
...Happy Reading...
......................
Beberapa waktu berkendara, kini Alvin menghentikan mobil Indira di depan sebuah gerbang kayu berwarna coklat tua yang bergaya kuno walau masih terlihat sangat terawat.
"Buka kaca jendelanya," perintah Indira begitu ada dua orang laki-laki tampak menghampiri mobil mereka.
Alvin tidak menjawab, dia hanya langsung membuka kaca jendela mobil, agar mereka bisa terlihat jelas dari luar.
"Selamat datang, Nona Indira," ujar laki-laki itu sambil membungkuk hormat.
"Buka gerbangnya dan kabarkan kedatangan Nona Indira ke rumah," sambung laki-laki itu lagi pada temannya yang lain.
Gerbang tinggi berbahan kayu yang terlihat sangat kokoh itu pun akhirnya mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Silahkan masuk, Nona," ujar laki-laki itu lagi.
Alvin bisa menebak kalau mereka adalah penjaga pintu gerbang.
"Terima kasih," ujar Indira, sebelum Alvin mengendarai mobilnya masuk ke dalam.
Alvin tidak bicara sepatah kata pun di sana, dibalik wajah yang terlihat biasa saja, Alvin kini sedang menyembunyikan rasa gugupnya. Sepanjang jalan dia sama sekali tidak tenang dan terus memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya.
Namun, setelah sampai di sini, dia baru terpikirkan jika bisa saja Pak Mardo menugaskan salah satu anak buahnya untuk berjaga-jaga atau menjadi mata-matanya.
Semua itu semakin meyakinkan saat dia mengendarai mobil Indira masuk ke dalam area rumah keluarga Karyoso. Itu mungkin bukanlah sebuah rumah biasa, setelah melewati gerbang, dia bahkan tidak langsung bisa melihat bangunan rumah di sana.
Namun, kini yang terlihat hanya berbagai pohon buah-buahan yang tampak rindang dan tertata rapih di sepanjang jalan, membuat suasana begitu sejuk.
Alvin mengendarai mobil dengan perlahan, matanya mengedar memperhatikan sekitar. Hingga beberapa saat kemudian Alvin sudah bisa melihat sebuah rumah sederhana bergaya klasik dengan banyak ornamen kayu dan bambu.
__ADS_1
Ini tidak seperti yang Alvin bayangkan selama ini, dari begitu banyak Alvin mengunjugi Rumah orang kaya, kebanyakan dari mereka akan memiliki rumah mewah bergaya moderen atau klasik eropa yang jelas menunjukkan kekayaan mereka.
Namun, kini yang Alvin lihat dari rumah keluarga Karyoso, adalah sebuah bangunan berlantai satu bergaya kalsik yang tampak unik dan sangat cantik. Ini seperti sebuah vila yang dibangun untuk menenangkan diri, bukan sebuah rumah yang menunjukan kekuasaan dan kekuatan sang pemilik.
"Kamu pasti kaget, ya?" tanya Indira saat melihat Alvin sejak tadi melihat rumah tidak jauh dari mereka berada sekarang.
Alvin menolah, kemudian berdehem pelan sebelum menjawab.
"Hanya sedikit kagum saja, ini terlihat sangat berbeda dari yang lainnya."
Indira tersenyum, dia kemudian melihat bangunan yang tampak sederhana di luarnya. Terlihat Nyonya Hartari berjalan dari dalam kemudian berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
"Ini memang awalanya bukan rumah utama keluarga Karyoso. Akan tetapi, beberapa tahun ini Eyang kakung sakit, dan membutuhkan udara segar juga udara yang bersih, hingga Eyang putri memilih pindah ke rumah ini," cerita Indira, sedikit menjelaskan pada Alvin.
"Ini adalah rumah lama Kakek Buyutku dari Eyang kakung, sebenarnya kata Eyang putri Kakkek buyut menikahi orang keturunan Tionghoa, makanya rumah ini lebih ke perpaduan jawa klasik dan rumah tradisional Tionghoa. Eyang kakung dan Eyang putri sengaja mempertahankan keaslian bangunan ini, untuk mengenang keberadaan dan perjuangan Kakek buyut dalam membangun rumah ini untuk Nenek buyut, juga masa kecil Eyang kakung di sini." sambung Indira lagi.
"Heem, pantas saja ... ini terlihat unik." Alvin mengangguk samar.
"Ayo turun, Eyang sudah nungguin tuh dari tadi," ajak Indira.
Alvin tampak melihat pada wanita tua yang ada di sana, kemudian menoleh pada Indira yang sudah bersiap untuk ke luar. Menarik napas dalam, lalu mengeluarkanya perlahan sebelum tangannya meraih gagang pintu dan membukanya.
Alvin bisa melihat senyum lebar dengan wajah sumringah Nyonya Hartari saat melihatnya turun dari mobil.
"Eyang!" Inidra langsung berlari menghampiri Nyonya Hartari kemudian memeluknya dengan penuh kebahagiaan.
"Cucuku, kenapa kamu gak nggabarin Eyang kalau mau ke sini, hem?" Nyonya Hartari tampak memeluk Indira penuh kasih sayang.
"Lihat, Eyang, siapa yang aku bawa ke sini," tunjuk Indira pada Alvin yang sedang berjalan ke arah mereka.
Alvin bisa melihat wajah sumringah dan mata berbinar bahagia dari Nyonya Hartari, begitu melihat Alvin.
__ADS_1
"Alvin? Itu anaknya Ganis ... Eyang, gak sedang bermimpi kan, Dira?" ujar Nyonya Hartari dengan ucapan sedikit melantur, mungkin karena tidak bisa menahan rasa senangnya.
"Iya, Eyang. Itu Alvin, anaknya Tante Ganis, Alvin sudah mengakui semuanya, walaupun dia belum mau mengungkapkan keberadaan Tante Ganis, sebelum tau maksud kita mencarinya," jelas Indira.
"Gak apa-apa, kita bisa melakukan itu dan meyakinkannya pelan-pelan. Sekarang Alvin sudah mau datang ke sini saja, Eyang sudah sangat senang." Nyonya Hartari tampak terus menatap wajah Alvin, seolah dia masih belum percaya dengan kedatangan cucu laki-lakinya ke kediaman keluarga Karyoso.
"Assalamualaikum," sapa Alvin, begitu sampai di depan Nyonya Hartari, dia mengulurkan tangannya untuk salim.
"Waalaikumsalam," jawab Nyonya Hartari dengan suara yang bergetar, dia mengulurkan tangannya yang langsung dicium oleh Alvin, membuat matanya berkaca-kaca, tidak menyangka akhirnya semua ini bisa terjadi.
"Ayo masuk-masuk, kalian pasti sangat lelah, setelah menempuh perjalanan jauh," ujar Nyonya Hartari, kembali merangkul pundak Indira dan berjalan lebih dulu, dengan diikuti oleh Alvin dan beberapa pelayan rumah di belakangnya.
Pertama kali masuk dan menginjakkan kakinya di rumah ini, Alvin lebih dulu dibawa menuju ke sebuah ruangan tanpa penghalang, mirip sebuah pendopo. Sepertinya itu memang khusus untuk menerima tamu.
"Kalian duduk dulu di sini, biar nanti Eyang ajak Eyang kakung kalian ke sini dulu," ujar Nyonya Hartari, setelah Alvin dan Indira duduk di kursi berbahan kayu dengan bantalan empuk sebagai alasnya.
"Iya, Eyang," angguk Indira. Sedangkan Alvin hanya menganggukkan kepala samar sebagai jawaban.
Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh area itu, dia bisa melihat ini seperti sebuah bangunan yang disatukan kemudian membentuk sebuah persegi, kini Alvin berada di salah satu sisinya.
Di bagian tengah, hanya ada sebuah lahan seperti taman dengan kolam yang ditata cantik, bunga teratasi pun menjadi hiasan dan ikan koi berwarna warni yang meliuk indah berenang berpindah dari satu sisi kolam ke kolam lainnya.
Beberapa saat menikmati keindahan bangunan tua itu, Alvin kini bisa melihat Nyonya Hartari datang dengan seorang laki-laki tua yang sudah duduk di kursi roda elektrik yang bisa dikendarai oleh gerakan tangan, hingga tidak perlu susah payah mendorongnya. Alvin bisa menebak kalau itu adalah Tuan Gemang Karyoso.
Alvin dan Indiri berdiri untuk menyambut kedatangan Nyonya Hartari dan Tuan Gemang.
"Bapak, ini adalah Alvin, anak Ganis yang pernah aku ceritakan," ujar Nyonya Hartari memperkenalkan Alvin pada Tuan Gemang.
"Alvin, ini adalah Eyang kakungmu, Bapak dari Ganis – Ibumu." Kini Hartari beralih pada Alvin.
"Assalamualaikum, Tuan, senang bertemu dengan, Anda." Alvin mengangguk samar sebagai perkenalan.
__ADS_1
......................