ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Menghilang


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Hari sudah gelap saat Alvin bertemu dengan Nyonya Hartari di sebuah restoran tidak jauh dari Hotel tempatnya menginap.


Keduanya tampak duduk berdua sambil menikmati suasana malam dari ketinggian lantai tiga geduang itu.


"Eyang mencoba menghubungi Indira, tapi tidak tersambung," ujar Nyonya Hartari mengungkapkan perasaannya.


"Mungkin Mba Indira sedang sibuk dengan pekerjaannya," jawab Alvin dengan nada suara lembut, dia tampak melihat wajah Nyonya Hartari dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Tapi, tidak biasanya dia seperti ini, makanya Eyang menghubungi kamu," ujar Nyonya Hartari dengan wajah yang terlihat jelas rasa khawatir di sana.


"Mba Indira gak apa-apa, Eyang. Aku yakin." Alvin terus meyakinkan, walau dia juga tidak mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya.


Nyonya Hartari menghembuskan napas pelan kemudian mengangguk samar.


"Eyang harap begitu," ujarnya.


Makanan yang mereka pesan datang, keduanya makan dengan hening, hingga akhirnya Nyonya Hartari kembali membuka suara.


"Bagaimana dengan ibu kamu, Vin?" tanyanya, yang membuat Alvin langsung mengangkat kepala dan menatap Nyonya Hartari.


Alvin meminum air sebalum menjawab pertanyaan dari Nyonya Hartari.


"Ibu baik, kondisinya sudah berangsur pulih," jawab Alvin.


Nyonya Hartari tersenyum. "Lalu kapan kami bisa bertemu dengannya, Nak?"


Alvin bisa melihat binar penuh harap dari sorot mata wanita tua itu, hingga membuatnya menelan salivanya susah payah.


"Saya gak bisa janji, Eyang. Maaf." Alvin menundukkan kepalanya dengan suara lirih, rasanya tidak tega memutuskan harapan dari wanita tua itu.


Namun, semua itu memang harus dia lakukan, mengingat kondisi Ganis yang belum bisa bertemu dengan orang baru, dia akan mengamuk kembali saat merasa terganggu dengan kedatangan orang baru.


Ditambah dengan Pak Mardo yang terus mengawasi pergerakannya, hingga membatasi ruang geraknya bersama Ganis.


Dokter dan Alvin sedang bekerja sama untuk menjalani terapi secara perlahan pada ibunya, agar tidak terlu takut untuk bertemu dengan orang baru.


Nyonya Hartari menghirup napas dalam, kemudian menghembusakannya perlahan, mendengar jawaban Alvin membuat rasa kecewa di dalam hatinya kembali menyeruak.


"Maaf, Eyang. Tapi, itu semua demi kebaikan bersama," ujar Alvin lagi.

__ADS_1


Nyonya hartari hanya mengangguk sebagia jawaban.


Obrolan antara nenek dan cucu laki-lakinya pun terus berlanjut hingga malam terlihat semakin larut, dan Alvin akhirnya pamit untuk pulang.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan," ujar Nyonya Hartari setelah dirinya sampai di hotel dengan diantarakan oleh Alvin.


"Iya, Eyang," angguk Alvin kemudian memberikan salam dan berlalu begitu saja untuk pulang ke rumah.


.


Hari-hari kembai berjalan seperti biasa, sudah satu minggu berlalu setelah pertemuan atara Alvin dan Nyonya Hartari tempo hari. Tidak ada kejadian yang berarti dari masalahnya dengan Pak Mardo.


Laki-laki yang masih merupakan pamannya itu, seolah sedang membiarkannya menghirup napas sejenak, walau terkadang Alvin masih bisa melihat anak buah Pak Mardo mengikutinya.


Alvin dan pak Umar baru saja sampai di kontrakan setelah melakukan shalat subuh berjamaah di masjid, saat Mang Lukman hendak ke luar menyusul Alvin.


"Ada apa, Mang?" tanya Alvin dengan kening berkerut.


"Ini, ponsel kamu sejak tadi berbunyi terus, mungkin ada yang penting yang harus segera kamu ketahui," ujar Mang Lukman sambil memberikan ponsel milik Alvin yang langsung kembali berbunyi.


Alvin melihat itu adalah dokter yang biasa menangani ibunya. Tiba-tiba saja prasangka buruk pun melintas hingga membuat jantung Alvin terasa berdebar lebih cepat dari biasanya.


Tidak biasanya dokter yang menangani ibunya meneleponnya lebih dulu, apa lagi ini sampai berulang-ulang kali.


Tubuh Alvin lagsung menenggang saat mendengar retetan kata yang diucapkan oleh dokter kepercayaannya itu, tubuhnya bahkan sedikit oleng sebelum akhirnya berlari menuju ke rumah untuk mengganti baju.


"Iya, aku ke sana sekarang, Dok," jawab Alvin kemudian menutup teleponnya dengan tergesa.


"Ada apa, Vin?" Pak Umar dan Mang Lukman yan melihat Alvin panik, malah ikut mengikuti Alvin.


"Mama menghilang dari rumah sakit, Pak. Aku harus segera ke sana sekarang!" jawab Alvin sambil memakai bajunya secara asal.


"Kalau begitu aku ikut!" Pak Umar langsung berlari menuju rumahnya dan mengambil baju ganti.


"Ayo!" ujar Pak Umar, saat menemui Alvin di teras.


"Bapak gak ganti baju dulu?" tanya Alvin, saat melihat Pak Umar masih memakai baju koko dan sarung.


"Gak usah, nanti aku ganti baju di mobil saja," jawab Pak Umar, yang langsung diangguki oleh Alvin.


Keduanya berjalan cepat menuju lapangan tempat mobil Alvin terparkir.


"biar aku saja yang menyetir!" Pak Umar langsung mengambil kunci mobil Alvin dan masuk ke kursi kemudi, dia tidak mungkin membiarkan Alvin mengemudi dalam keadaan kacau seperti ini.

__ADS_1


Alvin tidak menolak, dia pun mengikuti Pak Umar masuk ke kursi penumpang.


Pak Umar mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh, menyalip secera lihai tanpa ada hambatan sama sekali. Sepertinya skil sebagai anggota mafia masih belum hilang, walau sudah lama Pak Umar ke luar dari organisasi gelap itu.


Beberapa saat kemudin Pak Umar sudah berhasil memarkirkan mobil Alvin di depan rumah sakit tempat Ganis dirawat. Terlihat di sana sudah ada mobil polisi yang berjaga.


"Kamu duluan, aku mau ganti baju dulu," ujar Pak Umar pada Alvin.


Alvin hanya menangguk, lalu segera ke luar dan berlari menuju ke dalam rumah sakit.


Sedangkan Pak Umar lebih dulu menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan Ganis, yang pastinya ada bersama Pak Mardo.


Alvin langsung menghampiri dokter dan manager rumah sakit yang tampak sedang berbicara dengan pihak kepolisian, sedangkan ada juga polisi yang terlihat sedang memeriksa keadaan sekitar.


"Dok, sebenarnya ada apa ini? Ke mana ibu saya pergi?" tanya Alvin langsung memotong obrolan ketiga orang di depannya kini.


"Maafkan kami, Nak Alvin, kamu kehilangan Ibu Ganis dini hari tadi di saat pengawasan kami sedang lengah." Pak manager rumah sakit tampak menjawab pertanyaan Alvin.


"Bagiaman mungkin? Selama ini ibu saya baik-baik saja di sini. Tapi, kenapa di saat ibu sudah mulai sembuh kalian malah lengah?!" Alvin meninggikkan suaranya. Kehilangan sang ibu sungguh membuat pikirannya begitu kacau, hingga tidak ada lagi etika dan kesopanan yang biasa selalu Alvin jaga dalam berprilaku.


"Kami meminta maaf, sebesar-besarnya." Manager rumah sakit itu menunduk menunjukan penyesalannya.


"Vin, sabar dulu, jangan emosi ... itu tidak akan menyelesaikan masalah." Pak Umar yang baru saja datang menyusul langsung melerai emosi Alvin.


"Pak, mereka kehilangan ibuku, bagaimana aku bisa tenang!" Alvin menatap pak Umar dengan mata memerah, emosi yang sejak tadi dia pendam kini seakan meluap tanpa bisa terkendali.


Bagiaman bisa Tuhan begitu bermain-main dengan kehidupannya? Disaat harapan Alvin untuk hidup bahagia bersama kembali dengan ibunya sudah hampir tercapai, kini Dia hancurkan lagi dengan kenyataan yang begitu menyakitkan.


Alvin bahkan sudah mempunyai segudang rencana untuk kehidupan dirinya dan sang ibu kedepannya. Namun, apalah daya seorang manusia yang hanya bisa berencana tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah Alvin lebih tenang, kini mereka sedang berada di ruang CCTV untuk melihat kejadian tadi malam.


Alvin mengepalkan tangannya erat saat melihat ada beberapa orang berpakain hitam menyusup ke dalam rumah sakit, kemudian masuk ke kamar tempat Ganis dirawat.


Hingga tidak lama kemudian, mereka tampak ke luar sambil mendorong kusi roda dengan orang yang ditutup selimut di atasnya. Alvin yakin orang itu adalah ibunya saat dibawa ke luar oleh orang-orang itu.


"Pak--" Alvin melihat Pak Umar dengan mata yang melebar saat satu nama melintas di kepala.


Seakan tahu dengan isi pikiran Alvin, Pak Umar langsung mengangguk pasti.


"Kita temui mereka sekarang!" ujar Alvin, sambil beranjak dari ruang kontrol CCTV, tanpa menghiraukan orang-orang disekitarnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2