
...Happy Reading...
................
Jani tidak menolak juga tidak menyetujui, dia hanya diam tanpa berkata apa pun.
"Ini sudah malam, nanti keluarga kamu khawatir," ujar Alvin lagi, dia jelas melihat kalau Jani masih enggan untuk meninggalkannya.
"Besok aku berangkat ke luar negeri," ujar Jani.
"Iya, aku tau. Makanya kamu harus pulang sekarang, kamu harus istirahat agar besok siap untuk terbang," jawab Alvin, membuat Jani melihatnya tidak percaya.
"Jadi kamu sudah tau? Terus kenapa kamu gak menghubungi aku, Vin? Apa begitu tidak berharganya aku di mattamu, sampai kamu tidak mau bertemu denganku dulu, sebelum aku pergi?" tanya Jani dengan nada kecewa.
"Bukan begitu, Jani." Alvin akan menjelaskan, kalau dirinya sejak tadi ingin menghubungi, bahkan dia sudah berencana untuk menemuinya besok pagi, sebelum Jani berangkat.
Namun, laki-laki Jani memotong perkataan Alvin.
"Gak usah banyak alasan. Kamu memang gak pernah melihatku. Selama ini hanya aku yang selalu ada, sedangkan kamu tidak pernah menyadarinya. Heh, miris sekali hidupku yang mencintai laki-laki penuh obsesi sepertimu!" ujar Jani panjang lebar.
"Jani–"
"Kamu jahat, Vin. Kamu gak pernah melihat sedikit pun usahaku untuk terus berada di sampingmu. Kamu egois, karena kamu hanya memikirkan obsesimu itu!" Jani memukul dada Alvin.
Perkataannya tidak keras atau berteriak. Akan tetapi, lirih dengan semua ungkapan kesedihan dan kecewanya yang selama ini dipendam.
Alvin mengepalkan tangannya, dia tidak terima jika cita-citanya disebut sebagai obsesi. Dia hanya ingin hidup seperti keluarga lain, dengan ibu yang sehat dan pekerjaan yang bagus, agar nanti bisa hidup bahagia dan tidak kekurangan.
"Aku memang egois, Jani. Tapi, apa aku salah kalau aku menginginkan hidup yang normal? Aku juga lelah dengan semua ini. Tapi, aku tidak mau menyerah dan hanya diam saja, saat melihat kenyataan kalau ibuku masih membutuhkan biaya dan tangung jawabku. Selama ini aku hanya hidup demi sesuatu yang kamu bilang obsesi itu." Alvin berkata lirih, satu tetes air mata lolos begitu saja saat laki-laki itu mengatakannya.
Dia langsung pergi mengambil motor Mang Lukman dengan mata memerah menahan semua perasaan di dalam dada.
"Ayo naik, aku antar kamu pulang," ujar Alvin lagi.
Alvin mulai mengendarai motor, dia sempat menyapa para bapak-bapak di pos saat melewati mereka.
__ADS_1
Sepanjang jalan, tidak ada kata yang terucap di antara keduanya, mereka hanya diam membisu menikmati dinginnya udara malam di kota Jakarta.
Beberapa saat kemudian Alvin sudah sampai di depan rumah Jani, dia lolos begitu saja saat melewati gerbang seolah sedang ditunggu oleh seluruh keluarga.
"Assalamualaikum, Om, Tante," sapa Alvin sambil membuka helmnya.
Namun, sebelum dia menaruh helmnya di motor, tiba-tiba Arkan dan Anji menyerangnya dengan kekuatan penuh.
Alvin tidak memiliki kesempatan untuk membela diri ataupun membalas serangan kedua kakak Jani yang membabi buta.
"Dasar bajingan, gue kan udah bilang, jangan pernah sakitin adik gue, brengsek!" ujar Anji sambil terus melayangkan tinju padanya.
"Saya sudah memeperingatkanmu untuk menjaga adikku, bukan malah menyakitinya. Dasar sialan! Pengecut!" hardik Arkan.
"Bang Arkan, sudah! Anji, Alvin gak salah!" teriakan berulang kali dari Jani pun terdengar.
Sedangkan kedua orang Jani memilih membawa Jani masuk ke dalam rumah, tanpa perduli nasib Alvin di tangan Arkan dan Anji.
Pukulan di seluruh tubuhnya bukan main-main, kedua kakak Jani bukanlah orang biasa, mereka sudah dilatih ilmu bela diri sejak kecil. Tentu saja tingkat ilmunya, jauh diatas Alvin, yang hanya belajar beberapa tahun yang lalu, itu pun jika dia mempunyai waktu luang.
Sedangkan di dalam rumah, Jani terus memohon kepada Papahnya untuk melerai kedua kakaknya, agar melepaskan Alvin. Jani juga berusaha menjelaskan apa yang terjadi padanya dan Alvin.
Namun, sepertinya Papahnya tidak dalam keadaan bisa dibujuk. Tangis Jani pecah di dalam pelukan ibunya, dia terus memohon sampai kedua kakaknya masuk ke dalam dengan keringat yang menetes di wajahnya.
Jani langsung bangkit berlari, untuk menghampiri Alvin di luar. Akan tetapi, Arkan dan Anji langsung menahannya.
"Bang, aku mau melihat Alvin, aku mohon," ujar Jani, sambil berusaha melepaskan tangan kedua kakaknya yang mencekalnya.
"Sudahlah, jangan keras kepala lagi, Jani. Dari awal kita sudah melarangmu untuk berhubungan dengannya ... sekarang kamu rasakan sendiri apa akibatnya kalau kamu terlalu mencintai laki-laki!" Arkan meninggikan suaranya.
Sebagai seorang kakak, dia tidak suka adiknya menangis karena laki-laki lain, apa lagi karena laki-laki yang menurutnya sangat tidak pantas untuk Jani.
Dia juga sudah sering memergoki Jani menangis diam-diam, karena Alvin. Akan tetapi, selama ini dia terus menahan amarahnya, hingga malam ini tiba-tiba Jani menghilang dan pulang diantarkan oleh Alvin, dalam keadaan wajah yang kacau.
Arkan dan Anji lepas kendali, mereka akhirnya melepaskan amarahnya pada Alvin, setelah selama ini lelah menahannya demi kebahagiaan adik perempuan mereka.
__ADS_1
Kekacauan di rumah itu, semakin menjadi saat Jani tiba-tiba tak sadarkan diri. Semua orang yang tadi diliputi amarah, kini berganti dengan khawatir.
Malam itu juga Jani dilarikan ke rumah sakit. Pagi harinya, Jani langsung dibawa pergi ke luar negeri oleh seluruh keluarganya, tanpa diperbolehkan untuk melihat kondisi Alvin lebih dahulu. Jadwal keberangkatan yang seharusnya sore, akhirnya dimajukan menjadi pagi.
.
.
Alvin mengerjapkan matanya, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Vin, kamu sudah sadar?" Suara seseorang masuk ke dalam indra pendengarannya.
Alvin mencari sumber suara itu, walau penglihatannya masih sedikit buram.
"Alvin? Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga," ujar suara lainnya, Alvin terus mengerjapkan matanya, berusaha menjelaskan penglihatannya.
"Aku panggil dokter dulu." Satu lagi suara seseorang disusul suara langkah kaki cepat, sepertinya berlari.
Semua suara itu masih bagaikan mimpi untuk Alvin, dia masih berada di antara sadar dan tidak. Tiba-tiba kilasan kejadian malam di mana dirinya mengantarkan Jani pulang hingga berujung pengeroyokan Arkan dan Anji terlintas.
Kini seluruh pikirannya berpusat pada satu nama, hingga tanpa sadar bibirnya perlahan bergetar dan berucap lirih.
"Jani."
Perlahan pengliatannya mulai jelas, dia bisa melihat samar ajah orang yang berada di sekitarnya.
"Vin, kamu kenal aku kan? Aku, Imran," ujar Imran yang berada tepat di depan wajah Alvin.
"Vin, ini Mang Lukman, kamu masih ingat kan?" Kini giliran Mang Lukman yang berbicara.
Alvin tersenyum, dia tentu mengingat semua orang yang sudah berjasa di dalam hidupnya.
"Ah, aku kira kamu gak ingat lagi sama aku, Vin!" desah Imran, dengan wajah sumringah.
Tak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Alvin dengan teliti, dia juga menanyakan beberapa hal pada Alvin dan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setelah sadar.
__ADS_1
.................