
...Happy Reading...
.................
Alvin terdiam dengan tubuh mematung, dia tidak menyangka kalau kakeknya bisa tertidur lagi dengan pakaian shalat yang bahkan belum berganti.
Dia tersenyum kemudian menggeleng samar, kemudian masuk hendak membangunkan kakeknya.
"Kek, katanya gak boleh tidur kalau sudah subuh, kok sekarang malah, Kakek, yang tidur sih," omel Alvin.
Biasanya kakeknya akan sangat marah jika Alvin tidur lagi setelah shalat subuh, katanya nanti rejekinya seret, keduluan dipatok ayam yang udah berkokok sejak pagi buta.
"Kek, Ass–" Alvin terdiam saat tangannya bersentuhan dengan tangan kakeknya.
Terasa dingin, dan sangat lemas, ini bukan seperti tangan yang tertidur.
Alvin kembali melihat wajah kakeknya, dia baru menyadari kalau wajah kakek Darman terlihat pucat.
"Kakek, gak boleh tidur pagi-pagi, ayo bangun," ujar Alvin sedikit merengek, sambil menggoyangkan tangan kakeknya. Hatinya sudah tak karuan, dengan pikiran ingin menolak kenyataan yang ada.
Namun, kakeknya tidak kunjung membuka mata, bahkan tidak merespon panggilan Alvin sama sekali.
"Kakek, bangun, jangan bercanda, Alvin gak suka," ujar Alvin lagi, kini beralih pada tangan satunya.
Mata Alvin sudah tampak memerah, dengan pandangan yang mulai kabur, terhalang oleh air yang menumpuk di pelupuk. Dadanya terasa sesak, hingga terasa sulit untuk bernapas.
"Kakek, bangun, jangan tinggalin Alvin." Alvin terus menggoyangkan tubuh kakeknya dengan air mata yang sudah berjatuhan. Pikirannya kacau, dia hanya berharap kalau semua ini hanyalah mimpi.
"Kakek, bangun, ayo bangun, buka matanya, jangan tidur pagi-pagi nanti rejekinya dipatok ayam." Alvin terus meracau, dia benar-benar belum siap untuk ditinggalkan oleh sosok pengganti ayahnya itu.
Dia bahkan lupa untuk memanggil orang lain, tubuhnya lemas, kakinya serasa tidak mempunyai tenaga untuk hanya menumpu dirinya sendiri. Hatinya hancur, menyaksikan kenyataan yang kembali haru dia hadapi.
Sedangkan di dapur Imran yang merasa Alvin sudah terlalu lama di dalam kamar kakek, berinisiatif untuk menyusul, apalagi dia mendengar sayup suara tangis dari kamar kakeknya itu.
__ADS_1
Namun, saat dia berada di pintu, dia kembali mematung, melihat Alvin yang sudah menangis sambil memeluk tubuh kakeknya.
"Alvin, ada apa ini?" tanya Imran sambil berjalan menghampiri Alvin yang masih berusaha membangunkan kakeknya.
Alvin menoleh pada imran yang berada di belakangnya. Mata sembab dengan suara yang serak Alvin, juga wajah tenang Darman sudah bisa membuat Imran menyimpulkan sesuatu.
"Ran, tolong bangunkan Kakek. Kakek gak suka tidur pagi-pagi," lirih Alvin, yang langsung membuat jantung Imran bertalu.
Perlahan Imran melangkah menghampiri Alvin dan kakeknya, dia memeriksa denyut nadi meyakinkan dirinya sendiri, kalau sesuatu telah terjadi pada Kakeknya.
Imran langsung berlari ke luar untuk menemui semua orang yang tengah menunggu mereka di meja makan, demi memberi kabar pada semuanya.
"Nek, Pak, Mang, Kakek–" Imran tidak sanggup meneruskan perkataannya, tenggorokannya terasa kering hingga tidak bisa mengeluarkan suara lagi, dia hanya bisa menunjuk kamar agar semua orang yang ada di sana segera melihat ke kamar. Matanya tampak memerah, menahan tangis.
Melihat semua itu, tentu saja semua orang yang ada di sana langsung bangkit dan berjalan cepat menuju ke kamar, semuanya hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, ketika melihat Alvin yang menangis tersedu di samping Darman yang tampak masih menutup matanya.
Esih yang sadar paling awal langsung berlari dan memeluk suaminya sambil berteriak, tidak bisa menerima kenyataan yang telah terjadi dalam waktu singkat.
"Bapak, bangun, Pak. Ini sudah pagi! Pak, Bangun!" Esih terus berteriak berusaha membangunkan Darman yang sudah tidak bisa merespon sama sekali.
"Nek," ujar Alvin lirih sambil memeluk tubuh ringkih dan tua Esih.
"Vin, bangunin kakek kamu, Vin ... biasanya dia selalu mendengarkan apa pun yang kamu katakan," ujar lirih Esih yang semakin membuat hati Alvin teriris.
"Maaf, Nek. Maaf," lirih Alvin, sambil terus memeluk Esih. Sampai tiba-tiba tubuh Esih terasa lemas. Esih tidak sadarkan diri.
Ayah Imran membantu Alvin memapah Esih, untuk dibaringkan di kamar Alvin. Alvin terdiam bersama neneknya, mereka sedang saling menguatkan menghadapi sebuah kehilangan orang yang sama-sama mereka berdua sayangi.
Imran, ayahnya, dan para saudara mereka pun bergantian mengucapkan kata perpisahan untuk Darman, laki-laki tua yang merupakan pahlawan untuk Alvin, kini telah berpulang pada Yang Maha Kuasa.
Sesuatu yang sangat mengejutkan, mengingat selama ini perkembangan kesehatan Darman terus membaik. Semua keluarga sudah optimis kalau Darman akan segera sembuh dan bisa beraktivitas sepertibiasanya lagi.
Namun, ternyata Tuhan memiliki kehendak yang lain, Dia lebih menyayangi Darman dan memanggilnya untuk segera kembali.
__ADS_1
Esih berulang kali tak sadarkan diri di pelukan Alvin, wanita tua yang sudah berumah tangga dengan Darman selama lebih dari empat puluh tahun itu, tak kuasa menahan kesedihan karena telah kehilangan sandaran hidupnya.
"Vin, kamu harus kuat, demi Nenek, dia butuh kamu sekarang," ujar Imran yang sedang membantu Alvin bangun.
Kini Esih dibiarkan beristirahat di kamar milik Alvin, ditemani oleh ibunya Imran, sedangkan para paman dan Bibi Alvin yang lain berbagi tugas untuk menyiapkan pengurusan jenazah dan pemakaman.
Alvin melihat Imran, sungguh kini hatinya benar-benar hancur untuk kesekian kalinya. Dia kembali harus menghadapi pahitnya kehilangan orang yang sangat dia sayangi di dalam hidupnya.
Alvin menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, agar hatinya yang sesak sedikit mendapatkan ruang. Dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian membaca yasin di samping jenazah kakenya.
Hari semakin siang, kini para pelayat sudah mulai berdatangan, banyak kata sabar dan tabah Alvin dengar dari para tetangga dan kerabat yang datang.
Namun, semua itu tidak bisa sedikit pun menghibur kesedihan di dalam hatinya, lagi-lagi panutan di dalam hidupnya diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa. Ingin rasanya Alvin marah dan bertanya, apa salahnya? Kenapa dia selalu kehilangan orang-orang yang dia jadikan sandaran dan semangat untuk hidupnya?
Akan tetapi, Alvin sadar jika dirinya tidak mempunyai hak untuk protes pada setiap ketentuan yang Tuhan berikan untuknya. Nasihat sang kakek yang tadi malam diucapkan untuknya, kini terasa begitu berat untuk Alvin melakukannya.
Alvin berdiri tegap dengan pundak menahan keranda berisi jenazah kakeknya, dia berjalan di depan bersama tiga orang lainnya, yang merupakan anak menantu Kakek Darman.
Dengan menahan rasa sesak di dada, Alvin mengantarkan Kakek Darman ke tempat peristirahatan terakhirnya, dia bahkan masuk ke dalam liang lahat, untuk menerima Kakek Darman dan membaringkannya, di rumah terakhirnya.
Setelah semuanya siap, kini tanah mulai diturunkan untuk menutup liang lahat, Alvin perlahan naik ke atas sambil meratakan tanah yang perlahan menelan raga tak bernyawa di dalam sana.
Kakek sekarang sudah bisa bertemu dengan Bapak dan Alin, ya? Tolong sampaikan salam Alvin sama Bapak dan Alin ya, Kek. Katakan kalau Alvin kangen. Alvin bergumam di dalam hati, sambil terus meratakan tanah di bawah kakinya.
Terima kasih, Kakek selalu ada untuk Alvin, sejak Bapak meninggal. Kakek adalah pahlawan dan panutan untuk Alvin, setelah Bapak. Alvin senang dan bangga mempunyai Kakek, sambung Alvin.
Esih tidak bisa ikut, wanita tua itu tidak sanggup melihat suaminya harus tenggelam dan kembali ke dalam tanah. Entah berapa kali wanita tua itu tidak sadarkan diri, karena masih belum bisa menerima kenyataan.
Peletakan nisan dan tabur bunga di atas makam dilakukan, menandakan proses pemakaman sudah selesai. Alvin berjongkok di samping makam, masih ingin menyangkal kalau semua ini benar terjadi.
Dia selalu berharap dirinya masih berada di alam mimpi. Alam bawah sadarnya masih menolak percaya kalau kakeknya sudah meninggalkannya untuk selamanya.
Selamat beristirahat, Kek. Sekarang, Kakek, sudah gak sakit lagi. Kakek juga gak perlu untuk cape-cape kerja lagi. Semua kewajiban Kakek di dunia ini sudah selesai. Tidurlah dengan tenang, Alvin akan berusaha ikhlas.
__ADS_1
Alvin mengusap nisan dengan nama Kakeknya, dia berusaha untuk tidak meneteskan air mata.
.................