
...Happy Reading...
......................
Kerutan di kening Alvin terlihat dalam, dia baru menyadari sesuatu yang dipakai oleh perempuan di depannya itu.
Ya, perempuan yang tidak lain adalah Jani, memakai almamater kampus tempatnya berkuliah. Itu semua jelas menandakan kalau Jani adalah kakak tingkatnya.
"Kamu tidakĀ ingat juga?" tanya Jani, menatap wajah Alvin yang terlihat masih saja datar.
"Aku ingat. Mau apa lagi?" tanya Alvin, sambil kembali meneruskan langkahnya.
Jani yang melihat sikap cuek Alvin, hanya bisa melongo sambil menatap Alvin tidak percaya.
"Eh, tunggu!" teriak Jani, sambil mengejar Alvin.
Alvin kembali berhenti dia menoleh menatap Jani dengan alis terangkat satu.
"Ternyata kamu peserta OSPEK hari ini ya? Wah, berarti aku kakak tingkat kamu dong," ujar Jani, penuh percaya diri.
Alvin berdecak sambil memutar bola matanya, dia kembali berbalik dan mulai melangkahkan lagi.
"Eh, tunggu dong! Kamu ini kenapa sih, kok kayaknya menghidar terus dari aku?" tanya Jani.
"Aku sudah hampir terlambat. Kamu mau apa? Cepat katakan."
"Aku mau balikin uang yang kemarin aku pinjam buat bayar ongkos," ujar Jani, sambil mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Gak perlu," jawab Alvin.
"Berapa nomor rekening kamu, biar aku teransfer?" tanya Jani, sambil mulai mengetik di layar ponsel pintar miliknya. Jani seakan tidak mendengar penolakan dari Alvin.
"Aku tidak punya rekening." Alvin kembali berjalan lagi.
"Hah?! Kamu benar-benar aneh ya. Gak punya ponsel, gak punya rekening ... kayak orang yang datang dari hutan aja," cerocos Jani, sambil terus berusaha menyamakan langkahnya dengan Alvin.
"Bukan urusan kamu." Alvin berjalan semakin cepat, mengingat dia sudah hampir terlambat. Terlebih dia juga merasa sedikit kesal pada Jani yang terlihat sok akrab dengannya.
"Ya udah aku bayar pake cash aja." Jani masih berusaha, dia mengambil dompetnya.
Namun, ternyata dia tidak membawa uang cash yang cukup untuk membayar hutangnya pada Alvin.
Sial, kenapa gak ada uang sih? batin Jani.
"Hehe, ternyata aku gak bawa cash." Jani menggaruk pelipisnya sambil meringis malu.
"Gak usah. Aku bantu kamu ikhlas." Alvin masih tidak menghiraukan Jani.
"Ya udah, kalau gitu nama kamu siapa? Aku Anjani ... panggil aja aku Jani," ujar Jani, memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Alvin," jawab Alvin.
Dia sedikit berlari dan meninggalkan Jani, saat melihat semua peserta ospek sudah berbaring di lapangan.
Ya ampun aku beneran telat kan! batin Alvin sambil berlari.
Dia kemudian bergabung di barisan paling belakang, saat kakak tingkat sedang berbicara di depan.
"Heh, ke luar dari barisan!" ujar salah satu kakak tingkat yang sedang mengawasi mereka.
"Ada apa, Kak?" tanya Alvin, seakan dia tidak terlambat.
"Gak usah drama, gue tau, lu, telat kan?!" sarkas kakak tingkat yang mendorong pundak Alvin untuk ke luar dari barisan.
Alvin pun melangkah ke luar barisan, dia bergabung dengan beberapa mahasiswa baru yang terlambat juga.
"Yang mendapat hukuman, push up seratus kali!" ujar kakak tingkat yang tadi sedang memberikan arahan.
Alvin menghembuskan napas kasar, dia dan beberapa mahasiswa baru yang mendapat hukuman tampak bersiap melakukan push up.
Walaupun ada beberapa yang terlihat melakukan protes, karena merasa hukuman itu terlalu berat. Akan tetapi, mereka malah dijatuhi hukuman tambahan.
Ternyata OSPEK di sini, lebih parah dibandingkan saat di kampung kemarin, batin Alvin.
Dia yang selalu diingatkan untuk tidak membuat masalah dengan orang lain, lebih baik memilih cara aman, agar tidak terlalu menonjol.
Setelah melakukan hukuman dan diberi waktu istirahat sebentar, para mahasiswa baru dibagi beberapa kelompok untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh kakak tingkat.
"Nih, kamu pake ponsel aku aja."
Alvin terkejut, saat dirinya sedang kebingungan tiba-tiba ada seseorang yang berbicara dari arah belakangnya.
Alvin menoleh dengan kerutan di keningnya, dia terkejut saat melihat Jani sudah berada di sampingnya.
"Kamu, kan lupa gak bawa ponsel, jadi pake punya aku dulu aja," ujar Jani lagi, sambil mengulurkan ponsel miliknya.
Jani sengaja berkata seperti itu, karena di sana masih banyak orang yang ada di dekat mereka.
Alvin tampak ragu untuk mengambil ponsel milik perempuan itu. Akan tetapi, dia juga sangat membutuhkan benda itu saat ini.
"Jani, ngapain lo ada di sini?" tanya salah seorang teman perempuannya.
"Ini, sepupu gue lupa bawa ponsel, jadi gue suruh dia pake punya gue dulu," jawab Jani.
Jani mengambil tangan Alvin dan menaruh ponselnya di tangan Alvin secara paksa, kemudian beralih pada temannya lagi.
"Sejak kapan lo punya sepupu kayak begini, Jan?" tanya teman perempuannya yang lain, sambil melihat penampilan Alvin.
Jani tampak tersenyum canggung, dengan pikiran yang terus mencari alasan.
__ADS_1
"Dia memang baru datang dari kampungnya, untuk kuliah di sini. Iya kan?" Jani menoel tangan Alvin, memberikan isyarat agar mengangguk.
Namun, Alvin tetap diam. "Aku sudah di panggil, terima kasih ya ponselnya, nanti aku kembalikan."
Alvin berjalan pergi bersama dengan kelompoknya, tanpa menjawab pertanyaan dari teman Jani.
"Heh, beneran itu sepupu lo," tanya salah satu teman Jani yang tadi memanggilnya.
"Iya, udah deh gak usah dibahas terus," jawab Jani, sambil berjalan menuju ke tempat istirahat.
"Aneh tau, masa orang kayak lo punya sepupu modelan gitu," ujar teman Jani yang lainnya.
Jani menautkan alisnya. "Gitu, gimana?"
"Ya, gitu ... cupu dan kampungan," jawab salah satu temannya, yang langsung diangguki oleh teman yang lain.
"Heh, gak usah sembarangan ngomong ya, walau penampilannya begitu, tapi, dia anak yang baik dan jujur," ujar Jani tidak terima.
Hadeuh, kalian belum pada tau aja, gimana penampilannya kalau lagi gak pake baju sekolah kayak gitu, batin Jani, mengingat pertemuan pertamanya debgan Alvin di dalam bus.
"Udahlah, gak usah dibahas lagi, mending kita ke kantin yuk, laper nih," ajak Jani, untuk mengalihkan perhatian teman-temannya dari Alvin.
"Kuy lah, daripada di sini ... panas," jawab salah satu di antara mereka.
Sementara itu, Alvin sudah mulai mengumpulkan tandatangan dan foto dari beberapa kakak tingkat yang ditemuinya.
Terkadang dia harus antre dengan yang lainnya, untuk mendapatkan semua itu. Atau bahkan harus melakukan sesuatu agar kakak tingkat mau memberikannya tanda tangan dan berfoto bersama.
Melelahkan memang, apalagi untuk Alvin yang jarang sekali beriteraksi dengan banyak orang seperti saat ini. Dia merasa cukup kesulitan dalam menjalani tugasnya.
"Lo udah dapat berapa?" tanya teman satu grup Alvin, saat mereka beristirahat di selasar koridor kampus.
Alvin menatap mahasiswa baru yang tampak berpakaian sangat rapih, dengan kaca mata tebal yang membingkai wajahnya.
"Aku baru dapat lima belas. Kamu?" tanya Alvin.
"Gue baru dapat tiga belas," jawabnya lemah.
Alvin menenggak air mineral yang dibawanya, lalu kembali beranjak.
"Yuk, kita cari lagi," ajak Alvin, sambil mengulurkan tangannya untuk membantu temannya bangun.
Temannya itu menyambut uluran tangan Alvin, dengan ekspresi lelahnya.
"Oh iya, kita belum kenalan. Gue Gani."
"Alvin." Keduanya akhirnya mengerjakan tugas bersama-sama.
Alvin menemukan teman baru lagi, di dalam lingkungan yang terasa asing ini.
__ADS_1
......................
Kalau kita yakin, Allah pasti akan memberikan pertolongan di saat kita membutuhkan, tanpa tahu dari mana datangnya dan siapa perantaranya.