ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Dia baik-baik saja


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Indira sedikit melebarkan matanya, mendengar jawaban dari laki-laki paruh baya di depannya. Akan tetapi, sedetik kemudian perempuan berusia dua puluh enam tahun itu menutupi rasa kesalnya dengan senyuman.


"Ah iya, kami mengerti, Anda memang sangat sibuk," ujarnya kemudian.


Obrolan pun berlanjut dengan penwaran kerha sama. Alvin yang ada di sana merasa tidak enak melihat bosnya itu meminta kerja sama langsung di tempat yang tidak tepat seperti ini.


Alvin bahkan belum sempat menyapa kedua orang tua Indira, yang merupakan yang empunya pesta. Dengan seenaknya perempuan itu terus menarik Alvin ke sana ke mari.


Ternyata perkataan bosnya itu saat di kantor bukanlah main-main. Perempuan itu benar-benar mencoba meraih relasi bisnis di pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya sendiri. Alvin menggeleng lemah, tidak habis pikir dengan pemikiran bosnya itu.


Ketika sedang menemani Indira menyapa para tamu, sudut mata Alvin melihat seseorang yang baru saja datang. Terasa cukup familiar, hingga memaksa Alvin untuk menolehkan kepala walau hanya sekilas.


"Eh, itu ada Pak Arkan, ayo kita sambut dia!' Indira langsung memberikan instruksi pada Alvin untuk mengikutinya.


Alvin sempat melebarkan matanya, dia masih merasa bersalah karena sudah membuat Jani menangis. Dirinya yang sudah babak belur dipukuli oleh Arkan dan Anji, sama sekali tidak menyalahkan dua laki-laki itu.


Andaikan Alin masih hidup, mungkin sebagai kakak Alvin juga akan melakukan hal yang sama, pada laki-laki yang dengan lancangnya membuat adik perempuanya menangis.


Alvin sadar itu, sikap ingin melindungi dan egois seorang kakak laki-laki. Karena dia pun mungkin akan merasakan semua itu, jika kecelakaan waktu itu tidak terjadi.


Selama menjalani pengobatan dan istirahat untuk masa pemulihan, Alvin sudah memikirkan banyak hal. Tentang sikapnya pada Jani yang telah banyak membantunya. Tentang tujuan hidupnya, yang sudah mulai menemui kemajuan. Juga tentang, perasaannya, hatinya, dan cintanya.


Entah bagaimana setiap yang dia pikirkan, ujungnya selalu tentang Jani. Seolah apapun tentang hidupnya, semua berkaitan dan berhubungan dengan satu orang perempuan. Siapa lagi kalau bukan Anjani.


Perempuan yang awalanya dia anggap sebagai pengganggu, kemudian dia manfaatkan untuk mendapatkan makan siang geratis, hingga akhirnya mereka menjalin suatu pertemanan yang terus berkembang.


Kini di saat perempuan itu telah pergi meninggalkannya, dirinya seolah kehilangan segalanya, ternyata Alvin baru menyadari kalau selama ini penyenangatnya dalam menjalani hari selain sang ibu, adalah Anjani.


Seseorang yang selalu menyapanya di waktu pagi, walau hanya melalui barisan kata dalam pesan singkat. Tanpa dia sadari, dia sudah terbiasa menerima itu semua, hingga tanpa sadar dia selalu menantikannya.


"Selamat datang, Pak Arkan. Senang bisa bertemu dengan, Anda. Perkenalkan, saya Indira, anak dari Pak Mardo dan Bu Mardo," sambut Indira dengan senyum seribu watnya.

__ADS_1


Namun, yang disapa hanya diam sambil menatap tajam wajah laki-laki yang kini berdiri canggung di belakang Indira.


Entah Arkan tidak mendengar sapaan Indira karena suara musik yang memenuhi gedung, atau memang dia mengacuhkan perempuan itu dan lebih tertarik pada wajah Alvin saat ini.


"Pak Arkan?" Indira tampak kembali memanggil dengan raut wajah bingung, saat ucapannya tidak direspon oleh laki-laki di depannya.


"Ekhm!" Arkan langsung mengerjapkan matanya sambil berdeham, dia melihat Indira yang berdiri di depannya.


"Akh, maaf ... saya kurang konsentrasi tadi," ujar Arkan, masih dengan aura dingin dan berkarisma.


Alvin bahkan dapat melihat mata Indira berbinar seolah terpesona dengan ketampanan laki-laki yang merupakan pemimpin sebuah perusahaan besar itu.


lndira tampak tersenyum, dia kemudian mengenalkan dirinya kembali pada Arkan.


Pembicaraan mereka pun berlanjut, Alvin hanya mengikuti keduanya, dia dan Arkan sama-sama tidak saling menyapa, seolah tidak saling mengenal sebelumnya.


Walaupun tanggapan Arkan selalu dingin, Indira selalu mengawali pembicaraan, dan berusaha mendekati laki-laki itu.


Melihat semua itu, Alvin jadi kembali teringat pada Jani. Awal pertemuan mereka, Jani bersikap sama dengan Indira saat ini, walau dirinya selalu mengacuhkannya.


Lagi-lagi yang ada di pikirannya malah melenceng pada Jani. Dalam hati dia ingin sekali bertanya pada Arkan, bagaimana keadaan Jani saat ini. Akan tetapi, dia masih ragu untuk menyapa di tengah pesta. Alvin takut, itu akan membuat kekacauan di pesta orang tua bosnya itu.


Hingga di saat Alvin melihat Arkan hendak pergi dari pesta, dia meminta izin untuk ke toilet, demi mengejar kakak pertama dari Jani.


Sampai di loby, dia akhirnya bisa menyusul Arkan, dengan sedikit berlari Alvin memberanikan diri menyapa Arkan.


"Pak Arkan, boleh saya minta waktunya sebentar?" ujar Alvin, begitu berada di depan Arkan.


Asisten pribadi Arkan hendak mengusir Alvin, karena menganggap mengganggu bosnya. Akan tetapi, Arkan mengangkat tangan, menghentikan niat dari asistennya.


Laki-laki yang terkenal dingin dan tegas itu sama sekali tidak melihat Alvin, dia hanya menatap lurus ke depan, seolah tidak perduli pada Alvin.


"Ada apa lagi? Belum cukup, aku membuat kamu dirawat di rumah sakit?" tanya Arkan dengan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.


"Bukan begitu. Saya hanya ingin bertanya kondisi Jani, Pak. Apa dia baik-baik saja?" Alvin harus mengumpulkan hampir semua keberaniannya untuk mengucapkan semua rangkaian kata itu, dengan tegas tanpa ada yang terdengar ragu atau bergetar.

__ADS_1


Alvin sudah tahu tabiat dari kakak pertama Jani itu, Arkan sangat tidak suka orang yang berbicara dengan nada takut, atau ragu. Semuanya harus jelas dan penuh percaya diri.


"Untuk apa kamu bertanya lagi tentang adikku? Dia baik! Bahkan lebih baik tanpa kamu di sisinya!" ujar Arkan menatap tajam wajah Alvin.


"Sebaiknya kamu tidak usah mengganggunya lagi. Dia sudah melupakan lakai-laki pengecut seperti kamu!" sambungnya lagi, lalu berlalu masuk ke dalam mobil, begitu sang asisten membuka pintu untuknya.


Alvin menatap sendu mobil mewah yang ditumpangi oleh Arkan, dia bisa melihat bagaimana Arkan begitu membencinya. Bahkan di pesta, laki-laki itu terus menghindari untuk berbicara dengannya, walau Indira sudah mengenalkannya sebagai asisten.


Malam semakin larut, tamu undangan pesta pun mulai pamit pulang. Indira sudah cukup puas menyapa para tamu, sekaligus mencari kolega bisnis. Berbeda dengan bosnya yang merasa puas. Alvin tampak lumayan terkejut dengan cara bicara Indira yang sangat berkelas dan pintar, hingga malam ini mereka lumayan banyak mendapatkan relasi kerja baru.


Ternyata di balik sikap malas Indira selama ini, perempuan itu menyimpan otak yang cerdas dan cekatan dalam menarik relasi bisnis.


Setelah hampir semua tamu pilang, kini Indira mengajak Alvin untuk menemui keluarganya, setelah sebelumnya Indira mengenalkan Alvin pada tunangannya.


"Mam, Pap, kenalin ini Alvin, sekretaris aku, yang direkomendasikan teman Papi," ujar Indira, memperkenalkan Alvin.


"Selamat malam, Ibu, Bapak." Alvin membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat pada keluarga bosnya.


"Oh, jadi ini asisten kamu," ujar sinis perempuan paruh baya yang tak lain adalah Maminya Indira.


Alvin sedikit mengerutkan keningnya, melihat ibu dari bosnya. Sepertinya Alvin merasa pernah bertemu dengan wanita paruh baya itu. Akan tetapi, dia tidak ingat tepatnya di mana.


Begitu pun dengan wanita paruh baya itu, dia menatap Alvin dari atas sampai bawah, kemudian ke atas lagi, hingga berhenti di wajah Alvin.


"Oh iya, kamu kan anak miskin yang nabrak aku di perkiran?!" cerocos wanita itu membuat Alvin langsung mengerjapkan matanya.


Dia baru ingat kalau ibu itu adalah ibu-ibu yang dia tabrak waktu hari wisuda Jani, beberapa bulan yang lalu.


Inalillahi! Kenapa bisa begini?! batin Alvin meringis.


"Jadi, Mami, sudah ketemu sama Alvin duluan?" tanya Indira, bingung.


"Enggak, siapa bilang kita pernah ketemu," geleng wanita paruh baya itu.


Alvin hanya terdiam, dia tidak membantah ataupun mendukung perkataan dari ibu bosnya itu. Dia hanya menjelaskan kepada Indira saat mau pamit pulang.

__ADS_1


....................


__ADS_2