ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Perpisahan yang sesungguhnya


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Alvin berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit, beberapa saat yang lalu dia menerima kabar kalau Ganis telah sadar. Itu semua membuat Alvin langsung memisahkan diri dari para laki-laki lainnya yang masih membicarakan tentang Pak Mardo.


"Bagaimana keadaan ibuku?" tanya Alvin begitu sampai di depan ruang ICU.


"Dokter sedang melihatnya," jawab Jani cepat.


Setelah mendengar jawaban Jani, Alvin akan masuk ke dalam ruangan Ganis. Akan tetapi, perawat langsung menahannya.


"Kami sedang menanganinya, mohon tunggu di luar." Itulah perkataan perawat yang menahan Alvin.


Alvin berjalan gelisah di depan pintu, entah mengapa dia merasa ini bukan hal yang sepenuhnya baik. Hatinya terasa ada yang janggal, saat melihat dokter cukup lama berada di dalam.


"Alvin tenang dulu, lebih baik sekarang kamu duduk." Jani menghampiri Alvin yang terus terlihat cemas.


"Mereka terlalu lama di dalam, Jani. Apa terjadi sesuatu pada ibuku?" tanya Alvin mengalihkan perhatiannya pada Jani.


Kali ini hanya ada Jani di sana, karena para wanita yang lain sedang ke luar, untuk mencari udara segar.


"Tidak akan terjadi apa-apa pada ibumu, aku yakin," jawab Jani, mencoba memberi kekuatan pada Alvin, walau dirinya sendiri tidak yakin.


Jika yang lainnya mungkin sedang mengkhawatirkan kondisi Ganis, maka berbeda dengan Jani. Dia lebih mengkhawatirkan kondisi Alvin, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ganis.


Walau selama ini dirinya tidak pernah melihat atau mendengar tentang kedekatan Alvin dan ibunya, akan tetapi, saat melihat Alvin sekarang, Jani sudah bisa melihat betapa Alvin begitu menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.


Alvin menatap Jani dengan kening berkerut dalam, hatinya sungguh sedang tidak tenang saat ini. Dia kemudian menghembuskan napas berat lalu mengangguk.


Tidak lama kemudian Dokter ke luar dari ruangan dengan wajah yang terlihat sendu, hingga membuat Alvin dan Jani langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan ibuku, Dok?" tanya Alvin.


"Dia memang sudah sadar. Tapi, kondisinya tidak baik-baik saja. Jadi sebaiknya kamu temui dia sekarang ... buat dia bahagia, dan bersiaplah untuk menghadapi kondisi terburuk pasien," jawab dokter itu dengan wajah penuh sesal.


Alvin melebarkan mata dengan mulut yang terbuka, dia menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter di depannya. Bukannya kemarin dokter bilang kalau Ganis akan baik-baik saja jika dia bisa sadar sebelum dua puluh empat jam?


Namun, kenapa sekarang dokter itu mengucapkan kata yang berbeda. Alvin tidak bisa menerima semua ini.


"Tapi, Dok, bukannya--" Alvin hendak kembali mengajukan pertanyaan pada dokter, walau kemudian di cegah Jani.


"Terima kasih, Dok," ujar Jani memotong perkataan Alvin sambil memegang tangan laki-laki di sampingnya.


"Lebih baik kita ke dalam sekarang," sambungnya lagi, kemudian membawa Alvin untuk segera masuk ke dalam.


"Dari pada kamu menyia-nyiakan waktu untuk berbicara dengan dokter, lebih baik sekarang segera temui ibumu," ujar Jani menjelaskan sambil masuk ke dalam ruang ICU.


Dirinya pernah berada di situasi ini, saat neneknya mengalami kecelakaan. Namun, bedanya saat itu dia tidak berada di samping Nenek dan akhirnya mendapatkan sebuah penyesalan, karena dia terlambat untuk datang.


Jani langsung menutup mulutnya saat dia melihat Ganis yang tampak sudah membuka mata, walau itu terlihat sangat sayu.


Dia menghentikan langkahnya, kemudian berdiri mematung di ujung barnkar Ganis, rasanya akan sangat canggung jika dirinya ikut menemui Ganis, padahal dia sama sekali tidak mengenalnya.


Namun, Alvin yang merasakan genggaman tangan Jani terlepas langsung berbalik menatap Jani kemudian mengambilnya lagi untuk membawanya berjalan bersama menemui ibunya.


Jika memang ini terakhir kalinya dia bertemu dengan sang ibu, maka Alvin ingin mengenalkan Jani pada ibunya, walau sampai saat ini belum ada status yang jelas antara mereka.

__ADS_1


"Tapi, Vin?" Jani tampak ragu.


"Ikut saja," ujar Alvin tidak ingin melepaskan tangan Jani. Keduanya kini berdiri di sisi kanan Ganis yang tampak sudah membuka mata dan sedang melihat kedatangan keduanya.


"Assalamualaikum, Mah." Alvin tersenyum lembut begitu dia sudah berada di samping ibunya. Raut wajah yang sejak tadi terlihat kacau, kini berubah menjadi tenang dan penuh kasih sayang, senyum tipis pun terlihat terus menghiasi wajah tampannya.


Jani merasa takjub dengan perubahan yang ditunjukkan oleh Alvin, selama ini dia bahkan jarang melihat wajah Alvin yang seperti ini. Itu juga membuktikan betapa sayangnya Alvin pada ibunya, hingga dia ingin selalu terlihat baik-baik saja di depan wanita paruh baya itu.


Ganis tampak tersenyum saat melihat kedatangan Alvin, tangannya terangkat ingin menggapai alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya.


Alvin ikut membantu, perlahan dia lepaskan alat bantu pernapasan itu, dengan hati yang teriris melihat betapa tersiksanya sang ibu saat ini.


"A--Alvin," panggil Ganis, sambil mengangkat tangannya seperti hendak menyentuh wajah Alvin.


"Iya, Mah, ini Alvin," jawabnya sambil meraih tangan ibunya kemudian menggenggamnya dan memnciunnya berulang sebelum menempelkannya di pipi.


Ganis tersenyum mendapati sikap lembut anak laki-lakinya, walau matanya tampak berkaca-kaca. Ganis tampak mengalihkan perhatiannya pada gadis yang kini sedang berdiri di samping Alvin.


Dia tahu kalau itu pasti gadis yang selama ini selalu diceritakan Alvin padanya. Ya, walau terkadang dia terlihat tidak memperhatikan cerita Alvin, karena kesehatan jiwanya. Akan tetapi, alam bawah sadarnya mendengar setiap kata yang selalu Alvin ucapkan padanya, dan di saat kesehatannya membaik, maka Ganis bisa mengingat semuanya.


Alvin ikut menoleh menatap Jani sekilas, kemudian kembali melihat Ganis. "Perkenalkan, Mah, ini Anjani, teman dekat Alvin. Selama ini Jani sudah banyak membantu Alvin," ujar Alvin memperkenalkan Anjani.


Ganis tampak kembali menarik ujung bibirnya, hingga membentuk senyuman tipis, yang di tunjukka pada Anjani.


Jani yang mendengar kata yang dipilih Alvin untuk memperkenalkannya pada Ganis, ada rasa perih di dalam hati, karena ternyata itu tidak sesuai dengan yang diharapkan olehnya.


Namun, melihat kondisi Ganis saat ini, Jani juga mengerti, kalau itu bukan waktunya untuk bertanya tentang kepastian hubungannya dan Alvin, walau sebagai seorang perempuan dia juga membutuhkan sebuah kepastian, agar hatinya bisa tenang.


"Assalamualaikum, Tante," sapa Jani pada Ganis.


"Cantik," sambung Ganis lagi, sambil tersenyum menggoda pada Alvin, membuat wajah Alvin sedikit bersemu.


Senyum di bibir Ganis tampak semakin lebar, saat mendapati anak laki-lakinya yang terlihat malu-malu, begitu juga dengan Jani yang melihat itu, dia ikut tersenyum senang.


Ganis kembali meremas tangan Alvin di dalam genggamannya, pandangannya terasa semakin buram terhalang oleh air yang menggenang. Sungguh, dia menyesali waktu yang telah hilang antara dirinya dan sang anak, karena dirinya terlalu larut pada sakitnya kehilangan, hingga dirinya lupa anak yang masih ada di sampingnya.


Jika saja waktu bisa diputar kembali, dirinya berjanji akan menjadi ibu yang kuat agar bisa mendampingi Alvin. Melihat Alvin tubuh besar, dengan canda, tawa, dan tangis bersama. Tidak seperti sekarang ini, dirinya hanya menjadi beban bagi anak laki-lakinya itu.


Namun, semuanya sudah berlalu, waktu tidak bisa terulang kembali, bahkan mungkin kini waktunya di dunia ini tidak lama lagi.


Matanya melirik sebentar pada pintu masuk, di mana di sana terlihat berdiri sang suami yang menggandeng anak perempuannya sedang tersenyum padanya, mereka menunggu waktu untuk menjemputnya. Ganis tersenyum pada bayangan yang entah benar ada, atau hanya sekedar ilusi saja, sebelum kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Alvin.


"Vin," panggilnya, menatap wajah anaknya yang kini sudah sangat dewasa, dia begitu mirip dengan sang suami, hanya saja sepertinya sekarang tingginya sudah melebihi suaminya.


"Iya, Mah, Alvin di sini," jawab Alvin mencondongkan tubuhnya, agar Ganis bisa lebih jelas melihatnya.


"Maafkan Mama karena selama ini terus menjadi beban untukmu," ujar Ganis, dengan air yang mulai mengalir di sudut matanya.


Alvin menggeleng, dengan mata yang memerah, dia tidak suka ibunya berbicara seperti itu. Selama ini dirinya tidak pernah menganggap Ganis sebagai beban. Sebaliknya, bagi Alvin, kehadiran Ganis bagaikan sebuah kekutan dan penyemangat untuk terus menjalani hidupnya yang begitu berat.


"Mama, tidak pernah menjadi beban Alvin. Alvin senang bisa bersama dengan Mama sampai sekarang. Mama adalah penyemangat hidup Alvin ... jadi jangan pernah berpikir begitu ya, Mah. Sekarang lebih baik, Mama, fokus untuk sembuh dulu, hem."


Alvin menjelaskan posisi Ganis di dalam hidupnya, tangannya perlahan mengusap air di sudut mata Gani. Dia tidak mau kalau sampai apa yang diakatakan dokter beberapa saat yang lalu, akan terjadi. Sampai saat ini Alvin masih belum siap untuk berpisah dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.


Ganis kembali tersenyum dengan kedipan mata yang semakin terlihat lambat. Sejak kecil, Alvin memang tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya, hanya sesekali dia berbuat kenakalan yang wajar di lakukan oleh anak laki-laki.


"Mama sayang sama kamu, Vin. Mama bangga sudah melahirkan kamu dan memiliki kamu sebagai anak Mama," ujar Ganis lirih, diakhiri dengan batuk yang cukup parah, hingga napasnya tersengal, sepertinya Ganis memaksakan untuk berbicara dengan kalimat yang cukup panjang.

__ADS_1


Alvin berdiri, dia mengambil tisu untuk mengelap air di bibir Ganis yang terlihat basah. Wajahnya berubah panik, mendapati Ganis yang seperti kesulitan bernapas.


"Mah, jangan terlalu banyak bicara. Aku tau kalau Mama sayang Alvin. Alvin juga sangan sayang Mama, tapi, sekarang lebih baik Mama istirahat saja, hem. Mama, masih sakit," cegah Alvin saat Ganis ingin memaksakan untuk berbicara lagi.


Ganis menggeleng lemah.


"Mama ingin bicara, sebelum Mama ikut dengan Bapak dan Alin." Ganis menggenggam semakin erat tangan Alvin, untuk memberinya sedikit kekuatan lebih, dia kemudian melirik ke arah samping sebelah kirinya, di mana dia melihat sang suami dan Alin kini berada di sana.


"Kamu lihat, Vin, mereka sudah menunggu Mama di sana," ujarnya, memberitahu keberadaan suami dan anak perempuannya yang telah pergi lebih dulu.


Alvin ikut menoleh dengan perasaan yang sudah berkecamuk. Dia kemudian menggeleng dengan air mata yang hampir menetes.


"Tidak, Mah. Tidak ada siapa-siapa di sana, mungkin itu hanya karena Mama kangen sama Bapak dan Alin." Alvin jelas tidak percaya dengan ucapan sang ibu tentang keberadaan ayah dah adiknya.


Ganis hanya tersenyum, melihat kepanikan yang kini tengah membuat Alvin resah.


"Aku mohon jangan tinggalin aku, aku masih ingin bersama Mama." Alvin menggeleng dengan air mata yang sudah menetes, suara berubah terdengar parau, dan napas yang terengah. Tidak ada lagi wajah tenang di sana.


Jani yang mendengar itu pun ikut meneteskan air mata, dia mengelus pelan punggung Alvin berusaha untuk menenangkan laki-laki yang kini sedang ketakutan itu.aq


Disaat bersamaan Tuan Gemang dan Nyonya Hartari datang dengan wajah yangg panik. Jani mundur memberikan ruang untuk pasangan tua itu.


"Aku ke luar dulu," pamitnya pada Alvin yang hanya dibalas anggukan oleh laki-laki itu.


"Ganis, kamu sudah bangun sayang. Apa yang sekarang kamu rasakan, hem? Apa ada yang sakit?" tanya Nyonya Hartari dengan nada khawatir.


"Syukurlah sekarang kamu sudah sadar, Nak. Maafkan Bapak, telah berbuat egois selama ini. Bapak tidak pernah bisa mengerti perasaan kamu, Nak." Tuan Gemang ikut berbicara denggan mata yang terlihat memerah, menahan rasa sesal dan kecewa atas apa yang telah terjadi pada keluarganya selama ini.


Tuan Gemang merasa sudah gagal menjadi seorang pemimpin, bagi keluarganya sendiri. Kejadian ini, jelas membuatnya begitu terpuruk sekarang.


"Ibu, Bapak." Ganis tersenyum melihat kedatangan Tuan Gemang dan Nyonya Hartari di sana. Matanya terlihat berbinar, memancarkan rasa rindu yang teramat besar.


"Maafin, Ganis ya, Pak, Bu," sambungnya lagi, dengan suara yang semakin lirih.


"Tidak, kamu tidak salah apa pun, Nak. Kami yang terlalu egois sebagai orang tua. Maafkan kami, Nak." Tuan Gemang menggeleng, dia berada di sisi kiri Ganis, di mana tadi Ganis mengatakan kalau di sana ada suami dan anak perempuannya.


Ganis hanya tersenyum menanggapi ucapan penuh penyesalan dari ayahnya, dia kemudian beralih lagi pada Alvin.


"Jaga diri baik-baik ya, Vin. Sudah saatnya kamu bahagia, sayang. Kami semua sayang kamu," ujar Ganis sebelum akhirnya kelopak matanya menutup rapat, bersamaan dengan hembusan napas terakhirnya.


"Tidak, Mah, jangan begini. Jangan tinggalin aku, Mah, Alvin mohon!" Alvin memeluk tubuh Ganis erat, dia tidak bisa kehilangan seseorang yang begitu dia sayangi lagi.


"Ganis!" Nyonya Hartari dan Tuan Gemang ikut terkejut, mereka berteriak melihat Ganis yang kembali tidak sadarkan diri.


"Mah, aku mohon jangan tinggalin aku!" Alvin berteriak histeris, dengan air mata yang berderai.


"Dokter ... dokter!" Tuan Gemang berteriak memanggil dokter jaga yang ada di sana.


"Mah, bangun, Alvin mohon." Suara Alvin terdengar begitu pilu, hingga membuat dokter yang baru saja datang pun terlihat enggan untuk melepaskan pelukan Alvin pada sang ibu.


Suara tangis bercampur racauan penuh penyesalan terdengar di ruang rawat Ganis, semuanya bersedih atas kembalinya Ganis pada pelukan Yang Maha Kuasa.


Jani, Indira, Ezra, dan orang yang berada di luar ruangan pun ikut merasakan kesedihan, begitu suara tangis itu terdengar dari dalam, menandakan bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi di dalam sana.


...****************...


Maaf atas keterlambatannya🙏🥺

__ADS_1


__ADS_2