ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Berkenalan dengan keluarga bos baru.


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Hari sudah sore, bahkan para staf yang lain sudah mulai pulang, mengingat jam kerja sudah selesai. Akan tetapi, itu tidak berlaku untuk Alvin, kini dia masih terlihat duduk di meja kerjanya dengan komputer yang masih menyala.


Suara ketukkan di pintu membuatnya sedikit mengalihkan perhatian, walau akhirnya dia berdiri canggung saat melihat ternyata itu adalah bos barunya yang datang.


"Pak, Ezra," ujar Alvin, sambil berdiri, kemudian sedikit membukngkukkan tubuhnya.


Alvin sangat tidak menyaka kalau bos besar seperti Ezra mau mendatangi ruangan asistennya seperti ini, apa lagi dirinya masih menjadi karyawan baru.


"Duduk saja, aku ke sini karena mau menyerahkan beberapa pekerjaan yang harus kamu kerjekan. Oh ya, sekarang kamu ikut aku pulang dulu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan," ujar Ezra, memberi perintah.


Alvin menerima beberapa berkas yang diberikan oleh Ezra.


"Baik, Pak," jawab Alvin, dia langsung membereskan semua berkas yang sedang dikerjakan dan membawa berkas yang belum selesai, untuk dikerjakan di rumah.


Ezra terlihat duduk di kursi tempat Keenan bekerja,  dia seperti sedang memperhatikan Alvin.


Astaga, Pak Ezra memang pendiam dan dingin seperti ini ya? Aduh, aku kan jadi gugup kalau dia ngeliatin aku terus, batin Alvin, sambil berpura-pura tidak terganggu dengan keberadaan bos barunya.


Setelah Alvin selesai berkemas, tanpa kata Ezra tampak melihat jam tangan yang meligkar di pergelangan tangannya, dia kemudian berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Alvin.


Apa dia sedang melihat, seberapa cepat aku berkemas? Astagfitullah! batin Alvin menggeram prustasi.


"Astagfirllah, kenapa berhadapan dengan Pak Ezra terasa lebih menakutkan dibandingkan dengan Pak Garry Darmendra, ya?" gumam Alvin, sambil beranjak untuk mengikuti langkah bos barunya itu.


Dia masih mengingat pesan Keenan tentang Ezra yang bekerja dengan cepat dan tidak suka menunggu. Uh, mengingat segudang pesan yang ditinggalkan oleh Keenan membuatnya semakin gugup saja.


Aura Ezra yang sangat berwibawa dan dingin membuat Alvin merasa segan sekaligus takut, dia sudah lelah berurusan dengan para orang-orang berkuasa, dan kini dia hanya ingin bekerja dengan nyaman, tanpa pusing dengan berbagai drama lagi.


Alvin berjalan di belakang Ezra, dia merasakan aura yang berbeda saat berjalan dengan laki-laki dewasa yang terlihat penuh aura yang menyilaukan dan berwibawa.


"Kamu ke sini naik apa?" tanya Ezra, yang hampir membuat Alvin tersandung oleh kakinya sendiri akibat terkejut.


"Saya naik motor, Pak," jawab Alvin, berusaha menormalkan suaranya yang sudah pasti terdengar menyedihkan.


"Kamu bisa menyetir mobil kan?" tanya Ezra lagi, tanpa menoleh atau melihat Alvin sama sekali.


"Bisa, Pak." jawab Alvin, melihat Ezra sekilas sambil terus mengimbangi langkah lebar bosnya itu.


Untung saja Alvi juga memiliki tubuh yang lumayan tinggi dan tegap, dia juga sudah terbiasa berolahraga, hingga tidak sulit untuknya mengikuti gaya berjalan Ezra yang terlihat cepat.


Ezra mengangguk, sepanjang perjalanan menuju ke area prkiran, Ezra banyak bertanya pada Alvin.


"Tinggalkan motormu di sini, sekarang kamu ikut denganku," ujar Ezra saat mereka sudah ke luar dari area kantor.


"Baik, Pak," jawab Alvin, walau di dalam hati dia bingung, besok mau pergi ke kantor menggunakan apa.


Nanti setelah dari rumah Pak Ezra saya akan kembali lagi ke sini, untuk menggambil motor, gumamnya dalam hati.


Ezra menyerahkan kunci mobilnya pada Alvin, begitu mereka sampai di parkiran. Alvin menatap bingung kunci di tangannya, dia kemudian mencari mobil milik bosnya itu, dan kini dia bertambah bingung saat melihat mobil yang digunakan oleh Ezra.


Alvin menelan salivanya susah payah, begitu melihat mobil yang dibawa Ezra itu adalah mobil dengan kelas yang berbeda dari yang biasa dia bawa. Cara mengemudianya pun tentu saja berbeda, dan dirinya belum tahu apa pun tentang mobil itu.

__ADS_1


"M–maaf, Pak. Saya memang bisa mengendarai mobil, hanya saja itu mobil biasa dan sederhana, bukan mobil seperti ini," ujar Alvin dengan suara sedikit bergetar dan kepala menunduk dalam.


Jujur saja, hatinya sudah resah saat melihat ternyata mobil yang dipakai oleh Ezra setiap hari, bukanlah mobil biasa. Apa lagi dengan modifikasi di beberapa bagian, hingga terlihat lebih nyaman.


Ezra menatap Alvin tanpa ekspresi, dia kemudian mengambil kembali kunci mobil di tangan asisten barunya.


Astagfirullah, apa aku salah? Haduh, tapi kan lebih baik jujur dari pada aku memaksakan terus kita kecelakaan, batin Alvin merasa bingung bercampur gugup.


"Tunggu apa lagi? Masuk!" perintah Ezra tegas setelah dia berdiri di samping pintu kemudi.


"Baik, Pak!" jawab Alvin kemudian segera masuk ke dalam mobil bosnya itu.


Begitu masuk ke dalam mobil, Alvin melihat berbagai interior yang pasti bukanlah sesuatu yang mudah di dapatkan. Kemewahan mobil itu mebuatnya merasa semakin sesak berada di dekat seorang Ezra Darmendra.


"Belajar cara mengemudikan mobil seperti ini dari Keenan, karena saat ada pertemuan dengan klien kamu harus menyetir mobilku." Ezra berkata, setelah mereka ada di dalam mobil.


"Ba–baik, Pak," angguk Alvin.


Mereka pun akhirnya pergi ke rumah Ezra, dengan Ezra yang menyetir mobil sendiri.


Dalam diam, Alvin memperhatikan cara menyetir bos barunya itu.


.


.


Alvin mengedarkan pandangannya saat mobil yang dia tumpangi bersama bos barunya, mulai memasuki komplek perumahan elit.


Pikirannya kembali pada masa lalu, saat dirinya masih kecil hingga memasuki waktu remaja, dia juga pernah tinggal di perumahan komplek seperti ini, walau tidak terlalu elit juga. Akan tetapi itu cukup mewah.


Tak berselang lama, mobil memasuki sebuah pagar besi yang menjulang tinggi, entah siapa yang membukanya, akan tetapi pagar itu bergerak sendiri.


Beberapa orang terlihat berdiri di depan pos satpam, menyambut kedatangan sang tuan. Alvin pun seketika tahu, kalau pagar itu pasti dikendalikan oleh sebuah remot yang dipegang salah satu diantara mereka.


Alvin mengalihkan perhatian pada rumah yang kini terlihat jelas di depannya, dia juga dapat melihat seorang perempuan cantik sedang berdiri di ambang pintu, dengan seorang gadis kecil di sampingnya dan bayi di gendongannya.


Itu pasti istri dan anak yang Pak Keenan pernah ceritakan, batin Alvin menebak.


Alvin tersenyum samar, dia mengingat kehangatan keluarganya yang dulu juga hampir sama dengan pemandangan kali ini.


Sang ibu yang selalu menyambut kedatangan ayahnya di depan pintu.


Walau akhirnya semua itu kini hanya tinggal sebuah kenangan yang tidak akan bisa terulang lagi.


"Ayo."


Suara ajakan dari Ezra menyadarkannya dari lamuanan. Dia mendongakkan kepalanya sebelum keluar, meredam rasa panas yang dirasakan pada matanya.


Membuka sibuk pengaman kemudian menyusul Ezra yang sudah lebih dulu ke luar dari mobil.


Sial, kenapa aku jadi terbawa perasaan seperti ini? kesal Alvin, merutuki dirinya sendiri.


Sampai di luar, dia melihat gadis kecil itu berlari sambil memanggil bos barunya dengan sebutan Papah, merentangkan tangan meminta digendong.


Ujung bibir Alvin tertarik ke atas saat melihat Ezra dengan sikap santainya dan senyum hangat menyambut kedatangan putrinya itu.

__ADS_1


Gak nyangka ternyata Pak Ezra bersikap hangat dan penuh kasih sayang saat bersama dengan keluarganya, batin Alvin.


Ada rasa terkejut dan kagum saat melihat perubahan sikap bos barunya, saat di kantor dan di rumah. Juga mungkin alasan Ezra memilih menghindar berkontak fisik dengan perempuan lain.


"Pah, itu siapa?" Pertanyaan gadis kecil yang ada di gendongan Ezra membuat Alvin tidak bisa lagi menahan senyum lebarnya.


"Itu, Om Alvin, yang akan menemani Papah kerja, menggantikan Uncle," jelas Ezra, dengan nada bicara lembut.


Ah, Alvin bahkan sempat terpaku mendengar nada bicara Ezra yang begitu lembut pada anak perempuannya.


Alvin melambaikan tangan, sambil tersenyum sebagai tanda perkenalan, yang disambut baik oleh gadis kecil itu. Dia tidak berani membuka suara dan menyela omongan hangat ayah dan anak itu.


"Hai, Om Alvin, nama aku ... Naura," sapa gadis kecil itu, sambil ikut melambaikan tangannya pada Alvin, dia kemudian turun dari pangkuan Ezra, dan menghampiri Alvin untuk berkenalan.


Keceriaan gadis kecil itu mengingatkannya pada Alin, hingga membuat Alvin harus menahan air mata yang menggenang di pelupuk.


Namanya cantik, sama seperti orangnya' pujinya dalam hati.


Selain karena teringat dengan Alin, Alvin juga memang menyukai anak kecil, semua tingkah laku polos mereka selalu bisa membuatnya tersenyum dan sedikit melupakan masalahnya. Juga bisa terus mengingatkannya pada Almarhum adik kesayangannya.


Ah, lagi-lagi Alin yang menjadi alasan. Mungkin rasa rindunya lah yang membuat Alvin menyukai anak kecil.


"Hai, gadis kecil. Perkenalkan nama Om, Alvin," sambut Alvin, berjongkok di hadapan Naura.


"Ya, aku sudah tau. Tadi Papa sudah bilang," jawab Naura dengan tingkah polos dan lucu, membuat Alvin terkekeh kecil.


"Oh, iya ya, Om lupa," ujar Alvin tersenyum lebar, sampai giginya terlihat semua.


Alvin sedikit melirik Ezra dan wanita yang sedang menggendong bayi, terlihat begitu manis dan romantis. Sungguh keluarga yang bahagia. Itulah yang dipikirkan oleh Alvin di saat pertama kali dia melihat keluarga kecil bosnya itu.


"Ih, Om, masih muda udah pikun."


Alvin terkekeh kecil, mendengar ejekan gadis kecil yang merupakan anak dari bosnya itu.


Dia kemudian meneruskan langkahnya menghampiri Ezra.


Lelaki dewasa itu kemudian mengenalkannya pada perempuan berjilbab sederhana dengan bayi di dalam gendongannya.


"Sayang, ini Alvin, dia asisten baruku," ujar Ezra.


Sayang? Ah, benar kan wanita ini pasti istrinya, batin Alvin.


Wanita itu tampak tersenyum sambil mengangguk samar pada Alvin.


Masya Allah, begitu indah ciptaan–Mu ini Ya Allah.


Alvin hampir saja terlarut dalam pesona senyuman istri dari bosnya sendiri. Untung saja dia langsung tersadar dan menormalkan lagi raut wajahnya.


Alvin menelan salivanya, kemudian membalas senyuman istri Ezra.


Ingat, Vin. Dia istri bos kamu, gumam Alvin di dalam hati, berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri.


......................


Yang kangen sama dua pasangan bucin akut harus kumpul, nanti aku kasih nostalgia dikit di bab berikutnya ya🤭

__ADS_1


__ADS_2