
...Happy Reading ...
......................
Akhir pekan yang sangat Alvin tunggu akhirnya terjadi juga, kini Alvin sedang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang terlihat ramai lancar.
Angin yang menerpa selama perjalanan terasa sangat menyejukkan, saat dia membayangkan wajah ibunya yang sudah sangat dia rindukan.
Setelah sekian lama bekerja dengan bos baru yang membuatnya sangat sibuk, mulai dari mengurus perusahaan sampai mengurus masalah keluarga bosnya, hingga kemarin dia juga harus terjun untuk membantu mengurus acara aqikah anak kedua bosnya yang bernama Zain.
Walau Alvin sendiri tidak memungkiri, itu semua memakan waktunya cukup banyak, hingga kini tidak ada lagi kata senggang di hidupnya, bahkan hanya untuk menemui ibunya.
Beberapa saat kemudian, Alvin sudah berhasil menghentikan motornya di area parkir rumah sakit. Alvin masuk ke rumah sakit tempat ibunya dirawat.
Hari ini dia belum mendapatkan telepon dadakan dari bosnya yang suka sekali memberikan tugas tiba-tiba itu. Makanya dia menyempatkan diri untuk mengunjungi ibunya, sekaligus membayar biaya perawatan ibunya.
Alvin langsung menuju ruang administrasi untuk mengurus biaya perawatan ibunya lebih dulu, sebelum bertemu dengan dokter yang sudah membuat janji dengannya, kemudian menemui ibunya di tempat biasa.
Beberapa saat berselang, kini Alvin sudah berada di kursi taman tempat favorit ibunya menghabiskan hari. Tentu saja bersama dengan wanita paruh baya itu, yang kini duduk di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Ganis.
"Mah, Maaf ya akhir-akhir ini Alvin jarang menjenguk, Mama, di sini," ujar Alvin lirih sambil melihat reaksi dari Ganis.
Ganis tampak menatap Alvin, matanya tampak terlihat berkaca-kaca walau tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.
"Alvin sekarang udah sibuk kerja lagi, makanya jarang ke sini. Maafin Alvin ya, Mah," ujar Alvin tersenyum lembut, tangannya perlahan terulur untuk menggenggam tangan kurus ibunya.
Ketika dirasa tidak ada reaksi lagi, Alvin baru kembali berbicara.
"Mamah, gimana di sini? Baik-baik saja kan? Alvin senang kalau sekarang Mama baik-baik aja." Alvin bertanya dan menjawabnya sendiri.
"Mah, Alvin sekarang kerja di keluarga Pak Darmendra, tepatnya bersama anak sulungnya. Mamah, ingat gak sama teman Bapak, yang nolongin kita disaat Bapak bangkrut?"
__ADS_1
"Ah, pasti Mamah udah lupa ya, itu kan sudah lama sekali." Alvin kembali berbicara.
"Mereka baik, Mah. Alvin juga bisa merasa ikut serta di dalam kebahagiaan keluarga Darmendra ... Alvin seperti memiliki keluarga baru," ujar Alvin lagi, memulai ceritanya pada sang Mama.
Ingatannnya bergulir pada saat dia membantu acara aqikah anak bosnya, di sana dia bisa melihat bagaimana kebahagiaan keluarga itu yang bahkan bisa dia ikut rasakan, walau dirinya bukanlah bagian keluarga besar itu.
Alvin berbicara dan bercerita banyak pada Ganis tentang kesehariannya, hingga tidak terasa hari pun berangsur siang, dan Ganis harus kembali ke kamarnya untuk makan siang dan beristirahat.
"Sus, apa boleh saya yang menyuapi Mama makan?" tanya Alvin, saat mereka sedang berjalan menuju kamar rawat Ganis.
"Tentu saja boleh, nanti saya akan mengawasi dari luar ruangan," jawab suster yang mengurus Ganis.
Mendengar itu Alvin tersenyum senang. Setelah selama ini dia jarang mendapatkan kesempatan berkunjung di saat ibunya makan, kini dia bisa berkesempatan untuk menyuapi ibunya.
"Terima kasih, Sus," ujar Alvin.
Beberapa saat kemudian Alvin sudah berada di ruang rawat Ganis sambil menyuapinya makan.
"Dulu waktu aku kecil, Mama, yang suka menyuapi aku makan, dan setelah ada Alin, Mamah, juga masih suka menyiapkan makan untuk aku." Alvin berbicara dengan suara parau, menahan rasa kering di tenggorokannya akibat menahan tangis.
Masa kecil yang indah bersama keluarga bahagianya, kini hanya tinggal kenangan di saat Bapak dan Alin sudah tidak ada. Akan tetapi, itulah yang sekarang membuat Alvin kuat untuk meraih kebahagiaan lainnya, yaitu hidup berdua dengan sang ibu.
"Mamah janji ya, untuk tetap kuat dan menemani aku di sini. Agar kita bisa bersama lagi seperti dulu," ujar Alvin, terbawa suasana hatinya yang tiba-tiba sendu.
Setelah menyuapi Ganis makan siang, kini Alvin sudah ke luar dari rumah sakit itu, dengan kerinduan pada Bapak dan Alin yang juga terasa di dalam hatinya.
Dia kembali mengendarai motornya menuju makam Bapak dan Alin, untuk melepas rindu dengan berziarah ke makam sekaligus mengirimkan doa di sana.
Beberapa saat berada di makan Bapak dan adiknya, menjelang sore Alvin ke luar dari area pemakaman umum itu. Entah mengapa cuaca yang tadinya cerah, kini beralih mendung dengan awan kelabu yang menggelayut di langit, bersiap untuk melepaskan setiap tetes air menyiram bumi dan isinya.
"Yah, hujan!" ujar Alvin saat merasakan tetap air mengenai tubuhnya.
__ADS_1
Benar saja di tengah jalan Alvin terpaksa harus meneduh di salah satu rumah makan. Dia sengaja memilih rumah makan, karena perutnya yang ternyata sudah merasa keroncongan mengingat sejak pagi dia belum makan.
"Sambil menyelam minum air, sambil neduh kita makan," ujar Alvin masuk ke dalam rumah makan itu.
Alvin memesan menu makan siangnya kemudian duduk sendiri di dekat dinding kaca, melihat hujan yang semakin deras, membuat restoran itu pun terlihat semakin ramai oleh orang-orang yang berteduh sekaligus makan.
Sementara itu, di luar rumah makan itu sebuah motor sport baru saja berhenti, kemudian dua orang itu berlari menuju teras rumah makan.
"Aku bilang apa tadi? Disuruh pakai mobil aja, malah ngotot mau pake motor, kan jadinya gini!" gerutu seorang wanita sambil menepuk bajunya yang sudah terlanjur basah terkena air hujan.
"Iya, Maaf. Aku kira gak akan hujan. Waktu berangkat kan kita lihat sendiri cuacanya bagus," jawab laki-laki dengan jaket kulit.
"Sudahlah, gak usah marah-marah terus, mending kita masuk, aku lapar nih," sambung laki-laki itu lagi sambil menggenggam tangan perempuan di sampingnya kemudian masuk ke restoran itu.
Namun, karena banyaknya pengunjung terlihat hampir semua meja sudah ada yang mengisi. Melihat semua itu, laki-laki itu tampak memanggil pelayan untuk dicarikan kursi duduk.
Setelah beberapa saat melihat, pelayan itu pun menghampiri Alvin yang terlihat ruang duduk sendiri.
"Maaf, Pak. Apa, Anda, sedang menunggu seseorang?" tanya pelayan itu.
"Tidak," jawab Alvin singkat.
"Kalau begitu, apa boleh, Anda, berbagi tempat dengan dua orang lainnya?" tanya pelayan restoran itu.
Alvin sempat terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, walau kemudian dia mengangguk.
"Terima kasih, Pak," ujar pelayan itu yang hanya mendapat anggukkan samar dari Alvin.
Laki-laki dan perempuan itu pun diarahkan pada meja tempat Alvin duduk, hingga akhirnya mereka sampai dan Alvin yang sedang memunggungi mereka menoleh dan bertahap mata dengan kedua orang itu.
"Alvin?"
__ADS_1
"Jani?"
......................