
...Happy Reading...
......................
Flash back, malam pemukulan Alvin.
Malam itu Jani mendapatkan telepon dari temannya, mereka menawarkan diri untuk menginap di rumah Jani, sebagai tanda perpisahan. Jani tentu sangat bahagia mendengar kabar itu, setidaknya dia bisa bersama dengan kedua sahabatnya, walau Alvin tak ada menghubunginya sama sekali.
"Tunggu sebentar, aku minta izin sama Mama dulu, ya," ujar Jani dengan ponsel di telinga.
Dengan raut wajah sumringah Jani berjalan ke luar dari kamarnya, dia berniat untuk mencari sang Mama yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Walaupun dia tahu kalau sang Mama pasti akan mengizinkan kedua sahabatnya itu menginap. Akan tetapi, Jani harus tetap memberitahu Mamanya lebih dulu, agar nanti dirinya tidak disalahkan kalau para laki-laki itu protes.
Jani menghentikan langkahnya saat melewati kamar Arkan, dia mendengar kedua kakaknya sedang berbicara di sana. Berniat untuk jahil, mengejutkan dua laki-laki kesayangannya itu, kenyataannya malah Jani yang mendapatkan kejutan tak terduga dari kedua kakaknya itu.
"Syukurlah akhirnya Jani mau juga meneruskan kuliahnya bersamaku ke luar negeri. Aku sudah muak melihat laki-laki brengsek itu terus saja memanfaatkan kepolosan adik kita." Terdengar suara Anji dari dalam kamar dengan nada menggebu.
Jani mengernyit, dia semakin penasaran dan ingin mendengar pembicaraan dari dua kakaknya itu. Jani melangkah lebih dekat, dia berdiri di balik tembok dekat pintu yang terbuka sedikit.
"Heem, aku juga tidak suka pada laki-laki miskin itu. Mudah sekali dia membodohi Jani dengan perasaan cintanya. Dasar laki-laki bajingan!" Arkan terdengar menimpali.
Jani masih terus mencoba mencerna, apa yang sedang kakaknya itu bicarakan. Dia tahu mereka sedang membicarakan tentang Alvin. Akan tetapi, dia belum mengerti ke mana arah pembicaraan Anji dan Arkan.
Jani tahu kalau sejak awal Arkan dan Anji tidak suka kalau dirinya dekat dengan Alvin. Menurutnya itu mungkin hanya sebuah umpatan kekesalan kedua kakaknya, atau rasa cemburu, mengingat selama ini dia belum pernah dekat dengan laki-laki mana pun, selain Alvin.
"Bagaimanapun, kita harus menjauhkan Jani dari laki-laki brengsek seperti dia, jangan sampai Jani dimanfaatkan lebih banyak lagi. Aku tidak akan rela!" geram Anji menahan kesal.
"Iya, untung sekarang Papa juga mendukung kita, jadi dia setuju waktu kita memberikan saran untuk membiarkan Jani kuliah di luar negeri."
Apa? Jadi kuliah di luar negri itu adalah kemauan Kak Arkan dan Anji, untuk menjauhkan aku dari Alvin? Tapi kenapa sekarang Papa mendukung mereka, bukannya selama ini Papa senang aku dekat dengan Alvin? batin Jani, penuh tanya.
"Semoga saja setelah pulang dari luar negeri si brengsek itu sudah pergi dan tidak akan bertemu lagi dengan adik kita!" Anji berdoa yang langsung diamini oleh Arkan.
__ADS_1
Jani menutup mulutnya mendengar kenyataan tentang rencana kuliahnya ke luar negri. Ternyata itu semua adalah upaya untuk menjauhkannya dengan Alvin.
Kedua kakaknya yang sedari awal emang kurang menyukai Alvin, ternyata selama ini kebencian itu belum memudar. Kebaikan mereka pada Alvin, mungkin karena melihat Jani yang bahagia saat bersama dengan laki-laki itu.
Aku gak mau jauh dari Alvin. Kenapa mereka tega banget sih sama aku? batin Jani, dia mundur beberapa langkah dari depan pintu kamar kakaknya.
Rasa kecewa kepada tiga laki-laki kesayangannya itu, membuat pikiran Jani kacau. Dia tidak mau jauh dari Alvin, selama ini dia keberatan untuk kuliah di luar negri. Akan tetapi, karena sang Papa memohon padanya, Jani akhirnya menyetujuinya, walau semua itu terasa sangat berat.
Mereka kesal karena mengira Alvin terus memanfaatkan aku kan? Berarti kalau Alvin menikahi aku, mereka akan percaya dan akan mengizinkan aku tetap di sin? sambungnya lagi.
Entah dari mana pikiran konyol itu berasal. Akan tetapi, kini Jani meyakininya.
Aku harus meminta Alvin untuk menikahiku, agar aku masih bisa tetap bersama dengannya.
Jani mengusap air mata yang sudah terlanjur menetes, tanpa pikir panjang dia berlari turun ke bawah dan ke luar dari rumah mewah milik kedua orang tuanya. Entah bagaimana, saat itu tidak ada satu orang pun yang mengetahui kalau Jani ke luar dari rumah, hingga beberapa saat kemudian rumah besar itu heboh, saat Jani tiba-tiba saja menghilang.
Sedangkan Jani memilih berjalan dari rumahnya menuju gerbang perumahan, dia kemudian menyetop taksi dan berhasil datang ke rumah Alvin di malam yang sudah semakin larut.
Tanpa menghiraukan dinginnya malam, dengan baju rumahan tipis yang dia pakai, juga kesehatannya yang mudah menurun jika terkena angin malam, Jani nekat datang ke rumah kontrakan Alvin, hanya untuk mendapatkan kepastian atas hubungan mereka, dan meminta Alvin untuk segera menikahinya.
Namun, bukan mendapatkan jalan ke luar, Jani malah semakin memperumit masalah, karena kepergiannya dari rumah membuat kedua kakak dan orang tuanya, melimpahkan kesalahan pada Alvin, hingga mengakibatkan Alvin menjadi sasaran tinju dari Anji dan Arkan.
Kekacauan pada malam itu, benar-benar tidak bisa diuraikan. Ditambah dengan kondisinya yang langsung menurun karena angin malam, membuat keluarganya panik dan langsung membawanya ke rumah sakit, keesokan harinya Jani langsung dipaksa untuk berangkat ke luar negeri, tanpa memberitahu kondisi Alvin, atau memberikan kesempatan untuknya menengok Alvin lebih dulu.
Itulah kesalahan terbesarnya pada Alvin, yang membuat dirinya merasa bersalah berkepanjangan.
Flash back off.
Jani menghembuskan napas lelah, saat ingatan tentang malam itu kembali melintas di kepala. Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Kondisi tubuhnya yang lemah dari kecil, membuat seluruh keluarganya memang menjaganya lebih posesif lagi, terutama Papa dan kedua kakaknya.
Dibandingkan dengan kembarannya Anji, Jani lebih sering sakit, hanya dengan masalah sepele, seperti kehujanan atau terkena angin malam berlebihan. Bahkan salah makan saja, bisa membuatnya masuk rumah sakit.
Berbeda degan para laki-laki Mama lebih bisa memberikan ruang untuk Jani, asalkan anak perempuan satu-satunya keluarga kaya itu tahu batasan dan bisa menjaga diri. Sikap Mama yang lebih santai membuat Jani lebih nyaman bercerita dengan ibu kandungnya itu.
__ADS_1
Namun, walaupun Jani tidak pernah bercerita pada Papa dan kedua kakaknya, ketiga laki-laki itu selalu mengetahui apa pun yang dia lakukan. Mereka semua seperti memiliki CCTV berjalan yang selalu mengikuti setiap langkahnya.
"Alvin, kamu sedang apa di sana?" gumam Jani, dipeluknya jaket Alvin yang terakhir kali dirinya pakai. Sudah tidak ada lagi wangi sang empunya, ini sudah terlalu lama hingga wangi itu sudah luntur termakan waktu.
Namun, dengan adanya jaket itu, setidaknya Jani bisa membayangkan saat Alvin memakainya, itu sangat membatntu untuk tetap mengingat wajah Alvin, di saat satu lembar foto pun dia tidak mempunyianya.
"Aku kangen. Maafkan aku, karena sudah memberikan masalah untuk kamu," sambungnya lagi, dengan satu tetes air mata lolos dari pelupuk.
Lelah memikirkan orang yang dia rindukan, perlahan Jani mulai menutup matanya, hingga jiwanya mulai pergi ke alam mimpi.
.
.
Sedangkan di tempat lain, seorang suami istri tampak sedang melihat deretan beberapa foto di atas meja, keduanya tampak fokus menatap satu per satu lembar kertas bergambar itu.
"Benar kan aku bilang, dia itu pasti anaknya Rengganis. Lihat, dia bahkan memakai kalung milik Rengganis! Ck! Aku memang sudah curiga saat pertama kali bertemu dengannya," ujar sang perempuan.
"Sial, kenapa sampai begini? Sejak kapan Rengganis mempunyai anak laki-laki bersama dengan suaminya yang miskin itu?! Bisa gawat nanti kalau sampai orang tuaku tau semua ini." sang laki-laki itu buka suara, dengan kening berkerut dalam, tanda dia sedang dilanda prustrasi.
"Lalu, kita harus gimana sekarang?" tanya sang wanita.
"Kita cari dulu, di mana Rengganis berada, kita harus menemukannya sebelum orang tuaku menemukannya lebih dulu. Kita juga harus menjauhkan dia dari perusahaan, jangan-jangan ini adalah strategi dia untuk kembali kepada keluarga kita."
Setelah lama terdiam, akhirnya sang laki-laki pun mengatakan sesuatu.
"Tapi, kalau ternyata Rengganis tidak ditemukan, atau bahkan sudah meninggal?"
"Jalan kita selanjutnya ... kita harus menyingkirkan laki-laki itu secepatnya, dan cegah dia jangan sampai dia tahu kebenaran tentang ibunya."
"Kalau ternyata dia sudah tau, bagaimana?"
"Kita terpaksa harus menyingkirkannya, sama seperti kita menyingkirkan adik dan Bapaknya!"
__ADS_1
..................