ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Teman


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Jani hanya bisa terdiam, dia tidak bisa berkata-kata, merasa takjub melihat Alvin berucap panjang untuk pertama kalinya.


Jujur saja Alvin sudah merangkai semua kata-kata itu sejak semalam, dia bahkan menghapalkannya agar tidak ada yang terlupa.


Kini dia merasa takut jika Jani malah mengartikan kata-katanya berbeda dengan maksudnya, saat melihat perempuan itu hanya terdiam dengan mata melebar menatapnya.


"Jani?" Alvin menjentikkan jarinya di depan wajah Jani.


"Hah?" Jani terperanjat, saat kekagumannya pada Alvin terganggu.


"Kamu denger apa yang aku bilang kan?" tanya Alvin.


"Ekhm!" Jani berdehem sambil menegakkan tubuhnya, berusaha bersikap biasa saja.


"Iya, aku denger kok," jawab Jani.


"Terus gimana, kamu mau kita berteman aja?" tanya Alvin lagi.


Astaga, kenapa hidupku gini amat sih? Biasanya kalau orang normal, suasana seperti ini tuh karena mau menjawab pernyataan cinta dari laki-laki di depannya. Lah, kenapa aku malah harus menjawab penolakan laki-laki kepadaku? batin Jani.


Suasana ini membuatnya tidak tau harus berkata apa, dan berekspresi seperti apa. Dia sendiri merasa sedih dan marah saat Alvin menolaknya, walaupun caranya sangat halus.


Namun, dia juga merasa kagum sekaligus senang, karena walaupun Alvin menolak cintanya. Akan tetapi, laki-laki itu sama sekali tidak membuatnya merasa rendah, bahkan enawarkan sebuah pertemanan dengan sikap yang sangat lembut.


"Vin, kamu itu kenapa harus kayak gini sih?" Bukan jawaban yang ke luar dari mulut Jani, dia malah bertanya kepada Alvin.


Alvin mengernyit bingung. "Maksud, kamu?"


"Kenapa kamu harus menolakku dengan cara kayak gini? Kenapa kamu gak tolak aku secara terang-terangan aja, biar aku sakit hati sekalian dan berbalik membenci kamu?" kesal Jani.


Bagaimana dia bisa membenci atau melupakan Alvin, kalau cara Alvin menolaknya malah membuat dia semakin berharap untuk mendapatkan laki-laki sepertinya.


"Hah?" Alvin malah semakin bingung.


Dia sudah berpikir berkali-kali agar bisa menolak Jani dengan cara yang tidak menyinggung perasaannya, bahkan membuatnya merasa rendah di hadapannya.


Namun, kenapa sekarang Jani malah marah padanya karena caranya? Ya ampun, kini Alvin bingung mau berkata apa.


"Maaf." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Alvin.


Jani menatap Alvin dengan tatapan kesal, dia kemudian mendesah dengan wajah putus asa, seakan ingin menagis saat itu juga.


"Kenapa harus minta maaf?" tanya Jani.

__ADS_1


"Karena aku menyingung perasan kamu," jawab Alvin.


Saat ini Alvin terlihat berbeda, dia tidak seperti Alvin yang dingin dan selalu mengacuhkannya, dia seakan menjadi sosok yang berbeda di depan Jani.


"Baiklah, aku mau menjadi teman kamu. Tapi, jangan halangi aku untuk terus berusaha untuk memiliki kamu," jawab Jani.


Ya, itulah seorang Anjani, dia tidak pernah ingin menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Alvin menatap Jani, sorot matanya jelas terlihat kalau dia sangat keberatan dengan syarat Jani.


"Setidaknya sampai aku bosan dan menyerah, atau aku akan mundur jika kamu telah memiliki perempuan lain," sambung Jani lagi.


Alvin tampak terdiam beberapa saat, dia merasa enggan untuk terus memberikan harapan untuk Jani, dan memang itu adalah tujuan sebenarnya dia bertemu dengan Jani saat ini.


"Aku tidak mau melukai kamu lebih dalam lagi, jika kamu terus berharap kepadaku, Jani," ujar Alvin.


"Aku janji aku tidak akan memperlihatkan lukaku padamu, jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersatu. Lagipula, siapa yang akan tau apa yang akan terjadi kedepannya? Mungkin saja sebentar lagi aku akan menyerah dan mendapatkan laki-laki yang memang ditakdirkan untukku, sebelum kamu menemukan cintamu."


"Aku hanya meminta untuk kita tetap berteman, dan izinkan aku untuk terus bersikap seperti ini kepadamu, aku janji aku tidak akan pernah berharap lebih lagi," sambung Jani.


Hati Alvin terasa sakit saat melihat mata Jani yang memerah, dengan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk, siap untuk perempuan itu tumpahkan dalam satu kali kedipan.


Rasaya dia akan terlalu jahat, jika menerima permintaan Jani. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menolak, karena memang pertemananlah yang dia tawarkan ssebelumnya.


"Baiklah, mulai sekarang kita berteman," jawab Alvin akhirnya, membuat senyum di wajah Jani mengembang, walau air mata pun terlihat menetes membasahi pipinya.


"Terima kasih," ujar Jani dengan suara seraknya.


Dia benar-benar tidak tega dengan perempuan di depannya, dia juga tidak pernah menyangka akan memberikan luka pada seorang perempuan dengan cara seperti ini.


Namun, semua ini memang harus terjadi. Alvin tidak bisa memilih antara kebahagiaan ibunya dan dirinya sendiri, untuk kali ini. Dia idak bisa janji akan fokus pada tujuannya, jika ada sosok perempuan lain di sisinya.


Alvin takut akan goyah dari tujuan awalnya, dia tidak bisa menggantikan tujuan hidupnya dengan perempuan lain selain ibunya. Dia juga tidak bisa melupakan janjinya kepada Bapak dan adiknya.


Ya, semua itu masih menjadi beban nyata di punggung Alvin, tanpa tahu kapan berakhirnya, hingga dia terlalu takut untuk menambahkan satu tanggung jawab lagi di hidupnya.


Perlahan tangan Alvin terulur, menghapus air mata di pipi Jani, ada rasa sakit di dalam hati, saat melihat Jani yang terpuruk karenanya.


"Maaf." Hanya kata itu lagi yang mampu terucap.


Dia sama sekali tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Jani akan menjadi hari yang menyakitkan untuk perempuan baik itu.


Setelah Jani merasa lebih baik, keduanya tampak ke luar. karena Jani datang ke sana dengan menggunakan motor, akhirnya Alvin menawarkan diri untuk mengantarkannya.


Jani pun menyetujuinya, dia akhirnya pulang dengan diantarkan oleh Alvin, menggunakan motor milik Jani.


Sepanjang jalan air mata Jani menetes, dia tidak bisa menahan rasa sakit di dalam hati, saat Alvin menolak cinta yang bahkan belum sempat dia ungkapkan.

__ADS_1


Kepalanya bersandar di punggung Alvin, yang terasa sangat nyaman untuknya.


Beberapa saat kemudian Alvin sudah sampai di depan gerbang rumah Jani yang menjulang tinggi.


"Klakson aja, nanti ada yang buka," perintah Jani dari belakang.


Alvin mengangguk dia kemudian menekan klakson motor Jani. Benar saja, beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki paruh baya yang ke luar.


"Ini saya, Pak!" ujar Jani dari belakang Alvin.


"Oh, Neng Jani," ujar laki-laki paruh baya itu, dari pakaiannya sepertinya dia seorang satpam.


"Iya, Pak. Tolong buka gerbangnya, ya," jawab Jani lagi.


Dengan sigap satpam itu pun langsung membuka gerbang tinggi itu, agar Alvin bisa membawa motor Jani ke dalam.


Begiti gerbang dibuka, terlihatlah taman nan luas, yang berada di depan rumah mewah berlantai dua yang didominasi warna cream dan abu-abu muda.


Alvin sempat tertegum, melihat indahnya kediaman milik Jani, juga menjadikannya semakin sadar di mana posisinya saat ini. Ya, perumpamaan bumi dan langit memang sangat cocok untuknya dan Jani.


Jani yang bak bidadari yang hidup di atas langit, dan dirinya yang hanya mahluk bumi tanpa sayap yang bahkan tak bisa membawanya terbang untuk mendekati kehidupan seorang Anjani, apalagi untuk menggapainya ... itu semua terasa mustahil.


"Ayo masuk," ujar Jani menyadarkan lamunan Alvin.


"Ah, iya," jawab Alvin.


"Terima kaish, Pak," sambungnya lagi beralih pada satpam yang membukakan gerbang, lalu mulai kembali menarik gas motor.


Keduanya kini berada di depan pintu utama dengan Alvin yang sedang memarkirkan motor.


"Makasih ya, Vin, udah mau ngaterin aku pulang," ujar Jani dengan senyum manisnya.


"Sama-sama. Kalau gitu aku pulang dulu ya," jawab Alvin.


"Gak mampir dulu?" tanya Jani seakan tidak rela berpisah dari Alvin.


"Maaf, tapi sepertinya gak bisa. Aku ada janji lagi," jawab Alvin.


"Oh, gitu ya?" tanya Jani, yang langsung diangguki oleh Alvin.


"Tolong salamin aja buat Mama sama Papah kamu, maaf aku gak sempet ketemu mereka," ujar Alvin.


"Iya, nanti aku salamin. Kamu, hati-hati di jalan ya," jawab Jani.


Alvin mengangguk. "Assalamualaikum."


Jani menatap Alvin yang berjalan menuju gerbang, dia baru masuk setelah melihat Alvin sudah ke luar dari gerbang rumahnya.

__ADS_1


.....................


Nah, jadinya gimana dong? TTM gitu kalau jaman dulu mah, atau apa ya kalau jaman sekarang disebutnya?🤔


__ADS_2