ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Mata yang ternoda


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Setelah perkenalan singkat itu, mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama, Alvin berjalan di belakang Ezra dan istrinya, sedangkan Naura sudah berlari ke dalam terlebih dahulu.


Begitu kakinya menginjak ke dalam rumah, suasana mewah dengan berbagai pajangan yang memperindah seisi ruangan, membuat Alvin terpana.


'Wah, ini mah bukan rumah, tapi, istana. Mewah banget ya, aku belum pernah melihat rumah semewah ini sebelumnya, gumam hati Alvin, menatap takjub setiap pengaturan ruangan yang terlihat sangat epic dan begitu rapi.


"Duduk dulu, Vin. Aku ke atas dulu," ujar Ezra, sebelum melangkah pergi meninggalkan Alvin.


"Iya, Pak." Alvin mengangguk sopan.


'Lalu aku disuruh ngapain ikut ke sini? Malah ditinggal pergi,' bingung Alvin dalam hati.


Alvin duduk di ruang keluarga, tidak jauh dari tempatnya terlihat tempat khusus untuk bermain anak-anak, itu semua terlihat dari desain yang lucu dan banyaknya mainan. Terlahir Naura pun sedang berada di sana.


Pehatiannya kemudian tertuju pada gadis kecil yang merupakan anak dari bosnya itu, yang sedang bermain berbagai macam lego dengan salah satu pelayan di sana. Alvin pun kemudian beranjak, mendekati gadis kecil itu.


"Hai, Gadis kecil, sedang main apa?" tanya Alvin, ikut duduk di depan Naura.


"Hai, Om Al, aku lagi main susun lego. Om, mau ikutan?" tanya Naura, dengan tatapan polos yang selalu membuatnya gemas. Tangannya masih subuh menghubungkan satu potongan lego dengan yang lainnya.


"Boleh. Gadis kecil, sedang buat apa?" tanya Alvin, mulai mengambil satu per satu lego yang berserakan di depannya.


"Aku lagi buat rumah, Om. Om Al, mau buat apa?" Naura tampak melihat, beberapa  lego yang sudah mulai disusun oleh Alvin.


"Om, mau buat apa ya? Kalau, Gadis kecil, mau dibuatin apa sama, Om?" tanya Alvin, dia sedikit mencondongkan tubuhnya sambil tersenyum senang.


"Om, mau buat  untuk aku?" tanya Naura dengan penuh semangat, dan mata ya g berbinar.


"Mau dong. Memang, Gadis kecil mau dibuatkan apa?" tanya Alvin lagi.


Naura tampak berpikir dengan wajah dibuat serius, kedua manik mata hitam itu melihat ke atas sebelah kanan, dengan salah satu telunjuk tangannya dia ketukkan di atas dagu.


"Emh, bikin apa ya?" gumam Naura, lebih bertanya pada dirinya sendiri.


Alvin tak dapat lagi menahan kekehan kecil di karena melihat tingkah lucu gadis di depannya.


Naura tampak mengalihkan perhatiannya pada asisten baru ayahnya itu.


"Om Al, kenapa ketawa?" tanya polos Naura.


Alvin menghentikan kekehannya, dia pun mengusap tengkuknya, merasa canggung dan malu sendiri.


"Eh, gak apa-apa. Naura lucu sih, jadinya bikin Om gemes," jawab Alvin.

__ADS_1


"Aha! Aku mau dibuatin istana sama, Om Al, untuk aku sama dede Zain," ujar Naura, memberi keputusan.


'Zain? Itu pasti nama bayi yang tadi berada di gendongan Bu Nindi, batin Alvin.


"Istana? Bukannya, Gadis kecil, sudah membuat rumah?" tanya Alvin, merasa heran dengan permintaan Naura.


Entah kenapa Alvin lebih suka memanggil anak bosnya itu dengan sebutan gadis kecil, dibandingkan memanggilnya dengan nama.


"Ya, gak apa-apa dong, anggap aja ini rumah untuk berlibur, seperti rumah papah yang ada di puncak. Nah, kalau istana yang dibuat sama, Om Al, buat aku dan dede Zain tinggal, kayak rumah mama sama papah di sini," jelas Naura dengan gaya polosnya.


'Ah iya, dia kan anak orang kaya, pasti dia sering pergi ke rumah Pak Ezra dan Bu Nindi yang lain. Alvin, kamu bodoh sekali sih'


Alvin merutuki dirinya sendiri, begitu menyadari pikirannya yang terlalu dangkal.


'Anak orang kaya memang beda' sambungnya lagi, menatap Naura dengan tatapan takjub, sambil menggeleng samar.


"Gimana? Om Al, mau gak buatin aku istana?" tanya Naura, memastikan kesediaan Alvin.


"Mau dong. Gimana kalau kita buat sama-sama?" tanya Alvin, sambil terus meumpuk lego di tangannya.


"Ayo!" angguk Naura dengan penuh semangat.


Mereka berdua pun mulai menyusun setiap keping lego bersama, membentuk sebuah istana impian Naura.


"Assalamuaaikum!"


"Waalaikumsalam, Uncle, Aunty!" teriak Naura langsung bangun dan menghampiri dua orang itu.


Alvin pun langsung bangun, dan berjalan mengikuti Naura, saat melihat kedatangan Keenan dan satu orang wanita di sampingnya.


"Pak, Keenan," sapa Alvin sambil sedikit menganggukkan kepala sopan.


"Oh, Alvin, kamu sedang apa di sinj? Pasti dikerjain sama Kak Ezra kan?" tanya Keenan sambil terkekeh.


Alvin mengernyit, dia sedikit bingung dengan pertanyaan Keenan, karena dirinya tidak merasa sedang dikerjai saat ini.


'Apa maksudnya? Aku gak merasa dikerjai sama Pak Ezra? gumam Alvin dalam hati.


Keenan yang melihat ekspresi bingung asisten baru dari Ezra itu, malah tertawa semakin lebar.


"Kamu di suruh Kak Ezra nunggu dia di sini kan? Sudah berapa lama?" tanya Keenan di sela tawanya.


Alvin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tiga puluh menit lebih, Pak," jawab Alvin, karena terlalu asyik bermain dengan Naura dia jadi lupa waktu.


'Sudah lama juga, ternyata' gumam Alvin, terkejut dengan jawabannya sendiri.

__ADS_1


"Nah itu kamu tau, hahaha ... mereka itu gak bakal turun dalam waktu sebentar, kalau sudah berdua. Maklum saja sih, namanya juga bucin," ujar Keenan, menjelaskan kebiasaan kakaknya yang tidak bisa sebentar berada di dekat istrinya.


Alvin cukup terkejut mendengar perkataan dari Keenan, dia mengusap tengukknya dengan senyum canggung. Alvin merasa malu sendiri, karena ternyata sejak tadi dia sedang menunggu orang yang entah sedang apa di dalam rumah.


"Sudah tidak usah canggung seperti itu, nanti kamu juga harus terbiasa dengan kemesraan mereka yang kadang gak tau tempat." Keenan masih merasa lucu melihat ekspresi dari asisten baru kakaknya.


"Iya kan, sayang?" tanya Keenan pada wanita di sampingnya, sambil merangkul pinggang wanita itu, seolah sedang mencari dukungan atas perkataannya.


"Oh ya, Vin, ini Riska, istri aku." Keenan kini mengenalkan wanita di sampingnya pada Alvin.


'Oh, ternyata ini istrinya Pak Keenan, batin Alvin, sambil tersenyum tipis pada wanita di samping adik dari bosnya.


"Sayang, ini Alvin, yang akan menggantikan aku menjadi asisten Kak Ezra," sambung Keenan lagi, beralih menatap wanita di sampingnya.


"Riska," ujar wanita di samping Keenan sambil mengulurkan tangannya, membuat Alvin menjabat menyambutnya.


"Alvin, Bu," jawab Alvin.


Baru saja tangan keduanya bertaut, Keenan sudah menarik kembali tangan istrinya dengan tatapan tajam pada Alvin.


'Astagfirullah, salah apa lagi aku? batin Alvin merasa bingung saat melihat tatapan tajam Keenan padanya.


"Gak usah lama-lama!" sinis Keenan.


Wanita di samping Keenan hanya mencebikkan mulutnya, kemudian berjongkok untuk berbicara dengan Naura.


'Dia menertawakan Pak Ezra bucin, lah dia sendiri apa namanya? Astaga, mataku kenapa jadi ternoda begini?'


Alvin meracau dalam hati, melihat perilaku para bos barunya itu, yang tidak sungkan berlaku mesra dihadapannya.


'Kayaknya aku memang harus bersiap untuk melihat pemandangan seperti ini kapan saja mereka mau?'


Kembali Alvin bergumam miris di dalam hati, meratapi nasib matanya yang masih suci itu. Akh, sepertinya tidak suci sepenuhnya juga sih.


"Oh iya, tadi Kak Ezra menyuruhku untuk mengajarimu mobilnya, kita belajar sekarang saja. Bagimana?" tanya Keenan, mengingat pesan dari kakaknya.


"Iya, Pak. Saya masih bingung dengan cara mengendarai mobil milik Pak Ezra," angguk Alvin.


"Eggak boleh, aku sama Om Al lagi bikin istana, jadi gak boleh diganggu!" potong Naura langsung dengan wajah yang berubah cemberut.


"Eh, Rara, main sama Aunty aja ya?" bujuk istri Keenan.


"Gak mau, aku mau buat istana sama Om Al," tolak Naura.


"Eh, ada apa ini? Kenapa, Kak Rara?" tanya istri Ezra yang baru saja datang.


Alvin lagi-lagi meringis melihat anak dari bosnya merajuk karenanya.

__ADS_1


......................


__ADS_2