ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Memutuskan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Mendengar suara anak laki-lakinya, Pak Mardo mengalihkan perhatiannya pada Roy yang terlihat sedang berdiri di ambang pintu.


"Bukankah, Papi, bilang kalau sekarang Eyang sudah mengetahui keberadaan anak itu? Lalu, kenapa, Papi, masih menunda juga untuk melenyapkannya? Itu hanya akan membuat batu sandungan untuk kita menguasai harta milik Eyang, Papi. Apa lagi, Papi, tau kalau Eyang sama sekali gak pernah suka sama aku," ujar Roy sambil berjalan masuk ke dalam.


Pak Mardo mengibaskan salah satu tanganya, memberikan isyarat pada semua anak buahnya untuk ke luar dari ruangan itu. Dia kemudian beranjak dari kursi kebesarannya dan beralih menuju sofa yang ada di sana.


"Benar juga usul kamu, Roy. Aku memang harus segera menyingkirkan anak itu, sebelum Eyang kamu mengakuinya sebagai cucu," jawab Pak Mardo sambil duduk di depan Roy.


"Kalau Papi setuju, aku akan segera menyusun rencana untuk mnyingkirkannya dari dunia ini." Roy berujar penuh semangat.


"Tidak! Aku harus menemukan Ganis dulu, agar aku bisa mengambil hati kedua Eyang kamu," ujar Pak Mardo tiba-tiba, membuat Roy mendengus kesal.


"Untuk apa lagi Papi mencari wanita itu?!" kesal Roy.


"Papi akan membawanya kepada Eyang kamu, agar mereka percaya kalau selama ini aku juga mencari keberadaan mereka dan masih menyayanginya.  Itu juga akan menjadi bukti kalau kita tidak terlibat dengan kematian anak itu, nanti," jelas Pak Mardo dengan senyum jahat terpatri di wajahnya.


"Hem ... benar juga ya. Kita akan mencuci tangan dengan keberadaan wanita itu di sisi kita," angguk Roy dengan mata yang menatap tajam dan otak penuh rencana.


"Sekarang lebih baik kita buat anak itu lengah dulu, agar dia bisa membawa kita ke tempat dia menyembunyikan Ganis, lalu setelah itu baru kita singkirkan dia untuk selama-lamanya." Pak Mardo memberikan gambaran rencana besarnya, dengan tawa di akhir kalimatnya.


.


Alvin duduk termenung di dalam mobil yang dia hentikan pada sisi jalan pinggiran kota. Dia baru saja kembali setelah menemui salah satu pelanggan yang ingin memodifikasi mobil miliknya dan ingin berkonsultasi.


Alvin membuka kaca jendela mobilnya, menyandarkan kepala di mobil dengan pandangan melihat ke luar, sebuah padang ilalang yang sedang berbunga menjadi pemandangan yang indah untuk dinikmati.


Angin yang terasa lembut menerpa wajah, hingga ujung rambutnya terlihat bergoyang, membuat Alvin menutup matanya. Salah satu siku tangannya ditekuk di jendela mobil yang terbuka.


Pikirannya terus melayang pada perbincangannya dengan Pak Umar beberapa waktu lalu. Berada di antara dua pilihan itu memang sangat sulit dan itulah yang kini Alvin rasakan.


Alvin membuka mata dengan kening berkerut dalam, kemudian berguman.


"Apa aku harus menghadapi semua ini?"

__ADS_1


"Ck! Tapi, harus dari mana aku memulainya?" sambung Alvin lagi, setelah beberapa saat terdiam.


Cukup lama Alvin terdiam, merenungkan masalah yang kini sedang terjadi padanya. Hingga akhirnya dia melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sore, Dok. Apa sekarang saya masih bisa menemui Ibu saya?" tanya Alvin, pada seseorang yang berada di balik telepon.


"Maaf, Vin. Tapi, jadwal besuk hari ini sudah selesai. Lagi pula aku juga sudah tidak ada di rumah sakit ... bagaimana kalau kamu datang besok pagi saja, biar nanti aku jadwalkan?" jawab seorang wanita di  seberang sambungan telepon itu.


"Baiklah, Dok. Maaf, saya mengganggu waktu istirahat, Dokter," ujar Alvin merasa tidak enak pada dokter yang telah merawat ibunya itu.


"Gak apa-apa, aku juga sedang senggang. Ya sudah, nanti aku konfirmasi ke rumah sakit kalau kamu akan berkunjung besok pagi," jawab Dokter itu.


"Baik, Dok. Terima kasih sebelumnya." Alvin tersenyum tulus walau itu tidak terlihat oleh lawan bicaranya.


Sambungan telepon itu pun berakhir begitu saja. Alvin akhirnya melanjutkan menyetir mobil menuju ke rumah kontrakannya.


.


Pagi sekali, Alvin sudah meninggalkan rumah kontrakannya bersama Mang Lukman, agar bisa mampir dulu ke rumah sakit sebelum pergi ke kantor.


Beberapa saat kemudian Alvin menghentikan mobilnya di tempat parkir rumah sakit, dia segera ke luar dari mobil kemudian berjalan menuju ke dalam, untuk menemui ibunya.


"Assalamualaikum, Mah," sapa Alvin menemui ibunya yang masih berada di kamar rawatnya.


Ganis yang tampak sedang duduk di sisi ranjang, terlihat menoleh, menatap Alvin yang masih berada di depan pintu.


"Alvin, kamu datang, Nak?" tanya Ganis dengan suara lirih.


Alvin tersenyum manis, perkembangan kesehatan ibunya memang sangat baik, walau terkadang Ganis masih suka menangis sendiri, atau lupa akan orang di sekitarnya.


"Iya, Mah. Alvin kangen sama Mama," jawab Alvin sambil berjalan menghampiri Ganis.


Seperti biasa, Alvin langsung berlutut di depan Ganis kemudian mengambil kedua tangannya, lalu mengecupnya bergantian.


Ganis tersenyum tipis melihat sikap lembut anak laki-lakinya itu, dia kemudian mengusap rambut Alvin dengan perlahan dan penuh kasih sayang.


"Kamu sudah besar, Nak. Sudah tampan, seperti Bapakmu," ujar Ganis menatap wajah Alvin yang kini tengah merebahkan kepalanya di pangkuan Ganis.

__ADS_1


Mendengar semua itu, tubuh Alvin sedikit menegang, dia takut kalau nanti ibunya akan mengingat kematian Bapak dan Alin, hingga mengakibatkan mengamuk lagi.


Alvin mengangkat kepalanya, dia melihat wajah ibunya yang kini sedang menatapnya.


"Bagaimana kabar Mama, sehat?" tanya Alvin, mencoba untuk mengalihkan perhatian


"Mama, sehat. Kamu sedniri bagaimana di luar sana, hem?" Ganis mengelus pipi Alvin dengan lembut. Dia menatap Alvin sendu.


"Aku baik, Mah. Mamah, gak usah khawatir sama aku," jawab Alvin dengan senyum manis di wajahnya. Tangan Alvin menangkup tangan Ganis yang ada di pipinya.


Alvin kemudian melihat ke arah luar, di sana matahari bersinar terang dan itu bagus untuk berjemur pagi.


"Mama mau main ke taman? Sepertinya cuaca di luar sedang bagus," ujar Alvin kembali melihat wajah Ganis.


"Kamu temani?" tanyanya yang membuat Alvin tersenyum kemudian mengangguk.


"Heem, ayo," ujar Alvin sambil membantu Ganis berdiri.


Alvin dan Ganis berjalan beriringan, kedekatan mereka dan kesabaran Alvin selalu menjadi pusat perhatian para petugas medis di sana.


Beberapa saat kemudian keduanya sudah berada di taman rumah sakit, Alvin merebahkan tubuhnya di pangkuan Ganis, dia menikmati belaian lembut tangan sang ibu yang selalu membuatnya terbuai.


"Mah, aku sudah memutuskan untuk menemui Nyonya Hartari. Aku tau Mamah pasti merindukan keluarga Mama, terutama kedua orang tua Mama ... seperti aku merindukan Alin dan Bapak," ujar Alvin dengan suara lirih di kalimat terakhir.


"Doakan aku ya, Mah. Semoga keputusan aku ini memang keputusan yang benar dan akan menjadi kebaikan untuk kita semua," sambung Alvin lagi.


Ganis tidak menjawab, wanita itu hanya tersenyum kemudian mengangguk samar. Alvin pun ikut tersenyum, dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kini waktunya dia untuk berpisah, karena waktu sudah semakin siang.


Alvin bangun dari pangkuan sang Mama, dia kemduian duduk miring menghadap wanita paruh baya di depannya. Entah mengapa pagi ini tidak ada masalah apa pun dengan ibunya, Ganis seperti orang yang sudah sehat sepenuhnya.


Itu semua tentu saja membuat Alvin sangat senang dan semakin optimis untuk kesembuhan ibunya.


"Aku pergi dulu ya, Mah. Nanti aku akan menyempatkan waktu untuk menjenguk Mama lagi," pamit Alvin.


Pagi itu, Alvin ke luar dari rumah sakit dengan perasaan yang bahagia karena kemajuan kesehatan ibunya. Dia juga akan mempertemukan Ganis dengan keluarganya, jika nanti Ganis sudah ke luar dari rumah sakit.


"Selamat pagi, apa bisa kita bertemu nanti siang?"

__ADS_1


......................


__ADS_2