ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Bertemu


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Sepeninggal pelayan restoran tadi, Alvin kembali duduk santai sambil melihat hujan dari balik dinding kaca.


"Untung saja, tadi aku memutuskan untuk berteduh, kalau tidak pasti sekarang aku sudah basah kuyup," gumamnya berbicara sendiri.


Sementara itu pelayan restoran itu, menghampiri dua orang yang masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk restoran.


"Anda bisa bergabung dengan Bapak yang ada di meja itu bila mau. Bagaimana?" tanyanya, pada dua orang itu.


"Gimana?" tanya laki-laki itu pada perempuan di sampingnya.


"Gimana lagi, lagian kita gak punya pilihan lain, kan?" ujar malas perempuan itu.


Laki-laki itu melihat perempuan di sampingnya sekilas, kemudian beralih pada pelayan restoran tadi.


"Baiklah, kami tidak apa-apa berbagi meja."


Pelayan itu tersenyum, sebelum kembali berbicara.


"Kalau begitu, silakan ikuti saya," ujarnya.


Kedua orang itu mengikuti pelayan restoran berjalan menuju ke salah satu meja di mana di sana ada satu orang laki-laki yang sedang duduk memunggungi mereka.


"Silahkan, ini meja untuk Anda dan pasangan," ujar pelayan tadi, membuat Alvin yang sedang asik melihat hujan akhirnya menolehkan pandangannya.


"Ah iya, terima kasih," ujar laki-laki itu yang kemudian langsung mengatupkan bibirnya saat melihat wajah orang yang ada di depannya.


Sedangkan perempuan itu hanya terdiam sambil menatap nanar wajah laki-laki yang selama ini dia rindukan.


"Alvin?" gumam perempuan itu dengan bibir bergetar, dia tidak bisa menyangka akan bertemu dengan Alvin di sini.


"Jani?" Alvin yang melihat kedua orang di depannya, kini hanya terfokus pada sang perempuan yang ternyata adalah Jani atau Anjani, senior sekaligus teman kuliahnya yang sudah tidak bertemu selama satu tahun lebih, semenjak insiden salah paham antara dirinya dan keluarga Jani.


Sedangkan laki-laki yang ada di samping Jani menatap Alvin dengan tatapan yang rumit untuk diartikan, dia hanya terdiam dengan tangan yang mengepah erat. Hingga akhirnya dia menggenggam pergelangan tangan Jani sambil sedikit menariknya.


"Ayo kita pergi dari sini!" ujarnya hendak melangkah meninggalkan tempat itu.


"Tapi, di luar masih hujan, Anji," tolak Jani sambil melepaskan genggaman tangan saudara kembarnya itu.


"Memang kamu mau dimarahin Mama sama Papa, kalau sampai mereka tau kamu bawa aku hujan-hujanan, hah? Udahlah, mending kita makan dulu di sini, sambil nunggu hujannya reda. Bukannya tadi kamu bilang udah laper banget?" sambung Jani lagi sambil duduk di depan Alvin, tanpa menghiraukan tatapan kesal saudara kembarnya.


Anji tampak mengehembuskan napas kesal, dengan gaya terpaksa Anji akhirnya duduk di samping Jani, tanpa berani menatap wajah Alvin di depannya.


Alvin hanya diam sambil memperhatikan perdebatan antara saudara kembar itu, tanpa berniat untuk melerai, dirinya hanya terlihat terus menatap wajah Jani dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Alvin, terima kasih kamu sudah mau membagi meja bersama kami," ujar Jani dengan nada suara yang sangat canggung.

__ADS_1


Alvin menegakkan tubuhnya sambil berdehem pelan sebelum menjawab, entah mengapa saat ini dia juga ikut merasakan canggung. Dia kemudian mengangguk pelan tanpa bersuara.


"Apa kabar, Jani," tanya Alvin sekedar basa-basi.


"Kamu bisa lihat sendiri kan, dia baik-baik saja." Anji menjawab pertanyaan Alvin dengan nada suara tidak suka.


Alvin melihat Anji kemudian kembali beralih pada Jani, dia mengangguk lagi sambil tersenyum.


"Syukurlah, aku senang kalau kamu baik-baik saja," ujar Alvin lagi, sambil sedikit menundukkan kepalanya.


Bertemu dengan seseorang yang sudah lama kehilangan kontak ternyata membuatnya tidak bisa berkata-kata dan kehilangan pembahasan untuk berbicara. Apa lagi saat dirinya melihat raut wajah tidak suka Anji, itu semua semakin membuatnya bingung untuk memulai pembicaraan.


"Kamu sendiri, gimana kabarnya?" tanya Jani dengan suara bergetar, matanya pun tampak berkaca-kaca.


"Aku baik," jawab Alvin singkat.


Sementara itu Anji berdecak malas saat melihat kecanggungan antara Jani dan Alvin.


Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan datang untuk memberikan buku menu. Jani dan Anji pun memesan makanan lebih dulu.


Jani berdehem begitu pelayan itu pergi, dia tampak menendang kecil kaki Anji untuk memberikan isyarat pada saudara kembarnya itu.


"Apaan sih, Jani!" kesal Anji yang tidak mengerti dengan keinginan Jani.


"Minta maaf," lirih Jani pada Anji hampir tidak terdengar.


Ya, sebenarnya ketika Anji dan Jani pergi ke luar negeri, di sini anak buah Papah Jani menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi pada malam itu. Saat itulah terungkap kalau semua perkataan Jani adalah benar dan keluarga Jani ternyata telah salah paham pada Alvin.


Namun, Anji dan Arkan masih saja tidak mau memaafkan Alvin karena sering membuat Jani menangis sendiri. Mereka masih menyimpan kemarahan di saat bayangan ketika Jani menangis sendiri di kamar melintas di ingatan.


"Ck, ayo cepetan!" kesal Jani tidak sabar.


"Iya-iya, gak sabaran banget sih," jawab Anji menatap kesal Jani.


"Vin." Anji kini beralih pada Alvin yang ada di depannya, membuat Alvin menoleh ke arahnya.


"Maaf untuk masalah dulu," ujar Anji dengan suara berat seolah tidak rela mengucapkan itu, dia bahkan mengalihkan pandangannya dari Alvin.


Alvin tersenyum, dia sebenarnya sudah melupakan kejadian itu dan tidak ingin mengungkitnya lagi.


"Tidak apa, aku sudah melupakannya," jawab Alvin.


"Sok bijak!" decak Anji kesal dengan suara lirih.


"Sst!" Jani langsung menendang lagi kaki Anji, hingga membuat Anji mengaduh kesakitan.


"Jangan kurang ajar," desis Jani menatap kesal Anji.


"Ish, dia itu lebih muda dari aku, jadi aku bisa melakukan apa pun sama dia, Jani," bantah Anji tidak suka kalau Jani terus membela Alvin.

__ADS_1


Alvin hanya tersenyum melihat keakraban antara saudara kembar di depannya, tanpa mau menimpali obrolan mereka.


Beberapa saat berlalu, Alvin sudah menyelesaikan makannya dan hujan pun sudah mulai reda, ditambah suara dering ponsel pun mengalihkan perhatiannya.


Alvin mengambil ponsel di sakunya, dia melihat layar yang menampilkan nama sang bos di sana. Alvin mengernyit sebelum dia mengangkat panggilan itu.


Sedangkan Jani memperhatikan Alvin dengan seksama, terlihat sekali kalau dia sedang penasaran dengan si penelepon itu.


"Maaf, aku harus mengangkat telepon ini," ujar Alvin meminta izin pada Jani dan Anji yang ada di depannya.


"Angkat saja, ngapain juga pake minta izin segala." Anji langsung menjawab santai, tanpa sadar kalau Jani merasa gusar dengan semua itu.


Mendengar jawaban Anji, Alvin pun beranjak kemudian berjalan menjauh dari mejanya sebelum menjawab telepon dari Ezra.


"Assalamualaikum," sapa Alvin.


"Vin, kamu bisa ke rumah sekarang, ada sesuatu yang harus kita bicarakan?" tanya Ezra dari seberang sana tanpa basa-basi,  seperti biasa.


"Bisa, Pak. Tapi, sekarang saya sedang berada di luar dan cukup jauh dari rumah, Bapak. Mungkin membutuhkan waktu empat puluh lima menit," ujar Alvin.


"Tidak apa, aku tunggu kamu di rumah," jawab Ezra dari seberang sana.


"Baik, Pak," angguk Alvin.


Alvin melihat Jani yang sejak tadi tampak menatapnya dengan wajah gusar, dia kemudian berjalan kembali ke mejanya.


"Maaf, sepertinya saya harus pergi duluan," pamit Alvin.


"Oh, ya sudah, sana cepetan deh pergi," jawab sewot Anji. Sepertinya Anji masih merasa kesal pada Alvin.


Alvin tersenyum sambil melirik Anji kemudian beralih pada Jani.


"Aku pamit, senang berjumpa lagi dengan kamu. Assalamualaikum," ujar Alvin tanpa menghiraukan tatapan tidak senang Anji yang sepertinya menyimpan kekesalan padanya.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Jani, merasa berat untuk melepaskan Alvin lagi.


"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan," jawab Alvin.


Dengan ragu dan berat hati akhirnya Jani mengangguk, membuat Alvin berbalik menuju ke kasir meninggalkan Jani dan Anji.


"Tunggu!" Jani tiba-tiba menyusul Alvin lalu menghentikannya di saat Alvin sudah hampir ke luar dari restoran.


"Iya, ada apa, Jani?" tanya Alvin menghentikan langkahnya.


"Eum, boleh minta kontak kamu?" tanya Jani sambil mengulurkan ponsel miliknya ke hadapan Alvin.


Alvin terdiam dia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jani padanya.


......................

__ADS_1


__ADS_2