ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Kedatangan Nenek Esih


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Permisi, Nona. Saya izin pulang cepat," ujar Alvin, begitu dia diizinkan masuk ke ruang kerjat bosnya itu.


"Heem, selamat atas wisuda kamu besok," jawab Indira, mengalihkan pandangannya pada Alvin sekilas.


"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum." Alvin membungkuk.


"Heem." Hanya itu jawaban yang didapat dari bos cantiknya.


Entah mengapa, sejak pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya, bosnya itu berubah lebih dingin dari biasanya. Dia hanya berbicara tentang pekerjaan saja.


Alvin ke luar, dia langsung menuju tempat parkir, mengambil mobil yang lebih dulu sudah dirinya pinjam dari bos cantiknya itu. Sore ini dia akan menjemput nenek dan Imran di pemberhentian bis.


Mereka yang akan mendampinginya menghadiri wisuda besok. Akhirnya setelah sekian lama Alvin berjuang di bangku kuliah, Alvin bisa selesai di waktu yang tepat.


"Assalamualaikum, Nek, Ran," ujar Alvin sambil mencium punggung tangan Nenek, kemudian bertos ria dengan  Imran.


"Waalaikumsalam, kamu sehat, Nak?" tanya Nenek, mengusap pundak sampai lengan atas Alvin berulang.


"Alhamdulillah, Alvin sehat, Nek. Nenek, juga sehat, kan? Maaf Alvin ngerepotin, Nenek lagi," ujar Alvin panjang lebar.


Setelah kepergian Kakek Darman, kondisi kesehatan Nenek sudah jauh menurun. Walaupun begitu, Nenek tetap saja ingin  menghadiri acara wisuda cucunya. Dia ingin melihat cita-cita Kakek Darman untuk melihat Alvin sukses dan lulus kuliah, akhirnya bisa terwujud. Setelah satu tahun lebih Kakek Darman meninggal dunia. 


"Alhamdulillah. Kamu semakin tinggi saja, Nak. Nenek sekarang harus mendongak untuk melihat kamu," gurau Nenek Esih.


Alvin terkekeh, dia kemudian sedikit menekuk lututnya agar tingginya bisa menyamai tinggi Nenek Esih.


"Kalau gini gimana, Nek?" guraunya.


"Dasar, anak ini!" Nenek Esih langsung terkekeh, melihat tingkah konyol cucunya, dia menepuk pundak Alvin sebagai tanda rasa keasl bercampur bahagia, saat diajak bercanda oleh Alvin.


"Yuk, kita ke kontrakan. Tadi Alvin pinjam mobil dari kantor," ujar Alvin sambil menunjuk mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka.


Nenek Esih dan Imran melihat mobil yang ditunjuk oleh Alvin, mereka kemudian mengangguk.


Alvin hendak mengambil tas milik Nenek Esih dari tangan Imran, dia tidak enak pada saudara sekaligus sahabat yang terus saja direpotkannya. Akan tetapi, Imran langsung menjauhkan tangannya.


"Kamu, bantu Nenek jalan saja," bisik Imran.

__ADS_1


Alvin melihat mata Imran, melihat Imran mengangguk seolah mengatakan kalau dia tidak apa-apa,  Alvin baru beralih kembali pada sang Nenek.


"Ayo, Nek," ujar Alvin, sambil menggendeng tangan Nenek Esih.


Alvin membantu Nenek Esih untuk duduk di bagian belakang, sedangkan di depan untuk Imran. Setelah memastikan semuanya masuk ke dalam mobil, Alvin mulai melajukkan mobil menuju ke kontrakan.


Sepanjang perjalanan, Nenek Esih yang sudah lama tidak melihat kondisi Kota Jakarta terus berbicara membandingkan kondisi dulu dan sekarang.


"Kenapa kamu gak tinggal di rumah lama saja, Vin?" tanya Nenek Esih tiba-tiba.


Rumah lama itu masih bagus sampai sekarang, orang yang mengontrak juga bersih dan rapih, mereka merawat rumah peninggalan kedua orang tua Alvin dengan baik.


Alvin terdiam, dia juga sebenarnya ingin kembali ke sana. Akan tetapi, dia masih ragu untuk melakukannya. Entah mengapa, setiap kali dia melihat rumah itu, kenangan dirinya dan seluruh keluarga selalu bangkit. Itu juga mampu mengingatkan kecelakaan yang dirinya alami bersama Bapak dan Alin.


Kecelakaan yang dia curigai sengaja terjadi. Kecelakaan yang katanya disebabkan oleh rem blong, walau supirnya tidak pernah ditangkap, dengan alasan kabur. Setiap kali Alvin mengingat semua itu, dirinya selalu ingin kembali mencari tahu tentang kecelakaan yang menurutnya tidak pernah terungkap kebenarannya.


Jelas terlihat baginya saat itu melihat sang sopir sedikit mengerem mobilnya sebelum kembali menginjak gas dan menabrak mereka dengan sengaja. Akan tetapi, karena dirinya tidak memiliki bukti sama sekali, Alvin tidak bisa bersaksi di kantor polisi.


Alvin ingin mencari sopir kendaraan truk yang menabrak mobil mereka berkali-kali, hingga menewaskan Bapak dan Alin. Dia mau melihat, bagaimana kehidupan sopir yang telah kabur dari tanggung jawabnya, kepada Bapak dan Alin.


Alvin juga ingin memastikan kalau semua itu memang benar kecelakaan, atau hanya bagian dari sebuah ambisi seseorang setelah sebelumnya menghancurkan usaha milik Bapak. Alvin tidak akan pernah rela jika semua itu terjadi, dia takut tidak bisa memaafkan orang-orang yang terlibat pada kecelakaan itu nantinya.


Lebih parah lagi, Alvin takut kalau ternyata orang-orang yang terlibat, mungkin salah satunya sudah dia kenal tanpa dia sengaja.


"Vin," panggil Nenek Esih lagi saat Alvin tidak menjawab. Dia mengira Alvin tidak mendengar perkataannya.


"I–iya, Nek?" Alvin menoleh sekilas pada Nenek Esih.


"Emh, itu, Nek. Alvin udah terlanjur betah tinggal sama Mang Lukman. Di sana, orang-orangnya baik dan ramah," sambung Alvin lagi.


"Oh, begitu. Tapi, kan gak enak, Vin, kalau kamu tinggal di sana terus," ujar Nenek Esih.


"Aku suka bantu bayar uang sewa kok, Nek. Kita suka bagi dua, jadi lebih murah. Lagian uang sewa rumah lama, lumayan untuk menambah biaya pengobatan Mama, Nek," jelas Alvin. Suaranya terdengar biasa saja, walau di kalimat terakhir, dia harus menahan rasa kering di tenggorokannya.


"Heem, syukurlah kalau begitu. Jadi sekarang kalian membagi dua biaya rumah kontrakan. Mungkin itu juga bisa meringankan sedikit beban si Lukman." Nenek Esih mengangguk.


Imran yang mengetahui perubahan wajah Alvin, saat Nenek Esih membahas tentang rumah lama, memperhatikan sahabatnya itu. Dia hanya mendengarkan percakapan, tanpa mau ikut campur ataupun menimpali.


Beberapa saat berkendara, Alvin sudah memarkirkan mobil yang dikendarainya di lapangan kampung, Imran turun lebih dulu lalu membuka  bagasi untuk mengambil tas miliknya dan milik Nenek Esih.


Setelah semuanya selesai, Alvin turun dan membantu Nenek Esih, sekaligus mengambil tas kerja miliknya yang dia simpan di jok belakang.

__ADS_1


"Bang Alvin, udah pulang kerja?!" sapa anak-anak yang sedang bermain di lapangan saat melihat Alvin ke luar dari mobil.


"Iya. Main yang bener, Abang titip mobil kantor, ya. Jangan sampai lecet," jawab Alvin ditambah dengan sedikit gurauan.


"Siap, Bang!" seru hampir semua anak-anak di sana, sambil memberikan hormat bendera.


"Hahaha ... sudah sudah, sana main lagi." Alvin tergelak melihat kekompakkan anak-anak itu.


"Kamu akrab sama anak-anak, Vin?" tanya Nenek Esih.


"Dia kan mengajar les, Nek. Terus dia juga suka traktir anak-anak jajan. mana bisa anak-anak menolak semua itu." Baru kali ini Imran yang menjawab, dia tahu semua itu sebab pernah melihatnya sendiri sewaktu dia bekunjung ke sini.


"Ngajar les kalau mau ada ujian aja, Nek. Kalau setiap hari mah, Alvin gak bisa," jelas Alvin.


Nenek Esih mengangguk-anggukkan kepala, mendengar penjelasan dari dua cucunya itu.


Mereka berjalan menuju kontrakan tempat Alvin dan Mang Lukman selama ini tinggal. Nenek Esih yang baru pertama kali datang ke sini, mengedarkan pandangannya, melihat situasi di sekitar kampung.


Nenek Esih, bisa melihat di sepanjang jalan, begitu banyak yang menyapa Alvin. Ternyata cucunya lumayan terkenal di daerah tempat tinggalnya, Nenek Esih ikut senang melihat semua itu.


Sampai di kontrakan, Alvin langsung membuka pintu untuk Imran dan Nenek Esih, Sepertinya Mang Lukman belum pulang, jadi kontrakan masih terkunci. 


"Ayo masuk, Nek, Ran," ujar Alvin, sambil membuka pintu lebar-lebar.


"Assalamualaikum," ujar Nenek Esih, begitu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah petakkan itu.


Nenek Esih mengedarkan pandangannya, melihat seluruh isi di dalam rumah. Cukup rapih dan bersih, walau yang menempati adalah dua orang laki-laki.


"Kamu kalau tidur di mana, Vin?" tanya Nenek Esih, saat melihat tidak ada kamar satu pun di sini.


"Di sini, Nek. Nanti tinggal diberi alas tempat tidur saja," jawab Alvin santai.


Nenek Esih mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nenek mau ke kamar mandi, di mana?"


"Kamar mandi ada di belakang, Nek. Mau Alvin antar?" ujar Alvin, sambil menunjuk arah bagian belakang rumah.


"Gak usah, Nenek cuman mau buang air kecil.  Kalau sudah tua begini, jadi suka sering buang air kecil," ujar Nenek Esih, sambil beranjak menuju ke belakang.


Alvin mengangguk, dia kemudian mengambil karpet untuk alas duduk, dan membentangkannya di sana. Kedua laki-laki itu pun duduk berdua, menunggu Nenek Esih selesai buang air kecil, sambil berbincang.


......................

__ADS_1


__ADS_2