ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Bantuan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Pak Umar baru saja pulang ke kontrakan saat ponsel di saku celananya terus berdering.


"Siapa sih?" gumamnya sambil berusaha mengambil ponsel.


"Alvin? Ngapain dia telepon aku, bukannya dia masih di kantor?" Pak Umra tampak mengernyit.


Pak Umar pun memilih untuk menggeser ikon berwarna hijau lalu menempelkan ponselnya di depan telinga.


"Halo, Assalamualaikum. Ada apa, Vin?" tanya Pak Umar.


Saat Pak Umar mendengar suara seseorang di sana, dia tahu kalau itu bukan Alvin.


Pak Umar bahkan sempat memastikan nomor yang menghubunginya kembali, agar tidak salah mengenali. Akan tetapi, itu benar nomor Alvin, namanya tertulis jelas di kontak.


"Siapa ini? Kenapa kamu bisa memegang ponsel Alvin?" tanya Pak Umar, dengan nada serius.


Mendengar penjelasan dari orang di ujung sambungan telepon, Pak Umar terlihat terkejut. Begitu sambungan telepon berakhir, dia bergegas untuk kembali pergi dari kontrakan, sambil berusaha menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian, Pak Umar dan beberapa orang yang tadi dia hubungi sudah berada di depan sebuah gedung bekas pabrik, di mana Alvin berada.


"Kalian yakin, Alvin di bawa ke tempat ini?" tanya Pak Umar.


"Kalau dilihat dari lokasi plat mobil yang Anda kirim, di sini tempatnya," jawab salah satu orang yang merupakan mantan anak buah Pak Umar, saat dirinya masih bergabung dalam organisasi mafia.


Pak Umar, terpaksa meminjam mereka lagi, karena masalah ini bukanlah masalah yang bisa dia selesaikan seorang diri. Pak Umar juga tidak mungkin melapor pada pihak berwajib, mengingat dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada Alvin saat ini.


"Baiklah, berarti kita masuk saja?" tanya Pak Umar, yang langsung diangguki oleh para laki-laki lainnya.


Mereka pun bersiap hendak masuk ke dalam bangunan bekas pabrik itu. Baru sampai membuka gerbang, mereka sudah dihadapkan dengan beberapa orang penjaga yang melarangnya masuk.


Pertarungan pun tidak bisa terelakkan, mereka berusaha saling mengalahkan dan mempertahankan penjagaan.


"Lindungi aku!" teriak Pak Umar, yang memilih untuk menerobos masuk ke dalam, demi mencari keberadaan Alvin.

__ADS_1


Berlari ke sana ke mari mencari keberadaan Alvin, kini akhirnya Pak Umar bisa melihat keberadaan Alvin yang sudah hampir tidak berdaya, di tengah laki-laki yang sedang memukulinya.


"Alvin?" ujar Pak Umar, dia langsung menerjang para laki-laki yang ingin memukul Alvin lagi, tanpa melihat orang lain yang sedang berperan menjadi penonton di sana.


Ternyata ilmu bela diri Pak Umar masih terlatih dengan baik, hingga beberapa saat bertarung para lawan Alvin sudah hampir menyerah dan kalah semua.


Alvin tersenyum, melihat kedatangan Pak Umar yang dia rasa tepat pada waktunya. Ingatannya kembali pada saat dia menyerahkan kunci motor pada Bapak-bapak yang dirinya tolong.


"Ini ponselku, tolong tekan panggilan darurat nomor dua, nanti itu akan tersambung pada seseorang yang bisa menolongku. Ceritakan apa yang Bapak lihat, dan usahakan ingat nomor kendaraan mereka," ujar Alvin, memberi perintah.


"Tapi, Nak, kalau kamu kenapa-napa bagaimana?" tanya Bapak itu terdengar ragu.


"Aku yakin, aku akan baik-baik saja. Bapak gak usah khawatir, Bapak, pergi saja ke rumah sakit dan temui anak dan istri Bapak yang sedang menunggu," ujar Alvin.


Ternyata Bapak itu melakukan apa yang aku ucapkan, batin Alvin.


Senyumnya semakin lebar, saat beberapa orang ikut membantu Pak Umar mengatasi para laki-laki yang tadi mengeroyok dirinya.


Setelah bantuan datang, Pak Umar beralih menghampiri Alvin.


"Kamu tidak apa-apa, Vin?" tanya Pak Umar, sambil berusaha melepaskan tali yang masih mengikat tangan Alvin.


Pak Umar merangkul pundak Alvin, berusaha menolong Alvin untuk berdiri.


Tiba-tiba suara tepuk tangan menggema di ruangan itu, mengalahkan suara pertarungan. Semua orang otomatis mengalihkan perhatiannya pada suara tepuk tangan itu.


Pak Umar yang melihat Pak Mardo dan Roy, tampak terkejut hingga melebarkan matanya.


"Kita bertemu lagi, Omar. Ternyata kamu masih berkecimpung dalam dunia hitam?" tanya Pak Mardo dengan seringai lebar di wajahnya.


Alvin tampak melihat wajah Pak Umar yang terlihat bingung dan serba salah.


"Haah, aku kira kamu sudah ke luar dari dunia hitam, setelah kamu dikeluarkan dari organisasi mafia itu, karena ketahuan sengaja menerima pekerjaan dari orang lain untuk membunuh orang," sambung Pak Mardo lagi.


"Bapak kenal dengan dia?" tanya Alvin, dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Pak Mardo.


"Mau apa lagi, kamu?" tanya Pak Umar, tidak memedulikan pertanyaan Alvin. Wajahnya tampak berubah menjadi kalut.

__ADS_1


Pak Mardo tampak tersenyum remeh, dia menatap Pak Umar dengan seringai licik di wajahnya.


"Pantas saja selama ini aku tidak bisa tahu di mana keberadaan adikku dan anak sialan ini. Ternyata kamu yang berada di belakang mereka? Dasar brengsek!" ujar Pak Mardo.


Alvin menatap Pak Umar, dia tidak mengerti akan perkataan Pak Mardo. Akan tetapi, saat ibunya yang selama ini selalu dipanggil adik oleh Pak Mardo disebut, rasa penasarannya semakin menjadi.


Apa maksudnya Pak Umar berada di belakangku dan Mama? Memang siapa Pak Umar yang sesungguhnya? batin Alvin.


"Ohya? Bukannya itu semua karena kamu terlalu bodoh?" balas Pak Umar, sambil tersenyum mengejek.


Para anak buah tampak bersiaga jika saja ada serangan dadakan dari lawannya. Alvin yang tidak mengerti dengan pembicaraan para laki-laki itu, hanya memperhatikan saja, sambil sesekali berfikir kira-kira apa yang sedang mereka bahas.


"Sialan! Berani kamu bilang begitu padaku?!" ujar Pak Mardo penuh emosi.


"Heh, dasar manusia serakah dan tidak tahu malu. Kamu adalah laki-laki paling bodoh yang aku temui selama hidupku. Seorang Kakak yang mengadu domba adik dan orang tuanya sendiri, hanya karena urusan harta dan tahta? Ck, memalukan!" hardik Pak Umar, semakin membuat harga diri Pak Mardo terasa terinjak.


Alvin kini beralih melihat Pak Mardo. Kenapa nama Ibunya kembali disebut dalam pertengkaran mereka berdua? Apa mungkin dulu mereka berdua adalah teman? Ish, Alvin bahkan bingung mau mencari tahu dari mana.


"Dasar brengsek! Berani-beraninya kamu bilang begitu padaku, sialan! Kamu sendiri hanyalah laki-laki pengecut yang berkhianat pada organisasinya sendiri," balas Pak Mardo yang merasa tidak terima.


Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa Mama selalu dibawa-bawa? Terus organisasi itu, apakah mafia yang dulu pernah diceritakan Mang Lukman? Tapi, bukannya Pak Umar ke luar karena istrinya yang meninggal? Kalau begitu, lalu kenapa Pak Mardo bilang, Pak Umar berkhianat? Alvin terus bertanya di dalam hati, berusaha untuk mengerti dan masuk dalam pembicaraan dua orang menjelang tua itu.


"Alvin, apa kamu tidak mau tau siapa pengendara truk yang menabrak kamu dan keluargamu, hah?" tanya Pak Mardo tiba-tiba, membuat Alvin langsung mengalihkan perhatian padanya.


"Apa maksud, Anda?" ujarnya kemudian.


Alvin bahkan tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, saat mendengar apa yang selalu menjadi pertanyaan di dalam hatinya.


Sedangkan Pak Umar langsung melebarkan matanya, dia juga terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Pak Mardo.


"Hahaha, ternyata tebakanku benar. Kamu pasti masih ingin tahu orang yang membuat adik dan Bapakmu itu mati, kan?" ujar Pak Mardo tampak senang dengan reaksi Alvin.


"Cepat katakan, siapa orang yang telah membunuh adik dan Bapak?!" Alvin hendak beranjak untuk menghampiri Pak Mardo, akan tetapi, Pak Umar langsung menahannya.


"Tenangkan dulu dirimu, Vin" ujarnya pelan.


"Bagaimana, Omar? Apa aku harus mengatakan semuanya pada anak ingusan ini?" tanya Pak Mardo, menatap tajam Pak Umar.

__ADS_1


Alvin menatap kedua laki-laki menjelang tua itu bergantian, pikirannya kacau karena kini dia mulai menuduh Pak Umar bekerja sama dengan Pak Mardo.


......................


__ADS_2