli lagi. Yang kini sekarang dia perdulikan hanyalah kesehatan Ganis, bukan hal yang lain lagi.
__ADS_1
......................