ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Wisuda


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


"Selama ini dia udah banyak banget bantu Alvin, Mah. Tapi, Alvin belum bisa balas semua bantuan yang Alvin terima," ujar Alvin lagi, sambil tersenyum miris.


Entah dengan apa dia akan membalas bantuan yang telah dilakukan oleh Jani dan keluarganya.


Alvin kembali melihat Ganis, dia sadar kalau sejak tadi malah membicarakan orang lain dengan ibunya.


"Mama, sehat-sehat, ya, di sini. Alvin yakin, gak lama lagi kita akan kembali bersama. Iya kan, Mah?" ujar Alvin lagi.


.


.


Alvin berjalan menuju gedung tempat acara wisuda Jani beralngsung, tampilan sederhana dengan memakai kemeja berwarna merah gelap yang dipadukan, celana bahan berwarna hitam, membuat laki-laki muda itu tampak berbeda dari biasanya.


Langkahnya yang tegas, dengan postur tubuh yang bagus, membuat Alvin lumayan menjadi perhatian para tamu yang lain.


Alvin masuk ke dalam ruangan tempat wisuda Jani. Ternyata acara sudah dimulai, hingga membuat Alvin harus duduk di kursi belakang.


Dari sana dia bisa melihat keluarga Jani di barisan paling depan, bersama dengan para petinggi universitas yang lainnya. Sedangkan Jani berada di barisan para mahasiswa.


Alvin menunduk, melihat buket bunga yang berada di pangkuannya. Bukan buket bunga yang besar dan mewah, seperti kebanyakan orang-orang di sini bawa.


Beberapa jam berada di ruangan itu, akhirnya acara selesai. Alvin berdiri di depan pintu ke luar, menunggu Jani selesai.


"Alvin, aku gak nyangka kamu beneran datang," ujar Jani setelah dia berdiri di depan Alvin.


Laki-laki itu tersenyum, kemudian lebih dulu menyapa orang tua Jani dan para kakaknya.


"Mana mungkin, aku gak datang. Kan, aku sudah janji," jawab Alvin, setelah keluarga Jani pergi lebih dulu.


"Selamat, ya, akhirnya kamu bisa wisuda dengan peringkat yang memuaskan. Semua keluarga kamu pasti bangga," ujar Alvin lagi.


"Iya, dong. Siapa dulu? Jani!" ujar Jani sambil menepuk dadanya berulang kali.


Alvin terkekeh, dia kemudian memberikan buket bunga yang sejak tadi dia pegang di belakang punggung.

__ADS_1


"Wah, bagus banget, Vin. Makasih, ya." Jani terlihat sangat senang.


"Ayo, kita foto dulu," ajak Jani membawa Alvin pada spot foto.


Mereka berdua sempat berpose beberapa kali, hingga ponsel Jani berdering. Ternyata itu dari Anji yang meminta Jani cepat ke luar, mengingat mereka akan mengadakan sesi foto di studio yang sudah mereka sewa sebelumnya.


"Vin," keluh Jani manja, dia masih ingin bersama Alvin.


"Udah sana, kasihan keluarga kamu sudah pada nunggu," ujar Alvin. Dia tidak mau menjadi penghalang untuk kebahagiaan keluarga Jani.


"Ck!" Jani berdecak.


"Ayo, aku antar ke mereka." Alvin mengambil tangan Jani lalu membawanya menuju parkiran, di mana keluarga Jani menunggu.


"Maaf, Om, Tante," ujar Alvin begitu mereka sampai di hadapan kedua orang tua Jani.


"Gak apa. Ya, sudah kita berangkat sekarang," ujar tegas Papah Jani.


Alvin menunggu dua mobil keluarga Jani sampai tidak terlihat, baru dia pergi dari area gedung.


Namun, saat dia berbalik, tiba-tiba saja dirinya menabrak seseorang hingga barang bawaan orang itu jatuh.


Alvin tersenyum ramah sambil menyerahkan barang bawaan orang yang dia tabrak. Ternyata itu adalah seorang wanita paruh baya dengan penampilan mewah di hampir seluruh tubuhnya.


Mekap tebal bagaikan topeng dan kacamata hitam besar dengan manik-manik di bingkainya pun tampak menghiasi wajah wanita paruh baya itu.


"Makanya kalau jalan liat-liat dong, dasar miskin!" sarkas wanita paruh baya itu sambil mengambil barang-barangnnya di tangan Alvin, lalu berlau begitu saja dari sana.


Alvin menatap heran wanita paruh baya itu, kemudian hanya mengedikkan bahu, tidak mau terlalu memikirkan orang-orang semacam itu. Toh, dia yakin kalau itu adalah pertama dan terakhir kalinya dia bertemu dengan wanita itu.


Tanpa Alvin, tahu suatu hari nanti wanita itu akan menjadi batu sandungan untuknya.


.


.


Setelah acara wisuda itu, Alvin dan Jani menjadi jarang bertemu. Jani yang sedang sibuk menyiapkan keperluannya untuk pindah ke luar negeri, tidak sempat menemui Alvin di kantor seperti biasa.


Sedangkan hari-hari Alvin masih saja sibuk dengan kerja dan kuliah, laki-laki itu memang tidak pernah memiliki waktu untuk sekedar memikirkan orang lain, termasuk Jani.

__ADS_1


Seperti saat ini, dia sedang melihat salah satu contoh rumah yang sudah dibangun untuk kebutuhan promosi, bersama salah satu rekan kerjanya yang bernama Sita.


Sita adalah senior sekaligus menjadi patner kerja utama untuk Alvin. Alvin sering berdiskusi banyak hal dengan perempuan itu, dan ke luar bersama.


"Awas, Mba!" Alvin menarik lengan Sita saat perempuan itu hampir saja terserempet motor.


"Hah! Makasih, Vin." Sita tampak menekan bagian dadanya, untuk meredam detak jantung yang bertalu, akibat terkejut.


"Lain kali lebih hati-hati, Mba. Inget sebentar lagi nikah," ujar Alvin sambil mengangguk.


Sita memang sudah memiliki tunangan, walau mereka berhubungan secara berjauhan, atau lebih terkenal disebut LDR.


Rencananya bulan depan Sita akan menikah di kampungnya, bersama tunangan yang sudah menjadi pacarnya lebih dari lima tahun.


"Iya-iya, ini aku juga hati-hati kok," jawab Sita sambil berdecak.


Alvin hanya menggeleng, kemudian memandu Sita untuk menyebrang jalan, agar bisa sampai menuju lokasi perumahan.


Akibat tidak kebagian mobil kantor, akhirnya Alvin dan Sita memilih naik taksi. Akan tetapi, saat jarak mereka hanya tinggal sedikit lagi, taksi yang mereka tumpangi mogok, hingga terpaksa keduanya berjalan di bawah terik matahari yang serasa membakar kulit.


Tanpa mereka tahu, Jani yang baru saja ke luar dari salah satu pertokoan tidak jauh dari sana, melihat Alvin dan Sita.


Ternyata kamu sudah mempunyai kekasih? Pantas saja, kamu tidak menahanku untuk tetap di sini, Vin. Jani membatin, menahan sakit di dalam hati saat melihat Alvin dekat dengan perempuan selain dirinya.


Walaupun begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ini Jani sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa di hati Alvin.


"Ternyata kesabarnku selama ini, tidak bisa meluluhkan hatimu, Vin. Aku sadar sekarang, mungkin kamu memang bukan untukku," gumam Jani, sambil melanjutkan langkahnya menuju mobil Anji.


"Liatin apa sih, lama banget?! tanya Anji, saat Jani baru saja masuk ke mobil.


"Gak ada, tadi kayaknya aku liat ada temanku. Tapi, ternyata aku salah liat," jawab Jani, sambil memasang sabuk pengaman.


Pergi ke luar negeri mungkin memang yang terbaik untuk kita berdua. Setidaknya, di sana aku tidak akan terus mengingat kamu, Vin. Aku berharap suatu saat nanti bisa melupakan kamu. Jani bergumam dalam hati, dengan satu tetes air mata lolos begitu saja.


Sejak hari itu, Jani mencoba menjauhi Alvin. Dia tidak pernah sengaja datang ke kantor untuk menemui Alvin lagi. Bahkan pesan yang selalu dia kirim pada Alvin, seperti menanyakan makan atau sedang apa. Itu pun tidak dia lakukan lagi.


Jani benar-benar berusaha untuk hidup tanpa ada bayang-bayang Alvin lagi.


.....................

__ADS_1


__ADS_2