ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Kerja kembali


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


Para pelayat dan orang-orang yang mengantarkan kepergian Kakek Darman ke pemakaman, sudah mulai beranjak pulang. Kini tinggal Alvin dan Imran yang masih bertahan di samping pusara yang masih basah.


Alvin meremas tanah yang masih tertutup bunga segar itu, terasa lembab dan dingin di telapak tangan.


"Vin, kita pulang sekarang." Imran yang sejak tadi berjongkok di samping Alvin menepuk pundak saudara sekaligus sahabatnya itu.


"Ran, aku harus bagaimana setelah ini?" tanya Alvin lirih. Suaranya hampir tak terdengar.


Imran terdiam, dia juga bingung mau menjawab apa. Selama ini Alvin adalah cucu yang paling dekat dengan Kakek Darman. Hingga terkadang kedekatan keduanya mengundang rasa iri anak dan cucu kakek Darman yang lain.


Tidak heran jika saat ini Alvin yang terlihat sangat terpuruk, dibandingkan anak dan cucu Kakek Darman yang lainnya.


"Vin, maaf aku datang terlambat." Tiba-tiba saja ada seseorang lagi yang menepuk pundak Alvin.


Alvin sedikit terperanjat, dia menoleh ke arah belakang di mana di sana ternyata sudah ada Jani dan Anji.


"Jani?" tanya Alvin dengan kerutan dalam di keningnya.


"Kami turut berduka cita, Vin." Anji berbicara dengan nada yang ramah. Berbeda dengan biasanya yang selalu menggunakan nada tinggi, saat bicara dengan Alvin.


Alvin mengangguk, dia kemudian beranjak berdiri. "Kalian berdua ke sini?" tanya Alvin.


"Enggak, kita sama Kak Arkan," jawab Jani.


"Ajak mereka ke rumah, Vin. Di sini panas," ajak Imran, ini adalah kesempatan untuk membawa Alvin pulang.


Alvin menoleh pada Imran sekilas. "Ayo, kita ke rumah saja," ajak Alvin membenarkan perkataan saudaranya itu.


Jarak dari rumah ke pemakaman hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Sepanjang jalan hanya diwarnai obrolan Imran dan Anji, sedangkan Alvin tampak lebih diam.


Sampai di rumah, benar saja ternyata di sana sudah ada Arkan yang sedang berbicara dengan para pamannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pak," ujar Alvin, membungkuk hormat di depan Arkan yang merupakan bos di perusahaan tempatnya bekerja.


"Waalaikumsalam," jawab Arkan, sambil mengangguk samar.


Siang itu Alvin menemani Jani , Anji, dan Akram, sekaligus meminta untuk diberikan waktu kembali setidaknya sampai selesai acara tujuh harian kakek Darman.


Awalnya Arkan keberatan, dia takut nantinya para karyawan yang lain merasa dirinya pilih kasih sebagai atasan. Hingga akhirnya Arkan menyetujuinya, setelah dibujuk terus oleh Jani.


Jujur saja, sebenarnya Alvin juga merasa tidak enak, karena terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Akan tetapi, dia tidak mungkin meninggalkan neneknya dalam keadaan seperti ini. Ditambah, dirinya pun merasa belum bisa bekerja kembali, sebelum hatinya merasa lebih tenang.


.


.


Enam hari sudah Alvin lewati tanpa kehadiran kakeknya. Hari ini adalah hari terakhir Alvin berada di kampung. Besok pagi Alvin harus segera kembali ke Jakartal, mengingat ini terakhir kali dia diberikan cuti oleh Arkan.


"Vin, kamu jadi mau ke kota besok?" tanya Imran sambil membantu menata karpet untuk acara pengajian malam terakhir.


"Iya, Ran. Aku tidak bisa melepaskan pekerjaan ini, setelah semua yang aku lalui, aku merasa ini adalah jalan untukku bisa berkembang," jawab Alvin. Dia kemudian mengambil air minum kemasan yang akan ditata di tengah-tengah karpet dan tikar yang sudah dibentangkan.


"Lagipula, sayang kalau kamu harus kehilangan pekerjaan ini, kan?" sambungnya lagi.


"Iya, Vin. Nenek di sini gak apa-apa, kamu fokus saja bekerja dan kuliah, agar hidup kamu lebih baik lagi, setelah kakek meninggalkan kita." Esih yang baru saja ke luar dari kamar ikut menimpali.


Kini wanita tua itu sudah lebih tenang, walau wajahnya tampak tidak secerah dulu. Akan tetapi, semua itu wajar terjadi setelah kehilangan sosok suami yang sudah bersama sekian lama.


Alvin tampak terdiam saat neneknya ikut bergabung, selama ini neneknya lah yang membuat dirinya merasa berat untuk kembali ke Jakarta.


Namun, kini dia juga ingat kalau bukan cuma dirinya yang bisa mengurus neneknya, ada anak dan cucu Nenek Esih yang lain selain dirinya. Mereka juga pasti akan merawat dan menghibur neneknya lebih baik dari pada dirinya.


Alvin dan yang lainnya tampak duduk di atas tikar setelah semua persiapan pengajian. Alvin banyak mendapat nasihat dari semua orang yang ada di sana, juga perkataan yang membuatnya lebih merasa tenang meninggalkan neneknya di sini.


.


.

__ADS_1


Hari berlalu begitu saja, kini Alvin sudah berada di Jakarta kembali. Pagi ini dia bersiap untuk kembali bekerja di kantor, setelah lebih dari dua minggu dia tidak masuk.


Sampai di kantor, dia langsung menjadi bahan perhatian, banyak dari rekan kerjanya yang menatapnya dengan sorot mata sinis.


"Lho, Vin, aku kira kamu sudah ke luar?" tanya salah seorang karyawan yang kebetulan adalah seniornya.


Alvin tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya. Entah itu hanya perasaannya saja, atau memang kenyataan? Alvin merasa laki-laki di hadapannya berbicara dengan nada isnis, dan menatapnya penuh kebencian. Padahal sebelumnya, laki-laki itu termasuk salah satu senior yang sangat baik padanya.


"Enggak lah, Bang. AKu hanya mengambil cuti, karena ada urusan keluarga yang harus diselesaikan dulu," jawab Alvin.


Laki-laki yang mungkin berusia sekitar dua puluh lima thaunan itu hanya mengedikkan bahu, sambil menaikkan kedua alisnya, seolah tidak mempercayai perkataan Alvin.


"Oh," ujarnya, lalu berlalu begitu saja.


Alvin menatapnya dengan kening berkerut dalam, walau akhirnya dia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangan tempatnya bekerja.


Sepanjang dia berjalan di lorong, Alvin merasa semakin risih dan tidak nyaman dengan tatapan para rekan kerjanya. Walau mereka selalu menjawab sapaannya seperti biasa. Akan tetapi, Alvin juga bukan anak kecil yang tidak bisa membaca raut wajah dari seseorang.


Alvin tahu kalau para karyawan kini sedang merasa tidak adil, mengingat dia hanya seorang karyawan baru. Akan tetapi, dirinya sudah bisa mengajukan cuti dengan waktu yang lama.


Padahal selama ini kantor sudah membagi waktu cuti dalam satu tahun pada beberapa waktu penting dan hari raya besar. Akan tetapi, kini mereka merasa sedang diperlakukan tidak adil oleh perusahaan, karena seorang Alvin.


Tanpa Alvin tahu, di belakangnya mereka semua sibuk menggosipkannya, karena Alvin dikira masuk kerja melalui orang dalam.


"Eh, si Alvin sudah masuk kerja lagi tuh. Nih aku baru lihat dari grup karyawan," ujar seorang perempuan muda yang menjadi biang gosip kantor itu.


"Tuh kan bener, dia itu ada kenalan orang dalam, makanya bisa berbuat seenaknya!" timpal seorang wanita yang tampak menggunakan kaca mata tebal.


"Aku dengar dia adalah pacar dari adiknya bos." ucapan dari laki-laki kemayu yang baru saja datang mengalihkan perhatian ketiga wanita yang sedang asyik bergosip ria itu.


"Vin, kenapa gak masuk?" pertanyaan dari laki-laki paruh baya yang merupakan ketua tim di divisi itu, membuat Alvin terperanjat.


"Ah, ini saya baru mau masuk, Pak," jawab Alvin, sambil membuka pintu menuju ruangan tempatnya bekerja bersama beberapa orang lainnya.


.................

__ADS_1


__ADS_2