
...Happy Reading...
......................
Setelah menyelesaikan jam kuliahnya, Alvin langsung pergi ke alamat tempat kerja Lukman, yang tadi malam dia dapatkan.
Ternyata tempatnya cukup mudah dicari, apalagi di dekat sana ada halte bis yang aktif, mengingat itu adalah kawasan yang cukup ramai.
Alvin berhenti di pinggir jalan, tepat di depan lokasi pembangunan yang masih ditutup oleh lembaran seng.
Matahari yang terik siang itu, langsung menerpa laki-laki remaja yang baru mau menginjak delapan belas tahun. Keningnya tampak berkerut dalam, otomatis melindungi matanya dari tajamnya sinar matahari.
Alvin melihat penampilannya, dia sudah mengganti bajunya dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan. Persis seperti orang yang ingin melamar kerja di kantor.
Merapihkan lagi baju yang dirasa sedikit kusut, sebelum berjalan menuju lokasi pembangunan gedung bertingkat di depannya.
"Huh! Bismillah ... semoga aku bisa dapat pekerjaan di sini," do'a Alvin.
Alvin perlahan masuk ke daerah pembangunan, hingga tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.
"Dek, di sini daerah hanya untuk pekerja, selain itu dilarang masuk," ujar lelaki berpakaian petugas keamanan.
Ya, walaupun Alvin mempunyai postur tubuh yang tinggi dan sedikit beotot. Akan tetapi, wajahnya yang tampak masih sangat muda tidak bisa mmebohongi orang-orang.
"Iya, Pak. Tapi, saya sudah ada janji dengan Pak Lukman," jawab Alvin.
"Oh, kamu sudah punya janji," angguk petugas itu.
Alvin akhirnya dibolehkan masuk, sekaligus diberi tahu di mana keberadaan Lukman.
Dia mengedarkan pandangannya melihat lahan pembangunan yang sangat luas, para pekerja tampak sibuk berlalulalang, mengejakan pekerjaannya masing-masing.
Dari yang menggunakan mesin canggih, sampai ada yang masih manual menggunakan tantangan manusia. Para mandor dan petinggi yang mengawasi setiap pekerja di grup masing-masing pun, terlihat fokus dan tegas, tidak membiarkan ada satu orang pekerja pun yang bermalas-malasan.
Alvin menatap takjub, bagaimana para pekerja itu menahan lelah, demi mengakses rezeki untuk menafkahi keluarganya.
Dulu bakanya pernah bercerita jalan dia juga pernah menjadi kuli bangunan di tempat seperti ini, saat bapak baru saja menikah dengan ibunya.
Mereka hidup prihatin selama bertahun-tahun, hingga setelah dua tahun menikah, ibunya hamil dan melahirkan dirinya. Keuangan mereka perlahan mulai naik.
__ADS_1
Ibu yang awalnya hanya penjaga warung nasi, untuk menambah penghasilan, akhirnya bisa membuka warung nasi sendiri di dekat tempat kerja bapak, semua pekerja akhirnya makan di warung ibu, hingga pembangunan selesai dan dia berusia lebih dari dua tahun, mereka berhasil menyewa ruko untuk mengembangkan usaha ibu.
Bapak yang sering bekerja jauh dari rumah, membuat ibu bekal dari rumah sering basi atau menjadi tidak enak lagi. Apa lagi jika sedang ada proyek di luar kota, maka ibu tidak bisa lagi memasak untuk bapak.
Dari situ ibu mencoba membuat inovasi, agar makanan yang dia masak bisa bertahan lama, itu semua berhasil. Semua itu menjadi awal usaha mereka semakin berkembang, karena bapak juga ikut memasarkan produk istrinya.
Hingga akhirnya bapak memilih ke luar dari proyek dan membantu ibu menjalankan usaha. Mereka nekat meminjam uang ke bang dan mencari orang yang mau memberi modal agar usahanya semakin meningkat.
Hingga lima tahun kemudian bapak berhasil mendirikan perusahaan makanan siap saji dan frozen food, yang cukup dikenal, juga menjajikan dalam keungan.
Perusahaan itu cukup berkembang dengan pesat, berkat kepintaran kedua orang tuanya, reseler dan cabang berada di hampir seluruh Jawa, dan terus berkembang seiring berjalannya waktu.
Relasi bisnis bapak juga semakin banyak, begitu juga dengan musuh yang mulai bermunculan. Mulai dari sesama pengusaha, sampai orang-orang yang tidak suka dengan kesuksesan mereka.
Hingga akhirnya saat dirinya menghadapi ujian kenaikan kelas, bapak tidak bisa lagi mempertahankan usaha yang dia bangun. Mereka difitnah menggunakan bahan terlarang dan melakukan pelanggaran prosedur pembuatan makanan siap saji.
Ditambah lagi dengan kecelakaan kerja di pabrik, hingga mengakibatkan satu orang meninggal dunia, dan beberapa karyawan luka-luka.
Semua aset disita, harta yang dikumpulkan dengan susah payah selama beberapa tahun, akhirnya harus hilang dalam sehari, karena mereka kalah di pengadilan.
Bapak dan ibu memulai semuanya dari awal, bapak bekerja di salah satu relasi bisnis sebagai seorang supir. Mereka tidak bisa menolong lebih, mengingat bapak yang terlanjur sudah mendapat blacklist dari dunia bisnis.
Ibu pun kembali mencoba membuat kue dan menitipkannya di warung-warung, untuk menambah penghasilan.
Alvin mengepalkan tangannya, saat mengingat masa lalu dirinya dan keluarganya. Andai saja bapak memberitahu orang yang telah memfitnah mereka, setidaknya dia bisa membalas dendam untuk semua penderitaan yang mereka sebabkan.
Namun, bahkan sampai bapak meninggal, bapak tidak pernah memberi tahu nama orang jahat itu. Walaupun Alvin terus mendesak, bapak tetap berada dalam pendiriannya.
Entah apa alasannya, Alvin juga tidak tahu. Mungkin hanya bapak, ibu, dan tuhan yang tahu.
Alvin menghembuskan napas kasar, terlalu sakit di dalam hati saat mengingat kekejaman dunia bisnis.
"Dek, kok malah melamun?" tepukan di pundak, menyadarkan Alvin dari lamunannya.
"Ah maaf, Pak. Aku cuman takjub aja melihat luasnya lahan pembangunan ini," jawab Alvin memberi alasan.
"Ini pertama kalinya, kamu melihat lahan pembangunan?" tanya petugas keamanan yang bertugas mengantarnya.
"Iya, Pak. Hehe." Alvin menggaruk tengkuknya menghilangkan kecanggunganya.
__ADS_1
Petugas keamanan itu mengangguk-anggukkan kepalanya samar. Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan untuk menemui Lukaman.
"Assalamualikum, Mang," ujar Alvin begitu dia berdiri di belakang Lukman.
Lukman yang sedang mengobrol dengan beberapa orang lainnya, menoleh ke arah Alvin.
"Vin, kamu udah sampai," ujar Lukman sambil menepuk pundak Alvin.
"Iya, Mang," jawab Alvin.
Lukman tampak tersenyum kepada dua orang di depannya, kemudian mengenalkan Alvin.
"Kenalkan ini Alvin, saudara jauh aku. Dia yang akan menjadi tenaga tambahan di kelompok pengecatan besi," ujar Lukman kepada dua orang paruh baya itu.
Ternyata mereka adalah mandor dan kepala kelompok, tempat mereka bekerja nanti.
Dua orang paruh baya itu melihat Alvin yang tampak rapih, saling lirik dan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala, walau terlihat sekali keduanya menahan tawa.
"Kamu yakin anak ini akan kuat bekerja di posisi itu?" tanya salah satu laki-laki dengan kumis tebalnya.
"Dia pekerja keras sejak di kampung dia sudah sering membantu para petani dan bekerja di ladang. Aku yakin dia pasti bisa bertahan bekerja di sana." Lukman membela Alvin.
Kedua orang itu hanya mengangguk dengan tatapan ragu, mengingat Alvin masih sangat muda dan dianggap belum memiliki tanggung jawab.
Biasanya anak-anak remaja seusia Alvin hanya ingin mencoba dan mencari pengalaman, hingga paling bertahan beberapa hari, lalu berhenti saat mereka merasa tidak kuat.
Mereka belum mempunyai tanggung jawab untuk memberi nafkah istri atau anak, seperti orang dewasa. Hidupnya masih bebas dan merasa bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, makanya mereka suka bergonta-ganti kerja seenaknya.
Namun, yang mereka tidak tahu adalah, Alvin memang tidak memiliki tanggung jawab untuk orang lain. Akan tetapi, dia memiliki ambisi yang kuat untuk merubah kehidupannya.
Alvin akan terus berusaha untuk mencapai semua ambisisnya dan tujuan hidupnya, walaupun harus mengerjakan pekerjaan yang sangat keras sekalipun.
Hari ini Alvin dibawa melihat tempat dia bekerja dan bagaimana dia bekerja, yang kan dimulai besok, setelah Alvin selesai kuliah.
Karena Alvin masih kuliah, jadi dia menjadi pekerja paruh waktu, yang akan bergabung dengan kelompok pengecatan besi. Gaji yang diterima cukup banyak setiap harinya, walaupun pekerjaannya juga sangat beresiko.
Setelah semuanya selesai, Alvin akhirnya pulang bersama Lukaman, bersama dengan jam kerja selesai.
Ada juga beberapa pekerja yang memilih lembur, untuk menambah penghasilan.
__ADS_1
......................
Kenangan akan terus ada, menjadi bagian di dalam hidup sampai ajal menjemput.