ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Jebakan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Kenapa tidak menjelaskan pada anak itu, kalau saat itu Bapak juga tidak sengaja melakukannya?" tanya salah satu laki-laki yang ada di dalam mobil bersama Pak Umar.


"Untuk apa? Walaupun waktu itu aku tidak sengaja, tapi, tetap saja aku sudah membunuh adik dan bapaknya, kan?" jawab Pak Umar lirih. Kepalanya menunudk dalam dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Tapi, itu semua terjadi karena Bapak dijebak. Rem di mobil itu sengaja dirusak, agar Bapak menabrak mobil mereka," debat laki-laki itu.


"Tapi, aku tidak akan melakukannya jika aku tidak menerima pekerjaan dari si Mardo sialan itu! Aku tidak tau kalau saat itu hanya dijadikan alat untuk membunuh adik ipar dan keponakannya sendiri," kesal Pak Umar, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


Saat itu istri Pak Umar yang sedang sakit membutuhkan banyak uang untuk operasi, Pak Umar yang merasa tidak enak ingin meminta pada ketua organisasi mafia, memutuskan untuk menerima pekerjaan lain di luar organisasi.


Siang itu dia bersama satu orang lainnya dari perusahaan yang tak lain adalah perusahaan Pak Mardo, menerima tugas untuk mengambil beberapa barang di salah satu cabang perusahaan lainnya.


Akan tetapi, saat melewati pertigaan, tiba-tiba saja rem mobil yang dia kendarai tidak berfungsi dengan baik, hingga mengakibatkan mobil itu menabrak mobil lainnya yang tepat ingin melintas di depannya.


Dalam kejadian itu Pak Umar juga mengalami cedera ringan di tangan, akibat terbentur badan mobil. Akan tetapi, dia yang melihat mobil di depannya sudah ringsek, bahkan tidak berbentuk lagi, panik dan langsung ke luar dari mobil, untuk menolong korban.


Namun, satu orang yang mengantarnya malah meninggalkannya dan kabur entah ke mana. Pak Umar berusaha menolong korban yang ternyata satu orang laki-laki dewasa, satu orang laki-laki remaja dan satu anak kecil permpuan, dibantu dengan beberapa orang warga di sekitar sana.


"Tolong anak-anakku." Perkataan lirih yang diucapkan oleh laki-laki dewasa yang ternyata Bapaknya Alvin, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran, terus terngiang di telinga Pak Umar.


Dia memang anggota mafia, bahkan posisinya di organisasi hitam itu cukup terpandang. Bertarung, membunuh dan melakukan hal kotor lainnya adalah pekerjaan sehari-harinya.


Namun, tidak dengan membunuh orang yang tidak bersalah. Itu adalah larangan bahkan bagi organisasinya sendiri. Setiap orang yang mereka bunuh, harus ada perjalanan panjang di dalam kejahatan terlebih dahulu. Entah itu lawan mafia lainnya, atau terkadang ada juga yang menyewa untuk menjadi pembunuh bayaran. Akan tetapi, semua itu memiliki syarat tertulis sebelum mereka menerimanya.


Sungguh organisasi tempatnya bekerja hanya berfokus pada bisnis gelap, yang merupakan bisnis utama mereka adalah senjata ilegal. Walau terkadang terpaksa harus bertarung demi kelangsungan organisasi dan membela teman satu profesi.


Sayangnya saat Pak Umar ingin mengantarkan Alvin, Alin, dan Bapaknya, ke rumah sakit, Pak Umar terlebih dulu ditangkap oleh polisi sebagai tersangka.


Walau beberapa hari kemudian akhirnya dia dibebaskan karena koneksi yang dimiliki oleh bos di dalam organisasinya. Akan tetapi, saat dia ke luar, ternyata kondisi istrinya di rumah sakit sudah semakin parah.

__ADS_1


Hingga tiga hari setelah itu, istrinya Pak Umar akhirnya memilih menyerah dengan penyakitnya, di masa akhir hidupnya istrinya hanya terus meminta agar Pak Umar ke luar dari organisasi dan berubah menjadi laki-laki yang baik dan taat beragama. Katanya agar Pak Umar bisa mendoakannya.


Semua itu semakin membuat Pak Umar terpuruk, istri yang selama ini selalu sabar menemaninya, telah meninggalkannya. Ditambah dengan kabar bahwa dua korban mobil yang dia tabrak ternyata meninggal, dan kondisi istrinya mengalami gangguan jiwa.


Pada saat itu Pak Umar memutuskan untuk terbang ke negara tempat markas utama organisasi mafia itu, untuk menemui bos besar agar dia bisa meminta ke luar dari keorganisasian.


Dengan berbagai cara yang dilakukan olah Pak Umar, akhirnya ketua organisasi itu, menyetujui permintaannya, dengan syarat, dia harus menemani calon penerus ketua organisasi untuk melakukan transaksi untuk terakhir kalinya.


Di saat itulah, Pak Umar mengalami cedera di kakinya akibat menyelamatkan calon penerus organisasi itu dari serangan lawan.


"Tetap saja, Bapak, tidak bersalah dalam kejadian itu. Bapak, hanya menjadi korban keserakahan si Mardo sialan itu. Lagi pula setelah Bapak pulih dan pulang dari luar negeri, Bapak selalu berada di belakang Alvin dan keluarganya, melindungi mereka dari kejaran si Mardo itu, dan memastikan mereka hidup dengan tenang.


"Apa itu masih kurang untuk menebus rasa bersalah, Bapak, pada Alvin? Ingat, Pak ... Bapak, juga berhak menjelaskan, dan anak itu juga pasti membutuhkan penjelasan dari Bapak, agar dia bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya," ujar laki-laki itu panjang lebar.


Tanpa terasa mobil yang membawa mereka sudah sampai di gang tempat kontrakan berada, Pak Umar tampak menghembuskan napas lelah sebelum ke luar dari mobil.


"Tolong cari Alvin, aku yakin dia pasti tidak akan pulang dengan keadaan seperti itu," ujarnya kemudian.


"Baik, Pak. Kami pasti akan mencari Alvin sampai ketemu," jawab laki-laki itu.


"Terima kasih Max, aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih atas semua bantuanmu selama ini," ujar Pak Umar, menepuk laki-laki yang mungkin lebih pantas di sebut sebagai anaknya.


"Tidak perlu sungkan. Ini semua juga sebagai balas budi kami atas pelatihan Bapak, selama masih bergabung di organisasi. Kami tidak akan seperti ini, jika bukan karena, Bapak," jawab laki-laki yang disebut Max itu.


Selama di organisasi Pak Umar memang terkenal baik dan mau merangkul anak buahnya, walau memang pelatihan yang dia lakukan sangat berat dan kasar.


Posisi Pak Umar yang merupakan ketua markas di negara ini, tentu saja bertanggung jawab penuh dengan apa yang terjadi pada organisasinya. Walau kini posisi itu sudah berganti pada Max, orang yang kini ada di depannya.


"Heem, jaga diri kalian baik-baik. Aku pamit ... sekali lagi terima kasih," ujar Pak Umar, kemudian ke luar dari mobil itu.


.


.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain, sebuah mobil tampak berhenti di samping tubuh Alvin yang masih tergeletak tidak sadarkan diri, mereka mengangkatnya lalu memasukkannya ke dalam mobil, kemudian berlalu begitu saja dari tempat itu.


Sedangkan Max dan anak buahnya yang lain sempat kebingungan mencari keberadaan Alvin yang tidak kunjung mereka temukan.


.


.


Alvin membuka mata di sebuah hutan dengan pohon besar dan rindang di sekelilingnya, Pandangan matanya terus mengedar melihat cahaya matahari menembus dedaunan, hingga membentuk seperti untaian kain yang bercahaya.


Bias warna kekuningan yang bercampur dengan hijau dedaunan, membuat keindahan alami itu terlihat begitu menakjubkan.


"Di mana aku?" tanya Alvin, sambil terus memperhatikan sekitarnya. Tidak ada satu orang pun di sekitarnya, semuanya hanya tanaman yang besar dan rindang.


Suara angin yang menggesekkan dedaunan, seolah berbisik dengan melodi musik yang indah walau terkadang tersimpan keseraman di dalamnya. Udara dingin menusuk tulang, terasa menerpa kulit, saat angin itu menyentuh tubuhnya.


Ini terasa sangat nyata, walau pikirannya terus bertanya; apa mungkin ada pemandangan indah ini di dunia nyata? Ah, entahlah, itu terlalu sulit dan rumit untuk dia pecahkan.


Seingatnya tadi dia sedang berjalan di trotoar jalanan, kemudian langkahnya goyah, karena matanya buram dan kesadarannya mulai menghilang. Alvin memutuskan untuk duduk di tempat itu, kemudian kegelapan merenggut semuanya.


Namun, kenapa sekarang dia berada di sini? Tempat apa ini? Apakah aku masuh di dunia nyata, atau ini kah dunia fatamorgana, yang mungkin tidak ada di alam nyata? Mungkin itu lah yang kini terus Alvin tanyakan dalam hatinya.


Perlahan Alvin bangkit, dia berdiri kemudian mulai melangkahkan kaki. Tunggu, gelitik rumput yang menyapa telapak kakinya mengalihkan perhatiannya.


Ke mana sepatutnya? Kenapa aku tidak menggunakan alas kaki? batin Alvin.


Memggelengkan kepala, Alvin kembali fokus ke depan, menyusuri hutan indah bak sebuah labirin dengan jajaran pohon yang menjulang. Begitu terlihat rapih, hingga dia tidak bisa membedakan jalan mana yang tadi dia pilih.


Semakin lama dia berjalan, Alvin bahkan belum menemukan jalan ke luar dari tempat itu, hingga suara seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.


"Kakak Al!"


......................

__ADS_1


__ADS_2