
Alvin masih terduduk di kursi tunggu saat Jani dan Indira kembali, dengan paper bag di tangannya.
"Sebaiknya kamu bersihkan dulu tubuhmu. Luka kamu juga harus segera mendapatkan penanganan," ujar Jani sambil memberikan paper bag pada Alvin.
Alvin melihat Jani dengan kening berkerut, dia kemudian melihat paper bag di tangan Jani.
"Ini baju ganti buat kamu," ujar Jani lagi, seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Alvin.
Pak Umar mengalihkan pandangannya pada Alvin, dia sudah sejak tadi menyuruh Alvin untuk menerima pemeriksaan, agar lukanya bisa dirawat sebelum ada infeksi.
Namun, Alvin tetap berkeras untuk menunggu Ganis yang sedang menjalani operasi di dalam ruangan sana.
"Ada aku, Kak Indira, dan Pak Umar yang akan menunggu ibumu di sini. Kami akan segera mengabari kamu kalau operasinya selesai," ujar Anjani lagi, meyakinkan Alvin.
Alvin tampak menatap Jani dengan sorot mata tak terbaca cukup lama, walau tak ada kata yang terucap dari dalam mulutnya.
"Kamu percaya sama kita, Kan?" tanya Jani lagi.
Alvin menundukkan kepala sambil menghembuskan napas kasar, dia kemudian meraih paper bag itu dan berjalan pergi menuju toilet untuk membersihkan diri.
Jani tersenyum melihat itu. Tadi setelah mengurus administrasi dia mengajak Indira untuk membeli baju ganti Alvin. Walau akhirnya dia habis diledek oleh Indira, yang sepertinya telah tahu kalau sebenarnya antara dirinya dan Alvin ada rasa terpendam.
Beberapa saat kemudian Alvin tampak berjalan dengan wajah yang lebih segar ke arah mereka, walau ada beberapa luka di sana.
"Waah, bisa pas gitu, baju yang kamu pilihkan buat Alvin. Kayaknya memang ada yang beda nih sama kalian berdua," godaan Indira berbisik di depan telinga Jani, saat melihat Alvin yang masih cukup berjarak dari mereka.
Jani menggerakkan siku tangannya mengarah pada perut Indira, agar permepuan itu tidak lagi menggodanya di saat Alvin ada di sana. Sungguh, dirinya sangat malu sekarang.
"Terima kasih bajunya," ujar Alvin begitu dia sampai di depan Jani.
Jani mengalihkan pandangannya, demi menyembunyikan senyumnya, dia kemudian mengambil kartu yang tadi diberikan Alvin padanya.
"Gak usah terima kasih, semua itu aku beli pakai uang kamu kok," ujar Jani dengan senyum tipis di wajahnya.
Alvin langsung menoleh melihat raut wajah Jani yang seolah sedang meledeknya. Salah satu alisnya tampak terangkat penuh sambil melihat kartu di tangan Jani.
"Tetap saja, terima kasih telah membelikannya," jawab Alvin sambil menerima kartu ATM–nya kembali, lalu duduk di samping Jani.
__ADS_1
Jani mengangguk samar, lalu mengeluarkan kotak P3K sambil menggeser duduknya menghadap pada Alvin. "Sekarang, biar aku lihat dulu, luka kamu."
Ketika Alvin mandi dia meminjam beberapa alat P3K untuk mengobati Alvin. Jani tahu kalau Alvin pasti tidak mau jika disuruh untuk memeriksakan lukanya pada perawat.
"Aku baik-baik saja," kilah Alvin sambil mengalihkan pandangannya dari Jani.
"Apanya yang baik-baik saja, sini biar aku lihat dulu." Jani menahan tangan Alvin agar laki-laki itu melihatnya lagi.
"Ssh!" Alvin berdesis saat luka di sikunya tersentuh Jani.
"Maaf-maaf! Ada luka lagi di sini?" tanya Jani panik, sambil melihat bagian siku Alvin.
"Sedikit," jawab Alvin pelan.
"Sedikit apanya, ini parah!" decak Jani sambil melihat luka di tangan Alvin.
Ternyata lukanya cukup lebar dan dalam, hingga terlihat sedikit menganga, walau sepertinya itu tidak perlu dijahit.
Jani dengan cekatan mengeluarkan peralatan untuk mengobati Alvin. Tangannya mulai membersihkan luka menggunakan antiseptik, lalu mengoleskan salep betadine dan membalutnya hingga rapih.
"Ssh ...." Alvin mendesis saat merasakan perih di lukanya.
Indira dan Pak Umar yang mendengar Jani bergumam sambil tetap fokus mengobati luka Alvin, tampak menahan tawa.
"Ekhm!" Alvin tampak berdehem demi menahan rasa malunya. Dia salah tingkah.
Mungkin karena tadi pikirannya hanya tertuju pada ibunya, hingga semua lukanya tidak terasa sakit sama sekali. Namun, sekarang setelah pikirannya lebih tenang dibandingkan dengan sebelumnya, rasa sakit itu baru terasa.
Pengobatan luka Alvin selesai bersamaan dengan lampu operasi yang mati, itu menandakan kalau operasi ibunya sudah selesai. Avin langsung berdiri bersiap untuk menyambut dokter dengan berbagai pertanyaan.
"Operasinya berhasil, peluru sudah berhasil dikeluarkan. Tapi, keadaan pasien sangat kritis. Kita lihat sampai besok pagi, semoga pasien bisa sadar sebelum dua puluh empat jam--" jelas dokter itu, ketika Alvin bertanya tentang kondisi Ganis.
.
Alvin masuk ke dalam ruangan tempat sang ibu dirawat setelah melakukan operasi pengangkatan peluru di tubuhnya.
Suara berbagai macam alat yang terdengar begitu Alvin memasuki ruang intensif itu, membuat hati Alvin terasa perih. Ganis terlihat menutup matanya rapat dengan alat pernapasan masih menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Perlahan Alvin melangkah mendekat kemudian duduk di kursi yang terdapat di samping brankar Ganis, tatapannya nanar dengan berbagai rasa yang bergejolak di dalam dada.
"Mama, pasti sekarang sedang bertemu dengan Bapak dan Alin, ya? Di sana indah kan, Mah? Alvin udah pernah melihatnya." Alvin berkata lirih, sambil menggengam tangan lemah Ganis.
Matanya menghangat seiring air yang mulai berkumpul di pelupuk. Suara berat dan parau itu terus bergumam mencoba bercerita dan berbicara pada Ganis yang masih tampak tenang, tenggelam di dalam alam mimpinya.
Senyum tipis yang malah terlihat miris itu, terlihat menyakitkan. Alvin sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja, walau sejujurnya hatinya hancur, melihat Ganis seperti ini.
Rasanya semua ini lebih buruk, dibanding dengan keadaan ibunya selama ini. Walau terkadang Ganis tidak mengenalnya, setidaknya dia masih bisa melihat mata Ganis.
"Mah, jangan lama-lama ya main sama Bapak dan Alinnya, Alvin butuh Mamah di sini. Cepat pulang ya, Mah, Alvin akan selalu menunggu Mama," ujarnya sebagai penutup kunjungannya kali ini, dia bangkit kemudian mengecup kening Ganis cukup lama.
Air mata tampak menetes membasahi wajah Ganis, saat Alvin menutup matanya, meresapi segala rasa cinta dan sayang yang dia miliki untuk sang ibu.
"Alvin pamit, ya Mah. Nanti Avin balik lagi .... Assalamualaikum," lirihnya sebelum akhirnya menegakkan tubuh kemudian berjalan ke luar.
Alvin melihat ke arah kursi tunggu. Di sana, Jani, Indira, dan Pak Umar masih setia menemaninya, mereka sudah bersamanya sejak siang tadi, sedangkan Pak Umar bahkan dari pagi.
"Lebih baik kalian pulang dulu saja, malam ini biar aku yang jadi Ibu," ujar Alvin pada ketiga orang itu.
Pak Umar, Jani, dan Indira mengalihkan pandangannya pada Alvin, kemudian saling menatap satu sama lain.
"Iya, lebih baik kalian pulang saja dulu, biar aku yang menemaninya di sini," ujar Pak Umar pada Indira dan Jani.
"Tapi, Vin--" Jani tampak keberatan untuk pulang.
"Aku sudah baik-baik saja sekarang," ujar Alvin seolah tahu kekhawatiran perempuan di depannya itu.
"Baiklah, kabari aku kalau kamu butuh sesuatu," ujar Jani, tidak baik juga dia pulang terlambat, dirinya takut nanti Alvin disalahkan lagi oleh kedua kakak dan ayahnya.
"Eyang langsung berangkat, mungkin malam atau besok pagi dia sudah sampai, kabari aku kalau Eyang sudah datang ya, Vin," pinta Indira yang langsung diangguki oleh Alvin.
"Kalian bawa mobil?" tanya Alvin.
Jani mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu Jani dan Indira pamit dan melangkah pergi dengan hati masih terasa berat pada Alvin.
Alvin tampak menatap punggung dua perempuan itu yang terus menjauh hingga menghilang terkikis oleh jarak.
__ADS_1
......................