ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Meminta tolong


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Pagi hari Alvin benar-benar menghubungi nomor yang tadi malam dia lihat, siapa lagi kalau bukan Anjani.


Sambil mengemudi mobil menuju ke kantor Alvin memasang earphone di telinganya, untuk satu panggilan pertama ternyata Alvin tidak mendapatkan jawaban.


"Apa mungkin dia masih tidur?" gumam Alvin menerka.


"Ya sudahlah, aku telepon nanti lagi saja," sambung Alvin lagi sambil meletakkan kembali earphone di tempatnya.


Namun, beberapa saat kemudian ponsel miliknya berdering dan menampilkan id nama Anjani di layar.


Melihat itu Alvin langsung memasng kembali earphonnya lalu mengangkat telepon dari seseorang yang mungkin masih terasa begitu spesial di hatinya.


"Assalamualaikum," sapa Alvin begitu telepon tersambung.


"Waalaikumsalam. Kamu tadi telepon aku ya, Vin? Maaf, aku lagi di kamar mandi," ujar Anjani dari seberang sana.


"Iya. Aku mau ngajak kamu bertemu nanti siang, apa bisa?" tanya Alvin yang selalu langsung pada intinya.


Anjani berdecak pelan melihat sikap Alvin yang sama sekali tidak berubah, dingin dan tidak suka basa basi.


"Bisa, mau ketemu di mana?" tanya Anjani.


"Terserah kamu saja, nanti kirim alamatnya sama aku," jawab Alvin yang membuat senyum Jani merekah.


"Ya udah, nanti aku kirim alamatnya."


"Aku tunggu. Assalamualaikum." Alvin mengakhiri telepon begitu saja dengan senyum tipis yang menghias di wajahnya.


Sementara itu di kamar, Anjani tampak mendengus kesal saat Alvin mengakhiri teleponnya begitu saja.


"Ck, dasar gak peka! Aku kan masih kangen, tapi main matiin aja," gerutu Jani pada layar ponselnya.


"Gak apa deh, yang penting nanti siang bisa ketemu," sambung Jani lagi, dengan senyum merekah.


Anjani menaruh ponselnya dan meneruskan memoles wajahnya kemudian segera pergi ke luar. Kini dia sudah bekerja di perusahaan keluarga yang dipimpin langsung oleh kakak pertamanya.


.


Waktu makan siang tiba, Alvin baru saja sampai di restoran yang dipilih Jani, dia baru ingat kalau restoran itu tidak jauh dari perusahaan kakak Anjani.


"Kenapa dia memilih restoran ini?" gumam Alvin setelah memarkir mobilnya di depan restoran.


Sedangkan tidak jauh dari restoran, Jani tampak sedang berjalan menyusuri trotoar dengan payung yang menghalangi terik matahari dari kulitnya.

__ADS_1


Alvin ke luar dari mobil bersamaan dengan Anjani yang sampai di depan mobil miliknya, pandangan keduanya tampak saling bertaut untuk beberapa saat.


Ada rasa terkejut di saat kini tampilan keduanya sudah berbeda jauh dari sejak terakhir kali mereka bertemu.


Alvin yang memakai pakaian rapih dan modis, ditambah mobil yang ia kendarai. Juga Anjani yang tampak dewasa dan mandiri dengan pakaian kerjanya.


Alvin tersenyum tipis, dia kemudian menghampiri Jani yang masih menatapnya tanpa berkedip.


"Assalamualaikum, Jani. Apa kabar?" sapa Alvin begitu sampai di depan Jani.


Anjani mengerjapkan matanya pelan seolah sedang mengumpulkan kesadaran yang belum pulih.


Alvin menggerakkan tangannya di depan wajah Anjani, karena perempuan itu masih saja tidak merespon.


"Assalamualaikum," ujarnya lagi.


"Wa–Waalaikumsalam." Jani berkata lirih.


Dia kemudian mengerjapkan matanya cepat sambil menundukkan kepala, seolah baru tersadar kembali.


Alvin kembali tersenyum mendapati sikap Jani yang tidak berubah sama sekali, tetap sedikit loading jika sedang bersamanya.


"A – Alvin!" lirih Jani sambil kembali menatap Alvin.


"Hem, lalu siapa lagi?" angguk Alvin.


"Apa kabar, Jani?" sambung Alvin lagi, menatap wajah Jani yang pipinya terlihat memerah.


"Baik, Alhamdulillah. Yuk, masuk, di sini panas kan," ujar Alvin sambil melirik payung yang masih menutupi tubuh Jani.


Anjani baru sadar dengan payung yang ada di tangannya, di kemudian menutupnya kembali.


"Iya, di sini memang panas banget, apa lagi aku jalan dari kantor," jawab Jani dengan percaya dirinya.


Alvin mengangguk-anggukkan kepala samar, kemudian mengikuti Jani masuk ke dalam restoran.


"Jadi, sekarang kamu bekerja di kantor Pak Arkan?" tanya Alvin begitu mereka mendapatkan meja.


"Iya, sejak aku pulang dari luar negeri aku langsung kerja di sana," angguk Jani.


Alvin hanya mengangguk, sambil mengedarkan pandangannya, mengenang masa-masa bekerja di kantor Arkan yang penuh dengan berbagai cerita.


"Kamu sekarang kerja di mana?" tanya Jani yang tidak pernah lepas menatap wajah Alvin.


"Aku cuman kerja di bengkel," jawab Alvin sambil terkekeh kecil.


"Ck! Gak usah bohong, mana ada kerja di bengkel bisa pake pakaian begini," decak Jani tidak percaya, dia bahkan sampai memicingkan matanya, menatap Alvin penuh curiga.

__ADS_1


"Eh, gak percaya? Aku memang kerja di bengkel kok, kamu bisa datang jika tidak percaya," ujar Alvin sambil kembali menatap Jani di depannya.


"Hem, aku pasti akan datang! Aku mau lihat bengkel mana yang bisa bikin pekerjanya pakai pakaian kayak begini," angguk Jani yakin.


Alvin ikut mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya. "Baiklah, kalau kamu ada waktu kabari aku, nanti aku beri tahu alamatnya."


Obrolan keduanya terus berlanjut sampai akhirnya makanan yang mereka pasan datang, keduanya hening sesaat untuk menikmati makan siangnya.


"Kangen deh makan siang bareng sama kamu. Gimana kalau nanti aku datang bawain bekal seperti waktu kuliah dulu?" tanya Jani mengungkapkan pemikirannya.


"Boleh," angguk Alvin setelah menyelesaikan makanannya.


"Beneran?" Jani cukup terkejut dengan jawaban Alvin, dia mengira kalau Alvin akan menolaknya.


Alvin mengangguk pasti.


"Tapi, ada yang marah gak nih?" tanya Jani lagi, seolah sedang memancing Alvin untuk mengungkapkan statusnya sekarang.


"Gak ada, memang siapa yang akan marah?" jawab Alvin santai.


"Pacar kamu gimana?" Jani tidak mudah menyerah.


"Aku masih sendiri."


Jani tersenyum cerah begitu mendengar jawaban Alvin. Jujur saja, selama ini hatinya sama sekali belum pernah berpaling dari Alvin, dia masih tetap mengharapkan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Jani, sebenarnya aku mengajak kamu bertemu karena ingin meminta tolong," ujar Alvin setelah cukup lama mereka berbicara.


"Minta tolong apa? Aku pasti bantu kok kalau aku bisa," jawab Jani kini memilih fokus pada Alvin.


"Aku mau minta tolong agar kamu mau memberi tumpangan untuk saudara perempuan aku yang sedang ada masalah. Apa bisa?" tanya Alvin dengan suara ragu.


"Saudara perempuan? Bukannya kamu anak tunggal?" Jani sedikit curiga.


"Ceritanya panjang, Jani. Nanti aku ceritakan jika kamu menyetujuinya."


Anjani terdiam, dia menatap Alvin penuh curiga. Walau di dalam hati dia juga mengakui kalau Alvin tidak mungkin berbuat sesuatu yang menyalahkan aturan.


"Baiklah, aku setuju. Tapi, kamu harus menceritakan semuanya dan aku juga harus bertemu dengan saudara kamu dulu," ujar Jani.


"Tentu," angguk Alvin pasti.


"Nanti sore setelah pulang kerja aku jemput kamu di kantor, kita ke kontrakan aku, biar kamu bisa bertemu dengan saudara aku, bagaimana?" tanya Alvin.


"Oke, aku setuju," jawab Jani.


Setelah makan siang, keduanya pun berpisah kembali, untuk menuju kantornya masing-masing, hingga sore harinya Alvin benar-benar menjemput Jani di kantor dan membuat geger hampir semua karyawan di sana, yang ternyata masih mengenalnya.

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari, kabar itu pun sampai pada telinga Arkan dan Anji yang juga bekerja di sana.


......................


__ADS_2