
...Happy Reading...
......................
Alvin, Imran, Nenek Esih, dan Mang Lukman, sedang menikmati makan siang bersama di rumah makan, saat tiba-tiba saja Indira datang menyapa.
"Vin, kamu juga ada di sini?" tanya Indira yang terlihat baru saja datang bersama tunangannya.
"Iya, Nona. Kebetulan kami sedang makan bersama," jawab Alvin sambil berdiri di depan Indira dan tunangannya yang menatap Alvin penuh kebencian seperti biasa.
Indira tampak menoleh melihat tiga orang lain di meja Alvin. "Mereka keluargamu?" tanya Indira.
"Benar, Nona, itu Nenek, dan saudara saya," angguk Alvin ramah.
"Halo, selamat siang semuanya, perkenalkan saya Indira, atasan Alvin," ujar Indira tiba-tiba, membuat Alvin terkejut dengan sikap bos cantiknya itu.
Selama ini Indira terus saja bersikap dingin dan sombong padanya, Alvin bahkan tidak bisa mengira kalau Indira bisa bersikap ramah pada orang lain kecuali pada para petinggi perusahaan dan klien, serta orang-orang yang dianggapnya penting saja.
"Oh, selamat siang, Bu. Perkenalkan saya Imran, saudara Alvin." Seperti biasa, imran bergerak cepat, bila itu adalah seorang perempuan.
Indira hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Sayang, ayo." Tunangan Indira tampak bergerak tidak nyaman.
Indira mengalihkan perhatiannya pada sang tunangan, kemudian berpamitan kepada Alvin dan yang lainnya.
"Selamat atas wisudamu, untuk merayakannya biarkan aku yang membayar semua makananmu di sini. Pesan apa pun yang mereka mau, jangan sungkan," ujar Indira pada Alvin sebelum dia pergi.
Alvin terdiam beberapa saat, dia semakin terkejut dengan perkataan Indira padanya. Sejak kapan bosnya itu menjadi sangat baik padanya? Dia bahkan tidak pernah mengira semua itu.
"Alvin, kamu dengar tidak?" tekan Indira, saat melihat sekretarisnya itu hanya terdiam.
__ADS_1
"Ah, i–iya, Nona, saya mengerti. Terima kasih untuk semuanya," ujar Alvin sambil membungkuk sekilas.
"Sudahlah, ini bukan hari kerja, jadi tidak usah formal begitu." Indira tampak tidak nyaman, dia kemudian pergi menuju ruang makan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Alvin hanya melihat kepergian Indiri hingga wanita itu menjauh darinya. Dalam hati Alvin bertanya-tanya, ada apa dengan bos cantiknya hingga dia bisa melakukan semua ini pada dirinya.
"Vin, bukannya bos kamu itu laki-laki yang datang saat Kakekmu meninggal? Kenapa sekarang berganti jadi perempuan?" tanya Nenek Esih, yang belum tahu masalah Alvin dan keluarga Jani, termasuk Arkan.
"Oh, itu–" Alvin menggaruk belakang kepalanya bingung mau mengatakan apa.
"Itu, gimana? Bukannya bos kamu itu baik banget, dia sampai rela datang ke kampung, hanya untuk menghadiri pemakaman Kakek kamu, Vin?" kejar Nenek Esih.
Itu semua karena Jani, bukan karena kemauannya sendiri, Nek, batin Alvin menjawab.
"Bukan begitu, Nek. Tapi, karena ada seuatu, aku harus pindah kerja, jadi sekarang aku bekerja dengan Nona Indira." Alvin mencoba menjelaskan.
"Masalah apa? Apa kamu membuat masalah di sana? Kenapa kamu gak bilang sama Nenek, Vin?" tanya Nenek Esih.
"Ah, itu biasa, Bi. Namanya juga anak muda, pasti sedang ingin banyak mencari pengalaman, biarkan saja lah, Bi." Mang Lukman menyela, saat melihat Alvin yang kembingungan.
"I–iya, Nek," angguk Alvin, langsung membenarkan perkataan mang Lukman. Dia menghembuskan napas lega, merasa sangat terbantu dengan jawaban Mang Lukman.
Acara makan mereka pun berjalan lancar, semuanya tampak puas dengan makanan yang mereka pesan dari restoran itu, hingga semuanya makan dengan lahap.
Berbeda dengan Indira yang berada di ruangan khusus VIP rumah makan itu, dia sedang beradu mulut dengan tunangannya, karena tadi Indira menyapa Alvin, yang menurut tunangannya itu adalah sesuatu yang sangat tidak penting.
"Ngapain sih kamu malah menyapa dia, hah? Kamu juga belum memecatnya sebagai sekretarismu? Bukannya orang tuamu sudah menyuruh kamu untuk memecat dia sejak lama?!" cecar Edhar dengan tatapan mata tajam.
"Aku hanya ingin terlihat baik di depan semua keluarganya, apa salah? Lagi pula selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan, lalu dengan alasan apa aku harus memacat dia," bantah Indira dengan kening berkerut dalam.
"Dia bekerja di kantorku, dan aku yang tau bagaimana dia selama ini, jadi kamu ataupun orang tuaku, tidak bisa ikut campur urusan pekerjaan, apalagi sampai menyuruhku memecat mereka tanpa ada alasan yang jelas," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Orang tua kamu menyuruh kamu melakukan itu, pasti sudah memiliki alasan, apa susahnya kamu menurut saja pada mereka?" debat Edhar lagi.
"Aku tidak akan melakukan itu, sebelum aku tau semuanya. Dia pekerjaku, dan hanya aku yang bisa mengeluarkannya dari kantorku! Kamu sebagai tunanganku, harusnya berpihak padaku bukan pada mereka!" tekan Indira tidak mau dibantah.
Edhar akhirnya memilih diam, daripada harus terus berdebat dengan Indira. Dia memang sangat mencintai Indira, hingga apa pun akan dia lakukan untuk terus bersama dengan tunangannya itu.
Edhar melihat Alvin sebagai seorang saingan, dan itu segera menemukan jalan keluar saat orang tua Indira menyuruh Indira untuk mengeluarkan Alvin dari kantor. Edhar tentu langsung menyetujui keinginan orang tua Indira dan mendukungnya. Itu adalah jalan pintas agar Indira bisa jauh dari laki-laki lain, terutama Alvin.
Namun, ternyata semua itu tidak semudah yang dia bayangkan. Indira menolak untuk mengeluarkan Alvin, menurut Indira, Alvin adalah seseorang yang berbakat dan pintar dalam mengendalikan situasi. Pemikirannya tentang kemajuan perusahaan juga sangat bagus, hingga dia tidak bisa mengeluarkan Alvin dengan alasan yang jelas.
Indira ikut terdiam, dia menatap kesal Edhar yang terus saja memihak pada kedua orang tuanya. Padahal saat ini dirinya sedang membutuhkan dukungan dari tunangannya itu. Napasnya tampak memburu menahan emosi.
"Baiklah, kalau kamu memang mau aku mengeluarkannya dari kantor, maka cari tau dulu apa sebenarnya niat dari orang tuaku, kenapa mereka sampai memaksaku untuk melakukan itu," ujar Indira tiba-tiba.
"Maksud kamu, kamu curiga pada orang tua kamu sendiri?" tanya Edhar dengan mata menyipit, dia tidak menyangka kalau Indira bisa berpikir seperti itu pada orang tuanya sendiri.
"Aku hanya takut kalau Alvin adalah salah satu anak dari hubungan gelap papahku lagi, sama seperti Roy," lirih Indira.
Ya, ayahnya adalah seorang laki-laki tukang selingkuh ulung, dia bahkan sampai mempunyai anak dari seorang wanita di luar nikah, dan sekarang terpaksa menjadi Kakak tirinya. Semenjak ibunya Indira meninggal karena sakit, sejak itu ayahnya Indira mengungkapkan kalau dirinya telah menikah secara sirih dengan wanita selingkuhannya itu.
Melihat gelagat dari kedua orang tuanya yang menginginkan Alvin menghilang, membuat Indira curiga, jika Alvin adalah anak yang disembunyikan oleh ayahnya, karena hasil dari hubungan gelapnya lagi.
Sikap ibu tiri Indira yang lebih dominan, pasti bisa menekan ayahnya untuk tidak memedulikan lagi anak-anaknya yang lain, termasuk dirinya sendiri.
"Astaga! Mana mungkin seperti itu, Dira. Kamu jangan menuduh orang tuamu sembarangan," ujar Edhar lebih memilih membela calon mertuanya itu.
"Ck! Ya sudah kalau gak mau percaya gak usah belain mereka juga, aku sudah pusing dengan semua ini," decak Indira kesal.
Acara makan sepasang kekasih yang baru saja bertemu itu, akhirnya berakhir kacau karena masalah Indira dan kedua orang tuanya, yang melibatkan Alvin di dalamnya. Bahkan tanpa Alvin sendiri tahu masalah ini.
......................
__ADS_1