ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Satu spesies


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Alvin berjalan menuju ke rumah saat hari sudah gelap, karena sinar matahari sudah berganti dengan cahaya bulan sabit yang tampak indah menghias langit Jakarta yang sedikit berawan.


Memang cukup lama perjalanannya dari rumah sakit menuju kontrakan, mengingat dia harus turun naik angkutan umum yang kadang dia lewatkan jadwalnya, hingga menuntut dia untuk menunggu.


Alvin lebih dulu mampir di pos untuk memberikan kue yang tadi dia beli.


"Assalamualaikum," ujar Alvin memberi salam yang langsung dijawab beberapa orang laki-laki di sana.


"Lagi pada main ya, Pak?" tanya Alvin.


"Iya, kamu baru pulang, Vin? Kerja di mana lagi sekarang?" tanya salah satu orang di sana yang tahu kalau Alvin sering berganti tempat kerja.


"Iya, Pak. Alhamdulillah, sekarang sedang bekerja di perusahaan otomotif, Pak," jawab Alvin.


"Oh iya, ini saya kebetulan beli kue buat teman ngopi, Pak," sambung Alvin lagi sambil berserakan satu kotak kue pada salah satu bapak-bapak di sana.


"Wah, jadi enak nih. Terima kasih, Vin." Bapak-bapak di sana silih berganti berterima kasih pada Alvin.


"Sama-sama, Pak." Alvin kemudian pamit untuk pulang ke kontrakan.


.


.


"Vin, sepertinya sekarang kamu butuh kendaraan untuk pergi bekerja. Masa setiap hari kamu akan terus pulang malam seperti ini," ujar Mang Lukman saat keduanya tengah menikmati sarapan sederhana, berupa nasi uduk dengan gorengan sebagai pelengkap.


"Iya, Mang. Aku juga rencananya begitu," jawab Alvin. Dia sudah membicarakan tentang kemajuan kondisi Ganis, dan saran dokter untuk sering menjenguknya pada Mang Lukman.


"Tapi, aku kan belum tentu diterima di perusahaan ini, Mang. Apa lagi dua calon lainnya sepertinya lebih berpengalaman dan juga dewasa dibandingkan denganku," sambung Alvin, belum percaya diri.


Dia baru tahu kalau dua orang lainnya, sudah pernah bekerja di perusahaan besar dengan posisi yang lumayan bagus.

__ADS_1


"Walaupun kamu tidak diterima di perusahaan ini, setidaknya nanti kamu tidak lagi harus menunggu angkutan umum, saat menjenguk Ibumu." Mang Lukman tampak memberikan sarannya sambil menggigit tempe mendoan.


Alvin tampak terdiam, sebenarnya sejak lama dia menginginkan mempunyai sebuah motor, untuk berangkat bekerja. Selain lebih cepat kalau mau pergi ke mana-mana, sebagai seorang laki-laki muda, jiwanya masih menginginkan sebuah gengsi.


Terkadang Alvin juga ingin seperti para pemuda lainnya yang bisa memamerkan motor baru dari uang hasil kerjanya sendiri, walau akhirnya lagi-lagi Alvin harus menahan keinginannya, karena begitu banyak tanggungan yang harus dia tanggung.


Apa lagi biaya perawatan ibunya yang belum bisa dia lunasi sampai sekarang. Itu semua membuat Alvin merasa cukup berat untuk membeli barang yang menurutnya sangat mahal, seperti sebuah sepeda motor.


"Beli yang bekas saja, atau yang kredit juga banyak sekarang, kayaknya uang muka satu juta juga ada," ujar Mang Lukman lagi.


Alvin terdiam dengan mulut yang tetap mengunyah nasi uduk, keningnya berkerut dalam seperti sedang memikirkan sesuatu, dia masih merasa bimbang untuk menentukan semua itu.


"Nanti aku coba cari yang lebih terjangkau dulu saja deh, Mang, sambil nunggu kepastian dari perusahaan," jawab Alvin memutuskan.


"Ya sudah, kalau gitu nanti Mamang coba ngomong sama Pak Umar, siapa tahu dia punya temen yang bisa membantu kamu," ujar Mang Lukman, sambil menyimpan piring yang sudah kosong, lalu menenggak segelas air putih.


"Iya, Mang. Terima kasih," angguk Alvin.


.


.


Pagi ini Alvin sudah bersiap untuk bekerja menjadi asisten pribadi dari owner perusahaan Ezan Dsaign's untuk pertama kalinya. Sungguh Alvin tidak menyangka akan diterima kerja di perusahaan yang masih berada di dalam grup Darmendra corp.


Awalnya Alvin tidak tahu kalau Ezan Dsaign's masih berada di dalam grup Darmendra corp. Akan tetapi, saat dirinya mengerjakan beberapa berkas utama kantor, dia baru mengetahui kalau ternyata mereka masih satu grup, bahkan Ezra Darmendra, yang merupakan bosnya sekarang, adalah anak dari Pak Garry Darmendera.


Ke luar dari kontrakan, kemudian mengambil motor barunya di parkiran yang berada di bagian lain kontrakan.


"Wah, sekarang berangkat kerja gak usah naik kendaraan umum lagi ya, Vin," ujar Pak Umar yang juga sedang mengambil motor miliknya.


"Iya, Pak. Ini juga berkat pertolongan, Bapak," ujar Alvin sambil tersenyum senang. Dia kemudian berdiri di samping motornya sambil menyiapkan helm yang akan dia pake.


"Gak usah dipikirin, Vin. Aku kan sudah bilang, kalau kamu sudah aku anggap sebagai anakku sendiri," jawab Pak Umar, sambil bersiap untuk pergi.


Alvin tersenyum, dia kemudian melihat Pak Umar yang sudah duduk di atas motor.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak." Alvin melihat Pak Umar haru.


Alvin bersyukur karena dibalik semua perjuanganya dalam meraih impiannya, Allah selalu mmeberikannya pertolongan dan menghadirkan orang-orang baik yang selalu medukungnya dalam segala sesuatu.


Termasuk dengan Pak Umar, laki-laki yang sudah hampir tua itu, meminjamkan uang kepada Alvin untuk membeli sepeda motor dengan cara tunai, dan akan dibayar secara cicilan kepada Pak Umar, tentu saja semua itu tanpa bunga, tidak seperti membeli dengan cara kredit di dealer.


Dengan koneksi yang dimiliki Pak umar, Alvin juga bisa mendapatkan motor dan surat-suratnya, hanya dalam proses satu hari saja. Hingga sekarang dia sudah bisa membawa motornya ke kantor.


"Aku berangkat dulu, Vin. Semangat kerjanya, jangan sampai di tempat ini kamu dapat masalah lagi," ujar Pak Umar setelah berhasil menyalakan motornya.


"Iya, Pak. Bapak juga hati-hati kerjanya," ujar Alvin sambil mengangguk samar.


Kedua laki-laki berbeda usia itu pun sama-sama ke luar dari kontrakan dengan tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, Alvin sudah sampai di kantor kerjanya yang baru. Karena satu minggu kemarin Alvin sudah menjalani seleksi bersama dengan dua orang lainnya, jadi tidak sulit untuknya beradaptasi di lingkungan kerja baru kali ini. Bahkan dia sudah mengenal beberapa orang yang bekerja di sini.


Sesuai dengan cara kerja yang kemarin dia dapatkan dari Keenan, untuk hari pertama, dirinya hanya harus menyesuaikan cara kerjanya dengan cara kerja Ezra yang harus serba cepat dan tanpa basa-basi.


Alvin juga sudah mengetahui berbagai hal yang tidak disukai oleh bos barunya itu, termasuk tidak suka kepada wanita. Awalanya Alvin sempat terkejut saat mendengar Keenan menyebutkan kalau Pak Ezra tidak suka berurusan dengan wanita.


"Jangan berpikiran macam-macam, dia hanya tidak suka kalau ada wanita di sekitarnya. Dia normal, bahkan sudah mempunyai dua anak!" Itu lah kata bantahan dari Keenan yang membuat Alvin mnenghela napas lega.


Alvin seolah tidak sadar kalau dirinya sendiri tidak suka bila berada di antara para wanita dan terus menghindari sebuah hubungan. Mereka berdua termasuk satu spesies, yaitu laki-laki anti perempuan, walau alasannya berbeda.


"I–iya, Pak," angguk Alvin.


"Itu sebabnya dia memilih seorang asisten laki-laki untuk menghubungkannya dengan sekretaris. Jadi kamu harus berterima kasih pada sikapnya yang aneh itu," ujar Keenan lagi.


Alvin masih takut untuk menimpali, dia hanya mengangguk canggung. Sungguh, saat dia tahu kalau Keenan adalah adik dari Pak Ezra, dia semakin berhati-hati dalam berkata.


Alvin menghembuskan napasnya ketika ingatan saat dia berbincang bersama Keenan terlintas di kepala.


Sampai di ruang kerjanya yang masih menyatu dengan ruangan Keenan pun dia langsung menyiapkan meja kerja, seperti menyalakan koputer dan menyiapkan minum di atas meja.


"Semangat Alvin, semoga di kantor ini aku tidak lagi mendapatkan masalah dan bisa bekerja dengan nyaman," gumam Alvin, sebelum mengawali kerja hari pertama.

__ADS_1


......................


__ADS_2