ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Baju Ganti


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


"Ekhm!" Jani berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Alvin bangun setelah Jani berdiri lebih dahulu, dia membenarkan kaos yang sedikit tersingkap di bagian bawahnya, hingga perutnya terlihat mengintip.


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang juga sedang berteduh, tapak terkejut dengan kejadian itu. Akan tetapi, tidak ada yang berinisiatif untuk menolongnya.


Mereka yang mengira kalau Alvin dan Jani sudah menjalin hubunga, menganggap itu hanyalah candaan orang yang sedang berpacaran.


Walaupun tidak bisa dipungkiri, mereka tidak bisa menghindari pemandangan indah di depan mata. Entah itu Alvin yang tampak sempurna, ataupun kecantikan alami jani.


"Astagfirullah," gumam Alvin, sambil membenarkan bajunya, dia sangat tidak nyaman saat sadar telah menjadi bahan tontonan para mahasiswa.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Alvin beralih pada Jani, dia membawa Jani untuk kembali berteduh.


Untung saja tadi dia sempat menaruh tasnya, hingga laptop dan barang-barang penting lainnya aman, tidak terkena basah.


"Heuh?! A–aku gak apa-apa kok," jawab Jani dengan suara terbata.


"Kamu bawa baju ganti gak? Kalau seperti ini terus kamu bisa masuk angin," ujar Alvin, dia bisa melihat bibir Jani yang tampak bergetar menahan dingin.


Jani menggeleng, hari ini dia pergi ke kampus dengan diantar sopir karena motornya masuk bengkel.


Alvin menggaruk tengkuknya bingung, dia hanya membawa baju ganti untuk kerja, mana berani dia memberikan itu untuk Jani pakai.


"Bagaimana kalau kamu telepon Anji saja," saran Alvin.


"Dia cuman ada satu kelas hari ini, jadi udah pulang duluan," jawab Jani.


Alvin bingung, dia takut Jani masuk angin. Akan tetapi, dia juga malu untuk menyerahkan baju gantinya.


"Bukannya biasanya kamu bawa baju ganti, boleh pinjam gak?" tanya Jani. Sejak tadi dia memang sengaja mencari alasan, agar bisa meminjam baju dari Alvin.


Bukankah kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin, apalagi yang langka seperti ini. Jani tentu saja tidak mau melewatkannya.


Memakai baju milik Alvin. Ah, membayangkannya saja sudah membuat hatinya senang dan berbunga. Apalagi kalau sampai kejadian.


Alvin menggaruk belakang kepalanya, dia meringis merasa ragu untuk menjawab pertanyaan Jani.


"Ada sih," jawab Alvin ragu.


"Ya udah, kalau gitu aku pinjam dulu ya," ujar Jani penuh semangat.


Alvin akhirnya mengangguk perlahan, dia mengambil tas yang dia sandaran di samping tembok, lalu mengambil baju ganti miliknya.

__ADS_1


"Ini." Alvin menyerahkan baju ganti miliknya pada Jani.


"Aku ganti baju dulu ya, kamu tungguin di sini," ujar Jani langsung mengambil baju dari Alvin.


Alvin hanya mengangguk, kaos Jani yang basah tampak mencetak lekuk tubuhnya, itu semua membuat dirinya merasa tidak nyaman menatapnya.


Dia mengacuhkan tubuhnya sendiri yang juga basah kuyup. Sebagai seorang laki-laki yang terbiasa dengan kehidupan rakyat biasa, daya tahan tubuh Alvin tentu saja lebih kuat dibandingkan dengan Jani.


Dirinya sudah biasa terkena hujan. Bahkan kadang di kampung Alvin sering bekerja di sawah sambil hujan-hujanan. Itu semua tidak akan berpengaruh pada tubuhnya.


Berbeda sekali dengan Jani yang terbiasa hidup mewah dan lahir di kalangan atas, kehidupannya pasti sangat diperhatikan dan penuh peraturan.


Beberapa saat kemudian, Jani tampak berjalan dengan baju yang sudah berganti dengan baju milik Alvin, tampak longgar sampai menutup pahanya.


"Makasih ya," ujar Jani begitu sampai di hadapan Alvin.


"Lebih baik kamu telepon sopir biar jemput." Alvin tidak mau menjawab perkataan terima kasih Jani.


"Sudah kok, sebentar lagi juga sampai. Kebetulan Mama lagi belanja gak jauh dari sini," jawab Jani enteng.


Kalau ibunya sedang belanja, kenapa dia malah minta ganti baju punyaku? batin Alvin.


Alvin melihat hujan sudah mulai reda, walau masih ada tetes gerimis kecil.


"Ya sudah, lebih baik kamu tunggu di parkiran aja, biar cepat," ujar Alvin.


Tidak lama setelah mereka sampai di parkiran, mobil yang biasa mengantarkan Jani tampak memasuki area kampus.


"Itu dia mobil Mama," ujar Jani, melihat mobil itu kini berhenti tepat di depan mereka.


Terlihat seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik, wajahnya tampak panik sambil melangkah mendekati Alvin dan Jani.


"Ya ampun, sayang, kenapa kamu sampai kehujanan begini heh? Untung saja Mama ada di dekat sini, kalau gak gimana?" cerocos wanita paruh baya itu.


"Aku gak apa-apa, Mah. Tadi ku kepeleset pas mau berteduh, jadinya malah basah kuyup begini," jawab Jani, sedikit berbohong pada Keyra–ibunya.


"Astaga, apa ada yang luka, sayang? Mana coba Mama periksa dulu kamu." Keyra tampak sangat khawatir.


"Gak apa kok, Mah. Untung saja tadi Alvin nolongin aku, jadi aku gak kenapa-napa," jawab Jani, sambil menoleh pada Alvin yang sejak tadi diam saja.


Keyra ikut menoleh pada seorang laki-laki di samping Jani.


"Jani ini yang namanya Alvin?" tanya Keyra, kini perhatiannya beralih pada laki-laki yang disukai oleh anak bungsunya itu.


"Iya, Tante. Maaf, Jani jadi basah kuyup," jawab Alvin, sambil menganggukkan kepala samar, tanda sopan santun. Senyum tipis pun tampak menghiasi wajah tampannya.


Keyra menatap Jani dengan senyum menggoda, walaupun selama ini Jani tidak pernah memberitahu nama laki-laki yang dia sukai. Akan tetapi, dia yakin kalau Alvin lah laki-laki itu.

__ADS_1


Mengingat selama ini Jani memang jarang mau berteman dengan laki-laki, kecuali kedua teman Anji. Itu pun jika mereka hanya bermain bersama, dia tidak pernah mau bergabung bila ada Anji.


Jani menggeleng samar, memberi isyarat agar Keyra tidak berbicara yang aneh-aneh pada Alvin.


"Ah, tidak apa-apa, itu bukan salah kamu. Jani memang sangat ceroboh ... harusnya tante berterima kasih sama kamu, karena mau menolong Jani," ujar Keyra.


Alvin hanya tersenyum, bingung mau menimpali perkataan Keyra seperti apa. Karena memang dialah yang menyebabkan Jani menunggu di tengah gerimis, sampai akhirnya harus berteduh di teras kampus.


"Kamu malah ikutan basah karena Jani. Tunggu sepertinya di mobil ada baju Papahnya Jani." Keyra langsung berbalik mencari baju ganti yang biasa sia siapkan untuk suaminya di mobil.


"Eh, tidak usah, Tante. Saya gak apa-apa kok," tolak Alvin.


"Udah, gak apa-apa. Bukannya kamu masih ada satu kelas lagi? Gimana mau masuk kalau kondisi kamu basah begini?" ujar Jani.


Alvin terdiam, dia memang harus menghadiri satu kelas lagi. Akan tetapi, dia juga tidak mau merepotkan Jani dan Keyra. Apalagi itu adalah baju milik Papahnya Jani.


"Ini, kamu ganti pakai baju Papahny Jani. Mungkin agak kebesaran, tapi setidaknya kamu gak pakai baju basah seperti itu." Keyra memberikan paper bag pada Alvin.


"Tapi, Tante–"


"Gak usah banyak tapi, terima aja. Daripada kamu sakit, nanti Tante dan Jani akan merasa bersalah, karena kamu begini gara-gara Jani." Keyra langsung memotong perkataan Alvin, sambil mengambil tangan Alvin dan memberikan paper bag secara paksa.


Alvin akhirnya mau menerimanya, dia meringis merasa tidak enak pada Jani dan Keyra.


"Terima kasih, Tante, Jani," jawab Alvin.


"Gak usah sungkan. Kalau gitu kami pulang duluan," pamit Keyra.


Alvin mengangguk lalu mengambil tangan Keyra untuk dia cium punggungnya.


"Hati-hati di jalan, Tante," jawab Alvin.


Keyra mengangguk sambil tersenyum, kemudian masuk ke dalam mobil.


"Ini bekal untuk kamu, jangan lupa dimakan," ujar Jani sambil memberikan kotak bekalnya.


"Makasih untuk bajunya, aku pulang dulu, daah!" sambung Jani lagi sambil melambaikan tangannya.


"Eh, jaket aku," tahan Alvin.


"Jaketnya biar aku cuci dulu, nanti aku kembalikan kalau udah bersih," jawab Jani sambil masuk ke dalam mobil.


Alvin hanya melongo melihat Jani yang sudah menutup pintu, dia tidak mungkin meminta jaketnya di depan Keyra, sedangkan dirinya diberikan pakaian oleh wanita paruh baya itu.


"Daah, Alvin!" Keyra melambaikan tangannya sari drama mobil, saat mobil mulai melaju.


Alvin hanya tersenyum tipis sambil mengangguk samar.

__ADS_1


......................


__ADS_2