
...Happy Reading ...
......................
"Bagaimana, Omar? Apa aku harus mengatakan semuanya pada anak ingusan ini?" tanya Pak Mardo, menatap tajam Pak Umar.
Alvin menatap kedua laki-laki menjelang tua itu bergantian, pikirannya kacau karena kini dia mulai menuduh Pak Umar bekerja sama dengan Pak Mardo.
"Cepat katakan, brengsek!" Alvin yang sudah tidak sabar, berteriak pada Pak Mardo.
"Dasar bodoh! Untuk apa kamu bertanya padaku, bocah ingusan? Harusnya kamu bertanya itu pada laki-laki di sampingmu!" ujar Pak Mardo diiringi dengan kekehan remehnya.
Alvin menatap Pak Umar, dalam dirinya dia terus menyangkal prasangka yang sudah berputar di kepala.
Tidak! Pak Umar bukan orang seperti itu, batin Alvin terus menyangkal.
"Apa maksud laki-laki brengsek itu, Pak? Apa Bapak tau tentang kecelakaan itu?" tanya Alvin dengan suara lirih.
Matanya menatap sendu dan penuh harap pada Pak Mardo, hatinya terus berujar agar Pak Mardo tidak mengetahui tentang semua itu.
Bilang tidak, Pak. Aku mohon, batin Alvin.
Pak Umar tampak melihat Alvin dengan penuh sesal, sorot matanya membuat hati Alvin terasa sakit saat itu juga. Walau begitu Alvin masih mencoba untuk tetap percaya pada keyakinan yang ada di dalam hatinya.
"Pak, jawab aku, Pak!" desak Alvin.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Bajingan itu bisa berkata seperti itu?" sambung Alvin lagi dengan suara lebih pelan.
Tubuhnya terasa lemas, bukan karena rasa sakit fisik yang memang sudah babak belur. Akan tetapi, melawan rasa diri sendiri untuk tetap percaya pada Pak Umar, yang membuatnya lemah.
"Vin–" Pak Umar tampak memegang pundak Alvin yang sudah turun, tanpa semangat lagi.
"Ayo, Omar, katakan semuanya pada bocah ingusan itu!"
"Diam kamu, brengsek!" sentak Alvin, saat ini dia hanya ingin mendengar suara dari Pak Umar, tidak mau yang lainnya.
Sikap Alvin saat ini, sungguh jauh berbeda dari biasanya, Alvin sudah tidak bisa melihat usia dari orang-orang di sekitarnya. Rasa hormat dan kesopanan yang selama ini selalu dipegang teguh oleh dirinya, kini seolah sudah hilang entah ke mana.
__ADS_1
Alvin sungguh tidak terkendali, berbagai emosi yang selama ini hanya bisa dia pendam, kini seolah sedang dikeluarkan oleh Alvin. Hingga tidak ada satu orang pun yang bisa melerainya.
Mengungkit masalah kecelakaan yang meninggalkan trauma mendalam di dalam diri seorang Alvin, membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Itu terlalu sulit dan rumit. Itulah mengapa, selama ini Alvin selalu menghindari untuk mengingat kembali tentang kecelakaan itu.
Namun, kini tiba-tiba seseorang yang terlibat di dalam kecelakaan itu muncul, membuatnya terpaksa harus menggali lagi kenangan yang sudah kadung tersimpan jauh di dalam ruang hati dan otak yang tersembunyi.
"Vin." Pak Umar kembali memanggil Alvin lirih.
Alvin kembali mengalihkan pandangannya pada Pak Umar.
Pak Umar, tampak menelan salivanya susah payah, sebelum mengucapkan sebuah kata pada Alvin.
"Maaf ...."
Satu kata itu sudah membuat hati Alvin hancur, tubuhnya yang lusuh dan penuh luka meluruh berlutut di lantai, dengan punggung membungkuk dan tangan menutup wajahnya.
Alvin terkekeh pelan, kemudian mengusap wajahnya berulang kali, terlihat matanya memerah menahan rasa sakit yang terasa menyesakkan dada.
Orang yang selama ini sudah dia anggap keluarganya sendiri, bahkan sangat dia hormati sama seperti kakeknya, ternyata adalah orang yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi.
Pak Umar tampak meneteskan air mata saat melihat betapa hancurnya Alvin saat ini. Jika dia bisa memilih, dia ingin menyembunyikan semua kenyataan pahit ini sendiri.
Kesalahan yang membuatnya menyesal selama ini, bahkan mungkin untuk seumur hidupnya. Bagaimanapun dirinya mencoba untuk menebus semua itu, tetap saja tidak bisa membuat hatinya lebih baik.
Bayang-bayang kejadian hari itu, tetap saja terus menghantuinya, dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak untuk satu malam pun, sejak saat itu. Rasa bersalah membawanya terus terjebak pada kejadian yang telah merenggut nyawa adik dan Bapak Alvin.
"Hahaha, kamu memang bodoh, sama seperti bapakmu yang miskin itu. Pelaku kejahatan itu selama ini ada di dekatmu saja tidak tahu?" efek Pak Mardo.
Alvin tampak mengangkat kepala, dia perlahan menatap wajah Pak Mardo dengan sorot mata tajam, wajahnya berubah merah padam, kedua tangannya mengepal kuat. Perlahan dia mulai terbangun kembali dan berdiri tegak.
Pak Mardo masih terlihat tertawa, menikmati penyesalan Pak Umar dan kehancuran Alvin.
Pandangan Alvin tertuju pada kalung yang masih berada di tangan Pak Mardo, dia sudah tidak perduli dengan semu masalah kecelakaan, kini yang dia butuhkan hanya kalung peninggalan ibunya, yang selalu membuatnya semangat untuk bertahan hidup.
Urusannya dengan Pak Umar, bisa dia lanjutkan nanti, jika dia masih bisa bertahan hidup setelah hari ini. Jika pun tidak, setidaknya dia berhasil untuk merebut kembali milik ibunya.
Dengan cepat Alvin berlari kemudian menerjang Pak Mardo menggunakan sisa tenanganya.
__ADS_1
"Kembalikan kalung milik ibuku, brengsek!" teriak Alvin penuh amarah.
Roy yang berada di samping Pak Mardo langsung bangkit dan mencoba melindungi Pak Mardo dari serangan Alvin yang membabi buta. Sedangkan para pengawalnya ditahan oleh laki-laki yang dibawa oleh Pak Umar.
Beberapa saat berlalu, Alvin berhasil merebut kalung milik ibunya. Dia tersenyum miring dengan wajah penuh luka. Seakan semua itu tidak terasa apa-apa baginya, Alvin berdiri tegak sambil memakai kalung itu lagi di lehernya.
"Ini milik ibuku, dan sekarang menjadi milikku. Siapapun tidak ada yang bisa merebutnya dariku, kalian mengerti!" ujarnya, kemudian berjalan ke luar dari gedung pabrik bekas itu.
Pak Mardo tampak menatap penuh amarah punggung Alvin, dia ingin menyusulnya. Akan tetapi, Pak Umar langsung mencegahnya.
"Kita harus mengurus urusan kita lebih dulu!" ujar Pak Umar, mencegah langkah Pak Mardo.
Begitu juga dengan Roy yang dijaga ketat oleh salah satu anggota mafia yang dibawa oleh Pak Umar. Sedangkan anak buah Pak Mardo sudah tidak berdaya lagi, mereka terkapar di atas lantai.
"Dasar anak kurang ajar!" umpat Pak Mardo.
Alvin sudah tidak perduli dengan kegaduhan di belakangnya, dia hanya ingin segera menjauh dari para laki-laki yang terlibat masalah dengan masa lalunya.
Dia lelah, dia sudah cukup lelah dengan kejadian hari ini. Dengan langkah lunglai, dia menyusuri jalan di dalam gelapnya malam.
Ya, ternyata hari bahkan sudah berganti menjadi malam, saat dia ke luar dari bekas pabrik itu. Baju kotor, tubuh penuh lebam dan kesadaran yang mungkin hanya tinggal setengahnya, membuat Alvin bahkan tidak bisa berpikir ke mana dia akan melangkah.
Rasa sakit dan kecewa yang terlalu menyiksa batin dan pikirannya, membuat laki-laki yang baru menginjak dewasa itu, benar-benar hancur.
Alvin hanya terus berjalan hingga kira-kira setengah jam berlalu, kesadarannya pun semakin menghilang, dia terduduk di bawah sebuah pohon besar.
Terukir senyum miris di bibirnya saat ingatannya bersama keluarga kecilnya melintas, kemudian satu per satu menghilang meninggalkannya begitu saja.
Kini Pak Umar pun ikut memberikan andil untuk rasa sakit di dalam hatinya yang terasa sudah begitu banyak dan menumpuk.
Apa memang aku hanya ditakdirkan untuk hidup sendiri? Kenapa rasanya begitu sakit, saat satu per satu orang yang aku sayangi Engkau ambil,Ya Tuhan?
Apa salahku selama ini? Begitu bayak kah, dosa yang sudah aku lakukan, hingga Engkau memberikan begitu banyak rasa sakit?
Ya Allah, aku lelah ... aku gak sanggup! Kenapa tidak Engkau ambil saja nyawaku, jika memang Engkau tak mau memberikan bahagia!
"Kenapa Engkau harus mendatangkan orang itu, jika hanya untuk memberikan luka padaku?" lirihnya sebelum kesadarannya akhirnya menghilang ditelan kegelapan.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya di dalam hidup, Alvin mengeluh tentang semua garis yang telah Tuhan tetapkan untuknya. Sungguh kejadian hari ini telah membuat semua kenangan pahitnya kembali dalam ingatan hingga menyiksa seluruh jiwanya.
......................