
...Happy Reading ...
.................
Alvin terbangun, saat waktu baru saja menunjukkan pukul dua pagi, setelah melaksanakan shalat malam, dia pun memutuskan untuk kembali ke luar karena tidak bisa tidur lagi.
Kebetulan saat itu berbarengan dengan Darman yang baru saja kembali dari kamar mandi.
"Mau ke mana, Vin?" tanya Darman.
"Gak ke mana-mana, Kek. Aku cuman gak bisa tidur aja," jawab Alvin.
"Kakek, mau shalat malam?" sambungnya lagi.
"Enggak, kakek cuman habis buang air kecil. Kalau gitu, gimana kalau kamu buatin kakek teh, kita ngobrol sambil nunggu subuh," saran Darman.
"Boleh. Sebentar, aku buatkan dulu ya, Kek," jawab Alvin.
Darman mengangguk. dia kemudian beranjak duduk di kursi ruang tengah, sedangkan Alvin menuju ke dapur, untuk membuat teh.
Tidak lama kemudian, Alvin sudah kembali ke ruang tengah dengan membawa dua gelas teh hangat untuk dirinya dan sang kakek.
"Duduk, Vin." Darman melihat Alvin yang sedang menaruh gelas teh di atas meja.
Alvin mengangguk, dia pun duduk di kursi yang tidak jauh dari kakeknya.
"Kamu, jadi ke Jakarta besok, Vin?" Darman membuka pembicaraan.
"In Sya Allah, iya, Kek," jawab Alvin, sopan.
"Memang kamu sudah dapat kabar dari Mang Lukman?"
"Sudah, Kek. Kemarin, aku pinjam ponsel milik Imran untuk telepon Mang Lukman."
Mang Lukman adalah salah satu tetangga yang juga masih kerabat dari Darman. Dia bekerja di perusahaan pemborong proyek pembangunan gedung-gedung besar di Jakarta.
Mang Lukman juga yang akan menjadi tempat Alvin tinggal selama di Jakarta. Untuk menghemat pengeluaran dan biaya, dia memilih untuk menumpang sementara waktu, sebelum mendapatkan pekerjaan, agar Alvin bisa membayar kamar kos atau kontrakan.
Darman menganggukkan kepalanya samar.
"Ingat, sekarang kamu di Jakarta hanya sendiri ... jadi, jaga diri baik-baik, jangan sampai kamu terlibat masalah dengan siapa pun. Hidup di kota besar seperti Jakarta, bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi bagi orang tidak punya seperti kita."
"Kamu juga harus bisa menempatkan diri di mana pun kamu berada. Tetaplah bersikap sopan ke pada siapapun yang kamu temui, tanpa memandang posisi dan jabatan orang itu."
Alvin mengangguk--anggukkan kepalanya, di dalam hatinya dia mengingat setiap kata yang diucapkan olah kakeknya.
"Kamu juga harus banyak berhati-hati dengan orang-orang yang baru kamu temui, tetap waspada di mana pun kamu berada."
__ADS_1
"Iya, Kek. Aku pasti akan selalu ingat pesan, Kakek." Alvin mengangguk sopan.
"Kakek percaya, kamu, pasti bisa menjadi seseorang yang bisa sukses suatu saat nanti."
"Amiin, terima kasih, Kek," ujar Alvin sambil mengusap wajahnya perlahan.
.
.
Pagi harinya Alvin sudah bersiap untuk pergi ke Jakarta, sebuah tas ransel pun sudah siap di atas ranjang miliknya.
Ya, memang tidak banyak yang dia bawa, hanya beberapa baju dan beberapa barang penting miliknya.
Mengingat di sana dirinya akan menumpang di tempat orang lain.
"Vin, sarapan dulu!" panggil Esih, dari balik pintu.
"Iya, Nek, sebentar lagi aku ke luar!" jawab Alvin, sambil memastikan penampilannya di depan cermin.
Saat ini dirinya memakai kaos berwarna putih tulang, dengan celana denim sebagai bawahannya, tidak lupa kemeja warna hijau army yang dibiarkan terbuka bagian depannya, menjadi lapisan luarnya.
Alvin juga memakai parfum, agar dirinya bertambah wangi. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Alvin berjalan ke luar dari kamar dengan membawa tas di salah satu pundaknya.
"Pagi, sobat!" seru Imran yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu.
"Kamu, ini ngagetin aja sih," sambungnya lagi.
"Hehe ... maaf, Vin," jawab Imran di sela tawanya.
"Sini-sini, tas kamu biar aku aja yang bawain." Imran mengambil tas ransel dari punggung Alvin.
"Tumben pagi-pagi udah ada di sini ... biasanya juga belum bangun," ledek Alvin, sambil menyerahkan tas miliknya pada Imran.
"Kan aku mau nganterin kamu ke tempat nunggu bus." Imran menaruh tas ransel di atas kursi.
"Vin, Ran, ayo sarapan dulu!" Esih kembali memanggil dua cucunya itu.
"Iya, Nek!" jawab Alvin dan Imran bersamaan, mereka pun langsung bergabung dengan Esih dan Darman di meja makan.
"Ayo, sarapan dulu, biar nanti di perjalanan gak masuk angin." Esih, mengambilkan nasi untuk kedua cucunya.
Ya, pagi ini Esih sengaja memasak nasi dan lauk yang lumayan banyak, khusus untuk melepas kepergian Alvin ke Jakarta.
Tiga tahun hidup bersama, membuat ikatan kasih sayang antara Alvin dan kakek neneknya bertambah besar dan dalam, begitu juga dengan hubungan antara Alvin dan Imran.
"Terima kasih, Nek," ujar Alvin, sambil mengambil piring dari Esih.
__ADS_1
"Nanti sekalian bawa bekal, untuk makan siang ya, Nenek sudah siapkan," ujar Esih menambahkan.
"Eh, gak usah, Nek. Aku kan cuman mau ke Jakarta," tolak Alvin.
"Gak apa-apa, nanti kan bisa kamu makan sama Lukman, kalau sudah sampai." Esih masih saja memaksa untuk membawakan bekal untuk cucunya.
Alvin menatap Darman yang mengangguk samar, menyuruh Alvin untuk menyetujui permintaan Esih.
Alvin pun akhirnya tidak lagi membantah keinginan dari neneknya. Mereka pun sarapan bersama, dengan suasana ceria, walau dalam hati ada kesedihan karena perpisahan yang akan terjadi.
Beberapa saat kemudian Alvin sudah berada di depan rumah dengan Imran yang duduk di atas motor.
"Nek, aku pergi dulu ya. Do'akan aku agar dilancarkan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan yang bagus di sana," ujar Alvin sambil mencium tangan Esih.
"Tanpa diminta pun, nenek akan selalu berdo'a untuk kamu, Vin. Kamu jaga diri baik-baik di sana ya, dengerin kata Mang Lukman," jawab Esih, sambil mengusap pundak cucunya.
"Iya, Nek," angguk Alvin.
"Kek, aku berangkat dulu. Do'ain aku agar bisa bertahan di sana, dan meraih kesuksesan suatu saat nanti." Alvin beralih pada Darman.
"Kamu pasti bisa menghadapi semua ini dan mendapatkan apa yang kamu impikan, Vin. Kakek tau itu," ujar Darman memberi semangat pada cucunya yang langsung diangguki oleh Alvin.
"Jaga diri baik-baik, jangan sampai kamu salah bergaul di sana," sambung Darman lagi.
Setelah acara berpamitan pada kakek dan neneknya juga para paman dan bibi yang sengaja datang, Alvin pun akhirnya naik ke atas motor milik ayahnya Imran.
"Pamit semuanya, Assalamualaikum." Alvin mengangkat salah satu tangannya sambil mengangguk samar, sebagai tanda perpisahan.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan, Vin!" jawab mereka bersamaan.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Imran yang mengendarai motor untuk mengantarkan Alvin ke tempat pemberhentian bus.
"Iya," jawab Alvin.
Akhirnya Alvin meninggalkan rumah sederhana yang sudah dia tempati selama lebih dari tiga tahun, bersama dengan pasangan tua yang masih saling menecintai.
Wajah bahagia yang sejak tadi ditampilkan di hadapan semua orang, kini berubah sendu, seiring dengan semakin jauhnya jarak antara rumah kakek neneknya dan dirinya sendiri.
Ada rasa sakit dan tidak rela di dalam hatinya, saat dirinya harus meninggalkan kehidupannya yang sudah terasa nyaman.
Namun, Alvin sudah bertekad untuk meraih kesuksesan demi membuat bangga semua keluarganya, juga kesembuhan ibu yang sangat disayanginya.
Avin harus rela untuk melepaskan kenyamanannya, agar dirinya bisa berkembang lebih baik lagi dan meraih kesuksesan suatu hari nanti.
..................
Salah satu kewajiban yang harus di jalani manusia di dalam kehidupan, adalah mengambil sebuah keputusan untuk dirinya sendiri dan mempertanggung jawabkannya.
__ADS_1