
...Happy Reading ...
......................
Hari terus beganti, Nenek dan Imran kini sudah kembali ke kampung halaman, begitu juga dengan Alvin yang kembali pada kesibukan pekerjaannya di kantor. Seperti siang ini, Alvin yang sedang sibuk dengan berbagai berkas di atas meja, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan ibunya Indira.
Sejak Alvin bekerja di kantor itu, baru pertama kali ini Ibu bosnya datang ke kantor.
"Selamat siang, Nyonya," sapa Alvin ramah, saat perempuan paruh baya itu melewati meja kerjanya.
Dengan langkah angkuh Bu Mardo – Ibu tirinya Indira, melewati Alvin begitu saja, dia bahkan sampai membuang muka, menandakan kalau dia tidak suka pada Alvin.
"Tunggu, Nyonya. Nona Indira, sedang ada tamu," cegah Alvin, saat Bu Mardo hendak membuka pintu ruangan Indira.
"Saya ibunya, jadi kamu tidak usah melarang-larang saya!" bentak Bu Mardo langsung.
"Tapi, Nyonya. Tadi Nona Indira berpesan, kalau dia tidak mau diganggu," dalih Alvin lagi.
"Aku tidak peduli! Aku mau masuk sekarang! Atau kamu mau aku penat sekarang, hah?!" tantang Bu Mardo, dengan suara yang meninggi, hingga menarik perhatian karyawan lainnya.
"Nyonya, saya minta tenang dulu. Biarkan saya konfirmasi pada Nona Indira lebih dulu." Alvin masih berusaha tetap tenang.
"Berani-beraninya kamu menentang keinginanku, hah! Kamu tau aku ibunya Indira, di sini aku bisa saja menyuruhnya memecatmu saat ini juga, kamu tau!" Bu Mardo marah-marah pada Alvin.
"Bukan begitu, Nyonya. Tapi–" Belum sempat Alvin meneruskan perkataannya, pintu ruangan Indiri terbuka, menampilkan Indira dan seorang laki-laki bertubuh tegap.
"Ada apa ini?" tanya Indira dengan wajah bingung.
"Begini, Nona–"
"Sekretaris kamu ini benar-benar kurang ajar, dia menahanku di sini, padahal aku ini ibu bosnya!" Bu Mardo langsung memotong penjelasan Alvin.
Alvin langsung terdiam, tidak mungkin dia membantah Ibu dari bosnya, di depan banyak karyawan lain.
Indira tidak langsung menjawab, dia lebih dulu meminta Alvin untuk mengantarkan tamunya.
Alvin pun mengangguk kemudian mempersilahkan tamu Indira untuk berjalan ke luar lebih dulu,.
"Semuanya, silahkan kembali ke tempatnya masing-masing," ujar Alvin pada para karyawan yang berkumpul di sekitarnya.
__ADS_1
Suaranya memang tidak terlalu tinggi, akan tetapi, Alvin menekan hampir di semua perkataannya. Ditambah dengan tatapan tajam yang jarang sekali Alvin tamplkan.
Para karyawan pun perlahan mulai membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing. Sedangkan tamu Indira yang melihat itu, menatap Avin dengan tatapan tak terbaca.
Sementara itu, Indira langsung membuka pintu untuk ibu tirinya masuk ke dalam kantor.
"Ada apa, Mami, datang ke sini?" tanya Indira begitu dirinya menutup pintu.
"Kenapa anak kurang ajar itu masih ada di kantor ini?" tanya Bu Mardo dengan nada suara marah.
"Anak kurang ajar, siapa? Alvin?" Indira masih berusaha tenang.
"Siapa lagi kalau bukan dia? Jangan pernah sebut namanya di depanku, aku tidak mau kamu menyebut namanya lagi." Bu Mardo tampak menatap Indira tajam.
"Aku mau, sekarang juga kamu pecat dia dari kantor ini! Kalau tidak, aku akan minta Papi kamu untuk memecatmu dan memindahkan kamu ke luar negri. Bagaimana?" ancam Bu Mardo pada Indira.
"Loh, Mami, gak bisa gitu dong! Dari awal aku yang berada di sini, aku dan Alvin yang berusaha keras mencari investor baru, dan menawarkan kerja sama ke perusahaan satu per satu, untuk memajukan perusahaan yang hampir bangkrut ini. Tapi, sekarang, Mami, mau aku memecat Alvin begitu saja, bahkan mau membuang aku lagi ke luar negri?!" bantah Indira, tidak terima dengan ancaman ibu tirinya yang tidak tahu diri itu.
"Kenapa, Mam? Kenapa, Mami, melakukan ini padaku dan Alvin?"
"Aku bilang, jangan sebut nama anak sialan itu di depanku!" sentak Bu Mardo, memotong pertanyaan Indira.
"Berani kamu, menaikan suaramu di depanku, hah?! Dasar anak urang ajar!" hardik Bu Mardo, menujuk tajam wajah Indira.
Alvin dan Pak Mardo yang baru saja datang yang baru saja datang, melebarkan matanya saat melihat pertengkaran antara ibu dan anak di depannya.
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian harus bertengkar di kantor seperti ini, hah?" teriak Pak Mardo yang membuat pertengkaran anak dan ibu itu langsung berhenti seketika. Sedangkan Alvin hanya bisa melihat kekacauan yang terjadi di ruangan bosnya itu.
Alvin bertemu Pak Mardo bertemu di lobi, saat Alvin mengantarkan tamu Indira ke luar, mereka pun akhirnya berjalan bersama menuju ke ruangan Indira.
"Papi?" gumam Indira dan Bu Mardo bersamaan, dengan wajah terkejutnya. Keduanya menatap dua orang laki-laki yang kini berdiri di depan pintu bergantian.
Indira memperhatikan keduanya dari ujung kaki sampai ujung kepala, seolah sedang mencari kemiripan dari dua orang laki-laki yang dia curigai sebagai anak dan ayah.
Berbeda dengan Indira, Bu Mardo malah terlihat terkejut melihat suaminya berada di sana, kemudian melirik penuh kebencian pada Alvin.
"APa yang kalian ributkan, hingga suara kalian terdengar sampai ke luar, hah? Bikin malu saja!" decak Pak mardo, sambil mengendurkan dasi di lehernya yang terasa mencekik.
Laki-laki paruh baya itu langsung menyusul istrinya, saat tau istrinya pergi ke kantor Indira. Benar saja, ternyataistrinya itu tidak bisa menahan amarahnya dan malah membuat kekacauan di kantor seperti ini.
__ADS_1
"Nona, tidak apa-apa?" Alvin bertanya hanya dengan gerakan mulut saja.
"Saya tidak apa-apa. Sekarang kamu boleh ke luar dari ruangan ini, dan tolong jangan sampai ada orang lain yang masuk ke sini," ujar Indira, memberi instruksi pada Alvin.
"Baik, Nona," angguk Alvin.
"Tuan, Nyonya, dan Nona, saya permisi ke luar dulu," ujar Alvin, kemudian membungkuk kilas sebelum berbalik badan untuk berjalan ke luar kembali.
Pak mardo dan Bu Mardo terlihatt hanya melihat Alvin dari ujung mata, tanpa mau menanggapi. Sedangkan Indira mengangguk sebagai jawaban.
Alvin ke luar lalu berjaga di depan pintu ruangan Indira, memastikan tidak aad yang boleh masuk ke dalam, sebelum Indira kembali memberikan informasi padanya, atau kedua orang tua bosnya itu pergi.
Sementara itu di dalam, Indira menunduk takut saat sorot mata tajam Pak Mardo eakan menusuk seluruh tubuhnya.
"Kenapa anak itu masih berada di sini? Bukannya ku sudah menyuruhmu memecatnya?" tanya Pak Mardo, menayakan hal yang sama seperti Bu mardo.
Sepertinya kehadiran Alvin dalam hidup mereka sangat berpengarus, jika melihat dari sikap kedua orang tua indira itu. Entah ada hubungan apa antara Alvin dan orang tuanya, hingga mereka begitu kentara saat merasa terancam akan kehadiran Alvin.
"Kanapa, Papi, mau aku memecatnya dari sini? Aku butuh alasan yang jelas, Papi. Dari awal aku ditugaskan di perusahaan kecil ini, aku sudah bekerja dengan Alvin. Kita berjuang bersama untuk memajukan perusahaan yang bahkan sudah hampir bangkrut. Tapi, sekarang kenapa, Papi, malah menyuruhku memecatnya?" ujar Diandra dengan suara yang terdengar bergetar.
"Dia hanya seorang sekretaris, tidak butuh alasan untuk memcatnya, apalagi dia belum lama bekerja di sini," ujar Pak Mardo, kini ketiganya memilih duduk di sofa yang ada di sana.
"Dia laki-laki yang berbakat dan bekerja keras, lima puluh persen kemajuan perusahaan ini adalah berkat usahanya, Pah. Dia bahkan sering bekerja lembur, padahal dia sendiri sedang menempuh kuliah tahun terakhir," Indira masih mencoba meluluhkan hati Pak Mardo.
"Siapa yang menyuruhnya untuk bekerja keras demi kantor ini, hah? Itu saja sudah membuktikan, kalau dia hanya laki-laki yang sering mencari muka di depan atasan, dan kamu adalah atasan yang berhasil dia kelabuhi," debat Pak Mardo.
"Papi, gak kayak gitu–"
"Pokoknya, Papi Mau dalam bulan ini anak itu harus sudah angkat kaki dari kantor ini." Pak Mardo langsung memotong ucapan Indira.
"Sebenarnya ada hubungan apa sih, Papi dan Alvin? Kenapa kalian inginseklai menyingkirkannya dari sini?" ujar miris Indira, menatap orang tuanya dengan wajah datar.
"Apa ini semua karena Alvin adalah anak Papi dari selingkuhan Papi yang lain?" sambung Indira lagi, yang langsung membuat mata kedua paruh baya itu melebar.
......................
......................
__ADS_1