
...Happy Reading...
......................
Alvin akhirnya memilih untuk membawa Indira ke kontrakan untuk sementara waktu. Dia tidak tahu harus membawa Indiria ke mana lagi selain ke tempatnya tinggal.
Melihat itu, banyak dari para tetangga dan yang lainnya memperhatikan Alvin, mengingat selama ini belum pernah ada perempuan yang Alvin bawa ke rumahnya selain Anjani.
"Nona, tunggu di sini dulu, aku akan menyiapkan baju ganti dan peralatan mandi. Maaf, di sini tidak ada baju perempuan, jadi paling bisa memakai baju miliku, apa tidak keberatan?" tanya Alvin.
"Gak apa, Vin. Makasih untuk semuanya," jawab Indira.
Alvin mengangguk, dia kemudian berlalu ke dalam rumah untuk menyiapkan keperluan Indira.
Beberapa saat kemudian Alvin sudah kembali, dia membiarkan Indira masuk untuk mandi dan ganti baju, urusan menginap mungkin nanti akan Alvin bicarakan lagi dengan Pak Umar dan Mang Lukman.
Alvin duduk di kursi depan sambil membawa laptopnya, pekerjaan di kantor belum selesai, akibat penyerangan yang dilakukan Pak Mardo. Dia harus segera mengerjakannya agar besok bisa diserahkan pada Ezra.
"Tumben kamu kerja di luar, Vin?" tanya Pak Umar yang baru saja datang.
"Eh, iya, Pak. Bapak, baru pulang?" tanya Alvin, lebih ke basa-basi saja.
Pak Umar mengangguk. "Ke dalam dulu, Vin. Gerah nih."
Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban, kemudian kembali fokus pada laptop di depannya.
Tiga puluh menit berselang, Indira tampak ke luar dari dalam dengan baju milik Alvin yang terlihat sedikit kedodoran di tubuhnya.
"Ehkm!" Alvin yang melihat itu, langsung berdehem demi menyembunyikan tawanya.
Jujur saja, saat ini Indira terlihat sangat lucu, dengan wajah tanpa riasan dan pakaian sederhana milik Alvin, dia begitu berbeda dari biasanya yang selalu tampil sempurna.
"Jangan ketawa!" tuding Indira, mengerucutkan bibirnya, sambil duduk di samping Alvin.
"Enggak," geleng Alvin setelah menormalkan raut wajahnya.
"Ck! Keliatan banget bohongnya," gerutu Indira.
Alvin hanya tersenyum tipis tanpa berniat menanggapi gerutuan Indira lagi.
"Luka itu sepertinya harus dikompres, tunggu sebentar aku masuk dulu." Alvin langsung beranjak kemudian pergi begitu saja.
Indira iseng melihat laptop milik Alvin yang masih terbuka, dia sedikit membaca pekerjaan Alvin saat itu. Hingga dia tersadar kalau itu bukanlah pekerjaan staf biasa.
Hanya beberapa saat Alvin berada di dalam, kemudian ke luar dengan handuk berisi es batu dan kotak P3K di tangannya.
"Ini, dikompres dulu, nanti setelah lebih baik kamu olesin salepnya," ujar Alvin memberikan handuk kompresi pada Indira.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Indira, memang pipinya masih sedikit bengkak karena bekas tamparan, ditambah tidak mendapatkan pengobatan.
Alvin mengangguk, kemudian menaruh kotak P3K di atas meja, dia kembali pada laptopnya yang masih menyala.
"Vin," panggil Indira ragu, sambil mulai menempelkan handuk di pipinya.
"Hem ...." Alvin hanya bergumam.
"Kamu kerja jadi apa di prusahaan Darmendra?" tanya Indira sambil melirik Alvin.
"Asisten pribadi Pak Ezra," jawab Alvin enteng.
"Hah?! Beneran, Vin?" Indira tampak sangat terkejut hingga tanpa sadar dia berteriak.
"Ssstt." Alvin langsung mengangkat kepala dan melihat Indira sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
"Ups, maaf aku keceplosan," ujar Inidira kembali dengan suara lirih sambil mengedarkan pandangannya.
"Di depan kontrakan saya, suka ada orang-orang Pak Mardo, jadi jangan sampai dia mendengar suara, Nona," peringat Alvin.
Indira melebarkan matanya, tidak percaya. "Jadi, selama ini Papi selalu mengikuti kamu?"
Alvin mengangguk ringan seolah dia sudah terbiasa dengan itu semua.
Indira memperhatikan Alvin untuk sesaat kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Alvin.
"Kalau kamu memang asisten pribadi Pak Ezra, kenapa masih tinggal di kontrakan seperti ini? Padahal aku lihat pekerjaan kami selalu yang gajinya lumayan besar," tanya Indira penasaran.
Indira mengangguk sambil kembali menegakkan tubuhnya. "Baiklah."
"Jadi, ini juga alasan kamu, memintaku menunggu di tempat itu saat ingin ke rumah Eyang?" Indira kembali pada topik pembicaraan tentang anak buah ayahnya.
"Iya. Tapi, ternyata di sana juga ada anak buah Pak Mardo," jawab Alvin dengan nada bersalah.
"Tapi, biasanya mereka akan pergi ketika sudah malam, karena di depan akan banyak laki-laki yang berkumpul untuk main kartu," lanjut Alvin lagi.
"Lalu, apa tadi mereka juga tau kalau aku ke sini bersama kamu?" tanya Indira, mendadak panik.
"Enggak, mereka baru saja menyerangku jadi untuk beberapa saat mereka kehilangan jejak. Tapi, tetap saja kita harus waspada," jawab Alvin.
"Menyerang? Tapi, kamu gak apa-apa kan?" tanya Indira sambil hendak beranjak untuk memeriksa tubuh Alvin.
"Saya tidak apa-apa!" Alvin berkata cepat sambil mengangkat kedua tangannya, untuk menghentikan Indira.
"Maaf–" Indira berkata lirih sambil kembali duduk.
Alvin mengangkat salah satu alisnya bingung dengan ucapan Indira.
__ADS_1
"Ini semua karena Papi aku, jadi aku harus minta maaf sama kamu," jelas Indira.
"Aku gak nyangka kalau Papi bisa seperti ini," gumam Indira dengan raut wajah kecewa.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Ini memang sudah nasib aku sejak dulu ... tidak ada sangkut pautnya dengan, Nona," jawab Alvin.
"Lalu, apa yang kamu rencanakan selanjutnya?" tanya Indira.
"Saya tidak memiliki rencana apa pun," jawab Alvin.
"Hah? Kenapa?" tanya Indira dengan kening bertaut.
"Saya tidak berniat mengambil harta milik Tuan Gemang, seperti apa yang ditakutkan Pak Mardo. Bila pun kemarin saya mau menemui mereka, itu hanya murni karena ingin tahu keluarga dari ibu saya. Tidak lebih! Itu juga demi Ibu saya," jelas Alvin.
"Lalu sekarang di mana Tante Ganis?" tanya Indira, dia kira Ganis tinggal bersama Alvin. Akan tetapi, jangankan orangnya, pakaian pun tidak ada.
Alvin tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Indira.
"Dia ada di tempat yang aman."
Indira hanya mengangggukkan kepala tanpa mau mencari tahu lebih banyak lagi.
Disaat perbincangan mereka, tiba-tiba Pak Umar ke luar, mendapati Alvin dan Indira duduk berdua disusul dengan kedatangan Mang Lukman.
Beberapa saat kemudian ketiganya tampak berbicara untuk mencari tempat menginap bagi Indira, karena di tempat mereka sama-sama tidak ada perempuan.
"Ya sudah, gimana kalau gadis itu menginap di rumah kamu saja, kalian berdua tidur di rumahku," jawab Pak Umar memberi solilusi.
"Aku malam ini ada lembur, ini saja hanya mau mengambil baju ganti dan bersih-bersih," jawab Mang Lukman.
"Ya sudah, berarti kamu saja yang menginap di rumahku, Vin. Tapi, besok kamu harus mencari tempat tinggal yang layak dan lebih aman untuknya, sementara besok siang aku bisa meminta tolong temanku untuk berjaga di sini, selama kamu dan aku bekerja," ujar Pak Umar lagi.
"Kamu juga harus berhati-hati, karena bisa saja si Mardo menggunakan cara licik untuk menjebak kamu karena anaknya ini," sambung Pak Umar lagi.
Alvin mengangguk.
"Tapi, Pak–" Alvin sedikit keberatan tentang menginap di rumah Pak Umar, karena Pak Umar itu sangat tidak suka ada yang masuk ke rumahnya.
"Gak usah pake tapi. Ini darurat jadi kamu harus setuju."
Alvin akhirnya mengangguk, malam itu dia tidur di rumah Pak Umar, sedangkan Indira di rumahnya.
Sepanjang malam Alvin sama sekali tidak bisa tidur, dia terus memikirkan tentang Indira yang entah harus dibawa ke mana. Hingga satu nama yang mungkin bisa membantunya terlintas di kepala.
Dengan ragu dia menggulirkan layar ponselnya menuju salah satu kontak. Yang merupakan satu-satunya teman perempuan Alvin.
"Apa dia sedang ada di Indonesia?" gumam Alvin, tampak ragu untuk menghubunhinya.
__ADS_1
"Ah, besok coba saja. Kalau sekarang sudah terlalu malam," Alvin kembali menaruh ponselnya tanpa melakukan apa pun.
......................