
...Happy Reading ...
......................
Alvin masuk ke mobil Indira dengan cepat, lalu mengendarainya ke luar dari kediaman keluarga Karyoso. Tubuhnya gemetar dengan napas tidak beraturan. Bukan karena lapar belum makan, atau habis berlari. Akan tetapi, menahan emosi dan melakukan hal yang bertentangan dengan isi hati, itulah yang membuat Alvin seperti ini.
Setelah mobil Indira jauh berjalan, Alvin menghentikannya di salah satu kafe, dia kemudian ke luar. Bukan untuk beristirahat, Alvin hanya mau mencari letak hotel terdekat.
Memesan satu cangkir kopi panas, sambil bertanya hotel atau penginapan terdekat, ternyata cara itu memang efektif, mereka memberi tahu kalau lima belas menit berkendara, akan menemukan hotel sederhana.
Setelah menerima informasi itu, Alvin langsung pergi ke sana, tubuhnya sudah cukup lelah karena berkendara jauh dari jakarta ke daerah itu, kini bertambah lelah sebab pertengkarannya dengan Tuan Gemang.
.
Sedangkan di kediaman keluarga Karyoso, Tuan Gemang tampak masuk ke salah satu ruangan di rumah itu, dia menghentikan kursi rodanya di depan jendela yang bisa melihat indahnya halaman belakang.
Laki-laki tua itu tampak termenung, sepuluh jari-jari tangannya tampak saling bertaut dengan siku bertumpu pada sisi kursi roda. Pandangannya menatap lurus pohon dan bunga yang menghias halaman belakang.
Walau begitu, sebenarnya pikiran Tuan Gemang bukan sedang menikmati keindahan itu. Akan tetapi, tengah kembali berinstropeksi diri dengan segala ucapan yang dia katakan pada cucu yang batu ditemuinya.
"Jelas-jelas, Bapak, sendiri yang sangat ingin bertemu dengan cucu laki-laki kita itu. Sekarang malah bersikap angkuh dan keras, bagaimana tidak lari dia!" Suara seorang wanita tua, beriringan dengan langkah kaki yang mendekat terdengar di telinga Tuan Gemang.
Tentu Tuan Gemang sudah tahu, siapa pemilik semua suara itu. Siapa lagi kalau bukan istri tercinta yang telah menemaninya selama ini.
"Bukannya sebelum ke luar kamar, kita sudah bicara dulu dan Indira juga sudah memberi tahu kita lewat telepon kalau Ganis enggak ikut. Tapi, kenapa, Mas, malah bertanya seperti itu sih?" tanya Nyonya Hartari sambil terus berjalan menghampiri Tuan Gemang, kemudian berhenti di sampingnya.
"Aku tadi hanya bertanya, Tari. Tapi, kamu dengar sendiri kan? Dia malah menyebut kita orang asing. Bagaimana aku tidak terpancing dengan ucapannya yang tidak sopan itu?" kesal Tuan Gemang mengingat perdebatannya dengan Alvin.
"Kita itu sudah tua, Mas. Mengalah sedikit sama cucu, apa salahnya? Alvin juga pasti lelah, setelah berkendara jauh dari Jakarta ke sini, eh datang-datang bukannya disambut, dikasih makan dulu, ini malah diajak debat!" gerutu Nyonya Hartari.
__ADS_1
"Kenapa, Mas? Apa karena wajah Alvin mirip dengan Hardi, makanya, Mas, gak bisa menahan emosi?" tanya Nyonya Hartari lagi.
"Sudahlah, gak usah dibahas lagi, lebih baik kamu temani saja cucu perempuanmu sana." Tuan Gemang tampak menghembuskan napas kasar sambil mengibaskan tangannya, agar Nyonya Hartari segera pergi meninggalkannya sendiri.
Nyonya Hartari tampak melihat suaminya yang memang memiliki sifat yang keras, wanita tua itu menghembuskan napas kesal sebelum akhirnya ke luar dari ruangan itu.
.
Pagi datang dengan hawa yang sangat dingin, gerimis pun sudah turun sejak malam tadi, itu membaut Indira tidak tenang sejak semalam, karena Alvin tidak bisa dihubungi.
Namun, semua kegelisahan itu langsung terobati, saat Indira mendengar suara mobilnya di depan rumah, dengan cepat dia berjalan menuju ke depan, untuk memastikan kalau yang datang itu adalah Alvin.
Senyum pun melebar saat melihat Alvin ke luar dari mobil kemudian menghampirinya.
"Assalamualaikum, Nona Indira," ujar Alvin begitu menghentikan langkahnya di depan Indira.
"Waalaikumsalam, Vin. Ayo masuk, kita sarapan bersama dulu," ajak Indira.
"Aah, gak usah banyak alasan, sekarang pokoknya kamu harus sarapan di rumah dulu. Kasihan Eyang sudah masak dari pagi tadi untuk menyambut kedatangan kamu." Indira langsung memotong perkataan Alvin, hingga membuat Alvin hanya bisa membungkam mulutnya dan mengikuti Indira masuk ke dalam rumah.
"Masih sama," gumam Alvin sambil menggeleng kepala, saat mengingat sikap Indira yang suka memaksa ketika dirinya bekerja di kantornya.
Sampai di dalam, ternyata Tuan Gemang dan Nyonya Hartari sudah duduk di meja makan panjang seperti bongkahan kayu besar yang dibelakang menjadi dua dan diberi kaca di atasnya.
"Ayo sini, duduk. Kita sarapan bersama," ujar Nyonya Hartari sambil beranjak, hendak berjalan menghampiri Alvin. Akan tetapi, dicegah oleh Tuan Gemang, hingga akhirnya dia hanya berdiri saja.
"Assalamualaikum, Tuan, Nyonya," Alvin membungkuk hormat pada dua orang tua di depannya.
Jawaban pun terdengar lirih di telinga Alvin. Alvin dan Indira pun duduk di tempatnya masing-masing. Berbagai macam hidangan tersaji di atas meja, membuat Alvin tidak terbiasa.
__ADS_1
Alvin yang hanya terbiasa sarapan dengan nasi uduk di depan kontrakan, atau bubur ayam yang ada di depan gang, membuat bingung sendiri saat melihat banyaknya makanan yang ada di depannya.
"Nona, apa di sini akan ada acara atau tamu lain?" tanya Alvin lirih.
Indira terkekeh mendengar pertanyaan lucu dari mulut Alvin, dia kemudian menjawab dengan santai, sambil mengambil makanan yang sekiranya dia inginkan.
"Gak ada, Vin. Ini semua sengaja Eyang siapkan untuk menyambut kedatangan kita," jawab Indira.
Alvin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mau menimpali lagi, sedangkan Nyonya Hartari tampak mengulum senyum saat mendengar pertanyaan Alvin pada Indira.
"Ayo, silahkan dimakan, kalian harus mengisi perut dulu sebelum bepergian jauh ... makan yang kenyang, ya," cerocos Nyonya Hartari.
"Sudahlah, tidak bagus berisik di meja makan. Nanti saja kalau mau ngobrol kalau sudah makannya," tegur Tuan Gemang yang tidak suka jika situasi di meja makan berisik.
Nyonya Hartari pun mengangguk dan menyuruh Alvin makan sekali lagi, baru mereka bisa makan dengan tenang.
Beberapa saat berlalu, kini mereka tampak sudah beralih menuju ke tempat kemarin, dan duduk bersama lagi.
"Maafkan sifat Eyang kakungmu kemarin, Vin. Eyang hanya masih terkejut dengan kehadiran kamu yang tiba-tiba," ujar Nyonya Hartari, mewakili Tuan Gemang.
"Tidak apa, Nyonya. Kemarin, saya juga terlalu lancang dan tidak sopan dalam berbicara. Maafkan saya, Tuan," jawab Alvin pada Nyonya Hartari dan Tuan Gemang bergantian.
"Sudahlah, kemarin itu memang aku yang bersalah. Sebagai orang yang jauh lebih tua darimu, aku malah tidak bisa menahan emosi," ujar lirih Tuan Gemang sambil mengedarkan pandangannya, seperti enggan untuk memandang Alvin.
Tuan Gemang adalah laki-laki yang keras, sebagai anak pertama yang terlahir di dalam keluarga kaya dan pemimpin perusahaan, Tuan Gemang memang terkenal sedikit arogan dan keras terhadap orang di sekitarnya.
Makanya dia tidak terbiasa untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Jika pun dia berani meminta maaf pada Alvin lebih dulu pagi ini, itu semua karena usaha Nyonya Hartari dan Indira yang terus membujuk Tuan Gemang untuk mengalah.
Alvin hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Setelah perdamaian antara Alvin dan Tuan Gemang, perbincangan pun berlanjut, hingga akhirnya jam sembilan pagi Alvin dan Indira harus pamit kembali ke Jakarta.
__ADS_1
......................