
...Happy Reading ...
......................
[Kakak laki-laki Indira meninggal, tolong bantu aku beritahu dia pelan-pelan, dan antarkan Indira ke rumahnya.]
Alvin mengirim pesan pada Jani setelah beberapa menit yang lalu mereka berpisah. Dia tidak akan sanggup untuk mengatakan kabar duka itu, apalagi ini semua disebabkan oleh dirinya sendiri.
^^^[Apa? Kenapa kamu tidak bilang sendiri tadi sama dia?]^^^
[Maaf, merepotkanmu] Hanya itu yang bisa Alvin tulis, kemudian dibalas dengan emotikon cemberut oleh Jani.
Alvin menghembuskan napas kasar sambil kembali mengantongi ponsel miliknya.
Sementara itu, Jani yang masih di dalam perjalanan melirik keberadaan Indira yang tengah menyetir. Dia bingung harus mengatakan kabar duka ini dengan cara apa.
Astaga, Vin, kamu memang benar-benar sedang mengerjai aku, gerutu Jani di dalam hati.
"Kak, boleh kita mampir dulu di mini market itu, aku mau beli sesuatu," ujar Jani, takut juga dia kalau harus memberi tahu Indira dalam keadaan menyetir seperti ini.
Beberapa saat kemudian Jani yang bertukar tempat dengan Indira tampak memarkirkan mobilnya di kediaman Indira. Bendera kuning menyambut kedatangan Indira, banyak orang yang juga sudah datang ke rumahnya.
Indira tampak masih duduk dengan menatap lurus ke depan di mana rumahnya berada. Raut wajahnya tampak datar, tidak terlihat ada riak kesedihan di dalam sorot matanya.
Jani menepuk pundak Indira, menyadarkannnya dari lamunan panjang. "Kak," panggil Jani pelan.
Indira melihat ke arah Jani, dia kemudian menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Setelah itu Indira pun ke luar dari mobil, dan berjalan memasuki rumah yang sudah penuh dengan para pelayat.
Jani berjalan mengekor Indira di belakang, dia mengedarkan pandangannya melihat situasi yang sudah tampak ramai.
"Dari mana saja kamu? Kakak kamu meninggal kamu malah gak bisa dihubungi!" Seorang paruh baya tampak menghampirinya dan langsung menudingnya dengan kata pedas.
Ya, itu adalah ibu tiri Indira, dia tampak menatap Indira dengan penuh kebencian. Masih terlihat bekas air mata di pipinya, sepertinya dia baru saja tenang setelah menyesali kepergian anak kesayangannya itu.
"Kamu senang kan karena sekarang tidak ada lagi yang merebut perhatian ayahmu! Dasar anak manja!" sambungnya lagi dengan mata yang memerah.
__ADS_1
Indira tidak menjawab, dia hanya membalas tatapan ibu tirinya kemudian melanjutkan langkahnya dengan Jani yang setia menemani.
"Sayang, kamu dari mana? Kenapa baru datang?" Kini tunangan Indira yang ternyata sudah berada di sana menghampirinya.
Kedatangan laki-laki yang telah menjalin hubungan lama dengannya itu, mampu mengalihkan perhatian Indira, dia menatapnya dengan perasaan bercampur aduk.
"Ada yang harus aku urus dulu di luar. Kamu, kapan datang?" tanya Indira.
"Belum lama, sekitar sepuluh menit yang lalu. Kami langsung ke mari setelah mendengar kabar kematian kakakmu," jelasnya.
Indira tersenyum miris disaat semua kolega dan rekan bisnis diberitahu, sedangkan dirinya sendiri malah tahu dari orang lain.
"Kami? Kamu ke sini sama orangtuamu?" tanya Indira.
"Iya," angguknya.
Jani juga bertemu dengan Arkan dan Anjas yang ternyata juga datang, mereka akhirnya pamit pulang karena jenazah akan dimakamkan esok pagi, menunggu kedatangan Tuan Gemang dan Nyonya Hartari dan keluarga lainnya yang berada di luar kota.
"Kamu datang, Nak?" Pak Mardo yang terlihat begitu terpuruk akhirnya menghampiri Indira yang hanya berdiam diri di kamar, setelah kedatanganya.
"Heem," angguk Indira melirik wajah ayahnya yang tampak begitu terpukul.
Tiba-tiba ingatannya tentang kondisi Ganis dan Alvin melintas dikepala membuatnya curiga kalau kematian Roy ada kaitannya dengan itu.
"Papi meminta maaf atas nama Roy, kalau dia memiliki salah padamu, Dira," ujar lirih Pak Mardo, suaranya terdengar parau.
"Dua sekarang sudah pergi, Papi harap kami bisa memaafkan semua kesalahannya," sambung Pak Mardo lagi.
Indira tersenyum miris, entahlah apa dia bisa memaafkan Rio, setelah yang laki-laki itu lakukan padanya.
Indira menatap wajah Pak Mardo, dia kemudian menggeser duduknya agar berhadapan langsung dengan laki-laki paruh baya itu.
"Apa semua ini ada kaitannya dengan Alvin dan Tante Ganis?" tanyanya, tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia juga mau mengalihkan pembicaraan dari permintaan maaf, karena dia belum bisa menjawabnya sekarang.
Indira tahu kalau ini bukanlah waktu yang tepat. Akan tetapi, dia takut tidak akan ada waktu yang pas lagi untuknya bertanya pada ayahnya.
__ADS_1
Pak Mardo langsung menatap Indira dengan kening berkerut dalam. "Kamu sudah tahu kabar Ganis?"
Indira mengangguk.
"Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Mardo, sepertinya dia begitu penasaran dengan kabar adik perempuannya itu.
"Aku akan beritahu, kalau Papi jawab pertanyaan dariku dulu," ujar Indira.
Pak Mardo tampak menegakkan tubuhnya, wajahnya tampak tegang saat mendengar persyaratan dari Indira.
"Sudahlah, Dira, Papi sedang malas berdebat, lebih baik kamu katakan saja bagaimana kondisi Ganis sekarang," ujar Pak Mardo dengan hembusan napas lelah.
Indira mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.
"Tante Ganis kritis, dia terlalu banyak kehilangan darah. Sekarang dia masih berada di ruang ICU."
Indira bisa melihat raut wajah terkejut dan penuh penyesalan dari Pak Mardo, itu membuatnya yakin kalau semua kejadian hari ini pasti berkaitan.
"Setelah semua ini, apa Papi masih mau melanjutkan keinginan Papi untuk mengambil alih perusahaan Eyang? Sekarang Kak Roy, sudah meninggal, Pih," ujar lirih Indira.
Indira sudah sangat jengah melihat ayahnya yang terus menuruti hasutan dari ibutirinya yang serakah itu.
Padahal waktu dia kecil, Pak Mardo adalah sosok ayah dan suami yang baik untuknya dan ibunya. Namun, semua berubah saat ibu tirinya datang dengan membawa Roy yang ternyata adalah anak Pak Mardo sebelum menikah dengan ibunya Indira.
Kebahagiaan keluarganya langsung sirna, hanya karena kehadiran Roy sebagai anak laki-laki, hingga menjadi kesayangan Pak Mardo.
Pak Mardo terdiam mendengar pertanyaan Indira yang nyatanya menohok hatinya yang tengah berduka.
"Sudahi semua ini, Papi. Jangan sampai ada yang menjadi korban lagi. Harta hanya sementara, dia tidak akan pernah bisa kita bawa mati," sambung Indira lagi.
Pak Mardo menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, matanya tampak kembali berkaca-kaca saat mengingat kematian Roy yang dia saksikan sendiri.
"Papi belum memikirkan itu, sekarang Papi, hanya ingin mengantarkan Roy dengan baik," jawabnya ambigu.
Indira menhhembuskan napas kasar, sifat keras ayahnya memang sulit untuk diluluhkan. Mungkin kali ini Indira hanya bisa berdoa dan bergantung pada takdir yang menyertai setiap manusia.
__ADS_1
......................