ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Bekerja


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Alvin berjalan terburu-buru, dia harus segera sampai di lokasi pembangunan tempatnya bekerja, sebelum pergantian sift kerja para buruh.


Ya, ternyata karena ada percepatan waktu pembangunan, kini para pekerja dibagi menjadi tiga sift, dengan jangka waktu delapan jam per sift.


Alvin yang memang tidak bisa masuk pagi, masuk sift sore sampe malam, yaitu dari jam empat sore sampai jam dua belas malam, hingga mereka bisa beristirahat di waktu sift berbeda.


Alvin merasa sangat diuntungkan dengan jadwal sift seperti ini, mengingat dia yang tidak bisa bekerja dengan waktu penuh, jika hanya dengan dua sift seperti biasa.


Alvin hanya merasakan bekerja dengan jadwal dua sift saat peraturan kerja belum diganti, satu minggu yang lalu.


Dari pekerjaan ini juga dia sudah bisa mempunyai laptop dan ponsel, untuk memudahkan dia mengerjakan tugas dan berkomunikasi dengan teman kampus atau teman kerjanya.


Tentu saja semua itu bukanlah produk keluaran terbaru. Laptop dan ponsel, Alvin membeli yang bekas, dengan harga yang jauh lebih murah.


Bagi Alvin, dia tidak butuh gengsi dan barang mahal, jika itu hanya untuk gaya saja. Dia hanya membeli barang yang sangat dia butuhkan, untuk menunjang pendidikan juga hubungan dengan kakek dan neneknya.


Dia sangat bersyukur karena bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji lumayan besar, walaupun resikonya juga besar.


Alvin berlari saat bis yang seharusnya dia naiki sudah sampai di halte.


Untung saja sopir melihat dia berlari sambil melambaikan tangan, hingga dia tidak jadi menginjak pedal gasnya.


Alvin menjadi penumpang terakhir di halte kampus itu, hingga begitu dia naik, bis segera berlalu dari tempat pemberhentiannya.


Alvin duduk di kursi yang masih kosong, napasnya memburu dengan dada yang naik turun, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Hari ini jadwal kuliahnya sangat padat, hingga Alvin tidak ada waktu untuk beristirahat sama sekali. Sejak pagi dia sudah disibukkan dengan berbagai pelajaran yang cukup membuat otaknya bekerja keras.


Alvin menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu menutup mata, rasanya lelah sekali, setelah sejak kemarin dia hanya tidur selama tiga jam, karena tugas yang menumpuk.


Ternyata kuliah sambil kerja itu sangat melelahkan, baru saja empat puluh hari dia merasakannya, dia sudah hampir menyerah, bila saja dirinya tidak ingat dengan ibu, bapak, dan adiknya.

__ADS_1


Ya, untuk sekarang mereka adalah penyemangat untuk Alvin menjalani hidup dan berjuang dalam proses untuk berusaha bangkit.


Membuktikan kalau dia bisa hidup dengan baik dan memberikan pengobatan terbaik untuk ibunya, adalah tujuan hidup yang tidak bisa dia lupakan begitu saja.


Ingatannya kembali pada saat hari pertama bekerja empat puluh hari yang lalu. Dia yang asing dengan peralatan pekerja berat, merasa bingung dan risih memakainya.


Flash back.


"Pakai ini dulu, Vin," ujar salah satu senior yang bekerja satu kelompok dengannya.


Dia terpaku menatap alat pelindung untuknya bekerja. Ternyata dia harus memakai jaket tebal, masker biasa dua lapis dan masker khusus, juga helm yang di desain khusus untuk melindunginya dari efek cat besi yang sangat berbahaya bagi kesehatan.


Cat khusus yang dibuat untuk mencegah besi dan baja dari karat, hingga memperpanjang usia besi itu sendiri. Cat harus diaplikasikan dengan cara disemprotkan, hingga banyak bulir kecil yang akan menguap dan menyatu dengan udara, dan beresiko masuk ke dalam pernapasan, jika mereka tidak memakai alat pelindung.


Alvin pun ditunjukan bagaimana cara memakainya, hingga mereka sudah siap memulai pekerjaannya. Alvin mengambil alat untuk mengaplikasikan cak pada besi yang sudah disiapkan. Hari pertamanya dia harus mengecat besi yang akan digunakan besok pagi.


Tebal dan tipisnya cat pun diawasi dengan ketat hingga terkadang dia harus mengulangnya hingga ukurannya cukup atau mendekati ketebalan yang sudah ditetapkan.


Lelah memang sangat terasa, apa lagi dia yang harus bekerja di malam hari. Menahan lelah dan menahan kantuk, ternyata cukup sulit di hari-hari pertama, dia bahkan sampai sempat sakit karena tidak bisa mengatur waktu istirahat dengan benar.


Kini dia sudah terbiasa memanfaatkan waktu kosong untuk tidur, entah itu di musala atau di kursi taman, bahkan di perpustakaan. Dia bisa tidur di mana saja, asalkan istirahatnya dirasa cukup.


Alvin membuka mata, saat bis sudah hampir sampai di tempat tujuannya, dia kemudian berdiri dan melangkah menuju dekat pintu agar lebih mudah untuk turun.


Tanpa Alvin sadari, sejak dari kampus ada mobil yang mengikutinya sampai ke tempat pembangunan.


Alvin turun, dia langsung berjalan ke dalam area tempatnya bekerja,  bersama beberapa pekerja yang baru datang juga.  Walau sebenarnya banyak di antara para pekerja sudah disediakan tempat untuk menginap di dalam lokasi pembangunan.


"Baru sampai, Vin," sapa petugas keamanan yang dulu mengantarkan Alvin bertemu dengan Lukman.


"Iya, Pak," jawab Alvin, dia menghampiri laki-laki paruh baya itu, lalu berbincang sebentar sebelum melanjutkan langkahnya.


Dia pun berbincang bersama sesama pekerja, sambil berjalan menuju tempat kerja masing-masing.


"Vin!" panggil salah satu pekerja yang berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia sudah lebih lama bekerja di tempat itu.

__ADS_1


"Pak Dodi, udah siap aja," jawab Alvin sambil melihat teman kerjanya yang sudah siap menggunakan jaket pelindung.


"Iya dong, aku juga udah ngumpulin besi bekas, tuh liat," ujarnya menunjuk karung yang tidak jauh darinya.


Dodi memang sering mengumpulkan potongan besi atau kabel baja, untuk dijual lagi. Itu memang sudah tidak terpakai dan boleh dibawa para pekerja.


"Wah, rajin banget, Pak." Alvin mengacungkan ibu jarinya.


Harga besi dan kabel baja memang mahal, bila mereka pintar mencari penjual dan rajin, uang dari hasil menjual besi itu bisa buat tambahan yang lumayan menggiurkan.


"Kamu, kenapa gak mau mungut juga, Vin?" tanya Dodi.


"Ah, itu mah buat, Bapak, aja. Aku cuman mau kerja aja, Pak," jawab Alvin sambil terkekeh.


"Iyalah, biar aku aja, yang udah punya tanggungan. Kamu kan masih sendiri, belum mikirin anak istri," ujar Pak Dodi enteng.


Keduanya terkekeh bersama, hampir semua pekerja yang satu kelompok dengannya tau, kalau Alvin bekerja sambil kuliah, dan masih belum memiliki pasangan.


Semua itu sering menjadi bahan candaan para teman-temannya, mengingat dia sendiri yang masih berstatus jomlo.


Sebenarnya, awalnya Alvin juga tergiur mengambil besi dan baja sisa seperti Dodi. Akan tetapi, Lukman melarangnya.


"Lebih baik gak usah ikutan ngambilin besi sisa, Vin. Kamu kerja aja yang bener, kalau kamu rajin, biasanya suka dikasih bonus sama bos."


"Lagian, ngumpulin besi begitu rawan kena tuduhan. Nanti kalau ada barang yang hilang, mereka akan menjadikan para pekerja yang memungut besi sebagai tertuduh, karena mereka pulang dengan barang bawaan."


Itulah perkataan Lukman saat dirinya bilang ingin ikut memungut besi bersama para pekerja lainnya.


Mendengar alasan Lukman melarangnya, Alvin langsung menurut. Dia tidak mau berurusan dengan orang yang banyak uang.


Dia cukup memiliki trauma dan penilaian buruk bagi para orang dengan dompet tebal. Usaha keluarganya hancur oleh musuh bapak yang pastinya orang kaya, kasus yang menimpa adik Bu Leni, juga masalahnya dengan Dandi, itu semua disebabkan oleh orang yang memiliki uang banyak dan kuasa.


Semua masalah itu, sudah cukup untuk membuat Alvin berpikir buruk tentang sifat dari orang-orang kaya. Dia terlalu malas untuk berurusan dengan orang-orang seperti itu.


......................

__ADS_1


Tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan, semua pekerjaan sama memiliki kesulitan masing-masing. Tinggal bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dan beradaptasi, hingga pekerjaan sulit itu bisa terasa lebih mudah.


__ADS_2