
...Happy Reading...
......................
Alvin mengendari mobilnya menuju kantor, dia membutuhkan waktu setengah jam melalui jalan tikus yang tidak macet untuk bisa sampai di kantor Ezan Dsagn's.
Dalam perjalanan dia mengambil ponsel dan memakai earphone untuk menghubungi seseorang. Beberapa saat menunggu, akhirnya suara seorang perempuan terdengar.
"Mau apa lagi kamu telepon aku, Vin?" tanya wanita di seberang sabungan telepon itu.
"Selamat pagi, apa kita bisa bertemu siang nanti?" tanya Alvin dengan bahasa formal dan tanpa basa basi.
"Untuk apa? Bukannya kemarin kamu sudah menolakku?" ujar perempuan yang tidak lain adalah Indira, suaranya tampak terdengar seperti wanita yang sedang merajuk.
"Kalau, Nona, bisa meluangkan waktu untuk kita bertemu, aku tunggu di restoran xx, pada saat jam makan siang." Tanpa mau menanggapi pertanyaan Indira Alvin langsung menyebutkan tempat dan waktu untuk mereka bertemu.
.
Sedangkan di belakang mobil Alvin, sebuah mobil dengan empat orang laki-laki di dalamnya terus mengikuti ke mana Alvin pergi.
"Bagiamana? Apa kamu sudah mendapatkan foto wanita yang bersama dengan target kita?" tanya salah satu laki-laki diantara mereka.
"Sudah, Bos. Sepertinya ini akan menjadi berita besar untuk Tuan Mardo," jawab laki-laki yang menunjukkan ponselnya, diiringi tawa puas di akhir kalimatnya.
"Kita harus segera melaporkannya," ujar laki-laki yang tampak sedang mengemudi.
"Tidak bisa, selama satu minggu ini kita tidak bisa melaporkan hasil pencarian kita. Tuan Mardo dan Tuan Roy, sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri, dan mereka berpesan agar kita tidak mengganggu mereka," cegah laki-laki yang tadi bertanya.
"Heh, paling itu hanya sebagai alasan, sebenarnya mereka hanya ingin bermain perempuan," decak laki-laki yang mengemudi.
"Justru itu, kita tidak boleh mengganggu kesenangan para Tuan kita, hahaha!" Mereka semua tertawa bersama, mengingat perbuatan buruk para bosnya.
.
Waktu istirahat tiba, Avin berjalan cepat ke luar dari kantor, setelah menyiapkan makan siang untuk bosnya. Dia sudah izin untuk makan siang di luar, karena ada urusan yang harus dia kerjakan.
Entah Ezra tahu apa yang sedang Alvin kerjakan, atau memang hari ini laki-laki itu sedang baik hati, hingga Alvin bisa mendapatkan izin dengan sangat mudah,
Mengemudikan mobil, membelah jalanan menuju restoran berjarak lima belas menit dari kantornya. Alvin tersenyum ketika dia masuk ke dalam dan ternyata sudah melihat Indira di sana.
Aku tau, Nona, tidak akan mengecewakan aku, batin Alvin melangkah menghampiri Indira yang tampak sedang duduk sendiri.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Selamat siang, Nona Indira .... Maaf saya datang terlambat," sapa Alvin sambil menunduk samar.
"Waalaikumsalam. Gak usah pake banyak gaya, mulai sekarang panggil aja aku Kakak, sepertinya itu lebih menarik, dari pada panggilan yang tadi," jawab Indira masih berlaga merajuk.
Alvin kembali tersenyum tipis, kemudian menatap kembali perempuan yang merupakan mantan bosnya itu.
"Apa saya sudah boleh duduk?" tanya Alvin lagi.
Indira menatap Alvin dengan wajah kesalnya.
"Ck! Duduk ya tinggal duduk saja, gak ada yang larang," jawab Indira.
"Baiklah. Terima kasih." Alvin duduk di depan Indira. Keduanya lebih dulu memesan makan siang, sebelum memulai obrolan.
"Ada apa, kamu, mengajakku bertemu di sini?" tanya Indira setelah pelayan pergi meninggalkan mereka beruda.
"Saya ingin tau, ada maksud apa Nona dan Nyonya Hartari datang menemui saya? Sedangkan selama ini kalian tidak pernah ada bagi keluarga saya," tanya Alvin, menatap Indira penuh tanya.
"Sudah aku bilang, panggil saja aku Kakak!"
"Maaf, Nona ... bisa, Anda, jawab saja pertanyaan saya?" Alvin menimpali ucapan Indira dengan cepat.
"Ya, ya, ya, baiklah. Sebenarnya selama ini kami semua bukan tidak pernah ada untuk keluarga kamu, Vin. Eyang selalu mencari Tante Ganis ... tapi, keluarga kalian sangat sulit untuk ditemukan," jelas Indira, mengingat bagaimana sulitnya Nyonya Hartari mencari anak dan menantunya.
Alvin tersenyum tipis, seolah tidak mempercayai penjelasan dari Indira. Karena selama ini dia tidak pernah merasa bersembunyi. Penjelasan Indira tidak masuk akal jika Alvin melihat kekuasan keluarga Nyonya Hartari.
"Kamu pasti gak percaya, kan? Itu wajar sih, soalnya kamu gak lihat sendiri. Tapi, memang itu yang terjadi, Vin," ujar Indira lagi, berusaha meyakinkan Alvin.
Alvin terdiam beberapa saat walau akhirnya di memutuskan untuk mengangguk.
"Lalu, kenapa sekarang kalian bersikeras meyakinkan aku kalau aku ini adalah keluarga kalian, sedangkan kalian belum pernah bertemu dengan orang tuaku?" tanya Alvin lagi.
"Karena kalung yang kamu pakai. Itu adalah kalung keluarga kami yang Eyang Hartari berikan kepada Tante Ganis, sebelum Tante Ganis memutuskan untuk pergi bersama dengan Om Hardi," jawab Indira.
"Tapi, bisa saja kalian salah mengenali kalung yang aku pakai–"
"Tidak, aku dan yang lainnya mungkin bisa salah. Tapi, Eyang tidak mungkin salah. Karena kalung itu adalah kalung yang diwariskan turun temurun dari leluhurnya terdahulu." Indira langsung memotong perkataan Alvin.
"Lagipula kamu juga pasti tau semua ini, bukan? Hanya saja kamu sedang menguji keseriusan kami dan usaha kami saja," sambung Indira lagi.
"Aku hanya tidak mau kalau nanti aku diragukan. Kalian boleh mencari bukti yang bisa memperkuat asumsi kalian lebih dulu, jika itu akan membantu. Karena aku tidak akan memberitahu keberadaan ibuku, sebelum situsinya aman," jelas Alvin.
__ADS_1
Indira tersenyum sumringah, dia sampai mencondongkan tubuhnya saking terkejutnya dengan perkataan Alvin.
"Jadi sekarang kamu mengakuinya? Kamu adalah anak dari Tante Ganis dan Om Hardi?" tanya Indira.
Alvin memundurkan tubuhnya, dia tidak tahu kalau mantan bosnya itu mempunyai sifat bar-bar juga, selain sifat arogan dan sombong yang selaku diperlihatkan. Dia kemudian mengangguk perlahan.
"Yes!" seru Indira, setelah melihat Alvin mengangguk, dia sangat senang dengan semua ini.
"Aku akan segera memberitahu Eyang, dia juga pasti sangat senang mendengar kabar ini," sambungnya lagi sambil mengambil ponselnya.
Disaat bersamaan pelayan yang mengantarkan makanan pesanan mereka datang.
"Makan dulu saja, menghubungi Nyonya Hartari kan bisa dilakukan nanti," ujar Alvin, sambil mulai bersiap untuk makan.
Indira melihat Alvin, dia kemudian meletakkan kembali ponselnya, dan beralih pada sendok dan garpu yang sudah siap di meja.
"Baiklah, untuk merayakannya, sekarang mari kita makan. Dan, untuk kamu ... jangan panggil aku Nona lagi, aku tidak suka," ujar Indira sebelum memulai makannya.
"Saya tidak janji," jawab Alvin.
Walau begitu Indira tetap tersenyum, dia merasa sangat senang telah mendapatkan saudara yang sederhana seperti Alvin.
Pertemuan itu pun akhirnya berakhir begitu saja, disaat waktu makan siang sudah hampir selesai. Alvin ke luar dari restoran berbarengan dengan Indira.
"Oh, jadi gara-gara ini, kamu, izin makan siang di luar, Vin?!"
Suara berat nan dingin yang sangat Alvin kenal, tiba-tiba mengalihkan perhatiannya, dia menoleh melihat ke arah samping, tidak jauh darinya dan Indiria berdiri. Matanya melebar begitu melihat bosnya yang tengah berdiri tegak dengan kedua tangan yang dimasukkan ke kantong celana.
"Pak Ezra?" gumam Alvin dan Indira bersamaan.
"Maaf, Pak. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Nona Indira," jelas Alvin, merasa seperti seorang anak yang sedang ketahuan berpacaran oleh bapaknya.
"Pak Ezra, senang bertemu dengan, Anda." Indira mengangguk kilas sebagai tanda kesopanan saat menyapa.
Ezra hanya melirik Indira kemudian mengangguk samar, pandangannya kembali melihat pada Alvin yang tengah berdiri canggung di hadapannya.
Astaga salah apa lagi aku? batin Alvin.
Di tengah kecanggungan itu, suara seorang anak tiba-tiba mengalihkan perhatian ketiga orang itu.
"Om Al!"
__ADS_1
......................