ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Berbeda


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


Alvin berjalan menuju kelasnya yang cukup jauh dari toilet. Dia langsung menjadi pusat perhatian dengan gayanya yang berbeda dari biasanya.


Itu semua semakin membuat Alvin semakin tidak percaya diri dengan penampilannya, dia merasa tidak cocok.


Namun, ternyata pemikiran Alvin justru bertolak belakang dengan para mahasiswi yang melihatnya. Di mata mereka Alvin terlihat tampan dan lebih berkarisma, membuat mereka tak mau mengalihkan pandangannya.


Itu bukannya Alvin, temen sekelas, lo? Lihat deh penampilannya beda banget dari biasanya, dia lebih keren pake baju begini. Salah satu mahasiswi yang sedang berkumpul berkata pada teman-temannya.


Mana? Gue gak lihat tuh. Siswi yang lainnya tampak bertanya sambil mencoba mencari keberadaan Alvin.


Itu yang pakai kemeja putih. Ya Ampun, dia udah kayak dosen muda tau gak! ujar mahasiswi yang menggunakan baju berwarna merah itu.


Ya Ampun, iya beneran itu Alvin, temen sekelas gue. Kok penampilannya bisa beda banget gitu ya? Padahal tadi pas di kelas dia masih biasa aja, ujar mahasiswi yang berambut pendek.


Dia ganteng banget ya kalau didandanin kayak gini, pantes aja si Jani ngikutin dia terus. Mahasiswi yang menggunakan baju hitam tampak menimpali.


Iya, coba kalau bukan Jani yang ngejar-ngejar dia, pasti gue juga mau tuh deketin dia, desah perempuan rambut pendek.


Emang kenapa kalau kita saingan sama Jani? tanya si baju hitam.


Dia itu selalu didukung si Anji, ketua BEM di kampus ini. Siapa aja yang cari masalah sama Jani, sama aja kita cari masalah sama Anji, jelas perempuan rambut pendek.


Sepertinya dari semua yang bergabung, dia adalah perempuan yang paling tahu segalanya.


Oh pantes aja selama ini banyak cewek yang suka sama si Alvin, tapi gak ada yang berani deketin, angguk para permpuan lainnya.


Yaiyalah, secara tampang dia lumayan lah buat dijadiin pacar, apalagi dengan sikapnya yang dingin dan misterius. Beuh, bikin para cewek makin penasaran. Si rambut pendek berujar dengan mata berbinar.


Iya, kok bisa ya ada cowok yang kayak gitu. Apalagi dia pinter banget, sampe jadi perhatian para dosen, timpal si baju merah.


Alvin mendengar sekilas perkataan para mahasiswi yang mmebicarakannya. Akan tetapi, dia tidak memedulikannya, dia lebih memilih terus melanjutkan langkahnya agar cepat masuk ke kelas.


Ternyata ada gunanya juga dideketin sama Jani, seenggaknya aku gak usah repot ngadepin para perempuan yang lain, batin Alvin.


"Terus bisa makan gratis lagi," sambungnya sambil melihat kotak bekal di tangannya yang belum sempat dia makan.


Ya, walaupun sebenarnya dia juga merasa tidak enak dengan Jani karena, seperti sedang memanfaatkannya.

__ADS_1


Namun, mau bagaimana lagi, toh selama ini Jani yang terus mendekatinya, walaupun dia sudah bersikap dingin dan mengacuhkannya.


Mungkin sekarang lebih baik dia mulai menerima Jani sebagai temannya, dan itu harus dia tegaskan secepatnya. Alvin sama sekali tidak mau memberikan Jani harapan, hingga kejadian seperti Milka akan terulang kembali.


Ah, memikirkan itu, dirinya merasa menjadi terlalu percaya diri. Akan tetapi, kali ini dia memang harus bertindak lebih dahulu dalam hubungannya dengan Jani, setidaknya lebih baik memperjelasnya daripada tanpa status seperti sekarang.


.


.


Sementara itu, Jani yang sudah sampai di rumah dan berganti pakaian, melihat ponselnya di mana di sana ada pesan bergambar di grup khusus teman-teman dekatnya.


Vani: [Tuh, pesanan, lo, udah gue kirim. Gimana udah puas?😒]


Jani tertawa melihat pesan yang dikirimkan di bawah foto Alvin yang sudah berganti baju menggunakan pakaian Papahnya.


^^^Jani: [Puas banget dong. Thank's, sayangku😘]^^^


Lili: [Wah, Alvin ganteng banget kalau pake baju begini😳]


^^^Jani: [Heh, ngapain, lo, liatin foto cowok gue, gak ada! Hapus foto Alvin dari chat kalian!😡]^^^


Vani: [🤣🤣 Kasian deh lo, Li. Kena sembur deh tuh.]


^^^Jani: [Alvin itu milik gue, jadi jangan ada yang berani deketin dia atau ngeliatin foto dia TITIK, gak pake koma😡]^^^


Lili: [Ya ampun, sampe segitunya lo ngebucin, Jan😳]


Vani: [Iya in aja deh, Li. Daripada panjang urusan 😂]


Lili: [Iya‐iya, lagian kan kita udah janji gak akan saling tikung dalam bentuk apa pun. Itu kan gue cuman becanda, pake dibawa serius aja lo pada😞]


Vani: [Kayak gak tau aja si Jani gimana kalau kita lagi ngomongin Alvin]


^^^Jani: [Thank, ya. Kalian memang sahabatku yang ter–the beast 😘😘]^^^


Jani menutup halaman chat grup para sahabatnya itu, dia kemudian melihat galeri dan membuka foto yang baru di kirimkan oleh Vani.


Sambil merebahkan diri di atas ranjang, Jani mulai mengagumi potret Alvin yang memang tampak lebih tampan dibandingkan dengan biasanya.


"Kalau pakai pakaian begini, kamu terlihat lebih dewasa, Vin," ujar Jani.

__ADS_1


Umur mereka berbeda dua tahun lebih tua Jani. Akan tetapi, karena tubuh Jani yang mungil membuat perbedaan umur mereka tidak terlihat.


.


.


Pagi itu di saat hari libur tiba, Alvin tampak bersiap untuk pergi, setelah membereskan semua pekerjaannya.


"Mau ke mana, Vin?" tanya Lukman yang sedang menikmati siang dengan menonton televisi.


"Aku ada janji makan siang dengan teman, Mang," jawab Alvin, dia tampak sudah rapih dan wangi.


"Wah, bujangan kita mau ke mana nih, Man?" sindir Pak Umar yang baru saja datang.


Alvin tersenyum, dia sudah sangat betah tinggal bersama dengan Lukman yang mempunyai tetangga seperti Pak Umar. Banyak pelajaran yang dia dapatkan dari laki-laki tua itu, mulai dari pelajaran bela diri dan nilai-nilai kehidupan lainnya.


Alvin senang mengobrol dengan Pak Umar, entah itu mengenai kuliah, pekerjaan, atau lain sebagainya. Sejak malam di mana Pak Umar menolongnya, mereka bertambah semakin dekat.


Alvin juga sempat mencari tahu apa itu Mafia, dan bertanya tentang organisasi yang masih memiliki arti ambigu di dunianya yang masih sangat kecil. Saat mereka baru saja selesai berlatih bela diri di pinggiran kota.


"Mafia itu organisasi ilegal yang bertentangan dengan kebijakan negara, biasanya bisnis mereka mulai dari penyelundupan dan pengedaran narkoba, senjata api, atau bahkan ada yang menyalurkan manusia, dan pembunuh bayaran. Itu jika dalam konteks besarnya, biasanya dilakukan oleh mafia yang sudah memiliki jaringan luas hingga ke luar negri."


"Tapi, sebenarnya di sekitar kita juga sebenarnya banyak mafia-mafia kecil, yang sering dianggap lumrah di masyarakat, padahal sangat meresahkan. Seperti mafia tanah contohnya, mereka biasanya menjual tanah milik orang lain atau bahkan milik negara yang terbengkalai, kepada orang lain dengan surat palsu."


"Sayangnya terkadang mereka malah bekerja sama dengan pihak terkait, dengan cara bagi hasil. Sepertinya semua itu sudah menjadi rahasia umum di negara kita, benar bukan?"


Itulah penjelasan Pak Umar, saat dirinya bertanya tentang Mafia. Saat itu Alvin hanya bisa menganggukkan kepala, dia cukup terkejut mendengar penjelasan dari Pak Umar tentang organisasi gelap itu.


Penjelasan dari Pak Umar, membuatnya mengurungkan niat untuk bergabung, sudah cukup dia mendapatkan ilmu bela diri dan ketangkasan dari Pak Umar, dia merasa itu semua sudah cukup untuk menjaga dirinya saat ada kejahatan di sekitarnya.


"Ada janji sama teman katanya, Pak," jawab Lukman sambil menyandarkan dirinya pada tembok.


"Wah, kayaknya spesial banget nih, sampe wanginya kecium ke luar," ujar Pak Umar, sambil terkekeh menggoda Alvin.


"Pasti janjian sama cewek ya, Vin?" tanya Pak Umar.


"Gak spesial kok, Pak. Cuman sama temen biasa," jawab Alvin.


"Aku pamit dulu, Assalamualaikum," sambung Alvin sambil menyalami tangan kedua laki-laki yang dia tuakan itu.


...................

__ADS_1


Mau ke mana, Vin? Othor kan kepo nih🤭


__ADS_2